<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Purnawan Kristanto &#187; riset</title>
	<atom:link href="http://www.purnawankristanto.com/tag/riset/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purnawankristanto.com</link>
	<description>All about writing minister</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Nov 2011 11:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bongkar Ingatanmu</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 00:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>
		<category><![CDATA[jurus]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[PARA penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://s2.hubimg.com/u/431685_f520.jpg" alt="brain" width="354" height="463" /></p>
<p>PARA penulis pemula biasanya <em>bengong</em> cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam.  Apalagi jika Anda sudah <em>on-line</em> dan koneksi internet dihitung berdasarkan waktu. Semakin lama Anda bengong, maka semakin membengkaklah tagihan internet Anda.</p>
<p>Untuk menyiasati hal ini, cara yang terbaik adalah Anda sudah menyiapkan tulisan ketika masih <em>off-line</em>. Kemudian ketika <em>on-line</em>, Anda tinggal mengunggahnya saja. Meski begitu, kadang-kadang ketika sedang <em>off-line</em> pun, mungkin Anda juga mengalami kemacetan ide. Anda tidak perlu resah. Anda dapat mencoba salah satu dari rahasia penulisan, yaitu menggunakan teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan <strong><em>ingatan (memori)</em></strong> Anda sebagai bahan tulisan. Jika Anda masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi tersendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p>a. Kode Kata</p>
<p>Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah dengan memilih kata kunci dari tema cerita atau <em>premise</em> yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman yang Anda memiliki.  Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan  mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.</p>
<p>Berikut contohnya:</p>
<ul>
<li>Bunga</li>
<li>Tukang Kebun</li>
<li>Sederhana</li>
<li>Anak banyak</li>
<li>Nakal</li>
<li>Polisi</li>
<li>Kegaduhan</li>
</ul>
<p>Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang <em>kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi</em>.</p>
<p>Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari tema tulisan hendak Anda buat. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b. Curah Gagasan (<em>Brainstorming</em>)</p>
<p>Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><strong>Ikan</strong></p>
<p><em>Rasul Petrus menjala ikan</em></p>
<p><em>Yesus ikut makan ikan</em></p>
<p><em>Ikan bakar bebas kolesterol</em></p>
<p><em>Memancing itu asyik</em></p>
<p><em>Menjala hasilnya lebih banyak</em></p>
<p><em>Yunus pernah ditelan oleh ikan besar</em></p>
<p><em>Hati-hati tertusuk duri ikan</em></p>
<p>Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan di antara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang <em>petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus</em>. <em>Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>c. Menulis Bebas</p>
<p>Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.</p>
<p>Ada dua teknik yang dapat digunakan. Pertama, menggunakan kode kata sebagai panduannya. Kedua, menulis bebas secara total. Anda menulis seperti mengikuti air yang mengalir. Anda tidak tahu dan tidak meriasukan kemana tujuan akhir dari aliran itu. Yang penting Anda menuangkan apa saja yang terekam di benak Anda.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><em>Hmmm….cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.</em></p>
<p>Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang <em>ngelantur </em>kemana-mana.</p>
<p>Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang <em>menyambut kedatangan Yesus</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>d. Pemetaan Pikiran</p>
<p>Pemetaan pikiran (<em>mind mapping</em>) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. <em>Mind mappin</em>g memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Catat poin utama, pikiran atau ide utama.</li>
<li>Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.</li>
<li>Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan.  Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!</li>
<li>Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.</li>
</ul>
<p>MENULIS BUKU JURNAL</p>
<p>Seorang penulis wajib memiliki dan selalu membawa buku kecil (atau PDA) kemana pun dia pergi. Inilah yang disebut buku jurnal. Buku ini berbeda dengan buku harian (<em>diary</em>) yang mencatat segala kegiatan fisik setiap hari. Buku ini merupakan catatan dari aktivitas otak kita. Buku ini mencatat semua hal yang terlintas di otak Anda, entah itu ide, kegelisahan, pergumulan, pengalaman atau kekesalan Anda.</p>
<p>Ilham atau ide itu bisa datang kapan saja, tanpa diundang dan tak bisa ditolak. Ketika ide itu datang, kita harus segera mencatatnya. Jangan pernah mempercayai ingatan Anda, karena ingatan kita ini sangat terbatas. Jika kita lalai mencatat dan tidak ingat lagi ide tersebut, maka kita telah melepas angsa yang bertelor emas.</p>
<p>Dengan selalu mengantongi buku jurnal, ada dua keuntungan yang Anda dapatkan:</p>
<p>Pertama, melatih keberanian Anda untuk menulis. Buku jurnal memberikan kebebasan menulis sebebas-bebasnya karena hanya Anda yang akan membacanya. Jadi tidak perlu takut dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ada pepatah:<em>practice make perfect</em> (kita bisa karena terbiasa).</p>
<p>Kedua, menyediakan sumber tulisan. Jurnal bukanlah sebuah tulisan yang sudah jadi. Ibarat masakan, jurnal merupakan bahan pangan yang masih harus diolah lagi. Jika kita sudah terbiasa menulis jurnal, maka kita menyediakan bahan tulisan dengan cepat.  Meski efeknya tidak langsung, tetapi menulis jurnal dapat mendukung kita ketika ingin menulis dengan cepat.<br />
Dikutip dari &#8220;Blog Gospel&#8221;, diterbitkan oleh Inspirasi, Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/?action=view&amp;current=bloggospel.jpg" target="_blank"><img src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/bloggospel.jpg" border="0" alt="Blog Gospel" width="190" height="309" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Menggali Bahan Tulisan</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/menggali-bahan-tulisan/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/menggali-bahan-tulisan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:45:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[bahan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=16</guid>
		<description><![CDATA[Anda tidak akan membuang waktu dengan sia-sia jika Anda menggunakan pengalaman dengan bijaksana. Auguste Rodin Sebuah artikel di situs www.sabda.org mengibaratkan menulis cerita sebagai usaha menyiapkan hidangan perjamuan makan. Penulis mengutip Matius 22:4, “Sesungguhnya, hidanganku telah kusediakan &#8230; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan.&#8221; Keberhasilan suatu perjamuan ditentukan oleh persiapan-persiapan yang telah dibuat. Tidak ada [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Anda tidak akan membuang waktu dengan sia-sia jika Anda menggunakan pengalaman dengan bijaksana. </em></p>
<p>Auguste Rodin</p></blockquote>
<p>Sebuah artikel di situs www.sabda.org mengibaratkan menulis cerita sebagai usaha menyiapkan hidangan perjamuan makan. Penulis mengutip Matius 22:4, “Sesungguhnya, hidanganku telah kusediakan &#8230; semuanya telah tersedia, datanglah ke perjamuan.&#8221;</p>
<p>Keberhasilan suatu perjamuan ditentukan oleh persiapan-persiapan yang telah dibuat. Tidak ada seorang tamu pun yang telah diundang ke suatu perjamuan, yang akan senang bila ia tiba di tempat perjamuan dan mendapati bahwa belum ada persiapan apa-apa. Kurangnya persiapan menunjukkan kurangnya perhatian kepada tamu yang diundang. Persiapan yang banyak bagi kesenangannya akan menyebabkan tamu itu merasa dirinya dipentingkan. Tentunya setelah selesai, dia akan meninggalkan pesta itu dengan mengatakan, &#8220;Perjamuannya baik sekali. Saya benar-benar menikmatinya!&#8221;</p>
<p>Benar, persiapan yang cukup adalah langkah pertama untuk menentukan apakah suatu usaha akan berhasil. Ada pepatah, “Jika kita gagal melakukan persiapan, maka sebenarnya kita telah melakukan persiapan untuk gagal.” Persiapan yang baik adalah setengah perjalanan menuju kesuksesan. Prinsip yang sama juga berlaku dalam menulis. Persiapan menulis memakan waktu dan usaha. Namun, persiapan itu sangat penting bagi keberhasilan!</p>
<p>***</p>
<p><span id="more-16"></span></p>
<p>Sebelum memasak, seorang koki harus menentukan menu masakannya lebih dulu. Demikian juga, seorang penulis harus menetapkan “menu tulisan” lebih dulu. Jika menu sudah dibuat, maka tindakan berikutnya adalah pergi ke pasar untuk berbelanja bahan-bahan yang diperlukan. Anda bisa berbelanja bahan-bahan cerita di pasar ide. Ada tiga jenis pasar ide, yaitu pasar ingatan, pengamatan dan riset. Pada sessi pertama kita sudah mengulas dan mempraktikkan belanja bahan dari pasar ingatan. Sessi berikut, kita akan berbelanja di dua pasar yang lain.</p>
<p><strong>I. PASAR PENGAMATAN</strong></p>
<p>Meskipun ingatan dapat menjadi sumber cerita yang kaya, tetapi Anda tidak semua hal masuk ke dalam ingatan Anda. Contohnya, kalau Anda dibesarkan di gunung, Anda mungkin tidak punya kenangan atas kehidupan di laut. Kalau Anda lahir dan besar di kota, Anda mungkin tidak memiliki kenangan atau pengalaman sebagai penggembala. Untuk itu, Anda dapat memakai teknik pengamatan atau <em>observasi</em>.</p>
<p><strong><em>a. Pengamatan Objek</em></strong></p>
<p>Di dalam kemiliteran sebelum menyerbu sebuah kota, sang perwira biasanya mengirimkan unit mata-mata untuk menyusup ke sasaran serbu. Tugas mereka adalah mengamati situasi di dalam kota dan mengumpulkan informasi intelijen sebanyak-banyaknya. Misalnya mencatat keadaan jalan, pembangkit listrik, instalasi militer, sarana komunikasi, jumlah penduduk dll.</p>
<p>Mirip dengan agen spionase, dalam metode ini Anda mendatangi sebuah tempat dan mencatat apa saja yang menonjol dan berkesan bagi Anda. Berikut caranya:</p>
<p>a. Bawalah bloknot dan alat tulis. Datangilah sebuah tempat yang ingin Anda amati, kemudian tentukan sudut pandang Anda. Ada empat sudut pandang:</p>
<p><em>a.1. Sudut pandang wisatawan</em></p>
<p>Posisi mata Anda sejajar dengan objek yang akan diamati. Anda dapat mengamati salah satu sisi objek yang diamati: sebelah muka, belakang dan samping.</p>
<p><em>a.2. Sudut pandang burung</em></p>
<p>Posisi mata Anda di atas objek yang diamati. Misalnya, Anda mengamati lapangan parkir dari puncak gedung, menyaksikan pertandingan sepakbola dari tribun atas, melihat perkotaan dari pesawat terbang.</p>
<p><em>a.3. Sudut pandang katak</em></p>
<p>Posisi mata Anda di bawa objek yang diamati. Misalnya, Anda melihat patung jenderal Sudirman di Jakarta, melihat puncak Monas, memeriksa kolong mobil dll.</p>
<p><em>a.4. Sudut pandang komidi putar</em></p>
<p>Pada komidi putar, kita dapat melihat seluruh sisi objek karena objek itu berputar. Karena tidak semua objek dapat diputar, maka dalam hal ini si pengamatlah yang berputar. Ia mengelilingi objek untuk mengamati semua sisinya.</p>
<p>b. Perhatikan objek tersebut dan tuliskan apa saja yang dapat Anda <em>lihat</em>, <em>dengar</em>, <em>cium</em> dan <em>rasa</em>. Pergunakan semua indera yang Anda miliki. Sama seperti dalam curah gagasan, Anda tidak perlu memusingkan masalah susunan kalimat, penulisan ejaan, alur logika dll. Tugas pokok Anda adalah menuliskan kesan dominan yang tertangkap oleh indera-indera Anda.</p>
<p>c. Setelah 15 menit, bacalah catatan yang Anda buat. Lihat objek yang diamati sekali lagi, untuk mengetahui jika ada sesuatu yang ketinggalan untuk dicatat. Akhirnya, tuliskan komentar singkat berdasarkan catatan tersebut.</p>
<p><em>Contoh</em></p>
<p><em>Lokasi: Alun-alun</em></p>
<p><em>Waktu: 15.00-17.00</em></p>
<p><em>Cuaca: Cerah</em></p>
<ul>
<li>· <em>Lapangan berdebu. Rumput kering karena lama tidak turun hujan</em></li>
<li>· <em>Anak-anak laki-laki asyik bermain sepakbola. Bolanya sudah butut</em></li>
<li>· <em>Ibu mengajak bayi jalan-jalan sambil menyuapi</em></li>
<li>· <em>Bau busuk tercium dari selokan yang mampet</em></li>
<li>· <em>Udara terasa hangat, angin berembus semilir</em></li>
<li>· <em>Seorang pengamen asyik menghitung hasil ngamennya di bawah pohon beringin</em></li>
<li>· <em>Seorang anak menangis keras minta jajan es krim</em></li>
<li>· <em>Penjual sate keliling membakar sate ayam</em> <em>di atas gerobak dorongnya. Baunya enak</em></li>
</ul>
<p><strong><em>b. Pemetaan</em></strong></p>
<p>Jika Anda memiliki gaya belajar visual, maka Anda dapat melakukan pengamatan dengan membuat sketsa peta. Anda menggambarkan situasi yang Anda amati dengan coretan-coretan tertentu. Ada tiga jenis peta dasar:</p>
<p><em>Peta spasial</em>. Jenis ini yang paling mudah dibuat karena sama dengan peta konvensional yang selama ini kita kenal. Sang pembuat peta melihat objek-objek, kemudian menempatkannya pada sebidang kertas dengan jarak yang proporsional dengan benda yang lain.</p>
<p><em>Peta aktivitas</em>. Jenis ini masih memanfaatkan peta spasial, namun sang pengamat membuat catatan tentang pergerakan objek yang diamati dengan menggambar garis putus-putus yang menghubungkan antar lokasi.</p>
<p><em>Peta figuratif</em>. Peta jenis ini menggambarkan objek dengan perspektif dua atau tiga dimensi. Teknik ini membutuhkan keterampilan menggambar yang di atas rata-rata.</p>
<p><strong>2. PASAR RISET </strong></p>
<p>Ada pepatah mengatakan, “<em>Learn from other people&#8217;s mistakes, life isn&#8217;t long enough to make them all yourself</em>.” Meski kelihatannya bercanda, tapi ada kebenaran indah di dalam kebenaran ini. Kita harus belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan mereka saja, tetapi juga dari keberhasilan mereka.</p>
<p>Dengan belajar dari orang lain, kita bisa menghemat waktu, biaya dan sumberdaya lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin belum pernah melihat padang rumput di Israel karena untuk pergi ke sana membutuhkan ongkos besar. Hal ini dapat disiasati dengan riset, yaitu meminta informasi dari orang lain. Ada beberapa langkah yang baik untuk memulai riset:</p>
<p>a. Mulailah dengan <em>perpustakaan pribadi</em>. Kumpulkan kliping dari berbagai macam koran dan majalah yang menarik. Selain itu, Anda pun perlu melengkapi perpustakaan dengan buku‑buku tafsir yang baik, telaah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kamus‑kamus, konkordansi lengkap, ensiklopedia dan bermacam buku teologia, sejarah, arkeologi, penelitian penulis lain, geografi, kebudayaan dan lain sebagainya. Makin lengkap perpustakaan Anda, makin mudah Anda dalam membuat cerita menulis.</p>
<p>b. Gunakan <em>sumber‑sumber informasi</em>. Di Indonesia ada LINK (Lembaga Informasi Kristen), Pusat Perpustakaan Nasional dan sebagainya. Nah, mengapa kita tidak memanfaatkan sumber‑sumber informasi yang bisa memperkaya dan memberi bobot pada cerita Anda?</p>
<p>c. <em>Mengunjungi para pakar</em>. Di samping sumber‑sumber tertulis di atas, Anda pun bisa mendapatkan informasi dari berbagai pakar menurut bidang keahlian mereka masing‑masing. Mereka biasanya senang membagikan ilmu dan keahlian yang mereka miliki, asal kita menanyakan secara sopan serta menjelaskan untuk apa informasi yang kita tanyakan itu. Kalau sumber &#8216;hidup&#8217; ini jaraknya dekat, kita bisa langsung datang ke rumahnya dengan perjanjian lebih dulu. Kalau jaraknya jauh, dan cerita dikejar oleh <em>deadline</em>, Anda bisa menyuratinya lebih dulu.</p>
<p>d. <em>Akses internet</em>. Kalau Anda memiliki komputer, modem dan saluran telepon, maka Anda bisa “menjelajahi dunia”. Ada informasi melimpah yang bisa didapatkan dari internet. Gunakan <em>search engine</em> semacam Google.com, Yahoo.com, Ask.com untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/menggali-bahan-tulisan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

