<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Purnawan Kristanto &#187; Jurnalisme</title>
	<atom:link href="http://www.purnawankristanto.com/tag/jurnalisme/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purnawankristanto.com</link>
	<description>All about writing minister</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Nov 2011 11:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Olah Fakta Jadi Berita [3]</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/10/olah-fakta-jadi-berita-3/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/10/olah-fakta-jadi-berita-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 10:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Purnawan Kristanto 3. Berita Kisah Berita kisah berita feature adalah tulisan tentang kejadian yang dapat menyentuh perasaan atau menambah pengetahuan pembaca lewat penjelasan rinci, lengkap serta mendalam.  Jadi nilai utamanya pada unsur manusiawi dan dapat menambah pengetahuan. Ada bermacam-macam feature: Profile Feature : menceritakan perjalanan hidup seseorang, bisa pula hanya menggambarkan sepak terjang orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Purnawan Kristanto</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.fas.org/programs/ssp/nukes/_images/news.jpg" alt="berita" /></p>
<p><strong>3. Berita Kisah </strong></p>
<p>Berita kisah berita <em>feature </em>adalah tulisan tentang kejadian yang dapat menyentuh perasaan atau menambah pengetahuan pembaca lewat penjelasan rinci, lengkap serta mendalam.  Jadi nilai utamanya pada unsur manusiawi dan dapat menambah pengetahuan. Ada bermacam-macam feature:</p>
<ul>
<li><em>Profile Feature</em> : menceritakan perjalanan hidup seseorang, bisa pula hanya menggambarkan sepak terjang orang tersebut dalam suatu kegiatan dan pada kurun waktu tertentu. <em>Profile feature</em> tidak hanya cerita sukses saja, tapi bisa juga cerita kegagalan seseorang Tujuannya agar pembaca dapat bercermin lewat kehidupan orang lain.</li>
<li><em>How To Do It Feature </em>: berita yang menjelaskan untuk melakukan sesuatu. Informasi yang disampaikan berupa petunjuk yang dipandang penting bagi pembaca.  Misalnya, petunjuk perjalanan <em>mudik</em> lebaran lewat darat.  Dalam tulisan itu disajikan beberapa tips praktis, keterangan lokasi rumah makan, perkiraan biaya, kualitas jalan, jalur yang aman dll.</li>
<li><em>Human Interest Feature</em>: menonjolkan hal-hal yang menyentuh perasaan sebagai hal yang menarik. Jadi untuk berita ini menonjolkan peristiwa atau kejadian yang dialami manusia (bandingkan dengan Profile Feature)<span id="more-62"></span></li>
</ul>
<p><strong>Sumber-Sumber <em>Feature</em></strong></p>
<p>Ada seorang anggota jemaat di gereja sekitar Malioboro.  Namanya Mohammad Mustofa.  Sehari-harinya dia adalah pedagang kaki lima di bilangan Malioboro.  Namun setiap kali ada acara Pemahaman Alkitab, Bapak ini selalu menutup dagangannya hari itu. Aspek ini bisa menjadi cantelan penulisan <em>feature</em> bagaimana dia mengatur waktu antara kegiatan gereja dengan mencari nafkah.</p>
<p>Di sekitar kita ada banyak bahan-bahan yang dapat diracik menjadi sebuah berita kisah.  Kuncinya adalah kesediaan kita untuk menggali lebih dalam dari peristiwa-peristiwa di sekitar kita.  Namun sebagai petunjuk saja, kita bisa menggali dari peristiwa berikut ini:</p>
<p><em>Peristiwa luar biasa</em> : ganjil, aneh, seperti kebetulan, kepribadian yang unik.</p>
<p><em>Peristiwa biasa</em> : orang biasa, tempat biasa dan benda biasa tetapi orang selalu ingin mengetahui hal-hal itu.  Sebagai contoh, setiap kali melintasi perempatan Gramedia Yogyakarta, kita selalu menjumpai anak-anak jalanan.  Setiap orang yang melintas ingin tahu berapa penghasilan mereka sehari? Apakah ada yang mengkoordinir? bagaimana makan mereka? Apakah mereka tidak pernah sakit karena polusi?  Apakah mereka masih punya keluarga?</p>
<p><em>Peristiwa Dramatis</em>: pemenang undian, Orang Kaya Baru, pengalaman heroik, selamat dari kecelakaan dsb.</p>
<p><em>Panduan bagi pembaca</em>: Nasihat dan kiat-kiat untuk pembaca, misalnya cara menghindari perampokan, cara memilih helm yang sudah memenuhi standard, resep, kerajinan tangan dll.</p>
<p><em>Informasi</em>: Statitistik, pelajaran, gambar, sejarah dll</p>
<p>Cara Menulis <em>Feature</em></p>
<p>Sebagian besar penulis <em>feature</em> tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.</p>
<p>Struktur tulisan <em>feature</em> disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri dari <em>lead</em>, jembatan di antara <em>lead </em>dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup.  Bagian atasnya berupa lapisan <em>lead</em> dan jembatan yang sama pentingya, dan bagian tengahnya berupa tubuh tulisan yang makin ke bawah makin kurang ke-penting-annya.  Bagian bawahnya berupa alenia penutup yang bulat.</p>
<p>Kunci penulisan <em>feature</em> yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead atau teras. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. (jenis-jenis <em>lead</em> bisa dilihat pada bab sebelumnya)</p>
<p><em>Lead feature</em> berisi hal yang paling penting untuk mengarahkan perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang dimulainya penulisan.</p>
<p>Jembatan bertugas sebagai perantara antara <em>lead</em> dan tubuh yang dengan <em>lead</em> masih terkait, tetapi ke tubuh tulisan sudah mulai masuk.  Ia semata-mata melukiskan identitas dan situasi dari hal yang akan dituturkan nanti.</p>
<p>Tubuh <em>feature</em> berisi situasi dan proses disertai penjelasan mendalam tentang mengapa dan bagaimana.  Pada <em>human interest feature</em>, situasi yang dituturkannya disertai pendapat atau pandangan yang subjektif dari penulisnya mengenai situasi yang diutarakan.  Tetapi pada bentuk <em>feature</em> ilmiah populer situasi dan proses yang dituturkan tidak disertai pendapat subjektif, tetapi tetap dipertahankan keobjektivitasan pandangannya.</p>
<p>Penutup <em>feature</em> berupa alinea berisi pesan yang mengesankan.</p>
<p>Suatu <em>feature</em> memerlukan &#8212; bahkan mungkin harus &#8212; <em>ending</em> karena dua sebab:</p>
<p>1. Menghadapi <em>feature</em> hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia.</p>
<p>Bahkan <em>feature</em> yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan <em>feature</em> tak bisa asal dipotong dari bawah. <em>Feature</em> mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.</p>
<p>2.<em> Ending</em> bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis <em>feature</em> pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu &#8220;penyelesaian&#8221; atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak <em>feature</em>. Karena itu memotong bagian akhir sebuah <em>feature</em>, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/10/olah-fakta-jadi-berita-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Olah Fakta Jadi Berita [2]</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-2/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 10:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Purnawan Kristanto NILAI BERITA Setiap harinya ada puluhan sampai ratusan peristiwa yang terjadi di sekitar kita, tapi tidak semua peristiwa itu layak diberitakan.  Suatu peristiwa bisa dibuat berita spsbila memiliki satu atau lebih NILAI BERITA berikut ini: KEBERMAKNAAN (Significance): Kejadian yang mempengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang punya akibat terhadap pembaca. Contoh : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Purnawan Kristanto</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.it.uc3m.es/news-int/news-logo.gif" alt="berita" width="344" height="257" /><br />
<strong> </strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>NILAI BERITA</strong></p>
<p>Setiap harinya ada puluhan sampai ratusan peristiwa yang terjadi di sekitar kita, tapi tidak semua peristiwa itu layak diberitakan.  Suatu peristiwa bisa dibuat berita spsbila memiliki satu atau lebih NILAI BERITA berikut ini:</p>
<ol>
<li>KEBERMAKNAAN (<em>Significance</em>): Kejadian yang mempengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang punya akibat terhadap pembaca.</li>
</ol>
<p>Contoh : Berita kenaikan harga BBM, tarif TDL, ongkos angkutan umum, biaya pulsa telepon dll.</p>
<ol>
<li>BESARAN (<em>Magnitude</em>) : kejadian yang menyangkut angka-angka yang besar dan memiliki arti bagi kehidupan orang banyak.  Misalnya: para pengutang kelas kakap m<em>engemplang </em><span style="text-decoration: underline;">trilyunan rupiah</span> BLBI.  Anggota DPR menerima suap 1 miliar rupiah.</li>
<li>KEBARUAN (<em>Timeliness</em>): Kejadian yang menyangkut peristiwa yang baru terjadi. Misalnya: Pengeboman di gereja tidak punya nilai berita apa-apa jika baru diberitakan seminggu kemudian.</li>
<li>KEDEKATAN (<em>Proximity</em>) : Kejadian yang ada di dekat pembaca.  Bisa kedekatan geografis atau emosional.  Misalnya: gempa bumi di Jogja lebih bernilai berita ketimbang gempa bumi di Meksiko.</li>
<li>KETERMUKAAN/SISI MANUSIAWI (<em>Prominence/Human interest</em>): kejadian yang memberi sentuhan perasaan atau emosi pada pembaca.  Kejadiannya menyangkut orang biasa, tapi dalam peristiwa yang luar bisa, orang luar biasa (<em>public figure</em>) dalam peristiwa biasa atau bahkan orang luar biasa dengan kejadian luar biasa.</li>
</ol>
<p>Contoh:</p>
<ul>
<li>Perceraian Ahmad Dhani dan Maya Estianti diberitakan secara besar-besaran. Ini adalah orang luar biasa dalam peristiwa yang biasa.</li>
<li>Seorang tukang becak di Yogyakarta terpilih menjadi wakil Indonesia dalam program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Ini adalah orang biasa dalam peristiwa yang luar biasa.</li>
</ul>
<p>Sebelum menuliskan sebuah peristiwa menjadi berita, maka Anda perlu memastikan bahwa peristiwa itu memiliki berita. Jika Anda nekad menulis peristiwa yang tidak punya nilai berita, maka usaha Anda akan sia-sia saja. Tulisan Anda tidak akan dibaca oleh orang lain.</p>
<p>MENULIS BERITA</p>
<p>Berita dapat ditulis dalam berbagai cara, tergantung pada apakah peristiwa itu patut segera diketahui atau tidak.  Perbedaan cara penyampaian inilah yang melahirkan ragam berita.</p>
<p>Berita jurnalistik yang ada di media cetak dapat digolongkan menjadi : berita langsung (<em>straight/ hard/spot news</em>), berita ringan (<em>soft news</em>), berita kisah (<em>feature</em>), serta laporan mendalam (<em>in-depth report</em>).</p>
<h5><strong>1. Berita Langsung </strong></h5>
<p>Berita: langsung digunakan untuk menyampaikan kejadian penting yang secepatnya perlu diketahui pembaca.  Aktualitas adalah unsur terpenting dalam berita langsung.  Kejadian yang sudah lama terjadi, tidak bernilai lagi untuk ditulis sebagai berita langsung.</p>
<p>Aktualitas tidak hanya soal waktu, tetapi juga sesuatu yang baru diketahui atau diketemukan.  Misalnya cara baru, ide baru, penemuan baru dll.   Semuanya itu memiliki makna penting bagi keadaan sekarang. Berita tentang Aksi Sosial gereja Anda harus segera ditulis supaya dapat  segera dibaca oleh jemaat.</p>
<p>Untuk menulis berita langsung, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan  fakta-fakta di lapangan, yaitu meliputi <span style="text-decoration: underline;">jalan cerita</span> dari peristiwa. Fakta-fakta yang terkumpul itu masih berupa kepingan-kepingan peristiwa yang masih harus kita susun. Layaknya <em>puzzle</em>, seorang jurnalis perlu merangkaikan peristiwa menurut alur cerita yang logis dan sistematis.</p>
<p>Menata berita langsung adalah kegiatan menempatkan fakta-fakta yang penting di bagian atas dan yang kurang penting di bagian belakang. Inilah yang dikenal dengan cara <span style="text-decoration: underline;">piramida terbalik</span>.  Tujuannya juga untuk memanjakan pembaca yang tak punya banyak waktu agar bisa segera mendapatkan informasi yang penting.</p>
<p>Tuliskanlah teras yang menarik, kemudian rangkum semua unsur berita dalam satu atau dua kalimat di bagian ini. Segera tuliskanlah unsur 5W+1H di sini. Bagian ini ditulis dengan prinsip KISS (<em>keep it simple and short</em>). Tulislah secara sederhana, ringkas dan padat.</p>
<p>Pada tubuh berita, Anda punya kesempatan untuk menceritakan jalan cerita secara lebih terperinci, terutama untuk mengembangkan unsur <em>How</em> atau bagaimana peristiwa tersebut terjadi.  Segera tempatkanlah informasi-informasi yang paling penting pada bagian awal, kemudian menyusul informasi-informasi yang kurang penting pada bagian berikutnya.</p>
<p>Jika masih punya kesempatan, Anda dapat menutup berita dengan merangkum kembali fakta-fakta yang Anda penting menggunakan susunan kata dan kalimat yang berbeda.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h5><strong>2. Berita Ringan </strong></h5>
<p>Berita ringan tidak mengutamakan unsur <span style="text-decoration: underline;">penting</span> yang hendak diberitakan, tetapi menekankan sesuatu yang <span style="text-decoration: underline;">menarik</span>.  Berita ini biasa ditemukan sebagai kejadian yang manusiawi dalam kejadian penting.  Kejadian yang penting dituliskan sebagai berita langsung, sedang yang menyangkut unsur manusiawi ditulis sebagai berita ringan,</p>
<p>Berdasarkan kejadiannya, berita ringan dapat dibedakan atas dua jenis:</p>
<ul>
<li>Berita ringan yang kejadiannya merupakan sampiran dari peristiwa penting yang diberitakan lewat berita langsung (disebut <em>side bar</em>)</li>
<li>Berita ringan yang kejadiannya berdiri sendiri. Jadi tidak terkait peristiwa penting.</li>
</ul>
<p>Berita ringan sangat cocok untuk majalah karena tidak terikat aktualitas. Berita ini langsung menyentuh emosi pembaca misalnya keterharuan, kegembiraan, kasihan, kegeraman, kelucuan, kemarahan dll. Bahan yang ditulis adalah kejadian di permukaan. Tidak perlu melacak latar belakangnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Olah Fakta Jadi Berita [1]</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-1/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2010 10:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Purnawan Kristanto SEIRING dengan maraknya perkembangan blog, maka muncul sebuah fenomena baru yang diberi nama citizen journalism atau jurnalisme warga. Kegiatan menulis berita kini tidak dimonopoli oleh wartawan saja. Berkat perkembangan teknologi komunikasi, setiap orang kini dapat mengabarkan peristiwa yang dilihatnya. Setiap orang dapat mengirimkan berita-berita yang mungkin tidak akan dimuat oleh media massa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh Purnawan Kristanto<br />
<img src="http://www.adelaide.edu.au/student/careers/images/news.jpg" alt="berita" /><br />
<strong></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>SEIRING </strong>dengan maraknya perkembangan blog, maka muncul sebuah fenomena baru yang diberi nama <em>citizen journalism</em> atau jurnalisme warga.<em> </em>Kegiatan menulis berita kini tidak dimonopoli oleh wartawan saja. Berkat perkembangan teknologi komunikasi, setiap orang kini dapat mengabarkan peristiwa yang dilihatnya. Setiap orang dapat mengirimkan berita-berita yang mungkin tidak akan dimuat oleh media massa cetak biasa. Misalnya, seorang ibu menuliskan kondisi pasar tradisional di dekat rumahnya yang kumuh dan kotor. Seorang remaja menuliskan kelakuan gurunya yang ringan tangan.</p>
<p>Dilihat dari standard jurnalistik, jurnalisme warga ini memiliki sejumlah kelemahan seperti ketiadaan keberimbangan, faktualitas dan objektivitas. Sebagai contoh, berita yang ditulis warga sering dibumbui dengan opini penulisnya, yang dalam kaidah jurnalisme merupakan hal yang diharamkan. Mereka juga mengabaikan prinsip <em>cover both side</em>. Sebagai contoh, dalam menuliskan perilaku guru yang main <em>tempeleng</em>, sang penulis hanya menulis dari sisi murid dan tidak menyertakan pendapat dari sang guru tersebut.</p>
<p>Meski belum memenuhi kaidah jurnalistik, tidak berarti bahwa keberadaan pewarta warga ini tidak boleh ada. Keberadaannya justru dibutuhkan untuk mengisi celah-celah kosong yang tidak diliput oleh jurnalisme konvensional. Yang perlu dilakukan adalah belajar untuk menulis berita dengan benar.</p>
<p>****</p>
<p>Berita adalah <span style="text-decoration: underline;">peristiwa</span> yang dilaporkan.  Segala hal yang didapat di lapangan dan sedang dipersiapkan untuk dilaporkan <span style="text-decoration: underline;">belum</span> bisa disebut <span style="text-decoration: underline;">berita</span>. Wartawan yang menonton  atau  menyaksikan peristiwa, belum tentu telah  menemukan peristiwa.  Wartawan sudah menemukan peristiwa setelah ia memahami prosesnya atau <span style="text-decoration: underline;">jalan cerita</span>, yaitu tahu APA yang terjadi, SIAPA yang terlibat, kejadiannya BAGAIMANA, KAPAN dan DI MANA itu terjadi dan MENGAPA sampai terjadi. Keenam hal itu yang disebut <strong>UNSUR BERITA.</strong></p>
<h1>Unsur Berita</h1>
<ul>
<li>APA (<strong>What</strong>) yang terjadi,</li>
<li>SIAPA  (<strong>Who</strong>) yang terlibat,</li>
<li>KAPAN (<strong>When</strong>) dan</li>
<li>DI MANA (<strong>Where</strong>) itu terjadi,</li>
<li>MENGAPA (<strong>Why</strong>) bisa terjadi</li>
<li>BAGAIMANA (<strong>How</strong>) kejadiannya</li>
</ul>
<p>Mungkinkah suatu peristiwa terjadi tanpa cerita? Bisa saja tapi peristiwa semacam ini dapat dikatakan <span style="text-decoration: underline;">berita tidak lengkap</span> alias <span style="text-decoration: underline;">berita kabur</span><strong>. </strong>Ingat, berita harus selalu dengan peristiwa, peristiwa harus selalu dengan jalan cerita.</p>
<p>Dengan kata lain, berita yang ditulis harus berdasarkan <span style="text-decoration: underline;">peristiwa yang benar-benar terjadi</span>. Kita tidak bisa menulis berita yang hanya berdasarkan rekaan atau  imajinasi.  Di dalam peristiwa itu terkandung jalan cerita yang meliputi tempat apa yang terjadi, tempat kejadian, orang-orang yang terlibat, waktu, alasan dan bagaimana kejadian itu berlangsung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bahasa Jurnalistik</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/bahasa-jurnalistik/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/bahasa-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 10 Apr 2010 04:52:26 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[bahasa]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalistik]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=30</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Suroso Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain. Bahasa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: <a href="http://suroso.web.id">Suroso</a><br />
<img src="http://laurganism.com/wp-images/impresionsposter.jpg" alt="writing" /><br />
Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.</p>
<p><strong> </strong>Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Bahasa jurnalistik juga merupakan bahasa komu­nikasi massa sebagaimana tampak dalam koran (harian) dan majalah (mingguan). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers. Bukan karya-karya opini (artikel dan esai). Oleh karena itu jika ada wartawan yang juga ingin menulis cerpen, esai, kritik, dan opini, maka karya-karya tersebut tidak dapat digolongkan sebagai karya jurnalistik, karena karya-karya itu memiliki varian tersendiri.</p>
<p><span id="more-30"></span></p>
<p>Di dalam bahasa jurnalistik itu sendiri juga memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan apa yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulisan reportase inves­tigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features.  Bahkan bahasa jurnalistik pun sekarang sudah memiliki kaidah-kaidah khas seperti dalam penulisan  jurnalisme perdamaian (McGoldrick dan Lynch, 2000). Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis berita utama—ada yang menyebut laporan utama, forum utama&#8211;akan berbeda dengan bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis tajuk dan features. Dalam menulis banyak faktor yang dapat  mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik karena penentuan masalah,<em> angle </em>tulisan,pembagian tulisan, dan sumber (bahan tulisan). Namun demikian sesungguhnya bahasa jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana (Reah, 2000). Namun demikian, karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa dalam masyarakat.</p>
<p>Sifat-sifat tersebut merupakan hal yang harus dipenuhi oleh ragam bahasa jurnalistik mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisn masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Dengan kata lain bahasa jurnalistik dapat dipahami dalam ukuran intelektual minimal. Hal ini dikarenakan tidak setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca surat kabar. Oleh karena itu bahasa jurnalistik sangat meng­utamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang dibawa kepada pembaca se cepatnya  dengan mengutamakan daya komunikasinya. Namun, dengan perkembangan jumlah pers yang begitu pesat pasca pemerintahan Soeharto—sudah ada 800 pelaku pers baru—bahasa pers juga menyesuaikan pasar. Artinya,  pers sudah menjual wacana tertentu, pada golongan tertentu, dengan isu-isu yang khas.</p>
<h2>Pemakaian Bahasa Jurnalistik</h2>
<p>Terdapat berbagai penelitian yang terkait dengan bahasa, pikiran, ideologi, dan media massa cetak di Indonesia. Anderson (1966, 1984) meneliti pengaruh bahasa  dan budaya Belanda serta Jawa dalam perkembangan bahasa politik Indonesia modern, ketegangan bahasa Indonesia yang populis dan bahasa Indonesia yang feodalis.  Naina (1982) tentang perilaku pers Indonesia terhadap kebijakan pemerintah se­perti yang termanifestssikan dalam Tajuk Rencana. Hooker (1990) meneliti model wacana zaman orde lama dan orde baru. Penelitian terbaru Eryanto (2001) tentang analisis teks di media massa. Dari puluhan penelitian yang berkait dengan pers, tenyata belum terdapat penelitian yang secara khusus memfor­mulasikan karakteristik (ideal) bahasa jurnalistik berdasarkan induksi karakteristik  bahasa pers yang termanifestasikan dalam kata, kalimat, dan wacana.</p>
<p>Di awal tahun 1980-an terbesit berita bahwa bahasa Indonesia di media massa menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia baku. Roni Wahyono (1995) menemukan kemubaziran bahasa wartawan di Se­marang dan Yogyakarta pada aspek gramatikal (tatabahasa), leksikal (pemilihn kosakata) dn ortografis (ejaan). Berdasarkan aspek kebahasaan, kesalahan tertinggi yang dilakukan wartawan terdapat pada aspek gramatikal dan kesalahan terendah pada aspek ortografi. Berdasarkan jenis berita, berita olahraga memiliki frekuensi kesalahan tertinggi dan frekuensi kesalahan terendah pada berita kriminal. Penyebab wartawan melakukan kesalahan bahasa dari faktor penulis karena minimnya penguasaan kosakata, penge­tahuan kebahasaan yang  terbatas, dan kurang bertanggung jawab terhadap pemakaian bahasa, karena kebiasaan lupa dan pendidikan yang belum baik. Sedangkan faktor di luar penulis, yang menyebabkan wartawan melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Indonesia karena keterbatasan waktu me­nulis, lama kerja, banyaknya naskah yang dikoreksi, dan tidak tersedianya redaktur bahasa dalam surat kabar.</p>
<p>Walaupun di dunia penerbitan telah ada buku-buku jurnalistik praktis karya Rosihan Anwar (1991), Asegaf (1982), Jacob Oetama (1987), Ashadi Siregar, dll, masih perlu dimunculkan petunjuk akademik maupun teknis pemakaian bahasa jurnalistik. Dengan mengetahui karakteristik bahasa pers Indonesia—termasuk sejauh mana mengetahui penyimpangan yang terjadi, kesalahan dan kelemahannya, maka akan dapat diformat bahasa jurnalistik yang komunikatif.</p>
<p>Terdapat beberapa penyimpangan bahasa jurnalistik dibandingkan dengan kaidah bahasa Indo­nesia baku:</p>
<ol>
<li><em>1. </em><strong>Peyimpangan morfologis.</strong> Peyimpangan ini sering terjadi dijumpai pada judul berita surat kabar yang memakai kalimat aktif, yaitu pemakaian kata kerja tidak baku dengan penghilangan afiks. Afiks pada kata kerja yang berupa prefik atau awalan dihilangkan. Kita sering menemukan judul berita misalnya, <em>Polisi Tembak Mati Lima Perampok Nasabah Bank. Israil Tembak Pesawat Mata-mata. Amerika Bom Lagi Kota Bagdad.</em></li>
<li><em>2. </em><strong>Kesalahan sintaksis.</strong> Kesalahan berupa pemakaian tatabahasa atau struktur kalimat yang kurang benar sehingga sering mengacaukan pengertian. Hal ini disebabkan logika yang kurang bagus. Contoh: <em>Kerajinan Kasongan Banyak Diekspor Hasilnya Ke Amerika Serikat.</em> Seharusnya Judul tersebut diubah <em>Hasil Kerajinan Desa Kasongan Banyak Diekspor Ke Amerika. </em>Kasus serupa sering dijumpai baik di koran lokal maupun koran nasional.<em> </em></li>
<li><strong>Kesalahan kosakata.</strong> Kesalahan ini sering dilakukan dengan alasan kesopanan (eufemisme) atau meminimalisir dampak buruk pemberitaan. Contoh: Penculikan Mahasiswa Oleh Oknum Kopasus itu Merupakan Pil Pahit bagi ABRI. Seharusnya kata <em>Pil Pahit</em> diganti kejahatan. Dalam konfliks Dayak- Madura, jelas bahwa yang bertikai adalah Dayak dan Madura, tetapi wartawan tidak menunjuk kedua etnis ecara eksplisit. Bahkan di era rezim Soeharto banyak sekali kosakata yang <em>diekspose </em>merupakan kosakata yang menekan seperti GPK, suibversif, aktor intelektual, esktrim kiri, ekstrim kanan, golongan frustasi, golongan anti pembangunan, dll. Bahkan di era kebebsan pers seperti sekarang ini, kecen­derungan pemakaian kosakata yang bias makna semakin banyak.</li>
<li><strong>Kesalahan ejaan.</strong> Kesalahan ini hampir setiap kali dijumpai dalam surat kabar. Koran Tempo yang terbit 2 April 2001yang lalu tidak luput dari berbagai kesalahan ejaan. Kesalahan ejaan juga terjadi dalam penulisan kata, seperti: Jumat ditulis Jum’at, khawatir ditulis hawatir, jadwal ditulis jadual, sinkron ditulis singkron, dll.</li>
<li><strong>Kesalahan pemenggalan</strong>. Terkesan setiap ganti garis pada setiap kolom kelihatan asal penggal saja. Kesalahan ini disebabkan pemenggalan bahasa Indonesia masih menggunakan program komputer berbagasa Inggris. Hal ini sudah bisa diantisipasi dengan program pemenggalan bahasa Indonesia.</li>
</ol>
<p>Untuk menghindari beberapa kesalahan seperti diuraikan di atas adalah melakukan kegiatan pe­nyuntingan baik menyangkut pemakaian kalimat, pilihan kata, dan ejaan. Selain itu, pemakai bahasa jurnalistik yang baik tercermin dari kesanggupannya menulis paragraf yang baik. Syarat untuk menulis paragraf yang baik tentu memerlukan persyaratan menulis kalimat yang baik pula. Pragraf yang berhasil tidak hanya lengkap pengembangannya tetapi juga menunjukkan kesatuan dalam isinya. Paragraf menjadi rusak  karena penyisipan-penyisipan yang tidak bertemali dan pemasukan kalimat topik kedua atau gagasan pokok lain ke dalamnya.</p>
<p>Oleh karena itu seorang penulis seyogyanya memperhatikan pertautan dengan (a) memperhatikan kata ganti; (2) gagasan yang sejajar dituangkan dalam kalimat sejajar; manakala sudut pandang terhadap isi kalimat tetap sama, maka penempatan fokus dapat dicapai dengan pengubahan urutan kata yang lazim dalam kalimat, pemakaian bentuk aktif atau pasif, atau mengulang fungsi khusus. Sedangkan variasi dapat diperoleh dengan (1) pemakaian kalimat yang berbeda  menurut struktur gramatikalnya; (2) memakai kalimat yang panjangnya berbeda-beda, dan (3) pemakaian urutan unsur kalimat seperti subjek, predikat, objek, dan keterangan dengan selang-seling. Jurnalistik “gaya Tempo” menggunakan kalimat-kalimat yang pendek dan pemakaian kata imajinatif. Gaya ini banyak dipakai oleh berbagai jurnalis yang pernah ber­sentuan dengan majalah Tempo.</p>
<p>Agar penulis mampu memilih kosakata yang tepat mereka dapat memperkaya kosakata dengan latihan penambahan kosakata dengan teknik sinonimi, dan antonimi. Dalam teknik sinonimi penulis dapat mense­jajarkan kelas kata yang sama yang nuansa maknanya sama atau berbeda. Dalam teknik antonimi penulis bisa mendaftar kata-kata dan lawan katanya. Dengan cara ini penulis bisa memilih kosakata yang memiliki rasa dan bermakna bagi pembaca. Jika dianalogikan dengan makanan, semua makanan memiliki fungsi sama, tetapi setiap orang memiliki selera makan yang berbeda. Tugas jurnalis adalah melayani selera pembaca dengan jurnalistik yang enak dibaca dan perlu (Slogan Tempo).</p>
<p>Goenawan Mohamad paa 1974 telah melakukan “revolusi putih” (Istilah Daniel Dhakidae) yaitu melakukan kegiatan pemangkasan sekaligus pemadatan makna dan substansi suatu berita. Berita-berita yang sebelumnya cenderug bombastis bernada heroik&#8211;karena pengaruh revolusi—dipangkas habis menjadi jurnalisme sastra yang enak dibaca. Jurnalisme semacam ini setidaknya menjadi acuan atau model koran atau majalah yang redaksturnya pernah mempraktikkan model jurnalisme ini. Banyak orang fanatik membaca koran atau majalah  karena gaya jurnalistiknya, spesialisasinya, dan spesifikasinya. Ada koran yang secara khusus menjual rubrik opini, ada pula koran yang mengkhususkan diri dalam peliputan berita. Ada pula koran yang secara khusus mengkhususkan pada bisnis dan iklan. Jika dicermati, sesungguhnya, tidak ada koran yang betul-betul berbeda, karena biasanya mereka berburu berita pada sumber yang sama. Jurnalis yang bagus, tentu akan menyiasati selera dan pasar pembacanya.</p>
<p>Dalam hubungannya dengan prinsip penyuntingan bahasa jurnalistik terdapat beberapa prinsip yang dilakukan (1) <em>balancing</em>, menyangkut lengkap-tidaknya batang tubuh dan data tulisan, (2) visi tulisan seorang penulis yang mereferensi pada penguasaan atas data-data aktual; (3) logika cerita yang mereferensi pada kecocokan; (4) akurasi data; (5) kelengkapan data, setidaknya prisnip 5wh, dan (6) panjang pendeknya tulisan krena keterbatsan halaman.</p>
<h3><strong>Prinsip Dasar Bahasa Jurnalistik</strong></h3>
<p>Bahasa jurnalistik merupakan bahasa komunikasi massa sebagai tampak dalam harian-harian surat kabar dan majalah. Dengan fungsi yang demikian itu bahasa jurnalistik  itu harus jelas dan mudah dibaca dengan tingkat ukuran intelektual minimal. Menurut JS Badudu (1988) bahasa jurnalistik memiliki sfat-sifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas. Sifat-sifat itu harus dimiliki oleh bahasa pers, bahasa jurnalistik, mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Oleh karena itu beberapa ciri yang harus dimiliki bahasa jurnalistik diantaranya:</p>
<ol>
<li><strong>Singkat,</strong> artinya bahasa jurnalistik harus menghindari penjelasan yang panjang dan bertele-tele.
<ol>
<li><strong>Padat,</strong> artinya bahasa jurnalistik yang singkat itu sudah mampu menyampaikan informasi yang lengkap. Semua yang diperlukan pembaca sudah tertampung didalamnya. Menerapkan prinsip 5 wh, membuang kata-kata mubazir dan menerapkan ekonomi kata.</li>
<li><strong>Sederhana,</strong> artinya bahasa pers sedapat-dapatnya memilih kalimat tunggal dan sederhana, bukan kalimat majemuk yang panjang, rumit, dan kompleks. Kalimat yang efektif, praktis, sederhana pema­kaian kalimatnya, tidak berlebihan pengungkapannya (bombastis)</li>
<li><strong>Lugas,</strong> artinya bahasa jurnalistik mampu menyampaikan pengertian atau makna informasi secara langsung dengan menghindari bahasa yang berbunga-bunga .</li>
<li><strong>Menarik,</strong> artinya dengan menggunakan pilihan kata yang masih hidup, tumbuh, dan berkembang. Menghindari kata-kata yang sudah mati.</li>
<li><strong>Jelas,</strong> artinya informasi yang disampaikan jurnalis dengan mudah dapat dipahami oleh khalayak umum (pembaca). Struktur kalimatnya tidak menimbulkan penyimpangan/penegertian makna yang berbeda, menghidnari ungkapan bersayap atau bermakna ganda (ambigu). Oleh karena itu, seyogyanya bahasa jurnalistik menggunakan kata-kata yang bermakna denotatif. Namun seringkali kita masih menjumpai judul berita: Tim Ferari Berhasil Mengatasi <em>Rally Neraka</em> Paris-Dakar. <em>Jago Merah</em> Melahap Mall Termewah di Kawasan Jakarta. Polisi <em>Mengamankan</em> Oknum Pemerkosa dari Penghakiman Massa.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p>Dalam menerapkan ke-6 prinsip tersebut tentunya diperlukan latihan berbahasa tulis yang terus-menerus, melakukan penyuntingan yang tidak pernah berhenti. Dengan berbagai upaya pelatihan dan penyuntingan, barangkali akan bisa diwujudkan keinginan jurnalis untuk menyajikan ragam bahasa jurnalistik yang memiliki rasa dan memuaskan dahaga selera pembacanya.</p>
<p>Dipandang dari fungsinya, bahasa jurnalistik merupakan perwujudan dua jenis bahasa yaitu seperti yang disebut Halliday (1972)  sebagai fungsi ideasional dan fungsi tekstual atau fungsi referensial, yaitu wacana yang menyajikan fakta-fakta. Namun, persoalan muncul bagaimana cara mengkonstruksi bahasa jurnalistik itu agar dapat menggambarkan fakta yang sebenarnya. Persoalan ini oleh Leech (1993)  disebut retorika tekstual yaitu kekhasan pemakai bahasa  sebagai alat untuk mengkonstruksi teks. Dengan kata lain prinsip ini juga berlaku pada bahasa jurnalistik.</p>
<p>Terdapat empat prinsip retorika tekstual yang dikemukkan Leech, yaitu prinsip prosesibilitas, prinsip kejelasan, prinsip ekonomi, dn prinsip ekspresifitas.</p>
<ol>
<li><strong>Prinsip prosesibilitas</strong>, menganjurkan agar teks disajikan sedemikian rupa sehingga mudah bagi pembaca untuk memahami pesan pada waktunya. Dalam proses memahami pesan penulis harus menentukan (a) bagaimana membagi pesan-pesan menjadi satuan satuan; (b) bagaimana tingkat subordinasi dan seberapa pentingnya masing-masing satuan, dan (c) bagaimana mengurutkan satuan-satuan pesan itu. Ketiga macam itu harus saling berkaitan satu sama lain.</li>
</ol>
<p>Penyususunan bahasa jurnalistik dalam surat kabar berbahasa Indonesia, yang menjadi fakta-fakta harus cepat dipahami oleh pembaca dalam kondisi apapun agar tidak melanggar prinsip prose­sibilitas ini. Bahasa jurnalistik Indonesia disusun dengan struktur sintaksis yang penting mendahului struktur sintaksis yang tidak penting</p>
<p>Perhatikan contoh berikut:</p>
<p>(1)       Pangdam VIII/Trikora Majen TNI Amir Sembiring mengeluarkan perintah tembak di tempat, bila masyarakat yang membawa senjata tajam melawan serta tidak menuruti permintaan untuk me­nyerahkannya. Jadi petugas akan meminta dengan baik. Namun jika bersikeras dan melawan, terpaksa akan ditembak di tempat sesuai dengan prosedur (Kompas, 24/1/99)</p>
<p>(2)     Ketua Umum PB NU KH Abdurahman Wahid (Gus Dur) mengadakan kunjungan  kemanusian kepada Ketua Gerakan Perlawanan Timor (CNRT) Xanana Gusmao di LP Cipinang, Selasa (2/2) pukul 09.00 WIB. Gus Dur didampingi pengurus PBNU Rosi Munir dan staf Gus Dur, Sastro. Turut juga Aristides Kattopo dan Maria Pakpahan (Suara Pembaruan, 2/2/99)</p>
<p>Contoh (1) terdiri dari dua kalimat, yaitu kalimat pertama menyatakan pesan penting dan kalimat kedua menerangkan pesan kalimat pertama. Contoh (2) terdiri dari tiga kalimat, yaitu kalimat pertama menyatakan pesan penting dan kalimat kedua serta kalimat ketiga menyatakan pesan yang mene­rangkan pesan kalimat pertama.</p>
<ol>
<li><strong>Prinsip kejelasan,</strong> yaitu agar teks itu mudah dipahami. Prinsip ini menganjurkan agar bahasa teks menghindari ketaksaan (ambiguity). Teks yang tidak mengandung ketaksaan akan dengan mudah dan cepat dipahami.</li>
</ol>
<p>Perhatikan Contoh:</p>
<p>(3)       Ketika mengendrai mobil dari rumah menuju kantornya di kawasan Sudirman, seorang pegawai bank, Deysi Dasuki, sempat tertegun mendengar berita radio. Radio swasta itu mengumumkan bahwa kawasan Semanggi sudah penuh dengan mahasiswa dan suasanannya sangat mencekam (Republika, 24/11/98)</p>
<p>(4)       Wahyudi menjelaskan, negara rugi karena pembajak buku tidak membayar pajak penjualan (PPN) dan pajak penghsilan (PPH). Juga pengarang, karena mereka tidak menerima royalti atas karya ciptaannya. (Media Indonesia, 20/4/1997).</p>
<p>Contoh (3) dan (4) tidak mengandung ketaksaan. Setiap pembaca akan menangkap pesan yang sama atas teks di atas. Hal ini disebabkan teks tersebut dikonstruksi oleh kata-kata yang mengandung kata harafiah, bukan kata-kata metaforis.</p>
<ol>
<li><strong>Prinsip ekonomi.</strong> Prinsip ekonomi menganjurkan agar teks itu singkat tanpa harus merusak dan mereduksi pesan. Teks yang singkat dengan mengandung pesan yang utuh akan menghemat waktu dan tenaga dalam memahaminya. Sebagaimana wacana dibatasi oleh ruang,wacana jurnalistik di­konstruksi agar tidak melanggar prinsip ini. Untuk mengkonstruksi teks yang singkat, dalam wacana jurnalistik dikenal adanya cara-cara mereduksi konstituen sintakstik yaitu (i) singkatan; (ii) elipsis, dan (iii) pronominalisasi. Singkatan, baik abreviasi maupun akronim, sebagai cara mereduksi konstituen sintaktik banyak dijumpai dalam wacna jurnalistik</li>
</ol>
<p>(5)       Setelah dipecat oleh DPR AS karena memberikan sumpah palsu dan menghalang-halangi peradilan, Presiden Bill Clinton telah menjadi presiden kedua sejak berdirinya Amerika untuk diperintahkan diadili di dalam senat (Suara Pembaruan, 21/12/98)</p>
<p>(6)       Ketua DPP PPP Drs. Zarkasih Noer menyatakan, segala bentuk dan usaha untuk menghindari disintegrasi bangsa dari manapun atau siapapun perlu disambut baik (Suara Pembaruan, 21/12/98</p>
<p>Pada contoh (5) terdapat abreviasi DPR AS. Pada contoh (6) terdapat abreviasi DPP PPP. Selain itu ada abreviasi lain seperti SARA, GPK, OTB, OT, AMD, SDM. AAK, GPK,  dll. Terdapat pula berbagai bentuk akronim dengan variasi pembentukannya wlaupun seringkali tidak berkaidah. Misalnya. Curan­mor, Curas, Miras, dll.</p>
<p>Elipsis merupakan salah satu cara mereduksi konstituen sintaktik dengan melesapkan konstituen tertentu.</p>
<p>(7)       AG XII Momentum gairahkan olahraga Indonesia (Suara Pembaruan, 21/12/98)</p>
<p>(8)       Jauh sebelum Ratih diributkan, Letjen (Pur) Mashudi, mantan Gubernur Jawa barat dan mantan Ketua Umum Kwartir Gerakan Pramuka telah menerapkan ide mobiliasi masa. Konsepnya me­mang berbeda dengan ratih (Republika, 223/12/98)</p>
<p>Pada contoh ((7) terdapat pelepsan afiks me(N)- pada verba <em>gairahkan</em>. Pelepasan afiks seperti contoh (7) di atas sering terdapat pada judul wacana jurnalistik. Pada contoh (8) terdapat pelesapan kata mobiliasi masa pada kalimat kedua.</p>
<p>Pronominalisasi merupakan cara mereduksi teks dengan menggantikan konstituen yang telah disebut dengan pronomina. Pronomina Pengganti biasanya lebih pendek dripada konstituen terganti.</p>
<p>(9)       Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia (DPP PDI) hasil kongres Medan Soerjadi dan Sekjen Buttu Hutapea pada hari Minggu (23/8) sekitar pukul 18.30 Wita tiba di bandara Mutiara, Palu Sulawesi Tengah, dengan diangkut pesawat khusus. Keduanya datang untuk mengikuti Kongres V PDI, dengan pengawalan ketat  langsung menunggu Asrama Haji dan menginap di sana. (Kompas, 24/8/98)</p>
<p>(10)   Hendro Subroto bukan militer. Sebagai seorang warga sipil, jejak pengalamannya dalam beragam mandala pertempuran merupakan rentetan panjang sarat pengalaman mendebarkan. Ia hadir ketika Kahar Muzakar tewas disergap pasukan Siliwangi di perbukitan Sulsel (Kompas, 24/8/98).</p>
<p>Pada contoh (9) tampak bawa <em>keduanya</em> pada kalimat kedua merupakan pronominalisasi kalimat pertama. Pada contoh (10) kata ia mempronominalisasikan <em>Hendro Subroto, sebagai warga sipil</em> pada kalimat pertama dan kedua.</p>
<ol>
<li><strong>Prinsip ekspresivitas</strong>. Prinsip ini dapat pula disebut prinsip ikonisitas. Prinsip ini menganjurkan agar teks dikonstruksi selaras dengan aspek-spek pesan. Dalam wacana jurnalistik, pesan bersifat kausali­tas dipaparkan menurut struktur pesannya, yaitu sebab dikemukakan terlebih dahulu baru dikemukakan akibatnya. Demikian pula bila ada peristiwa yang terjadi berturut-turut, maka peristiwa yang terjadi lebih dulu akan dipaparkan lebih dulu dan peristiwa yang terjadi kemudian dipaparkan kemudian.</li>
</ol>
<p>(11)   Dalam situasi bangsa yang sedang kritis dan berada di persimpangan jalan, karena adanya benturan ide maupun paham politik, diperlukan adanya dialog nsional. “Dialog diperlukan untuk mengubur masa lalu, dan untuk start ke masa depan”. Tutur Prof. Dr. Nurcholis Madjid kepada Kompas di kediamannya di Jakarta Rabu (23/12) (Kompas, 24/12/98).</p>
<p>Pada contoh (11) tampak bahwa kalimat pertama menyatakan sebab dan kalimat kedua mendatangkan akibat.</p>
<p>Dengan paparan bahasa jurnalistik seperti yang telah diuraikan dapat disimpulkan bahwa bahasa jurnalistik adalah bahasa yang digunakan oleh jurnalis dalam menulis berita. Bahasa jurnalistik bersifat khas yaitu singkat, padat, sederhana, lugas, menarik, lancar dan jelas.</p>
<p>Terdapat empat prinsip retorika tekstual bahasa jurnalistik yaitu prinsip prosesibilitas, mudah dipahami pembaca. Prinsip kejalasan yaitu menghidari ambiguitas. Prinsip ekonomi, menggunakan teks yang singkat tanpa merusak dan mereduksi pesan. Prisnip ekspresivitas, teks dionstruksi ber­dasarkan aspek-aspek pesan.</p>
<p><strong>Hal-Hal yang Harus Diperhatikan dalam Pemakaian BI Ragam Jurnalistik</strong></p>
<ol>
<li>Pemakaian kosakata bahasa Asing dan Bahasa Daerah tidak berlebihan.</li>
</ol>
<p>Bahasa Asing dan Bahasa Daerah boleh diguinakan jika (1) tidak ada padanannya dalam BI dan (2) bisa diterima menjadi BI. Jika kata-kata itu masih berbau asing, maka perlu diberi tanda kurung.</p>
<p>Contoh: Soal <em>recalling </em>anggota DPR…. Telkom mulai <em>listing</em>. Sidang diskors agar peserta bisa calling down.</p>
<p>Apa yang dikatakan Gus Dur itu sebatas <em>abang-abange lambe</em>, meskipun disampaikan secara halus tetapi kata-kata yang digunakan <em>nylekit.</em></p>
<p>Banyak <em>Ruko</em> dan <em>Rukan</em> di Pulau Batam Terlantar</p>
<ol>
<li>Pemakaian BI ragam baku, berkaitan dengan masalah (a) penulisan Ejaan, singkatan, akronim, tanda baca, (b) tidak menghilangkan imbuhan, kecuali untuk judul berita, (c) menulis dengan kalimat-kalimat pendek.Pengutaraannya teratur dan logis.  Kalimat setidaknya menandung unsur  pokok dan sebutan (subjek, predikat, objek, dan keterangan)</li>
<li>Menjauhkan dari ungkapan klise atau stereotype yang sering dipaklai dalam transisi berita seperti kata-kata: sementara itu, dapat ditambahkan, perlu diketahui, dalam rangka, dalam pada itu, dll.</li>
<li>Menghilangkan kata-kata mubazir seperti kata adalah (kata kerja kopula)bahwa (kata sambung) dll.</li>
<li>Menghidari kata-kata asing yang berbau teknis. Misalnya: mark-up, listing, dst</li>
</ol>
<p><strong>Kesalahan yang  Sering Dilakukan dalam Menulis BI Ragam Jurnalistik.</strong></p>
<ol>
<li>Pemakaian singkatan dan akronim yang tidak taat asas dan kurang berdisiplin.
<ol>
<li>Penggunaan Ejaan dan tanda baca yang kurang tepat</li>
<li>Penyerapan kata dan istilah asing yang kurang memperhatikan kaidah atau bahasa tulis bahasa Indonesia.</li>
<li>Susunan kalimat dan paragraf yang kurang baik.</li>
<li>Kurang setia dalam pemakaian dan penulisan kalimat efektif.</li>
</ol>
</li>
</ol>
<p><strong>DAFTAR PUSTAKA</strong></p>
<p>Anwar, Rosihan (1991). <em>Bahasa Jurnalistik dan Komposisi</em>. Jakarata: Pradnya Paramita.</p>
<p>Anderson,  Benedick ROG. (1966). <em>Bahasa Politik Indonesia</em>. Indonesia I, April : hal 89-116.</p>
<p>Anderson, Benedick ROG. (1984<em>). Language and Power: Exploring Political Cultures in Indonesia.</em> London: Cornel University Pres.</p>
<p>Asegaf, Dja’far H. (1982) <em>Jurnalistik Masa Kini: Pengantar ke Praktik Kewartawanan</em>. Jakarta: Ghalia Indonesia</p>
<p>Badudu, J.S. (1988). <em>Cakrawala Bahasa Indonesia</em>. Jakarta: Gramedia.</p>
<p>Eriyanto. (2001). <em>Analisis Wacana: Pengantar Analisis Teks Media. </em>Yogyakarta: LkiS.</p>
<p>Halliday, MAK. (1972). “Language Fungtion and Language Structure” <em>New Horizon of Linguistics</em>. London: Penguin Book.</p>
<p>Leech, Geoffrey. (1993). <em>Prinsip-prinsip Pragmatik</em> (Alih Bahasa DD Oka). Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia.</p>
<p>Oetama, Jacob. (1987<em>). Perspektif Pers Indonesia.</em> Jakarta: LP3ES.</p>
<p>McGoldrick, Annabel dan Lynch, Jake (2000). <em>Jurnalisme Perdamaian Bagaimana Melakukannya</em>?. Sydney: Seri Workshop LSPP, November 2000.</p>
<p>Reah, Danuta (2000). <em>The Language of Newspaper.</em> New York: Roudledge.</p>
<p>Sudaryanto (1995). <em>Bahasa Jurnalitik dan Pengajaran Bahasa Indonesia.</em> Semarang: Citra Almamater.</p>
<p>Suroso (2001). <em>Menuju Pers Demokratis: Kritik atas Profesionalisme Wartawan.</em> Yogyakarta: LSIP.<br />
<strong>LATIHAN:</strong></p>
<ol>
<li>Gunakan huruf Kapital untuk penulisan Judul Berita.</li>
</ol>
<p>Contoh: Tilang Gaya Baru akan Segera Diberlakukan</p>
<p>Pelaku <em>Sweeping</em> Akan Ditindak Tegas</p>
<ol>
<li>Tulislah nama-nama Kota/ Negara dengan tepat.</li>
<li>Tulislah nama orang dengan gelar akademiknya.</li>
</ol>
<p>Contoh: Kasus WTC yang menewaskan ribuan orang mendapat tanggapan serius dari Mgr. Carlos de Mello, S.J. Pejabat Keuskupan Agung di Jakarta.</p>
<p>4           Tulisalah sebuah teras berita dengan menggunakan formulsasi 5wh.</p>
<p>5           Tulisalah sebuah feature pendek (2,5 layar komputer) tentang tokoh yang anda kagumi dengan mengindahkan bahasa jurnalistik (feature) yang bisa menyentuh emosi.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/bahasa-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik Penulisan Feature</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/teknik-penulisan-feature/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/teknik-penulisan-feature/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Purnawan Kristanto Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja. Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan. Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Purnawan Kristanto</p>
<p>Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja. Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan. Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah berita lempang dan singkat. Ini biasanya terjadi pada media-media yang menuntut aktualitas yang tinggi seperti koran, radio, TV dan internet.</p>
<p>Namun media yang tidak begitu diikat oleh waktu seperti tabloid mingguan atau majalah bulanan, jika mereka ikut-ikutan menulis seperti ini, tentu medianya tidak akan laku karena sudah basi. Karena itulah mereka harus menggali berita dari sudut pandang yang unik dengan tema yang awet alias tak lekang oleh waktu.</p>
<p><span id="more-20"></span></p>
<p>Sebagai contoh, dalam sebuah bencana di kota Y, terjadi kejadian sebagai berikut:<br />
•    Sambaran petir dan angin badai meruntuhkan atap gedung berlantai lima<br />
•    Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas<br />
•    Pengemudinya, seorang remaja putri, menginggal dunia<br />
•    Dua penumpang terluka<br />
Aturan dasar dalam menulis berita lempang adalah menempatkan hal-hal yang paling penting di awal berita. Aturan ini tidak menjadi masalah sepanjang kisah ini hanya mempunyai satu peristiwa yang ditekankan. Namun ketika ada banyak peristiwa yang penting juga untuk diberitakan, maka tugas jurnalis menjadi semakin rumit. Untuk mengatasi hal ini, ada dua pilihan yang bisa dilakukan:</p>
<p>1.    Merangkum semua fakta –dengan urutan penting ke tidak penting—pada paragraf pertama, atau<br />
2.    Memberi tekanan pada peristiwa tertentu yang paling penting di awal paragraf.</p>
<p>Jika peristiwa di atas ditulis dalam sebuah berita lempang, hasilnya sebagai berikut:<br />
“Atap sebuah gedung berlantai lima, runtuh setelah tersambar petir dan tersapu angin badai tadi malam. Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas, sehingga menewaskan Anastasia Suminem (18 tahun) yang mengemudi mobil itu. Sedangkan dua penumpang lainnya menderita luka-luka serius.”</p>
<p>Berita seperti ini biasanya dimuat di koran harian. Namun ketika redaktur tabloid wanita akan mengangkat peristiwa ini, ia harus mencari sudut pandang lain. Ia memberi tugas reporternya untuk mengangkat kisah korban yang meninggal. Inilah hasilnya:</p>
<p>“Seorang remaja putri meninggal dunia (Jumat, 18/4) ketika mobil yang dikendarainya tertimpa atap gedung berlantai lima yang runtuh setelah tersambar petir. Selain itu, dua penumpang yang duduk di belakang menderita luka-luka serius. Saat itu mobil mereka sedang terjebak di kemacetan lalu lintas.</p>
<p>Anastasia Suminem (18 tahun) adalah seorang sekretaris PT. Sukar Maju. Ia sedang melintas jl. Sudirman ketika puluhan kubik bata, kayu, besi dan genting itu menghempas mobilnya. Timbunan material itu meringsekkan badan mobil bagian depan sehingga menewaskan Anastasia seketika itu juga.</p>
<p>Anastasia adalah seorang karyawati yang menuru penuturan Kristina, rekan kerjanya adalah karyawan periang yang tidak sungkan-sungkan memberi bantuan pada orang lain. Sifat suka menolongnya ini tercermin ketika ia menawarkan untuk mengantarkan pulang Yosafat Tukiyo (23 th) dan Maria Magdalena Pariyem (20 th). Padahal arah rumah Anastasia berlawanan dengan kedua rekannya ini.. …. “ kisah selanjutnya menceritakan tentang Anastasia.</p>
<p>Sementara itu, editor majalah bulanan memandangnya dari sisi lain. Ia tertarik pada petir yang menyambar pada saat jam-jam sibuk. Pada saat itu, jalanan macet karena banyak orang pulang kantor pada waktu yang bersamaan. Untuk itu, ia menugaskan anak buahnya untuk mewawancarai pakar Cuaca dan mencari informasi seputar perilaku petir.</p>
<p>Nah, begitulah. Untuk peristiwa yang sama, kita bisa menuliskan dalam dua atau lebih berita yang berbeda. Inilah yang disebut pemilihan sudut berita atau news angle. Pemilihan news angle sebuah media ini biasanya dipengaruhi oleh kebijaksanaan redaksional dan karakteristik pembacanya. Masih ingat kecelakaan tragis Lady Di? Untuk peristiwa yang sama, sebuah tabloid gosip mengangkat sisi perselingkuhan, majalah bulanan mengupas ulah para Paparazi ,sedangkan majalah berita berusaha menelusuri penyebab kecelakaan. Berbeda-beda ‘kan?</p>
<p>Ketika sebuah media sudah mendapat point of interest dari sebuah kisah, mereka akan memusatkan perhatian pada satu hal itu saja. Mereka mengumpulkan dan menggali fakta di balik berita lempang untuk disusun menjadi sebuah berita kisah atau news feature. Karena relatif tidak terikat oleh waktu, penulis berita kisah punya kesempatan untuk menyusun kalimat yang menghidupkan imajinasi pembaca. Tulisan ini menarik perhatian pembaca hingg masuk ke dalam cerita itu dengan membantu mengidentifikasi diri dalam tokoh utama. Feature dapat menyentuh emosi pembaca sehingga mereka penasaran, skpetis, kagum, heran, tertawa, menangis, dongkol, senang dsb.</p>
<p>Menurut Wiliamson, “Feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian situasi atau aspek kehidupan seseorang”.</p>
<p>Masih kata Wiliamson, feature menekankan unsur kreativitas (dalam penciptaan), informatif (isinya) dan menghibur (gaya penulisannya) dan boleh subyektif (penuturannya). Ketiga syarat utama ini mutlak ada dalam feature, sedangkan unsur subyektifitas tidak mutlak. Kalau ada juga boleh, terutama untuk feature sisi manuniawi (human interest).</p>
<p>Berdasarkan Fakta</p>
<p>Bentuk penulisan cenderung bergaya feature: &#8220;mengisahkan sebuah cerita.&#8221; Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata; ia menghidupkan imajinasi pembaca.<br />
Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk menjahit kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme lainnya, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta-fakta dalam ceritanya.</p>
<p>Pendeknya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam penulisan feature. Ada sebuah kisah tragis seorang wartawati reporter harian Washington Post, Janet Cooke, yang pada tahun tersebut memenangi Hadiah Pulitzer. Hadiah prestisius ini menjadi idaman jurnalis di &#8220;Negeri Paman Sam&#8221; itu. Ia tergoda memasukkan unsur fiksi dalam feature. Akibat kebohongan ini, karirnya pupus. Kisahnya begini:</p>
<p>Janet berhasil menulis sebuah feature yang sangat menarik, mengharukan, dan tentu saja bagus. Feature yang diberinya judul &#8220;Jimmy&#8217;s World&#8221; itu mengalahkan calon-calon lain dan memenangi Pulitzer untuk jenis timeless feature. Washington Post tentu saja bangga dengan karya reporternya yang berusia 26 tahun itu. Sayangnya, kebanggaan yang belakangan menjadi skandal itu telah mencoreng wajah harian terkemuka di Amerika tersebut.</p>
<p>Janet ternyata &#8220;mengarang&#8221; feature yang indah itu. Tulisannya tidak berangkat dari fakta. Jimmy, tokoh yang digambarkannya itu, ternyata tokoh imajinasi yang hanya hidup dalam benaknya. Artinya, tulisannya bukan karya jurnalistik, tetapi fiksi. Karena perbuatannya itu, Hadiah Pulitzer yang diterimanya dicabut dan ia dipaksa berhenti dari Washington Post.<br />
Mengapa kasus memalukan ini terbongkar? Dalam riwayat hidupnya yang diterbitkan di surat kabar setelah ia memenangi hadiah itu, ia menyebutkan nama dua universitas tempat ia dulu memperoleh gelar sarjana. Tak lama setelah biografi singkat Janet Cooke muncul di berbagai media, kedua universitas yang disebutnya menelepon Washington Post dan menyampaikan bantahan. Janet tidak pernah kuliah di sana.</p>
<p>Kecurigaan bermula di sini. Para editor atasan Janet segera menginterogasi reporter itu beberapa jam. Bagaikan mendengar suara guntur di siang hari yang sangat terik, mereka sangat terperanjat dengan pengakuan Janet bahwa karya tulisnya adalah sebuah pabrikasi. Bagaimana mungkin mereka bisa percaya? Kisah anak berusia delapan tahun yang kecanduan heroin dan menggelandang di jalan-jalan ghetto itu dideskripsikannya dengan sangat emosional, penuh kutipan yang sangat meyakinkan. Dunia yang dipaparkannya adalah dunia yang sebagian besar orang tidak pernah memasukinya, tidak juga Janet Cooke sendiri. (GAMMA Digital News Nomor: 26-3 &#8211; 21-08-2001)</p>
<p>Seorang jurnalis profesional tidak akan menipu pembacanya, walau sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancam.</p>
<p>Etika menyebutkan bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu surat kabar. Tajuk rencana, tentu saja, merupakan tempat mengutarakan pendapat. Dan edisi Minggu surat kabar diterbitkan untuk menampung fiksi (misalnya cerita pendek).</p>
<p>Feature tidak boleh berupa fiksi, dan setiap &#8220;pewarnaan&#8221; fakta-fakta tidak boleh menipu pembaca. Bila penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan orang pada kita akan hancur.</p>
<p>Sumber-Sumber Feature</p>
<p>Ada seorang anggota jemaat di gereja sekitar Malioboro. Namanya Mohammad Mustofa. Sehari-harinya dia adalah pedagang kaki lima di bilangan Malioboro. Namun setiap kali ada acara Pemahaman Alkitab, Bapak ini selalu menutup dagangannya hari itu. Aspek ini bisa menjadi cantelan penulisan feature bagaimana dia mengatur waktu antara kegiatan gereja dengan mencari nafkah.<br />
Di sekitar kita ada banyak bahan-bahan yang dapat diracik menjadi sebuah berita kisah. Kuncinya adalah kesediaan kita untuk menggali lebih dalam dari peristiwa-peristiwa di sekitar kita. Namun sebagai petunjuk saja, kita bisa menggali dari peristiwa berikut ini:</p>
<p>•    Peristiwa luar biasa : ganjil, aneh, seperti kebetulan, kepribadian yang unik.<br />
•    Peristiwa biasa : orang biasa, tempat biasa dan benda biasa tetapi orang selalu ingin mengetahui hal-hal itu.<br />
Sebagai contoh, setiap kali melintasi perempatan Gramedia, kita selalu menjumpai anak-anak jalanan. Setiap orang yang melintas ingin tahu berapa penghasilan mereka sehari? Apakah ada yang mengkoordinir? bagaimana makan mereka? Apakah mereka tidak pernah sakit karena polusi? Apakah mereka masih punya keluarga?<br />
•    Peristiwa Dramatis: pemenang undian, Orang Kaya Baru, pengelaman heroik, selamat dari kecelakaan dsb.<br />
• Panduan bagi pembaca: Nasehat dan kiat-kiat untuk pembaca, misalnya cara menghindari perampokan, cara memilih helm “standard” yang sudah memenuhi standard, resep, kerajinan tangan dll.<br />
•    Informasi: Statitistik, pelajaran, gambar, sejarah dll</p>
<p>Cara Menulis Feature</p>
<p>Sebagian besar penulis feature tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.<br />
Struktur tulisan feature disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri dari lead, jembatan di antara lead dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup. Bagian atasnya berupa lapisan lead dan jembatan yang sama pentingya, dan bagian tengahnya berupa tubuh tulisan yang makin ke bawah makin kurang ke-penting-annya. Bagian bawahnya berupa alenia penutup yang bulat.<br />
Penutup<br />
Kunci penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. (jenis-jenis lead bisa dilihat pada makalah Penulisan Berita)<br />
Lead feature berisi hal yang paling penting untuk mengarahkan perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang dimulainya penulisan.<br />
Jembatan bertugas sebagai perantara antara lead dan tubuh yang dengan lead masih terkait, tetapi ke tubuh tulisan sudah mulai masuk. Ia semata-mata melukiskan identitas dan situasi dari hal yang akan dituturkan nanti.</p>
<p>Tubuh feature berisi situsi dan proses disertai penjelasan mendalam tentang mengapa dan bagaimana. Pada human interest feature, situasi yang dituturkannya disertai pendapat atau pandangan yang subyektif dari penulisnya mengenai situasi yang diutarakan. Tetapi pada bentuk feature ilmiah populer situasi dan proses yang ditutrkan tidak disertai pendapat subyektif, melainkan tetap dipertahankan keobyektifitasan pandangannya.</p>
<p>Penutup feature berupa alenia berisi pesan yang mengesankan.<br />
Suatu feature memerlukan &#8212; bahkan mungkin harus &#8212; ending karena dua sebab:<br />
1. Menghadapi feature hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia.<br />
Bahkan feature yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan feature tak bisa asal dipotong dari bawah. Feature mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.<br />
2. Ending bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis feature pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu &#8220;penyelesaian&#8221; atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak feature. Karena itu memotong bagian akhir sebuah feature, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.<br />
Beberapa jenis penutup:<br />
• Penutup ringkasan. Penutup ini bersifat ikhtisar, hanya mengikat ujung-ujung bagian cerita yang lepas-lepas dan menunjuk kembali ke lead.<br />
• Penyengat. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah terlonjak. Penulis hanya menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada kesimpulan yang tidak terduga-duga. Penutup seperti ini mirip dengan kecenderungan film modern yang menutup cerita dengan mengalahkan orang &#8220;yang baik-baik&#8221; oleh &#8220;orang jahat&#8221;.<br />
• Klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis. Ini seperti sastra tradisional. Hanya saja dalam feature, penulis berhenti bila penyelesaian cerita sudah jelas, dan tidak menambah bagian setelah klimaks seperti cerita tradisional.<br />
• Tak ada penyelesaian. Penulis dengan sengaja mengakhiri cerita dengan menekankan pada sebuah pertanyaan pokok yang tidak terjawab. Selesai membaca, pembaca tetap tidak jelas apakah tokoh cerita menang atau kalah. Ia menyelesaikan cerita sebelum tercapai klimaks, karena penyelesaiannya memang belum diketahui, atau karena penulisnya sengaja ingin membuat pembaca tergantung-gantung.</p>
<p>Seorang penulis harus dengan hati-hati dalam menilai ending-nya, menimbang~nimbangnya apakah penutup itu merupakan akhir yang logis bagi cerita itu. Bila merasakan bahwa ending-nya lemah atau tidak wajar, ia cukup melihat beberapa paragrap sebelumnya, untuk mendapat penutup yang sempurna dan masuk akal.</p>
<p>Menulis penutup feature sebenarnya termasuk gampang. Kembalilah kepada peranan &#8220;tukang cerita&#8221; dan biarkanlah cerita Anda mengakhiri dirinya sendiri, secara wajar.</p>
<p>Pustaka</p>
<p>Slamet Soeseno, “Teknik Penulisan Ilmiah Populer; Kiat Menulis Non Fiksi Untuk Majalah, Gramedia Pustaka Utama<br />
Williamson, “Feature Writing for Newspeper, Hastings House, New York<br />
Julian Harris dkk, The Complete Reporter”, Macmillan Publishing, New York<br />
Makalah Satrio Arismunandar<br />
<!-- multiply:no_crosspost --></p>
<div>Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com<br />
]</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/teknik-penulisan-feature/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurnalisme Damai</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/jurnalisme-damai/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/jurnalisme-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:53:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/2010/04/jurnalisme-damai/</guid>
		<description><![CDATA[“Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia; Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya Dalam ilmu junalistik, unsur konflik merupakan salah satu kriteria suatu peristiwa layak diberitakan. Setiap hari kita disuguhi berita-berita yang mengandung konflik seperti peperangan, pertikaian kelompok, kerusuhan, saling hujat, penganiayaan dan sebaginya. Memang dalam menyajikannya, para jurnalis sedapat mungkin mengikuti kaidah jurnalistik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia; Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya<strong> </strong></p></blockquote>
<p><strong>Dalam ilmu junalistik</strong>, unsur konflik merupakan salah satu kriteria suatu peristiwa layak diberitakan. Setiap hari kita disuguhi berita-berita yang mengandung konflik seperti peperangan, pertikaian kelompok, kerusuhan, saling hujat, penganiayaan dan sebaginya. Memang dalam menyajikannya, para jurnalis sedapat mungkin mengikuti kaidah jurnalistik seperti keberimbangan, obyektifitas, akurasi, faktual, dan sebagainya. Akan tetapi ternyata peliputan konflik dengan kaidah jurnalistik klasik ini tidak tepat. Mengapa? Karena justru melestarikan konflik.</p>
<p>Teori jurnalistik klasik mengajarkan bahwa tugas para jurnalis adalah “melaporkan fakta apa adanya.” Fungsi pers semata-mata menjadi cermin atas realitas dalam masyarakat. Namun dalam dunia yang semakin peka media <em>(a media-savy world</em>) ini, banyak orang yang mahir mengemas fakta untuk dijadikan bahan berita oleh jurnalis. Kelompok-kelompok yang bertikai sudah itu menyadari pentingnya strategi bermedia dalam memperjuangkan kepentingan mereka.</p>
<p><span id="more-19"></span></p>
<p>Padahal fakta-fakta yang disodorkan oleh suatu kelompok yang diberitakan oleh jurnalis ini akan menyulut reaksi kelompok lain. Dengan dalih menggunakan hak jawab, kelompok lain akan menanggapi berita yang dianggap “merugikan” kelompoknya. Demikian seterusnya sehingga media terjebak dalam “lingkaran reaksi” (<em>feedback                  of loop</em>). Media menjadi sarana tarik-menarik kepentingan pihak-pihak yang bertikai. Berdasarkan hal ini, kemudian muncul pertanyaan etis: “Apa yang bisa dilakukan oleh pers dalam memutus lingkaran setan ini dan mendukung terjadinya perdamaian?” Media tidak boleh hanya menonton saja, tetapi harus berbuat sesuatu dalam mendukung upaya perdamaian. Kegelisahan para jurnalis ini menghantarkan mereka pada paradigma alternatif, yaitu jurnalisme perdamaian.</p>
<p><strong> Sumber Konflik</strong></p>
<p>Dalam berbagai liputan selama ini kata “konflik” sering diasosiasikan dengan “kekerasan.” Padahal keduanya berbeda. Konflik bisa bermakna positif dan konstruktif apabila dikelola secara efektif dan beradab. Menurut Peter du Toit, konflik bisa terjadi karena adanya perebutan sumber-sumber yang terbatas, stereotype, ketiadaan dialog, ketidak-percayaan, hal yang tidak terselesaikan di masa lalu, kekuasaan yang tidak terbagi rata atau tiadanya penghargaan di antara kelompok masyarakat.</p>
<p>Konflik selalu ada. Manusia hidup selalu berkonflik. Konflik ada di alam dan hadir dalam kehidypan manusia. Konflik selalu mempunyai dua sisi, yaitu risiko dan peluang. Konflik dapat menciptakan energi yang bersifat destruktif, tetapi bisa juga kreatif. Ibarat gesekan, konflik dapat menimbulkan api yang melalap semua yang berharga tetapi, juga bisa menghasilkan bentuk batu yang indah.</p>
<p>Yang menjadi persoalan adalah bagaimana masyarakat menyelesaikan konflik itu. Dalam berbagai konflik yang diliput jurnalis, seringkali penyelesainnya mengarah ke hasil menang-kalah (<em>win-lose                  solution</em>). Dalam penyelesaian ini, ada kelompok yang lebih diuntungkan dibandingkan kelompok yang lain. Memang untuk sementara upaya ini bisa menghentikan pertikaian, tapi sebenarnya seperti menyimpan bara dalam timbunan sekam. Sebab pihak yang dirugikan menunggu kesempatan untuk membalas lagi. Dalam pendekatan ini, perdamaian = kemenangan + genjatan senjata.</p>
<p>Inilah yang disebut Johan Galtung (1998) sebagai jurnalisme perang. Jurnalisme perang, kata Galtung cenderung terfokus pada kekerasan sebagai penyebabnya dan enggan menggali asal-usul strutural sebuah konflik itu secara mendalam. Jurnalisme perang terlampau terkonsentrasi pada efek-efek yang terlihat, seperti korban tewas atau terluka, kerusakan material yang kelihatan, bukan kerusakan psikologis, struktur atau budaya.</p>
<p>Jurnalisme perang mereduksi pihak-pihak yang berkonflik menjadi dua dalam polarisasi “lawan-kawan.” Mereka cenderung menjelek-jelekkan pihak “lawan” dan mengangungkan pihak “kawan.” Bukankah pendekatan ini juga banyak kita temui dalam media Kristen? Apalagi akhir-akhir ini, ada banyak orang Kristen dan gereja yang mengalami penganiayaan. Dalam menulis berita perusakan gereja, misalnya, jurnalis Kristen lebih menonjolkan tingkat kerusakan yang kelihatan atau jumlah korban yang ada. Pemberitaan seperti ini tidak akan pernah mencerdaskan pembaca (orang Kristen) karena hanya memuaskan selera keingin-tahuan. Yang terjadi justru lestarinya prasangka orang Kristen terhadap kelomppok-kelompok yang dianggap menentang kekristenan di tanah air ini.</p>
<h2>Jurnalisme Perdamaian</h2>
<p>Sebagai antitesis dari jurnalisme perang, hadirlah Jurnalisme Perdamaian. Apa itu jurnalisme perdamaian? Menurut <em>Annabel McGoldrick</em> dan <em> Jake Lynch</em> (2000), Jurnalisme Perdamaian (JP) melaporkan suatu kejadian dengan bingkai yang lebih luas, yang lebih berimbang dan lebih akurat, yang didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi. Tugas utamanya adalah memetakan konflik, mengidentifikas pihak-pihak yang terlibat, dan menganalisis tujuan-tujuan mereka. Pendekatan JP adalah memberikan jalan baru bagi pihak-pihak yang bertikai untuk menyelesaikan konflik secara kreatif dan tidak memakai jalan kekerasan. Prinsip ini disederhanakan dengan rumus Perdamaian= Non-kekerasan + kreatifitas.</p>
<p>Dalam JP,                  penyelesaian konflik yang dipakai adalah pendekatan                  menang-menang (<em>win-win soluttion</em>) dengan memperbanyak alternatif-alternatif penyelesaian konflik. Dalam hal ini peran pers menurut <em>Abdul Razak</em> dalam <em>Jurnal Pers Indonesia</em> (no.4/1997) adalah menggambarkan situasi dan merumuskan realitas. Rumusan ini mempengaruhi persepsi, reaksi dan pilihan solusi. Pers bukan sekadar media penyampai informasi, melainkan juga membangun debat publik yang sehat tentang kepentingan umum. Peran pers di sini adalah dengan merumuskan (1)masalah, (2)penyebab, (3)alternatif penyelesaian, (4)evaluasi alternatif, (5)pilihan alternatif tebaik, (6)sistem dan mekanisme pelaksanaan, (7) evaluasi dan feedback.</p>
<p>Dengan strategi menelusuri akar konflik ini, para jurnalis berusaha menghindari menyalahkan salah satu pihak sebagai penyebab konflik. Yang mereka lakukan adalah dengan memaparkan masalah yang sebenarnya, dampak yang telah ditimbulkannya, lalu menawarkan alternatif penyelesaiannya.</p>
<h2>Peluang Media Kristen</h2>
<p>Memang untuk mewujudkan JP ini bukan pekerjaan yang mudah, bahkan cenderung rumit. Bagaimana tidak, sebab di sini berita-berita lempang (<em>straight news</em>) saja tidak cukup. Untuk menjelaskan dan menelusuri urat-urat konflik memerlukan waktu yang lebih lama dan ruang yang lebih banyak. Dalam jurnalistik bentuk tulisan seperti ini dinamakan jurnalisme interpretatif.</p>
<p>Padahal dalam tingkat persaingan antar media yang sengit sekarang ini, setiap media harus bisa “berteriak” mengatasi media-media lain. Caranya bermacam-macam. Bisa dengan penyajian yang lebih cepat, sudut pemberitaan (<em>news angle</em>)                  yang menarik, perwajahan yang <em>ciamik</em> dan judul-judul yang sensansional. Bagi media Kristiani yang kebanyakan kristiani terbit bulanan, rentang waktu yang lama ini dapat menjadi peluan untuk menerapkan prinsip JP. Pengelola media kristiani punya kesempatan banyak untuk menyiapkan reportase yang analistis, holistik dan tajam.</p>
<p>Memang tulisan-tulisan seperti ini kalah laris dibandingkan dengan berita-beriuta sensansional yang terdapat dalam tabloid. Namun situasi konflik yang melibatkan sebagian umat Kristen, pendekatan JP masih (atau semakin) relevan dalam membawa suara-suara kenabian. Sikap ini yang diambil wartawan <em>Kompas,                  Maria Hartiningsih</em>:” Setiap jurnalis mempunyai ideologi, demikian juga saya. Ideologi saya adalah memberi sumbangan pada perdamaian dan keadilan …Yang mednorong saya untuk berbuat sesuatu dalam tugas jurnalistik saya, yaitu ketika saya melihat banyak orang tidak bersalah yang jadi korban. Terutama kaum perempuan dan anak-anak itu telah memberi semangat saya untuk memberi sumbangan pada proses rekonsiliasi di negeri ini.”  Berbahagialah jurnalis yang membawa damai.</p>
<p><em> catatan:   Tulisan ini memenangkan juara II dalam lomba penulisan yang digelar oleh majalah &#8220;Genta Kelana&#8221;, Bandung</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/jurnalisme-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

