<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Purnawan Kristanto &#187; jurus</title>
	<atom:link href="http://www.purnawankristanto.com/tag/jurus/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purnawankristanto.com</link>
	<description>All about writing minister</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Nov 2011 11:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bongkar Ingatanmu</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 00:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>
		<category><![CDATA[jurus]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[PARA penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://s2.hubimg.com/u/431685_f520.jpg" alt="brain" width="354" height="463" /></p>
<p>PARA penulis pemula biasanya <em>bengong</em> cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam.  Apalagi jika Anda sudah <em>on-line</em> dan koneksi internet dihitung berdasarkan waktu. Semakin lama Anda bengong, maka semakin membengkaklah tagihan internet Anda.</p>
<p>Untuk menyiasati hal ini, cara yang terbaik adalah Anda sudah menyiapkan tulisan ketika masih <em>off-line</em>. Kemudian ketika <em>on-line</em>, Anda tinggal mengunggahnya saja. Meski begitu, kadang-kadang ketika sedang <em>off-line</em> pun, mungkin Anda juga mengalami kemacetan ide. Anda tidak perlu resah. Anda dapat mencoba salah satu dari rahasia penulisan, yaitu menggunakan teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan <strong><em>ingatan (memori)</em></strong> Anda sebagai bahan tulisan. Jika Anda masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi tersendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p>a. Kode Kata</p>
<p>Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah dengan memilih kata kunci dari tema cerita atau <em>premise</em> yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman yang Anda memiliki.  Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan  mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.</p>
<p>Berikut contohnya:</p>
<ul>
<li>Bunga</li>
<li>Tukang Kebun</li>
<li>Sederhana</li>
<li>Anak banyak</li>
<li>Nakal</li>
<li>Polisi</li>
<li>Kegaduhan</li>
</ul>
<p>Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang <em>kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi</em>.</p>
<p>Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari tema tulisan hendak Anda buat. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b. Curah Gagasan (<em>Brainstorming</em>)</p>
<p>Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><strong>Ikan</strong></p>
<p><em>Rasul Petrus menjala ikan</em></p>
<p><em>Yesus ikut makan ikan</em></p>
<p><em>Ikan bakar bebas kolesterol</em></p>
<p><em>Memancing itu asyik</em></p>
<p><em>Menjala hasilnya lebih banyak</em></p>
<p><em>Yunus pernah ditelan oleh ikan besar</em></p>
<p><em>Hati-hati tertusuk duri ikan</em></p>
<p>Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan di antara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang <em>petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus</em>. <em>Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>c. Menulis Bebas</p>
<p>Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.</p>
<p>Ada dua teknik yang dapat digunakan. Pertama, menggunakan kode kata sebagai panduannya. Kedua, menulis bebas secara total. Anda menulis seperti mengikuti air yang mengalir. Anda tidak tahu dan tidak meriasukan kemana tujuan akhir dari aliran itu. Yang penting Anda menuangkan apa saja yang terekam di benak Anda.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><em>Hmmm….cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.</em></p>
<p>Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang <em>ngelantur </em>kemana-mana.</p>
<p>Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang <em>menyambut kedatangan Yesus</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>d. Pemetaan Pikiran</p>
<p>Pemetaan pikiran (<em>mind mapping</em>) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. <em>Mind mappin</em>g memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Catat poin utama, pikiran atau ide utama.</li>
<li>Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.</li>
<li>Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan.  Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!</li>
<li>Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.</li>
</ul>
<p>MENULIS BUKU JURNAL</p>
<p>Seorang penulis wajib memiliki dan selalu membawa buku kecil (atau PDA) kemana pun dia pergi. Inilah yang disebut buku jurnal. Buku ini berbeda dengan buku harian (<em>diary</em>) yang mencatat segala kegiatan fisik setiap hari. Buku ini merupakan catatan dari aktivitas otak kita. Buku ini mencatat semua hal yang terlintas di otak Anda, entah itu ide, kegelisahan, pergumulan, pengalaman atau kekesalan Anda.</p>
<p>Ilham atau ide itu bisa datang kapan saja, tanpa diundang dan tak bisa ditolak. Ketika ide itu datang, kita harus segera mencatatnya. Jangan pernah mempercayai ingatan Anda, karena ingatan kita ini sangat terbatas. Jika kita lalai mencatat dan tidak ingat lagi ide tersebut, maka kita telah melepas angsa yang bertelor emas.</p>
<p>Dengan selalu mengantongi buku jurnal, ada dua keuntungan yang Anda dapatkan:</p>
<p>Pertama, melatih keberanian Anda untuk menulis. Buku jurnal memberikan kebebasan menulis sebebas-bebasnya karena hanya Anda yang akan membacanya. Jadi tidak perlu takut dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ada pepatah:<em>practice make perfect</em> (kita bisa karena terbiasa).</p>
<p>Kedua, menyediakan sumber tulisan. Jurnal bukanlah sebuah tulisan yang sudah jadi. Ibarat masakan, jurnal merupakan bahan pangan yang masih harus diolah lagi. Jika kita sudah terbiasa menulis jurnal, maka kita menyediakan bahan tulisan dengan cepat.  Meski efeknya tidak langsung, tetapi menulis jurnal dapat mendukung kita ketika ingin menulis dengan cepat.<br />
Dikutip dari &#8220;Blog Gospel&#8221;, diterbitkan oleh Inspirasi, Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/?action=view&amp;current=bloggospel.jpg" target="_blank"><img src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/bloggospel.jpg" border="0" alt="Blog Gospel" width="190" height="309" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiga Jurus Menulis Buku</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/tiga-jurus-menulis-buku/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/tiga-jurus-menulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 13:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[jurus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Duapuluh tahun lagi sejak sekarang, engkau akan kecewa karena tidak melakukan apa yang seharusnya kau lakukan.  Angkatlah sauhmu. Tinggalkan dermaga aman. Kembangkanlah layarmu.  Jelajahi! Impikan! Temukan!&#8221; &#8212; Mark Twain Saya terinspirasi ucapan Paulus Lie pada pertemuan pertama Sekolah Penulisan &#8220;Gloria&#8221; yang kemarin. Pendeta GKI Gejayan sekaligus ketua PGI DIY ini mengatakan bahwa kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><em>&#8221; Duapuluh tahun lagi sejak sekarang, engkau akan kecewa karena tidak melakukan apa yang seharusnya kau lakukan.  Angkatlah sauhmu. Tinggalkan dermaga aman. Kembangkanlah layarmu.  Jelajahi! Impikan! Temukan!&#8221;</em><br />
&#8212; Mark Twain</div>
<div>Saya terinspirasi ucapan Paulus Lie pada pertemuan pertama Sekolah Penulisan &#8220;Gloria&#8221; yang kemarin. Pendeta GKI Gejayan sekaligus ketua PGI DIY ini mengatakan bahwa kita tidak akan langsung menikmati buah dari penulisan buku. Kita baru bisa mulai menikmatinya beberapa tahun kemudian. Akan tetapi jika kita tidak memulainya dari sekarang, maka kita akan menyesal di kemudian hari. Hal yang sama dikatakan oleh Mark Twain. Jika Anda ingin melakukan sesuatu yang berarti, maka sekarang saatnya untuk memulai. Kita tidak pernah bisa memanen sesuatu jika tidak pernah mulai menaburkan benih dari sekarang. Sekarang saatnya untuk menabur. Sekarang saatnya mulai menulis buku.</div>
<div>
<span id="more-9"></span> Ada beberapa orang yang memang dapat menulis dengan sangat mudah. Setiap kali duduk dan mulai menulis, dia tidak akan berhenti menulis hingga dapat menyelesaikan tulisan. Contohnya Jack Kerouac yang menghasilkan novel On the Road dalam waktu empat puluh hari. Dia sengaja memasang kertas gulung (continous paper) di mesin ketiknya, supaya dapat terus-menerus mencurahkan kata demi kata tanpa harus terganggu dengan urusan mengganti kertas.<br />
Akan tetapi sebagian besar orang tidak memiliki karunia seperti ini. Meskipun baru saja duduk di depan komputer atau mesin ketik, dia sudah menemukan kebuntuan. Hampir semua penulis pernah mengalami frustasi seperti ini. Menulis itu bukan pekerjaan atau jenis pelayanan mudah. Dibutuhkan ketrampilan dan disiplin tertentu untuk terjun ke dalamya. Akan tetapi banyak kesempatan yang terbuka di bidang pelayanan literatur ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengembangkan sebuah keyakinan dan kepercayaan diri untuk mengatasi segala halangan frustasi di dalam penulisan.<br />
Untungnya, kepercayaan diri ini tidak didapatkan secara misterius. Anda dapat dapat memperolehnya dengan kerja keras dan belajar dari pengalaman—baik diri sendiri maupun orang lain.</div>
<div><strong>TAHAPAN PENULISAN<br />
</strong>Jika Anda belum pernah menulis buku, bukan berarti Anda tidak dapat menulis buku. Yang perlu Anda ketahui adalah &#8220;jurus rahasia&#8221;  menulis buku. Ada tiga jurus rahasia yang harus dikuasai supaya dapat menjadi pendekar di dunia kepenulisan. Jurus pertama harus dilatih dan dikuasai lebih dulu sebelum berlatih jurus kedua. Demikian juga jurus kedua dan ketiga.</div>
<div><strong><em>Jurus Pertama: Perencanaan<br />
</em></strong>Perencanaan perlu dikuasai dan dilatih supaya kita memiliki pedoman dalam menulis. Ini yang akan menjadi bintang pemandu kita, seperti bintang yang telah memandu orang Majus sampai kepada bayi Yesus. Salah satu habit yang dirumuskan Stephen Covey, di antara Seven Habit for Highly Effective People, adalah &#8220;Beginning with the End&#8221;. Artinya, dalam memulai sesuatu, kita perlu membayangkan lebih dulu hasil akhirnya akan seperti apa. Jika kita sudah memiliki bayangan yang jelas, maka kita tidak akan kehilangan arah dan kehilangan semangat dalam penulisan. Dengan membuat rencana tulisan berarti kita telah merumuskan mimpi kita.<br />
Tahap perencanaan meliputi pemilihan tema, penentuan tujuan penulisan dan strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.</div>
<div><strong><em>Jurus Kedua: Menulis Kasar (Drafting)</em></strong><br />
Menulis draft dapat diibaratkan layaknya pelukis yang menggambar sketsa. Dia menggores pena secara garis besar. Meski begitu, kita sudah bisa melihat perwujudan kasar dari lukisan yang akan dibuatnya. Pada tahapan ini, Anda mulai menyusun kerangka karangan. Pelajaran ini sudah kita dapatkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Meski begitu, alat ini masih ampuh dan belum ketinggalan zaman.<br />
Begitu Anda sudah memiliki kerangka tulisan, maka Anda mulai mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan. Jika tema sudah digenggam, langkah berikutnya adalah mencari bahan-bahan informasi pendukungnya.  Seperti koki yang sudah memutuskan jenis masakan tertentu, dia lalu belanja bahan-bahan yang dibutuhkan.<br />
Sampai di sini, proses penulisan menjadi mudah. Yang kita lakukan adalah  menempelkan &#8220;daging&#8221; pada kerangka itu.  Artinya, kita tinggal menuliskan detil atau rincian dari setiap tulang kerangka.  Yang dibutuhkan di sini adalah sikap konsisten pada kerangka itu.<br />
Setumpuk informasi yang terkumpul itu kemudian disusun sehingga membentuk sebuah tulisan yang utuh. Layaknya menyusun kain perca, Anda menggabungkan potongan demi potongan dengan cara menjahitkan antar kain perca. Pekerjaan merangkai sari informasi menjadi tulisan baru ini dikenal sebagai mengkompilasikan (merangkum bahan informasi).<br />
Perangkuman ini mengandung dua tugas penting:<br />
(1). Mencakup  pelbagai pokok pernyataan<br />
(2) Mengemukakan kembali kumpulan pernyataan itu  dengan kata-kata lain dan kalimat baru secara ringkas.<br />
Selama rangkuman itu tidak menunjukkan lebih dari satu sumber informasi, maka hasilnya belum bisa disebut rangkuman tetapi jiplakan yang diringkas. Agar rangkuman itu enak dibaca,  maka kumpulan informasi itu harus disusun berdasarkan urut-urutan tertentu (Kronologis, Lokal, Klimaks, Familiaritas, Akseptabilitas, Kausal, Logis dan Apresiatif. )</div>
<div><strong><em>Jurus Ketiga: Revisi</em></strong><br />
Jurus revisi perlu dikuasai untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Sebagai jurus pamungkas, revisi menjadi andalan kita di dalam merobohkan tembok editor. Pada tahapan ini Anda perlu melakukan evaluasi dan memeriksa tulisan Anda. Apakah ada pengalimatan yang kurang tepat, ejaan yang masih salah, bagian tulisan yang pelu dibuang atau dikembangkan, dll. Dan yang tak kalah pentingnya adalah memeriksa apakah isi tulisan tersebut sudah sesuai dengan tujuan semula, atau tidak.<br />
Tidak satu pun naskah buku yang sudah sempurna dan siap diterbitkan tanpa mengalami revisi.  Jika Anda sudah selesai menulis, simpanlah dulu naskah itu dan lupakan selama beberapa hari. Gantilah melakukan aktivitas lain.  Beberapa hari kemudian, bacalah kembali naskah itu dengan pikiran yang baru. Hampir pasti, Anda bakal menemukan kesalahan dan kekurangan yang sebelumnya Anda tidak sadari.</div>
<div>Pernah disampaikan pada Sekolah Penulisan Gloria, 2008</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/tiga-jurus-menulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

