<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Purnawan Kristanto &#187; resensi</title>
	<atom:link href="http://www.purnawankristanto.com/tag/resensi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purnawankristanto.com</link>
	<description>All about writing minister</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Nov 2011 11:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>U R WHAT U READ</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/u-r-what-u-read/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/u-r-what-u-read/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 15 Mar 2011 09:08:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=74</guid>
		<description><![CDATA[SEBUAH pepatah bijak berkata begini, &#8220;You are what you read.&#8221; Ada juga yang berkata, &#8220;Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak seperti apakah diri Anda.&#8221; Kalimat ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi sekadarmenjadi pembaca [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>SEBUAH</strong> pepatah bijak berkata begini, &#8220;You are what you read.&#8221; Ada juga yang berkata, &#8220;Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak seperti apakah diri Anda.&#8221; Kalimat ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi sekadarmenjadi pembaca buku saja menurut saya belum bisa menunjukkan potensi yang dimiliki seseorang. Kapasitas seseorang akan semakin terlihat jelas dari kemampuannya mencerna dan mengolah kembali pengetahuan yang didapatnya dari buku itu, kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan. Salah satu hasil dari proses &#8216;pencernaan&#8217; ini berupa tulisan resensi. Tulisan berikut ini akan menyajikan tips-tips praktis dalam menulis resensi.<br />
Kata &#8220;resensi&#8221; diserap dari bahasa Belanda recensie atau recensere (Latin), yang berarti &#8220;melihat kembali&#8221;,&#8221;menimbang&#8221; atau &#8220;menilai&#8221;. Sedangkan resensi buku berarti sebuah kupasan atau ulasan yang memperkenalkan sebuah buku, menginformasikan pokok-pokok bahasannya, menceritakan inti isi keseluruhannya dan menunjukkan faedahnya bagi pembaca.&#8221; Ada berbagai nama yang dipakai oleh media massa untuk menandai rubrik resensi, antara lain: Tinjauan Buku, Timbangan Buku, Bedah Buku, Ulasan Buku, Kupasan Buku, Wacana atau lainnya.<br />
Secara garis besar ada tiga jenis tulisan resensi buku.<br />
[1]. Resensi Argumentatif, bersifat pandangan tandingan, kritik dan ilmiah. Jenis ini hanya cocok untuk jurnal ilmiah dan media yang pembacanya sangat serius. Panjang tulisan bisa sampai lebih dari 10 halaman, dengan isi 90% subjektif.<br />
[2]. Resensi Sinopsis.  Isinya berupa ringkasan isi sebuah buku.  Sifatnya 100 % objektif.<br />
[3]. Resensi Eksposif, bersifat memperkenalkan, menilai dan menunjukkan faedah buku. Panjangnya sekitar 4 halaman. Sifatnya, 90% objektif.</p>
<p><span id="more-74"></span></p>
<p><strong>PERSIAPAN</strong><br />
Persiapan yang wajib dilakukan oleh penulis resensi tentu saja adalah membaca isi buku itu (kalau perlu membaca berulang-ulang). Dalam hal ini penulis yang terutama harus membaca dengan seksama bagian &#8220;Kata Pengantar&#8221; atau &#8220;Pendahuluan&#8221; buku itu. Pada bagian inilah, Anda bisa memahami tujuan penulisan buku ini. Selama membaca buku itu, Anda harus mencermati dan mencatat hal-hal yang akan dipakai sebagai bahan penulisan nanti, yaitu:</p>
<ul>
<li> Tema buku</li>
</ul>
<ul>
<li>Pengarang : Tuliskan kapasitas, latar belakang dan kualifikasi penulisnya. Apakah dia cukup terkenal dan berkompeten di bidangnya?</li>
<li> Penerjemahnya [jika terjemahan buku asing]: Apakah penerjemah menguasai tema yang dibahas buku itu. Kalau perlu bandingkan denganbahasa pada buku aslinya</li>
<li> Penggunaan Bahan-bahan dan Referensi(Lihatlah Daftar Pustaka, Tabel dan Grafik pada buku tersebut)</li>
<li> Tujuan penulisan (lihat pengantar dan pendahuluan)</li>
<li> Sasaran pembaca buku ini</li>
<li> Data teknis: Jumlah halaman, harga, nama penerbit, tahun terbit.</li>
<li> Format</li>
<li> Daftar Isi</li>
<li>Pembagian bab dan pemberian judul tiap bab</li>
<li> Indeks</li>
</ul>
<p>Setelah itu, selama membaca Anda juga harus mencari jawaban atas pertanyaan-pertanyaan-pertanyaan ini:</p>
<ul>
<li>Apakah judul buku sudah mencerminkan temanya? Apakah tujuan buku ini sudah diwujudkan penulis dalam seluruh bab?</li>
<li>Buku ini termasuk dalam golongan (genre) apa?</li>
<li>Sudut pandang apa yang dipakai oleh pengarang?</li>
<li>Gaya penulisan seperti apa yang dipakai pengarang? Apakah formal atau informal? Apakah itu sudah sesuai dengan sasaran pembaca?</li>
<li>Bagaimana pemakaian bahasanya?  Apakah komunikatif, rumit atau bertele-tele?</li>
<li> Apakah pengarang merumuskan konsep dan definisi dengan jelas? Apakah pengarang menuturkan gagasannya dengan runtut (tidak meloncat-loncat) dan mudah diikuti? Apakah ada bidang.wilayah tertentu yang tidak dipaparkan oleh pengarang? Mengapa?</li>
<li> Jika buku yang diresensi adalah karya sastra, buatlah catatan seputar karakter, alur/plot dan setting dan bagaimana semuanya itu ber-relasi dalam tema besar.</li>
<li> Jangan lupa, berilah tanda pada bagian buku yang perlu mendapat perhatian khusus atau yang bisa dikutip dalam tulisan nanti. Setelah itu, rumuskanlah sinopsis atau ringkasan buku itu.</li>
</ul>
<p><strong>STRUKTUR TULISAN</strong><br />
Berikut ini struktur tulisan yang lazim dipakai dalam tulisan resensi:</p>
<p><img title="13001780381199830281" src="http://stat.ks.kidsklik.com/statics/files/2011/03/13001780381199830281_300x364.13793103448.jpg" alt="13001780381199830281" width="300" height="364.13793103448" /></p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Teras</strong></span><br />
Bagian awal sebuah tulisan adalah adalah wilayah yang sangat penting. Bagian ini sangat menentukan apakah pembaca tertarik untuk membaca keseluruhan tulisan itu, atau tidak. Ada beberapa jenis teras yang dapat dipakai untuk mengawali tulisan resensi:<br />
a. Memperkenalkan Pengarang. Tulisan diawali dengan memaparkan nama pengarang, prestasinya, karyanya dan kompetensinya. Contoh:<br />
<em>&#8220;Profesor J.D. Legge, dalam karya tulisnya kali ini memberikan sumbangan pengetahuan, pemahaman dan interprestasi mengenai sejarah perjuangan kemerdekaaan…</em><br />
(Tempo, 5/3/94)<br />
b. Kekhasan Pengarang. Penulis memaparkan ciri khas yang menonjol dari pengarang. Namun penggunaan kekhasan ini harus tepat. Maksudnya, kekhasan itu harus relevan dengan topik buku itu.<br />
Contoh:<br />
<em>Ada satu ciri khas yang biasa ditemui pada setiap tulisan DR. H. Roeslan Abdulgani, yakni setiap kutipan suatu peryataan atau kutipan sebuah buku yang tentu saja mempunyai relevansi dengan tulisan yang disajikan. Tidak saja mempunyai relevansi, tetapi juga menambah bobot tulisan…</em><br />
(Margantoro, Bernas, 21/3/93)<br />
c. Keunikan Buku: Penulis bisa membuka tulisan dengan memaparkan keunikan yang jarang dimiliki oleh buku sejenis.<br />
Contoh:<br />
<em>Luar biasa! Dengan format panjang-lebar 23&#215;15 cm, ketebalan lebih dari 1056 halaman, buku ini barangkali tercatat sebagai satu-satunya buku paling tebal untuk jenis buku nonfiksi berbahasa Indonesia .</em><br />
(St. Sularto, Kompas, 26/11/95).<br />
d. Tema Buku: tema yang diulas dalam buku dapat diungkap secara langsung.<br />
Contoh:<br />
<em>Membesarkan, mengarahkan, dan mendidik anak ternyata bukan perkara yang mudah dan gampang, apalagi bila kita kaitkan dengan besarnya cita-cita orang tua yang menginginkan anaknya taat dengan tata nilai agama, akrab, setia kawan, sukses dan berprestasi…</em><br />
(Indarti Ef.Er., Kompas, 11/11/90)<br />
Lead ini untuk mengantarkan kupasan tentang buku cara mendidik anak.<br />
e.Kelemahan Buku: Dengan pertimbangan objektif, peresensi dapat memulai dengan kelemahan buku itu. Hal ini bisa dipakai jika materi buku tidak sesuai dengan topik yang dibahas atau memiliki kelemahan yang cukup mendasar.<br />
Contoh:<br />
<em>Demokrasi mestinya dipahami sebagai sebuah proses. Untuk itu, persoalan tentang rentang waktu harus menjadi salah satu patokan. Sebab, membuat deskripsi final demokrasi tanpa menyebutkan patokan waktu, jelas akan menimbulkan bias. Apalagi jika menyangkut demokrasi ekonomi. Sebuah istilah yang sesungguhnya hanya &#8220;menumpang&#8221; pada istilah bakunya dalam studi ilmu Politik: demokrasi politik. Konsekuensinya adalah munculnya istilah-istilah yang tidak pas dengan makna yang dimaksudkan pengarangnya.<br />
Pemahaman kita tentang pemberian kesempatan yang sama dalam terminologi demokrasi politik, tidak begitu saja dapat diterapkan dalam terminologi demokrasi ekonomi. Berbagai faktor di atas sebetulnya membuat pemahaman tentang judul buku yang dibuat harian sore Surabaya Post ini terkesan agak kabur…</em><br />
(M. Taufiqurohman, Prospek, 18/9/93)<br />
f. Kesan Terhadap Buku: Lead diawali dengan kesan penulis yang cenderung subjektif. Peresensi memberikan penilaian yang relevan dan disertai argumentasi yang tepat.<br />
Contoh:<br />
<em>Sangat elementer dan jauh dari pemikiran kritis. Itulah kesan awal jika kita membaca buku ini. Kesan tidak mengada-ada. Sebab, uraiannya sendiri tampak hanya di bagian-bagian permukaan saja. Namun, di balik pemaparan yang sederhana dan kurang kritis ini, terkandung butir-butir pemikiran yang cukup filosofis…</em><br />
(Agus Wahid, Warta Ekonomi)<br />
g. Penerbit Buku:</p>
<p>Ada tiga pertimbangan pemakaian nama penerbit sebagai lead: (1). Objek yang dibicarakan sama; (2). penerbit baru atau; (3). Buku diterbitkan untuk acara tertentu.<br />
Contoh:<br />
<em>Setelah menerbitkan buku Mendorong Jack Kuntikunti&#8211;pilihan sajak dari Australia, budaya dan Politik Australia, Yayasan Obor Indonesia menerbitkan buku lagi tentang Australia, yakni Yang Tergusur. Kebetulan tahun terbitnya bisa berurutan, yakni 1991, 1992, dan 1993. Satu lagi buku yang bisa membantu kita, tentang &#8220;suku putih&#8221;-nya Asia</em><br />
(Margantoro, Bernas, 8/8/93)<br />
h. Pertanyaan: Penulis melontarkan pertanyaan yang menarik minat pembaca.<br />
Contoh:<br />
<em>Seringkali kita mendengar pertanyaan-pertanyaan sumbang mengenai hubungan antara sains dan agama. Misalnya, apakah kemajuan sains menjadi ancaman bagi agama? Benarkah agama antimodernisasi, karena modernisasi merupakan buah dari perkembangan sains?</em><br />
(Daniel Samad, Suara Karya, 1/3/96)<br />
i. Dialog: Pendahuluan yang seolah-olah melibatkan pembaca secara pribadi. Ciri khasnya lead ini terdapat banyak kata &#8220;kita&#8221; dan &#8220;Anda&#8221;.<br />
Contoh:<br />
<em>Masalah keluagra adalah masalah kita bersama. Kita semua terlibat langsung, dan karenanya berkepentingan untuk menemukan alternatif-alternatif teoritis dan praktis guna membangun keluarga yang makin bermutu</em><br />
(Margantoro, Bernas, 14/3/93)</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Pengantar</strong></span><br />
Setelah puas dengan hasil perumusan teras, lanjutkan tulisan dengan menggambaran buku itu secara umum. Di sini Anda bisa menceritakan lebih terperinci tentang siapa pengarang buku ini, kapasitas yang dia miliki dalam kaitannya dengan subjek buku.<br />
Berikan juga ringkasan tujuan buku ini, tema atau argumen umum yang ada dalam buku ini. Termasuk juga pernyataan untuk siapa buku ini ditujukan (sasaran pembaca).</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Ringkasan Isi</strong></span><br />
Sajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya menyajikan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas. Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis dalam suatu uraian yang bernas.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Analisis Tulisan</strong></span><br />
Pada bagian ini, Anda diharapkan menjabarkan hal-hal yang menonjol dari sinopsis/ringkasan isi. Berikan 5 atau 6 kutipan langsung. Panjang tiap kutipan sekitar 2-5 kalimat. Kutipan berfungsi memberi kesempatan pembaca untuk mencicipi gaya tulisan. Kutipan diapit tanda petik dan wajib 100 % sama dengan sumbernya. Manipulasi kalimat merupakan pelanggaran kode etik kepengarangan.<br />
Di sini pula Anda diharapkan memberikan ulasan mengenai hal-hal berikut:<br />
•	Gaya apa yang dipakai penulis: sederhana/ teknis; persuasif/ logis?<br />
• Bagaimana metode yang dipakai untuk memberikan argumentasi dalam buku ini (perbandingan/kontras; sebab/akibat; analogi; persuasi dengan memberikan contoh)? Berikan contoh untuk mendukung analisis Anda.<br />
• Data dan bukti apa saja yang disajikan dalam buku ini untuk mendukung argumentasi pengarang(Misalnya: peta, bagan, tabel, tulisan pakar, kutipan, kliping).<br />
•	Apakah data dan bukti itu cukup kuat? (Tunjukkan data yang lemah dan yang kuat, lalu jelaskan alasannya).<br />
•	Apakah argumentasinya sudah lengkap?<br />
• Apakah ada fakta dan data yang terlewatkan oleh pengarang? (Dalam hal ini, Anda perlu memanfaatkan buku lain dengan topik yang sama untuk menunjukkan kelemahan buku ini.)<br />
•	Apakah penyajian tulisan ini sudah sesuai dengan tujuan penulisan dan sasaran pembaca?</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Penilaian Tulisan</strong></span><br />
Berikan penilaian secara ringkas: kelemahan dan kekuatan buku ini.<br />
Berikan penilaian tentang manfaat yang bisa dipetik pembaca dari buku ini.<br />
Berikan catatan apakah Anda menyukai buku ini, atau tidak.</p>
<p><span style="text-decoration: underline;"><strong>Penutup</strong></span><br />
Sebagaimana lazimnya penulisan artikel, tulisan resensi juga harus diakhiri dengan paragraf yang bernada pamit. Tujuannya supaya pembaca tahu bahwa tulisan ii akan segera berakhir. Untuk resensi, paragraf penutupnya biasanya diakhir dengan sasaran yang hendak dituju oleh buku itu. Contohnya: Buku ini penting bukan hanya bagi mereka yang berkiprah di pemerintahan, atau pengamat pemerintahan, melainkan juga bagi mereka yang mengelola organisasi-organisasi besar yang birokrasinya terasa menjerat…(Ramelan, Manajemen Nop-Des 1995). Apakah resensi hanya bisa ditutup dengan penyebutan sasaran pembaca? Tentu saja tidak, Anda bisa menutupnya dengan pesan atau ajakan penulis yang mempertegas uraian tulisannya.</p>
<p><strong>PELUANG</strong><br />
Bukan kebetulan kalau saya menyampaikan materi tentang teknik penulisan resensi pada buku ini. Saya melihat bahwa sesungguhnya bidang penulisan resensi ini seperti ladang tak bertuan, yang kesepian dan belum banyak dijamah orang. Padahal ladang ini lumayan subur, walaupun &#8220;hasil panenannya&#8221; memang tidak sebesar tulisan artikel. Setidak-tidaknya ada dua manfaat yang bisa kita ambil dengan menulis resensi. Pertama, jika kita mengirmkan resensi kita ke media cetak dan dimuat maka kita bisa mendapatkan honor. Kedua, kita bisa menambah koleksi buku kita secara gratis. Kok bisa begitu? Iya, karena bila tulisan kita dimuat, kita bisa mengirimkan fotokopi tulisan itu pada penerbit buku itu. Biasanya penerbit yang baik akan mengirimkan buku-buku terbaru mereka supaya diresensi kembali oleh orang itu. Pada umumnya penerbitsenang jika buku terbitan mereka diresensi karena bisa menjadi sarana promosi yang murah. Itulah sebabnya, ada penerbit yang secara rutin mengirimkan buku terbaru mereka kepada penulis resensi yang aktif.<br />
Seandainya kita hanya memasang tulisan kita di blog [maksudnya tidak dikirim ke media cetak], ada beberapa penerbit yang bersedia memberikan buku gratis untuk diresensi di blog. Meski begitu ada syarat-syarat yang harus dipenuhi. Pertama, kita terbukti sering menulis resensi buku blog. Untuk langkah awal memang harus merogoh kocek sendiri dulu untuk membeli buku baru yang akan diresensi. Kedua, blog kita banyak dibaca oleh pengunjung. Jika ini sudah tercapai, maka kita tinggal mengontak penerbit untuk meminta kiriman buku-buku baru. Dengan cara ini, kita dapat semakin menambah koleksi buku di perpustakaan pribadi dengan cara yang murah.</p>
<p><em>(dari berbagai sumber)</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/u-r-what-u-read/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>You Are What You Read</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/you-are-what-you-write/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/you-are-what-you-write/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 16:07:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[resensi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=25</guid>
		<description><![CDATA[Ada seorang tokoh (sayangnya saya lupa siapa) pernah berkata begini, &#8220;Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak seperti apakah diri Anda.&#8221; Orang ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi menjadi sekadar pembaca buku saja menurut [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Ada seorang tokoh (sayangnya saya lupa siapa) pernah berkata begini,<br />
&#8220;Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak<br />
seperti apakah diri Anda.&#8221;  Orang ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis<br />
buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas<br />
orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi menjadi sekadar  pembaca<br />
buku saja menurut saya belum bisa menunjukkan potensi yang dimiliki<br />
seseorang.  Kapasitas seseorang akan semakin terlihat jelas dari<br />
kemampuannya mencerna dan mengolah kembali pengetahuan yang didapatnya dari<br />
buku itu. Salah satu hasil dari proses &#8216;pencernaan&#8217; ini berupa tulisan<br />
resensi. Tulisan berikut ini akan menyajikan tips-tips praktis dalam menulis<br />
resensi.<br />
<span id="more-25"></span>Kata &#8220;resensi&#8221; diserap dari bahasa Belanda recensie atau recensere (Latin),<br />
yang berarti &#8220;melihat kembali&#8221;,&#8221;menimbang&#8221; atau &#8220;menilai&#8221;.  Sedangkan<br />
resensi buku berarti sebuah kupasan atau ulasan yang memperkenalkan sebuah<br />
buku, menginformasikan pokok-pokok bahasannya, menceritakan inti isi<br />
keseluruhannya dan menunjukkan faedahnya bagi pembaca.&#8221;  Ada berbagai nama<br />
yang dipakai oleh media massa untuk menandai  rubrik resensi, antara lain:<br />
Tinjauan Buku, Timbangan Buku, Bedah Buku, Ulasan Buku, Kupasan Buku, Wacana<br />
atau lainnya.<br />
Secara garis besar ada tiga jenis tulisan resensi buku. [1]. Resensi<br />
Argumentatif, bersifat pandangan tandingan, kritik dan ilmiah.  Jenis ini<br />
hanya cocok untuk jurnal ilmiah dan media yang pembacanya sangat serius.<br />
Panjang tulisan bisa sampai lebih dari 10 halaman, dengan isi 90% subjektif.<br />
[2]. Resensi Sinopsis.  Isinya berupa ringkasan isi sebuah buku.  Sifatnya<br />
100 % objektif. [3].Resensi Eksposif, bersifat memperkenalkan, menilai dan<br />
menunjukkan faedah buku.  Panjangnya sekitar 4 halaman.  Sifatnya, 90%<br />
objektif.</p>
<p>A. PERSIAPAN<br />
Persiapan yang wajib dilakukan oleh penulis resensi tentu saja adalah<br />
membaca isi buku itu (kalau perlu membaca berulang-ulang). Dalam hal ini<br />
penulis yang terutama harus membaca dengan seksama bagian &#8220;Kata Pengantar&#8221;<br />
atau &#8220;Pendahuluan&#8221; buku itu.  Pada bagian inilah, Anda bisa memahami tujuan<br />
penulisan buku ini.  Selama membaca buku itu, Anda harus mencermati dan<br />
mencatat hal-hal yang akan dipakai sebagai bahan penulisan nanti, yaitu:<br />
·        Tema buku<br />
·        Pengarang : Tuliskan Kapasitas, Latar Belakang dan Kualifikasinya.<br />
Apakah dia cukup terkenal dan berkompeten di bidangnya?<br />
·        Penerjemahnya: Apakah penerjemah menguasai tema yang dibahas buku<br />
itu.<br />
·        Penggunaan Bahan-bahan dan Referensi(Lihat Daftar Pustaka, Tabel<br />
dan Grafik)<br />
·        Tujuan penulisan (lihat pengantar dan pendahuluan)<br />
·        Sasaran pembaca buku ini<br />
·        Data teknis: Jumlah halaman, harga, nama penerbit, tahun terbit.<br />
Format<br />
·        Daftar Isi<br />
·        Pembagian bab dan pemberian judul tiap bab<br />
·        Indeks<br />
Selain itu, selama membaca Anda juga harus mencari jawaban atas<br />
pertanyaan-pertanyaan-pertanyaan ini:<br />
·        Apakah judul buku sudah mencerminkan temanya? Apakah tujuan buku<br />
ini sudah diwujudkan penulis dalam seluruh bab?<br />
·        Buku ini termasuk dalam golongan (genre) apa?<br />
·        Sudut pandang apa yang dipakai oleh pengarang?<br />
·        Gaya penulisan seperti apa yang dipakai pengarang?  Apakah formal<br />
atau informal?  Apakah itu sudah sesuai dengan sasaran pembaca?<br />
·        Bagaimana pemakaian bahasanya?  Apakah komunikatif, rumit atau<br />
bertele-tele?<br />
·        Apakah pengarang merumuskan konsep dan definisi dengan jelas?<br />
Apakah pengarang menuturkan gagasannya dengan runtut (tidak meloncat-loncat)<br />
dan mudah diikuti?  Apakah ada bidang.wilayah tertentu yang tidak dipaparkan<br />
oleh pengarang? Mengapa?<br />
·        Jika buku yang diresensi adalah karya sastra, buatlah catatan<br />
seputar karakter, alur/plot dan setting dan bagaimana semuanya itu<br />
ber-relasi dalam tema besar.<br />
Jangan lupa, berilah tanda pada bagian buku yang perlu mendapat perhatian<br />
khusus atau yang bisa dikutip dalam tulisan nanti. Setelah itu, rumuskanlah<br />
sinopsis atau ringkasan buku itu.</p>
<p>B. STRUKTUR TULISAN<br />
Kesalahan fatal yang umumnya dialami oleh penulis pemula, yaitu mereka<br />
mengabaikan pembuatan outline (kerangka) tulisan.  Maunya, mereka sekali<br />
menulis langsung jadi.  Banyak orang yang menganggap bahwa membuat kerangka<br />
karangan hanya untuk siswa SD saja dalam membuat karangan.  Padahal<br />
sesungguhnya dengan kerangka karangan kita akan banyak terbantu karena bisa<br />
menulis secara sistematis, runtut dan berirama.  Berikut ini struktur<br />
tulisan yang lazim dipakai dalam tulisan resensi:[1]<br />
1. Lead/Teras</p>
<p>1. Lead/Teras<br />
Bagian awal sebuah tulisan adalah adalah wilayah yang sangat penting.<br />
Bagian ini sangat menentukan apakah pembaca [atau redaktur] tertarik untuk<br />
membaca keseluruhan tulisan itu, atau tidak.  Bagian ini ibarat seperti<br />
sebuah etalase sebuah toko.  Etalase yang dirancang secara ciamik akan bisa<br />
menggaet pengunjung yang melintas di depannya untuk masuk toko itu.<br />
Demikian pula, sebuah etalasi yang indah akan menarik pembaca [dan redaktur]<br />
untuk menyelami tulisan itu. Sebuah tulisan tanpa etalase yang baik biasanya<br />
akan lebih cepat berakhir di keranjang sampah redaksi.  Bagian tulisan ini<br />
dinamakan teras atau lead. Ada beberapa jenis lead yang dapat dipakai untuk<br />
mengawali tulisan resensi:<br />
a. Memperkenalkan Pengarang. Tulisan diawali dengan memaparkan nama<br />
pengarang, prestasinya, karyanya dan kompetensinya. Contoh: &#8220;Profesor J.D.<br />
Legge, dalam karya tulisnya kali ini memberikan sumbangan pengetahuan,<br />
pemahaman dan interprestasi mengenai sejarah perjuangan kemerdekaaan.(Tempo,<br />
5/3/94)<br />
b. Kekhasan Pengarang. Penulis memaparkan ciri khas yang menonjol dari<br />
pengarang.  Namun penggunaan kekhasan ini harus tepat.  Maksudnya, kekhasan<br />
itu harus relevan dengan topik buku itu.<br />
Contoh: Ada satu ciri khas yang biasa ditemui pada setiap tulisan DR. H.<br />
Roeslan Abdulgani, yakni setiap kutipan suatu peryataan atau kutipan sebuah<br />
buku yang tentu saja mempunyai relevansi dengan tulisan yang disajikan.<br />
Tidak saja mempunyai relevansi, tetapi juga menambah bobot<br />
tulisan.(Margantoro, Bernas, 21/3/93).<br />
c. Keunikan Buku: Penulis bisa membuka tulisan dengan memaparkan keunikan<br />
yang jarang dimiliki oleh buku sejenis. Contoh: Luar biasa! Dengan format<br />
panjang-lebar 23&#215;15 cm, ketebalan lebih dari 1056 halaman, buku ini<br />
barangkali tercatat sebagai satu-satunya buku paling tebal untuk jenis buku<br />
nonfiksi berbahasa Indonesia (St. Sularto, Kompas, 26/11/95).<br />
d. Tema Buku: tema yang diulas dalam buku dapat diungkap secara langsung.<br />
Contoh: Membesarkan, mengarahkan, dan mendidik anak ternyata bukan perkara<br />
yang mudah dan gampang, apalagi bila kita kaitkan dengan besarnya cita-cita<br />
orang tua yang menginginkan anaknya taat dengan tata nilai agama, akrab,<br />
setia kawan, sukses dan berprestasi.(Indarti Ef.Er., Kompas, 11/11/90).<br />
Lead ini untuk mengantarkan kupasan tentang buku cara mendidik anak..<br />
e.Kelemahan Buku: Dengan pertimbangan objektif, peresensi dapat memulai<br />
dengan kelemahan buku itu. Hal ini bisa dipakai jika materi buku tidak<br />
sesuai dengan topik yang dibahas atau memiliki kelemahan yang cukup<br />
mendasar.  Contoh: Demokrasi mestinya dipahami sebagai sebuah proses. Untuk<br />
itu, persoalan tentang rentang waktu harus menjadi salah satu patokan.<br />
Sebab, membuat deskripsi final demokrasi tanpa menyebutkan patokan waktu,<br />
jelas akan menimbulkan bias.  Apalagi jika menyangkut demokrasi ekonomi.<br />
Sebuah istilah yang sesungguhnya hanya &#8220;menumpang&#8221; pada istilah bakunya<br />
dalam studi ilmu Politik: demokrasi politik.  Konsekuensinya adalah<br />
munculnya istilah-istilah yang tidak pas dengan makna yang dimaksudkan<br />
pengarangnya.<br />
Pemahaman kita tentang pemberian kesempatan yang sama dalam terminologi<br />
demokrasi politik, tidak begitu saja dapat diterapkan dalam terminologi<br />
demokrasi ekonomi. Berbagai faktor di atas sebetulnya membuat pemahaman<br />
tentang judul buku yang dibuat harian sore Surabaya Post ini terkesan agak<br />
kabur.(M. Taufiqurohman, Prospek, 18/9/93)<br />
f. Kesan Terhadap Buku: Lead diawali dengan kesan penulis yang cenderung<br />
subjektif. Peresensi memberikan penilaian yang relevan dan disertai<br />
argumentasi yang tepat. Contoh: Sangat elementer dan jauh dari pemikiran<br />
kritis.  Itulah kesan awal jika kita membaca buku ini.  Kesan tidak<br />
mengada-ada.  Sebab, uraiannya sendiri tampak hanya di bagian-bagian<br />
permukaan saja.  Namun, di balik pemaparan yang sederhana dan kurang kritis<br />
ini, terkandung butir-butir pemikiran yang cukup filosofis.(Agus Wahid,<br />
Warta Ekonomi).<br />
g. Penerbit Buku: Ada tiga pertimbangan pemakaian nama penerbit sebagai<br />
lead: (1). Objek yang dibicarakan sama; (2). penerbit baru atau; (3). Buku<br />
diterbitkan untuk acara tertentu.  Contoh: Setelah menerbitkan buku<br />
Mendorong Jack Kuntikunti&#8211;pilihan sajak dari Australia, budaya dan Politik<br />
Australia, Yayasan Obor Indonesia menerbitkan buku lagi tentang Australia,<br />
yakni Yang Tergusur.  Kebetulan tahun terbitnya bisa berurutan, yakni 1991,<br />
1992, dan 1993.  Satu lagi buku yang bisa membantu kita, tentang &#8220;suku<br />
putih&#8221;-nya Asia (Margantoro, Bernas, 8/8/93).<br />
h. Pertanyaan: Penulis melontarkan pertanyaan yang menarik minat pembaca.<br />
Contoh: Seringkali kita mendengar pertanyaan-pertanyaan sumbang mengenai<br />
hubungan antara sains dan agama.  Misalnya, apakah kemajuan sains menjadi<br />
ancaman bagi agama? Benarkah agama antimodernisasi, karena modernisasi<br />
merupakan buah dari perkembangan sains? (Daniel Samad, Suara Karya, 1/3/96).<br />
i. Dialog: Pendahuluan yang seolah-olah melibatkan pembaca secara pribadi.<br />
Ciri khasnya lead ini terdapat banyak kata &#8220;kita&#8221; dan &#8220;Anda&#8221;. Contoh:<br />
Masalah keluagra adalah masalah kita bersama.  Kita semua terlibat langsung,<br />
dan karenanya berkepentingan untuk menemukan alternatif-alternatif teoritis<br />
dan praktis guna membangun keluarga yang makin bermutu (Margantoro, Bernas,<br />
14/3/93).</p>
<p>2. Pengantar<br />
Setelah puas dengan hasil perumusan lead, lanjutkan tulisan dengan<br />
menggambaran buku itu secara umum. Di sini Anda bisa menceritakan lebih<br />
terperinci tentang siapa pengarang buku ini, kapasitas yang dia miliki dalam<br />
kaitannya dengan subjek buku.<br />
Berikan juga ringkasan tujuan buku ini, tema atau argumen umum yang ada<br />
dalam buku ini. Termasuk juga pernyataan untuk siapa buku ini ditujukan<br />
(sasaran pembaca).</p>
<p>3. Ringkasan Isi<br />
Sajikan semua persoalan buku secara padat dan jelas. Sebuah buku biasanya<br />
menyajikan banyak persoalan. Persoalan-persoalan itu sebaiknya diringkas.<br />
Untuk itu, perlu dipilih sejumlah masalah yang dianggap penting dan ditulis<br />
dalam suatu uraian yang bernas.</p>
<p>4. Analisis Tulisan<br />
Pada bagian ini, Anda diharapkan menjabarkan hal-hal yang menonjol dari<br />
sinopsis/ringkasan isi.  Berikan 5 atau 6 kutipan langsung. Panjang tiap<br />
kutipan sekitar 2-5 kalimat. Kutipan berfungsi memberi kesempatan pembaca<br />
untuk mencicipi gaya tulisan.  Kutipan diapit tanda petik dan wajib 100 %<br />
sama dengan sumbernya.  Manipulasi kalimat merupakan pelanggaran kode etik<br />
kepengarangan.<br />
Di sini pula Anda diharapkan memberikan ulasan mengenai hal-hal berikut:<br />
·        Gaya apa yang dipakai penulis: sederhana/ teknis; persuasif/ logis?<br />
·        Bagaimana metode yang dipakai untuk memberikan argumentasi dalam<br />
buku ini (perbandingan/kontras; sebab/akibat; analogi; persuasi dengan<br />
memberikan contoh)? Berikan contoh untuk mendukung analisis Anda.<br />
·        Data dan bukti apa saja yang disajikan dalam buku ini untuk<br />
mendukung argumentasi pengarang(Misalnya: peta, bagan, tabel, tulisan pakar,<br />
kutipan, kliping).<br />
·        Apakah data dan bukti itu cukup kuat? (Tunjukkan data yang lemah<br />
dan yang kuat, lalu jelaskan alasannya).<br />
·        Apakah argumentasinya sudah lengkap?<br />
·        Apakah ada fakta dan data yang terlewatkan oleh pengarang? (Dalam<br />
hal ini, Anda perlu memanfaatkan buku lain dengan topik yang sama untuk<br />
menunjukkan kelemahan buku ini.)<br />
·        Apakah penyajian tulisan ini sudah sesuai dengan tujuan penulisan<br />
dan sasaran pembaca.</p>
<p>5.Penilaian Tulisan<br />
·        Berikan penilaian secara ringkas: kelemahan dan kekuatan buku ini.<br />
·        Berikan penilaian tentang manfaat yang bisa dipetik pembaca dari<br />
buku ini.<br />
·        Berikan catatan apakah Anda menyukai buku ini, atau tidak.</p>
<p>6. Penutup<br />
Sebagaimana lazimnya penulisan artikel, tulisan resensi juga harus diakhiri<br />
dengan paragraf yang bernada pamit.  Tujuannya supaya pembaca tahu bahwa<br />
tulisan ii akan segera berakhir. Untuk  resensi,  paragraf penutupnya<br />
biasanya diakhir dengan sasaran yang hendak dituju oleh buku itu.<br />
Contohnya: Buku ini penting bukan hanya bagi mereka yang berkiprah di<br />
pemerintahan, atau pengamat pemerintahan, melainkan juga bagi mereka yang<br />
mengelola organisasi-organisasi besar yang birokrasinya terasa<br />
menjerat.(Ramelan, Manajemen Nop-Des 1995).  Apakah resensi hanya bisa<br />
ditutup dengan penyebutan sasaran pembaca? Tentu saja tidak, Anda bisa<br />
menutupnya dengan pesan atau ajakan penulis yang mempertegas uraian<br />
tulisannya.</p>
<p>C. PELUANG<br />
Bukan kebetulan kalau Sekolah Jurnalistik BAHANA kali ini juga menyampaikan<br />
materi tentang teknik penulisan resensi.  Kami melihat bahwa sesungguhnya<br />
bidang penulisan resensi ini seperti ladang tak bertuan, yang ksepian dan<br />
belum banyak dijamah orang. Padahal ladang ini lumayan subur, walaupun<br />
&#8220;hasil panenannya&#8221; memang tidak sebesar tulisan artikel.  Setidak-tidaknya<br />
ada tiga manfaat yang bisa kita ambil dengan menulis resensi.  Pertama, kita<br />
bisa mendapatkan honor jika tulisan itu dimuat.  Kedua, kita bisa menambah<br />
koleksi buku kita secara gratis.  Kok bisa begitu? Iya, karena bila tulisan<br />
kita dimuat, kita bisa mengirimkan fotokopi tulisan itu pada penerbit buku<br />
itu.  Biasanya penerbit yang baik akan mengirimkan buku-buku terbaru mereka<br />
supaya diresensi kembali oleh orang itu.  Pada umumnya penerbitsenang jika<br />
buku terbitan mereka diresensi karena bisa menjadi sarana promosi yang<br />
murah. Itulah sebabnya, ada penerbit yang secara rutin mengirimkan buku<br />
terbaru mereka kepada penulis resensi yang aktif.<br />
Ketiga, jika Anda rajin menulis resensi, nama Anda bisa mulai dikenal orang.<br />
Tingkat persaingan untuk rubrik resensi tidaklah begitu ketat, sehingga<br />
peluang untuk dimuat sangat besar.  Ada beberapa orang yang menjadi penulis<br />
yang dikenal karena rajin menulis resensi.  Contohnya, St. Kartono(guru SMU<br />
De Britto) dan Br. Paulus Mujiran (rohaniawan).<br />
Nah, jika Anda penulis pemula, Anda bisa memulai dengan menekuni ladang ini.<br />
Tunggu apa lagi?<br />
Dirangkum dari berbagai sumber</p>
<p>[1] Daniel Samad, Dasar-Dasar Meresensi Buku, Grasindo, 1997</p>
<p>http://purnawan-kristanto.blogspot.com</p>
<div>Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com<br />
]</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/you-are-what-you-write/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

