<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Purnawan Kristanto &#187; tips</title>
	<atom:link href="http://www.purnawankristanto.com/tag/tips/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purnawankristanto.com</link>
	<description>All about writing minister</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Nov 2011 11:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bongkar Ingatanmu</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 00:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>
		<category><![CDATA[jurus]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[PARA penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://s2.hubimg.com/u/431685_f520.jpg" alt="brain" width="354" height="463" /></p>
<p>PARA penulis pemula biasanya <em>bengong</em> cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam.  Apalagi jika Anda sudah <em>on-line</em> dan koneksi internet dihitung berdasarkan waktu. Semakin lama Anda bengong, maka semakin membengkaklah tagihan internet Anda.</p>
<p>Untuk menyiasati hal ini, cara yang terbaik adalah Anda sudah menyiapkan tulisan ketika masih <em>off-line</em>. Kemudian ketika <em>on-line</em>, Anda tinggal mengunggahnya saja. Meski begitu, kadang-kadang ketika sedang <em>off-line</em> pun, mungkin Anda juga mengalami kemacetan ide. Anda tidak perlu resah. Anda dapat mencoba salah satu dari rahasia penulisan, yaitu menggunakan teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan <strong><em>ingatan (memori)</em></strong> Anda sebagai bahan tulisan. Jika Anda masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi tersendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p>a. Kode Kata</p>
<p>Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah dengan memilih kata kunci dari tema cerita atau <em>premise</em> yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman yang Anda memiliki.  Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan  mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.</p>
<p>Berikut contohnya:</p>
<ul>
<li>Bunga</li>
<li>Tukang Kebun</li>
<li>Sederhana</li>
<li>Anak banyak</li>
<li>Nakal</li>
<li>Polisi</li>
<li>Kegaduhan</li>
</ul>
<p>Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang <em>kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi</em>.</p>
<p>Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari tema tulisan hendak Anda buat. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b. Curah Gagasan (<em>Brainstorming</em>)</p>
<p>Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><strong>Ikan</strong></p>
<p><em>Rasul Petrus menjala ikan</em></p>
<p><em>Yesus ikut makan ikan</em></p>
<p><em>Ikan bakar bebas kolesterol</em></p>
<p><em>Memancing itu asyik</em></p>
<p><em>Menjala hasilnya lebih banyak</em></p>
<p><em>Yunus pernah ditelan oleh ikan besar</em></p>
<p><em>Hati-hati tertusuk duri ikan</em></p>
<p>Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan di antara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang <em>petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus</em>. <em>Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>c. Menulis Bebas</p>
<p>Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.</p>
<p>Ada dua teknik yang dapat digunakan. Pertama, menggunakan kode kata sebagai panduannya. Kedua, menulis bebas secara total. Anda menulis seperti mengikuti air yang mengalir. Anda tidak tahu dan tidak meriasukan kemana tujuan akhir dari aliran itu. Yang penting Anda menuangkan apa saja yang terekam di benak Anda.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><em>Hmmm….cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.</em></p>
<p>Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang <em>ngelantur </em>kemana-mana.</p>
<p>Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang <em>menyambut kedatangan Yesus</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>d. Pemetaan Pikiran</p>
<p>Pemetaan pikiran (<em>mind mapping</em>) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. <em>Mind mappin</em>g memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Catat poin utama, pikiran atau ide utama.</li>
<li>Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.</li>
<li>Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan.  Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!</li>
<li>Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.</li>
</ul>
<p>MENULIS BUKU JURNAL</p>
<p>Seorang penulis wajib memiliki dan selalu membawa buku kecil (atau PDA) kemana pun dia pergi. Inilah yang disebut buku jurnal. Buku ini berbeda dengan buku harian (<em>diary</em>) yang mencatat segala kegiatan fisik setiap hari. Buku ini merupakan catatan dari aktivitas otak kita. Buku ini mencatat semua hal yang terlintas di otak Anda, entah itu ide, kegelisahan, pergumulan, pengalaman atau kekesalan Anda.</p>
<p>Ilham atau ide itu bisa datang kapan saja, tanpa diundang dan tak bisa ditolak. Ketika ide itu datang, kita harus segera mencatatnya. Jangan pernah mempercayai ingatan Anda, karena ingatan kita ini sangat terbatas. Jika kita lalai mencatat dan tidak ingat lagi ide tersebut, maka kita telah melepas angsa yang bertelor emas.</p>
<p>Dengan selalu mengantongi buku jurnal, ada dua keuntungan yang Anda dapatkan:</p>
<p>Pertama, melatih keberanian Anda untuk menulis. Buku jurnal memberikan kebebasan menulis sebebas-bebasnya karena hanya Anda yang akan membacanya. Jadi tidak perlu takut dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ada pepatah:<em>practice make perfect</em> (kita bisa karena terbiasa).</p>
<p>Kedua, menyediakan sumber tulisan. Jurnal bukanlah sebuah tulisan yang sudah jadi. Ibarat masakan, jurnal merupakan bahan pangan yang masih harus diolah lagi. Jika kita sudah terbiasa menulis jurnal, maka kita menyediakan bahan tulisan dengan cepat.  Meski efeknya tidak langsung, tetapi menulis jurnal dapat mendukung kita ketika ingin menulis dengan cepat.<br />
Dikutip dari &#8220;Blog Gospel&#8221;, diterbitkan oleh Inspirasi, Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/?action=view&amp;current=bloggospel.jpg" target="_blank"><img src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/bloggospel.jpg" border="0" alt="Blog Gospel" width="190" height="309" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>U R WHAT U READ</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/u-r-what-u-read/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/u-r-what-u-read/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 09:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH pepatah bijak berkata begini, &#8220;You are what you read.&#8221; Ada juga yang berkata, &#8220;Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak seperti apakah diri Anda.&#8221; Kalimat ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi sekadarmenjadi pembaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEBUAH</strong> pepatah bijak berkata begini, &#8220;You are what you read.&#8221; Ada juga yang berkata, &#8220;Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak seperti apakah diri Anda.&#8221; Kalimat ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi sekadarmenjadi pembaca buku saja menurut saya belum bisa menunjukkan potensi yang dimiliki seseorang. Kapasitas seseorang akan semakin terlihat jelas dari kemampuannya mencerna dan mengolah kembali pengetahuan yang didapatnya dari buku itu, kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan. Salah satu hasil dari proses &#8216;pencernaan&#8217; ini berupa tulisan resensi. Tulisan berikut ini akan menyajikan tips-tips praktis dalam menulis resensi.<br />
Kata &#8220;resensi&#8221; diserap dari bahasa Belanda recensie atau recensere (Latin), yang berarti &#8220;melihat kembali&#8221;,&#8221;menimbang&#8221; atau &#8220;menilai&#8221;. Sedangkan resensi buku berarti sebuah kupasan atau ulasan yang memperkenalkan sebuah buku, menginformasikan pokok-pokok bahasannya, menceritakan inti isi keseluruhannya dan menunjukkan faedahnya bagi pembaca.&#8221; Ada berbagai nama yang dipakai oleh media massa untuk menandai rubrik resensi, antara lain: Tinjauan Buku, Timbangan Buku, Bedah Buku, Ulasan Buku, Kupasan Buku, Wacana atau lainnya.<br />
Secara garis besar ada tiga jenis tulisan resensi buku.<br />
[1]. Resensi Argumentatif, bersifat pandangan tandingan, kritik dan ilmiah. Jenis ini hanya cocok untuk jurnal ilmiah dan media yang pembacanya sangat serius. Panjang tulisan bisa sampai lebih dari 10 halaman, dengan isi 90% subjektif.<br />
[2]. Resensi Sinopsis.  Isinya berupa ringkasan isi sebuah buku.  Sifatnya 100 % objektif.<br />
[3]. Resensi Eksposif, bersifat memperkenalkan, menilai dan menunjukkan faedah buku. Panjangnya sekitar 4 halaman. Sifatnya, 90% objektif.</p>
<p><span id="more-74"></span></p>
<p><strong>PERSIAPAN</strong><br />
Persiapan yang wajib dilakukan oleh penulis resensi tentu saja adalah membaca isi buku itu (kalau perlu membaca berulang-ulang). Dalam hal ini penulis yang terutama harus membaca dengan seksama bagian &#8220;Kata Pengantar&#8221; atau &#8220;Pendahuluan&#8221; buku itu. Pada bagian inilah, Anda bisa memahami tujuan penulisan buku ini. Selama membaca buku itu, Anda harus mencermati dan mencatat hal-hal yang akan dipakai sebagai bahan penulisan nanti, yaitu:</p>
<ul>
<li> Tema buku</li>
</ul>
<ul>
<li>Pengarang : Tuliskan kapasitas, latar belakang dan kualifikasi penulisnya. Apakah dia cukup terkenal dan berkompeten di bidangnya?</li>
<li> Penerjemahnya [jika terjemahan buku asing]: Apakah penerjemah menguasai tema yang dibahas buku itu. Kalau perlu bandingkan denganbahasa pada buku aslinya</li>
<li> Penggunaan Bahan-bahan dan Referensi(Lihatlah Daftar Pustaka, Tabel dan Grafik pada buku tersebut)</li>
<li> Tujuan penulisan (lihat pengantar dan pendahuluan)</li>
<li> Sasaran pembaca buku ini</li>
<li> Data teknis: Jumlah halaman, harga, nama penerbit, tahun terbit.</li>
<li> Format</li>
<li> Daftar Isi</li>
<li>Pembagian bab dan pemberian judul tiap bab</li>
<li> Indeks</li>
</ul>
<p>Setelah itu, selama membaca Anda juga harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan-pertanyaan ini:</p>
<ul>
<li>Apakah judul buku sudah mencerminkan temanya? Apakah tujuan buku ini sudah diwujudkan penulis dalam seluruh bab?</li>
<li>Buku ini termasuk dalam golongan (genre) apa?</li>
<li>Sudut pandang apa yang dipakai oleh pengarang?</li>
<li>Gaya penulisan seperti apa yang dipakai pengarang? Apakah formal atau informal? Apakah itu sudah sesuai dengan sasaran pembaca?</li>
<li>Bagaimana pemakaian bahasanya?  Apakah komunikatif, rumit atau bertele-tele?</li>
<li> Apakah pengarang merumuskan konsep dan definisi dengan jelas? Apakah pengarang menuturkan gagasannya dengan runtut (tidak meloncat-loncat) dan mudah diikuti? Apakah ada bidang.wilayah tertentu yang tidak dipaparkan oleh pengarang? Mengapa?</li>
<li> Jika buku yang diresensi adalah karya sastra, buatlah catatan seputar karakter, alur/plot dan setting dan bagaimana semuanya itu ber-relasi dalam tema besar.</li>
<li> Jangan lupa, berilah tanda pada bagian buku yang perlu mendapat perhatian khusus atau yang bisa dikutip dalam tulisan nanti. Setelah itu, rumuskanlah sinopsis atau ringkasan buku itu.</li>
</ul>
<p><strong>STRUKTUR TULISAN</strong><br />
Berikut ini struktur tulisan yang lazim dipakai dalam tulisan resensi:</p>
<p><img title="13001780381199830281" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/03/13001780381199830281_300x364.13793103448.jpg" alt="13001780381199830281" width="300" height="364.13793103448" /></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Teras</strong></span><br />
Bagian awal sebuah tulisan adalah adalah wilayah yang sangat penting. Bagian ini sangat menentukan apakah pembaca tertarik untuk membaca keseluruhan tulisan itu, atau tidak. Ada beberapa jenis teras yang dapat dipakai untuk mengawali tulisan resensi:<br />
a. Memperkenalkan Pengarang. Tulisan diawali dengan memaparkan nama pengarang, prestasinya, karyanya dan kompetensinya. Contoh:<br />
<em>&#8220;Profesor J.D. Legge, dalam karya tulisnya kali ini memberikan sumbangan pengetahuan, pemahaman dan interprestasi mengenai sejarah perjuangan kemerdekaaan…</em><br />
(Tempo, 5/3/94)<br />
b. Kekhasan Pengarang. Penulis memaparkan ciri khas yang menonjol dari pengarang. Namun penggunaan kekhasan ini harus tepat. Maksudnya, kekhasan itu harus relevan dengan topik buku itu.<br />
Contoh:<br />
<em>Ada satu ciri khas yang biasa ditemui pada setiap tulisan DR. H. Roeslan Abdulgani, yakni setiap kutipan suatu peryataan atau kutipan sebuah buku yang tentu saja mempunyai relevansi dengan tulisan yang disajikan. Tidak saja mempunyai relevansi, tetapi juga menambah bobot tulisan…</em><br />
(Margantoro, Bernas, 21/3/93)<br />
c. Keunikan Buku: Penulis bisa membuka tulisan dengan memaparkan keunikan yang jarang dimiliki oleh buku sejenis.<br />
Contoh:<br />
<em>Luar biasa! Dengan format panjang-lebar 23&#215;15 cm, ketebalan lebih dari 1056 halaman, buku ini barangkali tercatat sebagai satu-satunya buku paling tebal untuk jenis buku nonfiksi berbahasa Indonesia .</em><br />
(St. Sularto, Kompas, 26/11/95).<br />
d. Tema Buku: tema yang diulas dalam buku dapat diungkap secara langsung.<br />
Contoh:<br />
<em>Membesarkan, mengarahkan, dan mendidik anak ternyata bukan perkara yang mudah dan gampang, apalagi bila kita kaitkan dengan besarnya cita-cita orang tua yang menginginkan anaknya taat dengan tata nilai agama, akrab, setia kawan, sukses dan berprestasi…</em><br />
(Indarti Ef.Er., Kompas, 11/11/90)<br />
Lead ini untuk mengantarkan kupasan tentang buku cara mendidik anak.<br />
e.Kelemahan Buku: Dengan pertimbangan objektif, peresensi dapat memulai dengan kelemahan buku itu. Hal ini bisa dipakai jika materi buku tidak sesuai dengan topik yang dibahas atau memiliki kelemahan yang cukup mendasar.<br />
Contoh:<br />
<em>Demokrasi mestinya dipahami sebagai sebuah proses. Untuk itu, persoalan tentang rentang waktu harus menjadi salah satu patokan. Sebab, membuat deskripsi final demokrasi tanpa menyebutkan patokan waktu, jelas akan menimbulkan bias. Apalagi jika menyangkut demokrasi ekonomi. Sebuah istilah yang sesungguhnya hanya &#8220;menumpang&#8221; pada istilah bakunya dalam studi ilmu Politik: demokrasi politik. Konsekuensinya adalah munculnya istilah-istilah yang tidak pas dengan makna yang dimaksudkan pengarangnya.<br />
Pemahaman kita tentang pemberian kesempatan yang sama dalam terminologi demokrasi politik, tidak begitu saja dapat diterapkan dalam terminologi demokrasi ekonomi. Berbagai faktor di atas sebetulnya membuat pemahaman tentang judul buku yang dibuat harian sore Surabaya Post ini terkesan agak kabur…</em><br />
(M. Taufiqurohman, Prospek, 18/9/93)<br />
f. Kesan Terhadap Buku: Lead diawali dengan kesan penulis yang cenderung subjektif. Peresensi memberikan penilaian yang relevan dan disertai argumentasi yang tepat.<br />
Contoh:<br />
<em>Sangat elementer dan jauh dari pemikiran kritis. Itulah kesan awal jika kita membaca buku ini. Kesan tidak mengada-ada. Sebab, uraiannya sendiri tampak hanya di bagian-bagian permukaan saja. Namun, di balik pemaparan yang sederhana dan kurang kritis ini, terkandung butir-butir pemikiran yang cukup filosofis…</em><br />
(Agus Wahid, Warta Ekonomi)<br />
g. Penerbit Buku:</p>
<p>Ada tiga pertimbangan pemakaian nama penerbit sebagai lead: (1). Objek yang dibicarakan sama; (2). penerbit baru atau; (3). Buku diterbitkan untuk acara tertentu.<br />
Contoh:<br />
<em>Setelah menerbitkan buku Mendorong Jack Kuntikunti&#8211;pilihan sajak dari Australia, budaya dan Politik Australia, Yayasan Obor Indonesia menerbitkan buku lagi tentang Australia, yakni Yang Tergusur. Kebetulan tahun terbitnya bisa berurutan, yakni 1991, 1992, dan 1993. Satu lagi buku yang bisa membantu kita, tentang &#8220;suku putih&#8221;-nya Asia</em><br />
(Margantoro, Bernas, 8/8/93)<br />
h. Pertanyaan: Penulis melontarkan pertanyaan yang menarik minat pembaca.<br />
Contoh:<br />
<em>Seringkali kita mendengar pertanyaan-pertanyaan sumbang mengenai hubungan antara sains dan agama. Misalnya, apakah kemajuan sains menjadi ancaman bagi agama? Benarkah agama antimodernisasi, karena modernisasi merupakan buah dari perkembangan sains?</em><br />
(Daniel Samad, Suara Karya, 1/3/96)<br />
i. Dialog: Pendahuluan yang seolah-olah melibatkan pembaca secara pribadi. Ciri khasnya lead ini terdapat banyak kata &#8220;kita&#8221; dan &#8220;Anda&#8221;.<br />
Contoh:<br />
<em>Masalah keluagra adalah masalah kita bersama. Kita semua terlibat langsung, dan karenanya berkepentingan untuk menemukan alternatif-alternatif teoritis dan praktis guna membangun keluarga yang makin bermutu</em><br />
(Margantoro, Bernas, 14/3/93)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pengantar</strong></span><br />
Setelah puas dengan hasil perumusan teras, lanjutkan tulisan dengan menggambaran buku itu secara umum. Di sini Anda bisa menceritakan lebih terperinci tentang siapa pengarang buku ini, kapasitas yang dia miliki dalam kaitannya dengan subjek buku.<br />
Berikan juga ringkasan tujuan buku ini, tema atau argumen umum yang ada dalam buku ini. Termasuk juga pernyataan untuk siapa buku ini ditujukan (sasaran pembaca).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Ringkasan Isi</strong></span><br />
Sajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya menyajikan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang bernas.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Analisis Tulisan</strong></span><br />
Pada bagian ini, Anda diharapkan menjabarkan hal-hal yang menonjol dari sinopsis/ringkasan isi. Berikan 5 atau 6 kutipan langsung. Panjang tiap kutipan sekitar 2-5 kalimat. Kutipan berfungsi memberi kesempatan pembaca untuk mencicipi gaya tulisan. Kutipan diapit tanda petik dan wajib 100 % sama dengan sumbernya. Manipulasi kalimat merupakan pelanggaran kode etik kepengarangan.<br />
Di sini pula Anda diharapkan memberikan ulasan mengenai hal-hal berikut:<br />
•	Gaya apa yang dipakai penulis: sederhana/ teknis; persuasif/ logis?<br />
• Bagaimana metode yang dipakai untuk memberikan argumentasi dalam buku ini (perbandingan/kontras; sebab/akibat; analogi; persuasi dengan memberikan contoh)? Berikan contoh untuk mendukung analisis Anda.<br />
• Data dan bukti apa saja yang disajikan dalam buku ini untuk mendukung argumentasi pengarang(Misalnya: peta, bagan, tabel, tulisan pakar, kutipan, kliping).<br />
•	Apakah data dan bukti itu cukup kuat? (Tunjukkan data yang lemah dan yang kuat, lalu jelaskan alasannya).<br />
•	Apakah argumentasinya sudah lengkap?<br />
• Apakah ada fakta dan data yang terlewatkan oleh pengarang? (Dalam hal ini, Anda perlu memanfaatkan buku lain dengan topik yang sama untuk menunjukkan kelemahan buku ini.)<br />
•	Apakah penyajian tulisan ini sudah sesuai dengan tujuan penulisan dan sasaran pembaca?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Penilaian Tulisan</strong></span><br />
Berikan penilaian secara ringkas: kelemahan dan kekuatan buku ini.<br />
Berikan penilaian tentang manfaat yang bisa dipetik pembaca dari buku ini.<br />
Berikan catatan apakah Anda menyukai buku ini, atau tidak.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Penutup</strong></span><br />
Sebagaimana lazimnya penulisan artikel, tulisan resensi juga harus diakhiri dengan paragraf yang bernada pamit. Tujuannya supaya pembaca tahu bahwa tulisan ii akan segera berakhir. Untuk resensi, paragraf penutupnya biasanya diakhir dengan sasaran yang hendak dituju oleh buku itu. Contohnya: Buku ini penting bukan hanya bagi mereka yang berkiprah di pemerintahan, atau pengamat pemerintahan, melainkan juga bagi mereka yang mengelola organisasi-organisasi besar yang birokrasinya terasa menjerat…(Ramelan, Manajemen Nop-Des 1995). Apakah resensi hanya bisa ditutup dengan penyebutan sasaran pembaca? Tentu saja tidak, Anda bisa menutupnya dengan pesan atau ajakan penulis yang mempertegas uraian tulisannya.</p>
<p><strong>PELUANG</strong><br />
Bukan kebetulan kalau saya menyampaikan materi tentang teknik penulisan resensi pada buku ini. Saya melihat bahwa sesungguhnya bidang penulisan resensi ini seperti ladang tak bertuan, yang kesepian dan belum banyak dijamah orang. Padahal ladang ini lumayan subur, walaupun &#8220;hasil panenannya&#8221; memang tidak sebesar tulisan artikel. Setidak-tidaknya ada dua manfaat yang bisa kita ambil dengan menulis resensi. Pertama, jika kita mengirmkan resensi kita ke media cetak dan dimuat maka kita bisa mendapatkan honor. Kedua, kita bisa menambah koleksi buku kita secara gratis. Kok bisa begitu? Iya, karena bila tulisan kita dimuat, kita bisa mengirimkan fotokopi tulisan itu pada penerbit buku itu. Biasanya penerbit yang baik akan mengirimkan buku-buku terbaru mereka supaya diresensi kembali oleh orang itu. Pada umumnya penerbitsenang jika buku terbitan mereka diresensi karena bisa menjadi sarana promosi yang murah. Itulah sebabnya, ada penerbit yang secara rutin mengirimkan buku terbaru mereka kepada penulis resensi yang aktif.<br />
Seandainya kita hanya memasang tulisan kita di blog [maksudnya tidak dikirim ke media cetak], ada beberapa penerbit yang bersedia memberikan buku gratis untuk diresensi di blog. Meski begitu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Pertama, kita terbukti sering menulis resensi buku blog. Untuk langkah awal memang harus merogoh kocek sendiri dulu untuk membeli buku baru yang akan diresensi. Kedua, blog kita banyak dibaca oleh pengunjung. Jika ini sudah tercapai, maka kita tinggal mengontak penerbit untuk meminta kiriman buku-buku baru. Dengan cara ini, kita dapat semakin menambah koleksi buku di perpustakaan pribadi dengan cara yang murah.</p>
<p><em>(dari berbagai sumber)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/u-r-what-u-read/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Olah Strategimu</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/olah-strategimu/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/olah-strategimu/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Mar 2011 00:34:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>
		<category><![CDATA[motivasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[MEMBUAT blog itu sangat mudah dan murah. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Technorati pada tahun 2007, setiap hari ada lebih dari 120.000 blog baru. Angka ini mengisyaratkan satu hal: PERSAINGAN KETAT! Itu sebabnya jika saat ini Anda akan membuat blog, maka Anda harus membuat blog yang menonjol di antara kerumunan blog yang ada. Jika tidak, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" style="margin: 8px;" src="http://www.tonicmediablog.com/media/2009/04/blog.jpg" alt="blog" width="284" height="282" />MEMBUAT blog itu sangat mudah dan murah. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Technorati pada tahun 2007, setiap hari ada lebih dari 120.000 blog baru. Angka ini mengisyaratkan satu hal: PERSAINGAN KETAT! Itu sebabnya jika saat ini Anda akan membuat blog, maka Anda harus membuat blog yang menonjol di antara kerumunan blog yang ada. Jika tidak, maka sedikit orang yang akan meminati blog Anda. Buat apa susah-susah membuat blog jika tidak ada yang mengaksesnya?</p>
<p>Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya Anda memeriksa diri lebih dulu apakah Anda memang cocok untuk memiliki blog atau tidak. Caranya dengan mengecek kesukaan Anda dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.</p>
<p><em>Apakah Anda Suka Berselancar di Dunia Maya?</em></p>
<p>Untuk menjadi penulis blog yang baik, Anda harus menyisihkan banyak waktu untuk menjelajahi dunia internet. Ngeblog tidak berhenti setelah Anda selesai menulis dan mempublikasikannya. Anda masih punya tanggungjawab untuk mempromosikannya, menjawab komentar-komentar dari pengunjung, memperbaiki tulisan, dan mencari topik untuk tulisan berikutnya. Hal ini membutuhkan dedikasi dan komitmen untuk memberikan waktu, perhatian dan dana untuk beraktivitas di dunia internet. Jika Anda sangat menyukai dunia internet, maka Anda akan sangat menikmati aktivitas ngeblog.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Apakah Anda Suka Menulis?</em></p>
<p>Jika Anda tidak memiliki kerinduan untuk menulis, maka <em>ngeblog</em> tidak cocok untuk Anda. Sebagian besar aktivitas <em>ngeblog</em> adalah menulis, baik itu membuat tulisan baru, memberi komentar pada tulisan orang lain, menanggapi komentar orang lain pada tulisan Anda atau pun mendiskusikan topik tertentu. Jika Anda merasa belum mahir menulis, Anda tidak perlu khawatir karena keahlian menulis itu dapat dipelajari dan dilatih. Yang terpenting adalah Anda memiliki kerinduan (<em>passion</em>) untuk menulis.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Apakah Anda Suka pada Topik Tertentu?</em></p>
<p>Anda harus benar-benar menyukai topik tertentu, sehingga Anda terdorong untuk membagikannya kepada orang lain, membujuk orang untuk mengaksesnya dan membuat mereka kembali lagi pada blog Anda di lain waktu. Jika Anda tidak memilikinya, maka Anda akan kesulitan untuk mengembangkan blog Anda. Dengan memiliki topik yang Anda sukai, maka setiap kali Anda <em>log in</em>, maka Anda melakukannya dengan senyum mengembang. Sebagai contoh, Anda menyukai alam dan memiliki hobi berpetualang. Dengan menetapkan penyelamatan alam sebagai topik blog Anda, maka Anda akan memiliki segudang bahan tulisan untuk ditambahkan pada blog Anda.</p>
<p><span id="more-65"></span></p>
<p><em>Apakah Anda Suka Berdisiplin?</em></p>
<p>Jika Anda menghendaki agar blog Anda menonjol, maka Anda harus berdisiplin dalam merawat dan memelihara blog Anda. Anda harus memberikan komitmen waktu, pikiran, dan dana untuk <em>ngeblog</em>, dan berdisiplin untuk menepatinya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Apakah Anda Suka Mengungkapkan Pendapat dan Gagasan?</em></p>
<p>Sebagai seorang blogger, maka Anda harus berani mengungkapkan pendapat Anda pada seluruh komunitas maya.  Dalam dunia maya ini kita memang dimungkinkan untuk menyembunyikan identitas kita yang sebenarnya. Kita dapat mempublikasikan berbagai pendapat dan komentar menggunakan berbagai nama samaran. Namun karena kita akan bermaksud menyampaikan kabar baik, maka kita pun harus menunjukkan niat yang baik juga. Dalam hal ini kita perlu memberikan identitas yang sejujurnya. Intergritas dari pemberi pesan akan mempengaruhi penerimaan pesan yang disampaikan. Jika identitas seseorang belum jelas, maka si penerima pesan cenderung ragu-ragu untuk menerima pesan yang disampaikannya. Itu sebabnya, Anda harus suka mengungkapkan pendapat Anda secara terbuka, tanpa menggunakan identitas samaran.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Apakah Anda Suka Belajar Hal Baru dan tidak Alergi pada Teknologi?</em></p>
<p>Kegiatan ngeblog membutuhkan pengetahuan tentang dunia internet dan penguasaan program komputer. Teknologi <em>cyber</em> mengalami perkembangan yang pesat. Untuk itu kita harus bersedia untuk belajar pada hal-hal yang baru. Jika Anda merasa tidak menguasai seluk-beluk komputer, Anda tidak perlu khawatir. Dari hari ke hari, teknologi komputer dikembangkan supaya semakin ramah kepada pengguna (<em>user friendly</em>).  Yang penting Anda memiliki kesediaan untuk belajar. Dengan mengikuti perkembangan teknologi, maka blog Anda akan tetap eksis.</p>
<p><em>Apakah Anda Suka pada Tantangan?</em></p>
<p>Pemilik blog harus berani mengambil risiko untuk mengembangkan blognya sehingga diakses oleh banyak orang. Dia memandang hambatan sebagai peluang untuk menjajal kemampuannya dan untuk belajar hal-hal yang baru. Adrenalinnya memuncak setiap kali melihat ada tantangan yang dapat meningkatkan kualitas blognya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Jika Anda memberikan jawaban “ya” pada pertanyaan-pertanyaan di atas, maka blog memang untuk Anda. Untuk lebih memantapkan tekad Anda, maka berikut ini disajikan sembilan manfaat yang diperoleh dengan ngeblog:</p>
<p><em>1. </em><em>Untuk Menunjukkan Sikap dan Pendapat Anda</em></p>
<p>Anda mungkin memiliki sikap dan pendapat terhadap sesuatu. Namun tidak semua media massa bersedia memuat sikap dan pendapat Anda ini. Blog memberi keleluasaan kepada Anda untuk melakukannya.</p>
<p><em>2. </em><em>Untuk Memasarkan atau Mempromosikan Sesuatu</em></p>
<p>Blog dapat digunakan untuk memasarkan atau mempromosikan karya Anda. Tidak hanya berupa benda, tapi bisa juga berupa jasa. Misalnya, jasa konsultasi perpajakan, jasa servis alat elektronik, jasa pengiriman dll. Selain itu juga dapat Anda manfaatkan untuk menawarkan pelayanan Anda. Misalnya, konseling, panggung boneka, pemutaran film, tempat retret, dll.</p>
<p><em>3. </em><em>Untuk Menolong Orang Lain</em></p>
<p>Ada banyak blog yang ditulis untuk menolong orang yang berada dalam kesulitan. Biasanya blog ini ditulis oleh orang yang pernah mengalami situasi tersebut. Misalnya blog untuk menolong pecandu narkoba, merokok atau minuman keras. Ada juga blog yang ditulis oleh orangtua yang memiliki anak autis, penderita kanker, pengidap HIV/AIDS, dll.</p>
<p><em>4. </em><em>Untuk Memantapkan Kepakaran</em></p>
<p>Blog dapat menjadi sarana seseorang untuk memantapkan kepakarannya di bidang tertentu. Misalnya, seorang pakar arkeologi rajin menampilkan tulisan-tulisannya menyangkut sejarah Indonesia. Dengan semakin banyak orang yang membaca tulisannya, maka semakin banyak orang yang tahu tentang kepakarannya di bidang tersebut.</p>
<p><em>5. </em><em>Untuk Menjalin Hubungan dengan Orang Lain</em></p>
<p>Blog dapat membantu kita berhubungan dengan orang lain yang tinggal di tempat yang sangat jauh. Kita tidak mungkin bertemu dengan mereka satu demi satu secara fisik. Namun dengan blog, kita dapat bertukar pikiran, tegur sapa dan memberi kabar kepada mereka. Kita dapat memiliki kenalan baru atau bahkan bertemu kembali dengan teman yang sudah lama tidak bertemu.</p>
<p><em>6. </em><em>Untuk Mempengaruhi Orang Banyak</em></p>
<p>Sebagai media komunikasi, blog dapat digunakan untuk mempengaruhi orang banyak dan membentuk pendapat umum. Namun hal tersebut tergantung pada kepiawaian Anda dalam mengemas pesan sehingga khalayak sepakat dengan pendapat Anda. Ini melibatkan teknik persuasi. Jika Anda ingin mengubah situasi sosial, Anda bisa memulainya dengan ngeblog.</p>
<p><em>7. </em><em>Untuk Menambah Pengetahuan</em></p>
<p>Bagaimana mungkin <em>ngeblog</em> bisa menambah pengetahuan? Bukankah kita yang justru memberi pengetahuan kepada orang lain dengan menulis di blog? Secara sekilas poin ini mungkin agak membingungkan. Maksudnya begini: Untuk menambahkan informasi yang bermanfaat kepada orang banyak, kita pun dituntut untuk selalu memutakhirkan pengetahuan kita. Sebuah teko tidak dapat mengisi gelas dengan air jika dirinya tidak mendapat pasokan air.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>8. </em><em>Untuk Menghasilkan Uang</em></p>
<p>Hal yang patut dipahami bahwa blog tidak otomatis menghasilkan uang. Namun kegiatan dari ngeblog ini dapat menciptakan peluang untuk menghasilkan uang. Salah satu metode yang sudah sangat dikenal adalah dengan memasang ad sense oleh Google. Dengan memasang iklan yang disediakan oleh Google di blog Anda, maka Google akan membayar pada Anda jika memenuhi syarat-syarat tertentu.  Metode lainnya adalah dengan mencari sendiri pemasang iklan di blog Anda. Semua usaha ini dapat berhasil jika blog Anda dibaca oleh banyak pengunjung. Karena itu, Anda harus bekerja keras merebut perhatian para penjelajah di internet.</p>
<p><em>9. </em><em>Untuk Bersenang-senang</em></p>
<p>Banyak orang yang mulai <em>ngeblog</em> karena iseng saja. Mereka membuat blog hanya untuk bersenang-senang dan menyalurkan kreativitas mereka. Misalnya, ada <em>blogger</em> yang memiliki hobi menggambar kartun. Daripada tersimpan sia-sia, maka dia memajang hasil karyanya itu di blog.</p>
<p>***</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Apa pun motivasi dalam ngeblog, Anda perlu membuat rencana strategis supaya blog Anda tidak tenggelam di antara lautan blog. Dalam kehidupan nyata, Anda tidak akan keluar dari rumah tanpa menetapkan kemana akan pergi dan menggunakan apa. Demikian juga dalam membuat blog, Anda harus menetapkan tujuan dengan jelas. Dengan begitu, Anda tidak akan kebingungan karena setiap aktivitas Anda dalam ngeblog dipandu oleh rencana strategis ini.</p>
<p>Entah Anda masih baru atau sudah lama memiliki blog, Anda perlu berhenti sejenak untuk merumuskan rencana strategis. Proses ini hanya berlangsung singkat, tidak lebih dari 30 menit tergantung keseriusan Anda dalam melakukannya. Keberhasilan dan kegagalan blog Anda akan sangat dipengaruhi oleh faktor ini. Orang bijak berkata: “Orang yang gagal membuat rencana itu berarti sudah membuat rencana untuk gagal.”</p>
<p>Dalam dunia jurnalistik rumus “5W + 1H” ini sudah sangat terkenal dan merupakan elemen dasar dalam penulisan berita. Kita dapat meminjam rumus ini membuat rencana strategis blog kita.</p>
<p><em>Who</em> (Siapa) yang menjadi sasaran blog?</p>
<p>Tetapkan dengan jelas siapa (orang) yang akan membaca tulisan Anda? Caranya dengan melakukan analisis demografis dan analisis psikografis audiens atau khalayak.  Yang dimaksud demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Sedangkan analisis demografi dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.</p>
<p>Dengan analisis demografis ini, Anda perlu mengumpulkan informasi-informasi demografis audiens Anda, yang mencakup umur, jenis kelamin, pendidikan dan, tempat tinggal. Berbekal informasi ini, Anda dapat mengenal audiens Anda sehingga lebih mudah mengemas pesan yang sesuai dengan mereka.</p>
<p>Misalnya, <em>audiens</em> Anda memiliki data demografis berikut: Umur: 20-40 tahun; Jenis kelamin: laki-laki 45 %, perempuan 55%; Pendidikan: SMA; Tempat tinggal: kota. Berdasarkan informasi tersebut, kita dapat mengemas tulisan yang menyentuh kehidupan perempuan atau pria dewasa yang tinggal di perkotaan, dengan tingkat pendidikan minimal SMA. Sedangkan analisis psikografi digunakan untuk mengetahui karakteristik psikologis audiens berdasarkan dua variabel, yaitu gaya hidup dan kepribadian. Gaya hidup adalah mode kehidupan seseorang yang meliputi aktivitas dan minat mereka.</p>
<p>Selain gaya hidup, kita dapat memahami perilaku <em>audiens</em> dengan mengetahui kepribadiannya. Dibandingkan dengan gaya hidup, kepribadian dapat menunjukkan pola hidup yang lebih konsisten dan ajeg.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>What</em> (Apa) yang akan Anda sampaikan kepada khalayak?</p>
<p>Hal ini menyangkut pesan yang Anda sampaikan kepada orang banyak. Ibarat orang yang sedang berjualan, pesan adalah barang dagangan Anda. Jenis barang yang Anda jajakan akan mempengaruhi keputusan orang lain untuk membelinya dan kembali lagi ke toko Anda di lain waktu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Where</em> (dimana) Anda akan menempatkan pesan itu?</p>
<p>Tentu saja di dalam blog. Meski begitu, ada berbagai jenis blog yang ada. Ada yang gratisan maupun berbayar. Anda perlu menentukan jenis blog yang sesuai dengan jenis pesan dan khalayak yang Anda tuju. Ada blog yang digemari remaja, ada blog lain yang digemari oleh golongan yang lebih dewasa.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><strong><em>When</em></strong><strong> (kapan) Anda akan mengurus blog Anda?</strong></p>
<p>Hal ini menyangkut kebiasaan Anda untuk ngeblog. Anda harus memutuskan seberapa banyak Anda menyisihkan waktu untuk ngeblog. Misalnya, setiap hari selama satu jam, atau setiap akhir pekan. Terserah pada komitmen dan pengaturan waktu Anda.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>Why </em>(mengapa) Anda membuat blog ini?</p>
<p>Anda harus memiliki alasan yang jelas di dalam membuat blog. Anda perlu bertanya pada diri sendiri: Untuk apa aku mengorbankan waktu, tenaga, pikiran dan uang untuk ngeblog? Apakah ini akan membantu aku mencapai tujuan yang telah ditetapkan Tuhan bagiku?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><em>How </em>(Bagaimana) Anda akan mencapai tujuan itu menggunakan strategi ini?</p>
<p>Misalnya, tujuan Anda adalah memperlengkapi guru-guru Sekolah Minggu sehingga menjadi pelayan Tuhan yang efektif. Maka merumuskan cara untuk mencapai tujuan itu:</p>
<ul>
<li>Memberikan bahan-bahan pengajaran yang baik</li>
<li>Menjalin komunikasi dan jaringan dengan sesama Guru Sekolah Minggu</li>
<li>Memberikan informasi mutakhir tentang acara pelatihan, seminar, workshop, dll</li>
</ul>
<p>Berdiskusi dan bertukar pengalaman dengan Guru Sekolah minggu dalam mengajar.</p>
<p>Dikutip dari &#8220;Blog Gospel&#8221;, diterbitkan oleh Inspirasi, Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/?action=view&amp;current=bloggospel.jpg" target="_blank"><img src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/bloggospel.jpg" border="0" alt="Blog Gospel" width="190" height="309" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/olah-strategimu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Membaca Cepat</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/membaca-cepat/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/membaca-cepat/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:44:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Ketika mengumpulkan bahan-bahan dari sumber sekunder, Anda tidak mungkin membaca keseluruhan bahan sebelum memastikan akan memakai bahan tersebut atau tidak. Ibarat sedang belanja bahan, Anda tidak mungkin meneliti semua bahan masakan yang ada di pasar. Anda harus memeriksa dan memutuskan dengan cepat. Dalam hal ini dibutuhkan keterampilan membaca cepat. Syarat utama untuk dapat membaca cepat [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>Ketika mengumpulkan bahan-bahan dari sumber sekunder, Anda tidak mungkin membaca keseluruhan bahan sebelum memastikan akan memakai bahan tersebut atau tidak. Ibarat sedang belanja bahan, Anda tidak mungkin meneliti semua bahan masakan yang ada di pasar. Anda harus memeriksa dan memutuskan dengan cepat. Dalam hal ini dibutuhkan keterampilan membaca cepat.</p></blockquote>
<p>Syarat utama untuk dapat membaca cepat adalah Anda mengetahui dengan persis bahan apa yang sedang Anda cari. Ketika masuk ke pasar, Anda sudah punya daftar belanjaan. Dengan demikian Anda mudah mencari bahan-bahan. Jika Anda akan memasak steak, maka Anda segera pergi ke bagian daging.</p>
<p>Langkah pertama adalah melakukan pemindaian secara cepat. Anda hanya mencari bagian-bagian yang Anda butuhkan. Ini seperti Anda melihat papan penunjuk los-los di pasar. Anda berjalan dengan cepat dengan tidak menghiraukan barang-barang dagangan yang dipajang. Begitu Anda melihat papan penunjuk bertulis &#8220;daging sapi&#8221;, barulah Anda berhenti, kemudian memperhatikan barang dagangan secara mendetil. Analogi serupa dilakukan ketika membaca bahan pustaka. Anda mencari &#8220;papan penunjuk&#8221;, biasanya berupa judul bab, sub judul atau kata-kata kunci. Ketika sampai pada bagian yang dikehendaki, barulah Anda membacanya dengan tempo yang lebih lambat sehingga dapat memahami isinya.</p>
<p><span id="more-15"></span></p>
<p>Ketika Anda membaca uraian secara terperinci, Anda masih perlu menguasai keterampilan membaca yang efisien. Pada saat mulai belajar membaca, kita diajari untuk mengeja huruf demi huruf atau membaca kata demi kata. Ketika kita merasa tidak yakin telah membaca dengan benar, maka kita mengulang lagi kata atau kalimat yang telah kita lewati. Hal ini jelas menyita waktu dan menguras energi. Bayangkanlah otot bola mata Anda harus bekerja keras karena bolak-balik bergerak dari kiri ke kanan dan sebaliknya.</p>
<p>Seorang pembaca yang terlatih akan membaca beberapa kata dalam satu blok. Matanya hanya berhenti sejenak pada sebuah blok kemudian berpindah ke blok berikutnya. Dia jarang sekali kembali ke blok sebelumnya. Cara ini akan menghemat waktu dan menambah jumlah informasi yang dapat diserap oleh otak.</p>
<p>Hambatan lain dalam membaca cepat adalah kebiasaan membaca dengan bibir bergerak-gerak. Gerakan otot lebih lambat daripada kecepatan gerak otak. Jika kita membaca dengan gerakan bibir, maka otak dipaksa melambatkan kecepatannya untuk menyesuaikan diri dengan gerakan bibir.</p>
<h1>Teknik SQ3R</h1>
<p>Teknik ini sangat membantu kita dalam menyerap informasi tertulis. Bagaimana caranya? Teknik ini menggunakan metode penahapan dalam membaca.</p>
<p><strong>1. </strong><strong>Survey</strong></p>
<p>Lakukan pemindaian terhadap daftar isi, pendahuluan, bab pertama/pengantar dan bagian ringkasan untuk mendapatkan gambaran umum isi buku. Tentukan apakah Anda akan menggunakan bahan ini atau tidak. Jika ya, maka Anda bisa melangkah ke tahap berikut</p>
<p><strong>2. </strong><strong>Question</strong></p>
<p>Buatlah daftar pertanyaan yang berkaitan dengan bahan-bahan yang sedang Anda cari. Pertanyaan ini dapat digunakan sebagai tujuan utama di dalam membaca buku tersebut.</p>
<p><strong>3. </strong><strong>Read</strong></p>
<p>Sekarang bacalah isi buku tersebut. Lewati bagian yang kurang menarik. Ketika sampai bagian yang dapat digunakan sebagai bahan penulisan, bacalah dengan cermat. Dalam hal ini Anda boleh membaca dengan tempo lambat, terutama jika pembahasannya sulit dipahami. Ketika membaca, jangan lupa untuk mencatat bagian-bagian yang menarik.</p>
<p><strong>4. </strong><strong>Recall</strong></p>
<p>Ketika Anda membaca uraian yang Anda butuhkan, maka pahami isinya dan ingat-ingatlah bagian itu. Simpanlah kata-kata kunci di dalam ingatan Anda. Proses ini sangat penting jika Anda akan melakukan parafrasa bacaan tersebut sehingga tidak melanggar hal cipta karena melakukan plagiat.</p>
<p><strong>5. </strong><strong>Review</strong></p>
<p>Setelah mengingat-ingat, Anda dapat beralih ke tahapan terakhir yaitu mengulas materi yang Anda dapatkan. Tindakan ini dapat dilakukan dengan membaca ulang uraian dalam buku tersebut, mengembangkan catatan Anda atau mendiskusikannya dengan orang lain. Cara lain yang sangat efektif adalah mengajarkan informasi itu kepada orang lain. Dengan cara ini, Anda akan semakin ingat informasi yang Anda ajarkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/membaca-cepat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

