<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Purnawan Kristanto &#187; gagasan</title>
	<atom:link href="http://www.purnawankristanto.com/tag/gagasan/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purnawankristanto.com</link>
	<description>All about writing minister</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Nov 2011 11:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Bongkar Ingatanmu</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Mar 2011 00:35:43 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>
		<category><![CDATA[jurus]]></category>
		<category><![CDATA[kiat]]></category>
		<category><![CDATA[riset]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[PARA penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="aligncenter" src="http://s2.hubimg.com/u/431685_f520.jpg" alt="brain" width="354" height="463" /></p>
<p>PARA penulis pemula biasanya <em>bengong</em> cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam.  Apalagi jika Anda sudah <em>on-line</em> dan koneksi internet dihitung berdasarkan waktu. Semakin lama Anda bengong, maka semakin membengkaklah tagihan internet Anda.</p>
<p>Untuk menyiasati hal ini, cara yang terbaik adalah Anda sudah menyiapkan tulisan ketika masih <em>off-line</em>. Kemudian ketika <em>on-line</em>, Anda tinggal mengunggahnya saja. Meski begitu, kadang-kadang ketika sedang <em>off-line</em> pun, mungkin Anda juga mengalami kemacetan ide. Anda tidak perlu resah. Anda dapat mencoba salah satu dari rahasia penulisan, yaitu menggunakan teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan <strong><em>ingatan (memori)</em></strong> Anda sebagai bahan tulisan. Jika Anda masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi tersendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.</p>
<p><span id="more-67"></span></p>
<p>a. Kode Kata</p>
<p>Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah dengan memilih kata kunci dari tema cerita atau <em>premise</em> yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman yang Anda memiliki.  Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan  mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.</p>
<p>Berikut contohnya:</p>
<ul>
<li>Bunga</li>
<li>Tukang Kebun</li>
<li>Sederhana</li>
<li>Anak banyak</li>
<li>Nakal</li>
<li>Polisi</li>
<li>Kegaduhan</li>
</ul>
<p>Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang <em>kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi</em>.</p>
<p>Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari tema tulisan hendak Anda buat. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>b. Curah Gagasan (<em>Brainstorming</em>)</p>
<p>Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><strong>Ikan</strong></p>
<p><em>Rasul Petrus menjala ikan</em></p>
<p><em>Yesus ikut makan ikan</em></p>
<p><em>Ikan bakar bebas kolesterol</em></p>
<p><em>Memancing itu asyik</em></p>
<p><em>Menjala hasilnya lebih banyak</em></p>
<p><em>Yunus pernah ditelan oleh ikan besar</em></p>
<p><em>Hati-hati tertusuk duri ikan</em></p>
<p>Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan di antara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang <em>petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus</em>. <em>Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.</em></p>
<p>&nbsp;</p>
<p>c. Menulis Bebas</p>
<p>Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.</p>
<p>Ada dua teknik yang dapat digunakan. Pertama, menggunakan kode kata sebagai panduannya. Kedua, menulis bebas secara total. Anda menulis seperti mengikuti air yang mengalir. Anda tidak tahu dan tidak meriasukan kemana tujuan akhir dari aliran itu. Yang penting Anda menuangkan apa saja yang terekam di benak Anda.</p>
<p>Contoh:</p>
<p><em>Hmmm….cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.</em></p>
<p>Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang <em>ngelantur </em>kemana-mana.</p>
<p>Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang <em>menyambut kedatangan Yesus</em>.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>d. Pemetaan Pikiran</p>
<p>Pemetaan pikiran (<em>mind mapping</em>) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. <em>Mind mappin</em>g memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.</p>
<p>&nbsp;</p>
<ul>
<li>Catat poin utama, pikiran atau ide utama.</li>
<li>Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.</li>
<li>Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan.  Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!</li>
<li>Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.</li>
</ul>
<p>MENULIS BUKU JURNAL</p>
<p>Seorang penulis wajib memiliki dan selalu membawa buku kecil (atau PDA) kemana pun dia pergi. Inilah yang disebut buku jurnal. Buku ini berbeda dengan buku harian (<em>diary</em>) yang mencatat segala kegiatan fisik setiap hari. Buku ini merupakan catatan dari aktivitas otak kita. Buku ini mencatat semua hal yang terlintas di otak Anda, entah itu ide, kegelisahan, pergumulan, pengalaman atau kekesalan Anda.</p>
<p>Ilham atau ide itu bisa datang kapan saja, tanpa diundang dan tak bisa ditolak. Ketika ide itu datang, kita harus segera mencatatnya. Jangan pernah mempercayai ingatan Anda, karena ingatan kita ini sangat terbatas. Jika kita lalai mencatat dan tidak ingat lagi ide tersebut, maka kita telah melepas angsa yang bertelor emas.</p>
<p>Dengan selalu mengantongi buku jurnal, ada dua keuntungan yang Anda dapatkan:</p>
<p>Pertama, melatih keberanian Anda untuk menulis. Buku jurnal memberikan kebebasan menulis sebebas-bebasnya karena hanya Anda yang akan membacanya. Jadi tidak perlu takut dalam menuangkannya dalam bentuk tulisan. Ada pepatah:<em>practice make perfect</em> (kita bisa karena terbiasa).</p>
<p>Kedua, menyediakan sumber tulisan. Jurnal bukanlah sebuah tulisan yang sudah jadi. Ibarat masakan, jurnal merupakan bahan pangan yang masih harus diolah lagi. Jika kita sudah terbiasa menulis jurnal, maka kita menyediakan bahan tulisan dengan cepat.  Meski efeknya tidak langsung, tetapi menulis jurnal dapat mendukung kita ketika ingin menulis dengan cepat.<br />
Dikutip dari &#8220;Blog Gospel&#8221;, diterbitkan oleh Inspirasi, Jakarta</p>
<p>&nbsp;</p>
<p><a href="http://s233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/?action=view&amp;current=bloggospel.jpg" target="_blank"><img src="http://i233.photobucket.com/albums/ee291/purnawankristanto/rupa-rupa/bloggospel.jpg" border="0" alt="Blog Gospel" width="190" height="309" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2011/03/bongkar-ingatanmu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Umpan Ampuh Mengail Ide</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/umpan-ampuh-mengail-ide/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/umpan-ampuh-mengail-ide/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 16:06:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[Bagi penulis, “ide” adalah makhluk yang menggemaskan. Kedatangannya tak dapat dijadwal tepat waktu, mirip sekali dengan pelayanan kereta api di Indonesia. Ketika kita sangat membutuhkan, dia malah jual mahal, bersembunyi entah dimana. Ketika kita sedang tidak siap menulis, dia malah menari-nari menggoda otak kita. Namun tidak usah khawatir. Anda sebenarnya dapat memasang umpan yang jitu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://bp1.blogger.com/_za1RxbPFQvc/RwPecsie48I/AAAAAAAAADM/0FIBQf1PaxA/s1600-h/ide.gif"><img id="BLOGGER_PHOTO_ID_5117178186196509634" src="http://bp1.blogger.com/_za1RxbPFQvc/RwPecsie48I/AAAAAAAAADM/0FIBQf1PaxA/s200/ide.gif" border="0" alt="" /></a></p>
<p>Bagi penulis, “ide” adalah makhluk yang menggemaskan. Kedatangannya tak dapat dijadwal tepat waktu, mirip sekali dengan pelayanan kereta api di Indonesia. Ketika kita sangat membutuhkan, dia malah jual mahal, bersembunyi entah dimana. Ketika kita sedang tidak siap menulis, dia malah menari-nari menggoda otak kita.<br />
Namun tidak usah khawatir. Anda sebenarnya dapat memasang umpan yang jitu untuk mengail ide pada saat membutuhkannya. Anda memiliki tiga jenis umpan, yaitu umpan ingatan, umpan pengamatan dan umpan riset.<br />
<strong>1. Ingatan<br />
</strong>Theodore Roosevelt berkata, “Do what you can, with what you have, where you are.” Kita dapat memulai mendapatkan bahan cerita dari apa yang sudah kita miliki saat ini, yaitu ingatan atau memori.<br />
Pengalaman dan masa lalu Anda merupakan sumber cerita yang tak ada habis-habisnya. Sejak kecil kita mengumpulkan banyak kenangan mengenai orang, tempat, peristiwa dan benda-benda lainnya. Ingatan ini seringkali muncul begitu saja tanda diduga, terutama ketika dipicu oleh keadaan tertentu. Mencium parfum tertentu, mengingatkan pada cinta pertama Anda. Suara sirine memunculkan memori tentang tragedi yang pernah dialami di masa lampau. Melihat album foto membawa angan-angan Anda kembali mengenang masa kecil.<br />
Namun ketika akan membuat cerita, ada kalanya pemicuan tersebut tidak terjadi sehingga kita kesulitan membangkitkan kenangan di masa lalu. Hal ini dapat disiasati dengan memakai empat metode berikut ini:</p>
<p><span id="more-24"></span></p>
<p><strong><em>a. Kode Kata<br />
</em></strong>Salah satu kunci untuk membuka peti ingatan kita adalah dengan kode kata. Cara yang dipakai adalah memilih kata kunci dari tema cerita atau premise yang sudah ditentukan. Kata ini dipakai sebagai pijakan awal yang akan menuntun kita untuk menemukan satu tema cerita yang spesifik. Setiap kata akan memicu Anda untuk memikirkan beberapa pengalaman. Ketika Anda mengingat kembali satu pengalaman, hal itu akan mendorong Anda untuk menghubungkannya dengan pengalaman lain yang mungkin terlupakan.<br />
Berikut contohnya:<br />
· Bunga<br />
· Tukang Kebun<br />
· Sederhana<br />
· Anak banyak<br />
· Nakal<br />
· Polisi<br />
· Kegaduhan<br />
Perhatikan daftar di atas dimulai dari kata yang netral “bunga”. Kata tersebut berhubungan dengan “tukang kebun.” Demikian seterusnya, hingga akhirnya kita menemukan bahan cerita. Dari serangkaian kata-kata ini didapatlah bahan cerita tentang kehidupan tukang kebun yang sederhana, punya anak banyak tapi nakal-nakal sehingga terpaksa berurusan dengan polisi.<br />
Anda bisa memulai metode ini dengan satu kata kunci dari pengajaran yang hendak Anda sampaikan. Misalnya, ketaatan, kerendahan hati, ketegaran, kasih, sukacita dll.</p>
<p><strong><em>b. Curah Gagasan (Brainstorming)</em></strong><br />
Metode ini merupakan pengembangan dari metode kode kata. Berawal dari sebuah kata, kita menuliskan semua ide yang berkaitan dengan kata tersebut. Hal ini dapat diibaratkan seperti mencurahkan air di dalam gelas ke dalam baskom. Seluruh isi gelas dituangkan semuanya. Tidak ada yang dipilih-pilih. Demikian juga dalam menuliskan ide, tuliskanlah apa saja yang terlintas di otak Anda, tanpa menyeleksinya. Anda tidak perlu memusingkan urut-urutannya, alur logika atau ejaan tulisan.<br />
Contoh:<br />
Ikan<br />
Rasul Petrus menjala ikan<br />
Yesus ikut makan ikan<br />
Ikan bakar bebas kolesterol<br />
Memancing itu asyik<br />
Menjala hasilnya lebih banyak<br />
Yunus pernah ditelan oleh ikan besar<br />
Hati-hati tertusuk duri ikan<br />
Ketika semua ide sudah dituangkan, selanjutnya bacalah daftar ide Anda. Apakah Anda dapat menarik sebuah benang merah di antara daftar itu? Apakah ada ide yang perlu dibuang? Apakah ada kaitan diantara ide tersebut? Setelah membaca kembali daftar ide di atas, saya mendapat ide membuat cerita tentang petualangan dua ekor ikan pada zaman Yesus. Salah satu ikan tersebut tersangkut dalam jaring yang ditebarkan Petrus.</p>
<p><strong><em>c. Menulis Bebas</em></strong><br />
Metode ini hampir mirip dengan melamun. Caranya diawali dengan suatu kata tertentu, Anda menulis secara bebas. Tidak harus berkaitan dengan kata kunci tertentu (inilah perbedaan dengan curah gagasan). Tujuan utamanya adalah menulis kalimat sebanyak-banyaknya dalam waktu tertentu (5-10 menit) tanpa berhenti. Anda tidak perlu merisaukan arah tulisan tersebut dan ketepatan ejaan. Tulis saja dengan bebas.<br />
Contoh:<br />
Cerita apa yang bisa kubuat? Ah aku belum punya ide sama sekali. Ide, ide, ide…mengapa ketika dibutuhkan justru tidak datang. Tapi ketika sedang tidak butuh, engkau datang tiba-tiba tanpa memberitahu dulu. Datangmu seperti pencuri. Tidak tahu kapan engkau datang. Engkau datang tanpa mengetuk, dan pergi tanpa permisi. Eh, ya…Tuhan Yesus ‘kan pernah juga memakai perumpamaan ini untuk menggambarkan waktu kedatangan-Nya yang kedua. Kita tidak akan pernah tahu, kapan Dia akan datang lagi sebagai Hakim Agung. Tapi di situlah asyiknya. Kita seperti bermain tebak-tebakan. Apakah hari ini Dia akan datang…. tidak….. datang… tidak… datang… tidak… datang… tidak. Apakah itu seperti menebak seperti ketika menghitung suara tokek? Enggak juga sih. Yesus sudah memberi tanda-tanda. Kita tinggal membaca tanda-tanda zaman saja, maka kita tahu kapan Dia akan datang. Yang dibutuhkan adalah soal kepekaan. Kita harus peka dalam membaca zaman. Ngomong-ngomong soal kepekaan. Dalam bahasa Inggris disebut sensibilitas. Akar katanya adalah sense. Menurut kamus berarti: pikiran, perasaan, kebijaksanaan dan indera. Itu artinya untuk mengasah kepekaan berarti kita melatih menggunakan indera, otak, hati dan roh.<br />
Perhatikan contoh di atas. Berawal dari ketiadaan ide, tulisan tersebut bergerak bebas tanpa fokus yang jelas, namun dengan cara itu justru memunculkan gagasan-gagasan baru. Ini seperti melamun yang ngelantur kemana-mana.<br />
Jika dirasa sudah cukup, maka baca kembali hasil tulisan bebas tersebut. Temukanlah ide-ide menarik yang dapat dikembangkan. Dari tulisan di atas, kita dapat mengembangkan cerita tentang menyambut kedatangan Yesus.</p>
<p><strong><em>d. Pemetaan Pikiran</em></strong><br />
Pemetaan pikiran (mind mapping) adalah sistem perekaman pikiran supaya kita biasa menggunakan otak kiri maupun otak kanan dengan baik. Seluruh bagian otak digunakan untuk berpikir. Untuk melakukan ini, kita dapat menggunakan kata-kata kunci, lambang, dan warna. Mind mapping memungkinkan kita membangkitkan dan mengatur pikiran-pikiran pada waktu yang sama.<br />
· Catat poin utama, pikiran atau ide utama.<br />
· Lingkari gagasan utama, kemudian gunakanlah cabang-cabang yang saling menyambung untuk menunjukkan ide-ide yang berhubungan.<br />
· Dalam membuat catatan, petakan hal-hal yang sedang Anda pikirkan. Anda akan membangkitkan lebih banyak ide, melihat hubungan di antara kata-kata kunci, dan lebih bersenang-senang!<br />
Selesai melakukan pemetaan, lihat peta tersebut secara umum. Temukanlah apakah Anda dapat menarik jalinan cerita dari peta otak tersebut.</p>
<p><strong>2. Pengamatan<br />
</strong>Meskipun ingatan dapat menjadi sumber cerita yang kaya, tetapi Anda tidak semua hal masuk ke dalam ingatan Anda. Contohnya, kalau Anda dibesarkan di gunung, Anda mungkin tidak punya kenangan atas kehidupan di laut. Kalau Anda lahir dan besar di kota, Anda mungkin tidak memiliki kenangan atau pengalaman sebagai penggembala. Untuk itu, Anda dapat memakai teknik pengamatan atau observasi.<br />
Di dalam kemiliteran sebelum menyerbu sebuah kota, sang perwira biasanya mengirimkan unit mata-mata untuk menyusup ke sasaran serbu. Tugas mereka adalah mengamati situasi di dalam kota dan mengumpulkan informasi intelijen sebanyak-banyaknya. Misalnya mencatat keadaan jalan, pembangkit listrik, instalasi militer, sarana komunikasi, jumlah penduduk dll.<br />
Mirip dengan agen spionase, dalam metode ini Anda mendatangi sebuah tempat dan mencatat apa saja yang menonjol dan berkesan bagi Anda. Berikut caranya:<br />
a. Bawalah bloknot dan alat tulis. Datangilah sebuah tempat yang ingin Anda amati, kemudian tentukan sudut pandang Anda. Ada empat sudut sudut pandang:<br />
a.1. Sudut pandang wisatawan<br />
Posisi mata Anda sejajar dengan objek yang akan diamati. Anda dapat mengamati salah satu sisi objek yang diamati:sebelah muka, belakang dan samping.<br />
a.2. Sudut pandang burung<br />
Posisi mata Anda di atas objek yang diamati. Misalnya, Anda mengamati lapangan parkir dari puncak gedung, menyaksikan pertandingan sepakbola dari tribun atas, melihat perkotaan dari pesawat terbang.<br />
a.3. Sudut pandang katak<br />
Posisi mata Anda di bawa objek yang diamati. Misalnya, Anda melihat patung jendral Sudirman di Jakarta, melihat puncak Monas, memeriksa kolong mobil dll.<br />
a.4. Sudut pandang komidi putar<br />
Pada komidi putar, kita dapat melihat seluruh sisi objek karena objek itu berputar. Karena tidak semua objek dapat diputar, maka dalam hal ini si pengamatlah yang berputar. Ia mengelilingi objek untuk mengamati semua sisinya.<br />
b. Perhatikan objek tersebut dan tuliskan apa saja yang dapat Anda lihat, dengar, cium dan rasa. Pergunakan semua indera yang Anda miliki. Sama seperti dalam curah gagasan, Anda tidak perlu memusingkan masalah susunan kalimat, penulisan ejaan, alur logika dll. Tugas pokok Anda adalah menuliskan kesan dominan yang tertangkap oleh indera-indera Anda.<br />
c. Setelah 15 menit, bacalah catatan yang Anda buat. Lihat objek yang diamati sekali lagi, untuk mengetahui jika ada sesuatu yang ketinggalan untuk dicatat. Akhirnya, tuliskan komentar singkat berdasarkan catatan tersebut.<br />
Contoh<br />
Lokasi: Alun-alun<br />
Waktu: 15.00-17.00<br />
Cuaca: Cerah<br />
· Lapangan berdebu. Rumput kering karena lama tidak turun hujan<br />
· Anak-anak laki-laki asyik bermain sepakbola. Bolanya sudah butut<br />
· Ibu mengajak bayi jalan-jalan sambil menyuapi<br />
· Bau busuk tercium dari selokan yang mampet<br />
· Udara terasa hangat, angin berhembus semilir<br />
· Seorang pengamen asyik menghitung hasil ngamennya di bawah pohon beringin<br />
· Seorang anak menangis keras minta jajan es krim<br />
· Penjual sate keliling membakar sate ayam di atas gerobak dorongnya. Baunya enak</p>
<p><strong>3. Riset<br />
</strong>Ada pepatah mengatakan, “Learn from other people&#8217;s mistakes, life isn&#8217;t long enough to make them all yourself.” Meski kelihatannya bercanda, tapi ada kebenaran indah di dalam kebenaran ini. Kita harus belajar dari orang lain. Tidak hanya dari kesalahan mereka saja, tetapi juga dari keberhasilan mereka.<br />
Dengan belajar dari orang lain, kita bisa menghemat waktu, biaya dan sumberdaya lainnya. Sebagai contoh, Anda mungkin belum pernah melihat padang rumput di Israel karena untuk pergi ke sana membutuhkan ongkos besar. Hal ini dapat disiasati dengan riset, yaitu meminta informasi dari orang lain. Ada beberapa langkah yang baik untuk memulai riset:<br />
a. Mulailah dengan perpustakaan pribadi. Kumpulkan kliping dari berbagai macam koran dan majalah yang menarik. Selain itu, Anda pun perlu melengkapi perpustakaan dengan buku‑buku tafsir yang baik, telaah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kamus‑kamus, konkordansi lengkap, ensiklopedia dan bermacam buku teologia, sejarah, arkeologi, penelitian penulis lain, geografi, kebudayaan dan lain sebagainya. Makin lengkap perpustakaan Anda, makin mudah Anda dalam membuat cerita menulis.<br />
b. Gunakan sumber‑sumber informasi. Di Indonesia ada LINK (Lembaga Informasi Kristen), Pusat Perpustakaan Nasional dan sebagainya. Nah, mengapa kita tidak memanfaatkan sumber‑sumber informasi yang bisa memperkaya dan memberi bobot pada cerita Anda?<br />
c. Mengunjungi para pakar. Di samping sumber‑sumber tertulis di atas, Anda pun bisa mendapatkan informasi dari berbagai pakar menurut bidang keahlian mereka masing‑masing. Mereka biasanya senang membagikan ilmu dan keahlian yang mereka miliki, asal kita menanyakan secara sopan serta menjelaskan untuk apa informasi yang kita tanyakan itu. Kalau sumber &#8216;hidup&#8217; ini jaraknya dekat, kita bisa langsung datang ke rumahnya dengan perjanjian lebih dulu. Kalau jaraknya jauh, dan cerita dikejar oleh deadline, Anda bisa menyuratinya lebih dulu.<br />
d. Akses internet. Kalau Anda memiliki komputer, modem dan saluran telepon, maka Anda bisa “menjelajahi dunia”. Ada informasi melimpah yang bisa didapatkan dari internet. Gunakan search engine semacam Google.com, Yahoo.com, Ask.com untuk mendapatkan informasi yang diinginkan.</p>
<div>Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com<br />
]</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/umpan-ampuh-mengail-ide/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mau Nulis kok Bingung?</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/mau-nulis-kok-bingung/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/mau-nulis-kok-bingung/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:50:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[gagasan]]></category>
		<category><![CDATA[ide]]></category>
		<category><![CDATA[ilham]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Kebanyakan [calon] penulis kebingungan ketika duduk di depan layar komputer dan bersiap menulis: &#8220;Aku harus menulis apa ya?&#8221; Sesungguhnya kesulitan itu tidak perlu terjadi asal orang tersebut sudah mengasah kepekaannya terhadap lingkungan. Ide penulisan itu berseliweran di sekitar kita, masalahnya radar kita kadang kurang peka untuk menangkap sinyal itu. Itu sebabnya saya sengaja memasang judul [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kebanyakan [calon] penulis kebingungan ketika duduk di depan layar komputer dan bersiap menulis: &#8220;Aku harus menulis apa ya?&#8221; Sesungguhnya kesulitan itu tidak perlu terjadi asal orang tersebut sudah mengasah kepekaannya terhadap lingkungan. Ide penulisan itu berseliweran di sekitar kita, masalahnya radar kita kadang kurang peka untuk menangkap sinyal itu. Itu sebabnya saya sengaja memasang judul tulisan &#8220;memilih&#8221; karena kita tinggal mencomot satu dari lautan ide untuk dijadikan tema tulisan.</p>
<p><span id="more-17"></span></p>
<p>Penentuan tema tulisan itu seperti juru masak yang akan menetapkan menu makanan. Dia bisa menetapkan berdasarkan dua hal:</p>
<p>Pertama: Dia menentukan jenis masakan berdasarkan bahan-bahan yang sudah dipunyainya. Contoh sederhana, jika dia punya telur mentah maka dia dapat memasak omelet alias telur orak-arik.</p>
<p>Kedua: Dia menentukan jenis masakan berdasarkan siapa yang akan menyantap hasil masakannya. Dia lebih dulu melihat kegemaran dan kebutuhan orang tersebut, baru kemudian menentukan jenis masakannya. Jika orang yang akan menyantap itu menyukai bakmie rebus tapi kadar asam uratnya tinggi, maka dia akan memasak mie rebus tanpa jeroan dan kol. Bagaimana jika dia tidak punya bahan-bahannya? Dia harus belenja terlebih dahulu.</p>
<p>Demikian pula dalam menulis. Pada cara pertama, kita menentukan tema tulisan berdasarkan pengalaman, pengetahuan dan ketrampilan yang sudah kita miliki. Inilah &#8220;bahan-bahan masakan&#8221; yang sudah siap kita olah menjadi tulisan yang enak dibaca dan bermanfaat. Dengan metode ini, kita tidak perlu repot-repot lagi untuk berbelanja bahan-bahan tulisan.</p>
<p>Ketika isteri saya mengandung, kami rutin berkonsultasi kepada dokter spesialis kandungan. Pasien yang memeriksakan diri kepada dokter ini lumayan banyak. Dalam beberapa kali kunjungan, dokter ini bercerita bahwa dia ingin sekali bisa menulis. Dia memiliki pengetahuan dan pengalaman yang sangat berguna. Saya mengusulkan supaya beliau menulis tentang fakta dan mitos seputar kehamilan. Misalnya, bolehkah orang hamil minum es? Bolehkah sang suami membunuh binatang saat istrinya hamil? Benarkah banyak minum air kelapa muda akan memperlancar persalinan? Saya yakin tulisan seperti ini akan mendatangkan manfaat bagi orang banyak.</p>
<p>Mulailah menulis berdasarkan apa yang Anda miliki. Pengalaman unik apa yang Anda miliki? Disiplin ilmu apa yang Anda kuasai? Ketrampilan apa yang bisa Anda bagikan pada orang banyak? Cita-cita atau ide apa yang ingin Anda tularkan kepada masyarakat? Semangat apa yang ingin Anda sulut pada orang lain? Anda dapat menggali tema dari dalam diri Anda sendiri. Caranya adalah dengan melakukan pengenalan diri dan merumuskannya dalam sebuah tulisan. Pengenalan diri ini meliputi pengalaman kerja, pengalaman pelayanan, pengalaman hidup, pengalaman rohani minat, hobi, obsesi, kelebihan diri, jejaring yang dimiliki dll. Dari tulisan itu, kita akan dapat menarik sebuah tema yang dapat diangkat.</p>
<p>Cara kedua dalam menentukan tema tulisan adalah melihat lebih dulu siapa yang akan menjadi pembaca (<em>target reader</em>) kita. Kita harus mengenal <em>target readers </em>dulu, baru kemudian bertanya bagaimana cara saya &#8220;memuaskan pembaca&#8221;. Dalam hal ini kita harus melakukan analisis pembaca untuk mengenali harapan, keinginan dan kebutuhan pelanggan.</p>
<p>Sebelum menentukan menu yang akan dihidangkan, seorang koki berusaha mengetahui orang-orang yang akan datang dan bersantap dalam perjamuan makan nanti. Jika yang hadir itu masih anak-anak, maka dia menyiapkan masakan yang manis-manis. Lain lagi jika tamunya adalah para orang dewasa. Dia lebih berani membubuhkan bumbu-bumbu yang pedas.</p>
<p>Alat yang dipakai untuk mengenal pembaca adalah dengan analisis demografis dan analisis psikografis. Yang dimaksud demografi adalah ilmu yang mempelajari dinamika kependudukan manusia. Meliputi di dalamnya ukuran, struktur, dan distribusi penduduk, serta bagaimana jumlah penduduk berubah setiap waktu akibat kelahiran, kematian, migrasi, serta penuaan. Analisis demografi dapat merujuk masyarakat secara keseluruhan atau kelompok tertentu yang didasarkan kriteria seperti pendidikan, kewarganegaraan, agama, atau etnisitas tertentu.</p>
<p>Dengan analisis demografis ini, Anda mengumpulkan informasi-informasi demografis pembaca Anda, yang mencakup umur, jenis kelamin, pendidikan dan, tempat tinggal, dll. Berbekal informasi ini, Anda dapat mengenal pembaca Anda sehingga lebih mudah memilih tema tulisan yang sesuai dengan mereka.</p>
<p>Misalnya, pembaca Anda memiliki data demografis berikut: Umur: 30-45 tahun; Jenis kelamin: mayoritas laki-laki; Pendidikan: SMA dan Sarjana; Tempat tinggal: perkotaan. Berdasarkan informasi tersebut, kita dapat memilih tema-tema yang berkaitan dengan kehidupan laki-laki dewasa yang tinggal di kota.</p>
<p>Sedangkan analisis psikografi digunakan untuk mengetahui karakteristik psikologis audiens berdasarkan dua variabel, yaitu gaya hidup dan kepribadian. Yang dimaksud dengan gaya hidup adalah mode kehidupan seseorang yang meliputi:</p>
<p>1. Bagaimana mereka menghabiskan waktu (aktivitas);</p>
<p>2. Apa yang mereka anggap penting dan menarik di sekitar mereka (minat);</p>
<p>3. Pendapat mereka tentang diri sendiri dan dunia luar.</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0">
<tbody>
<tr>
<td width="115" valign="top"><strong>Aktivitas</strong></td>
<td width="144" valign="top"><strong>Minat</strong></td>
<td width="120" valign="top"><strong>Pendapat</strong></td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Pekerjaan</td>
<td width="144" valign="top">Keluarga</td>
<td width="120" valign="top">Diri sendiri</td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Hobi</td>
<td width="144" valign="top">Rumah</td>
<td width="120" valign="top">Masalah Sosial</td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Kegiatan Sosial</td>
<td width="144" valign="top">Tugas Pekerjaan</td>
<td width="120" valign="top">Politik</td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Liburan</td>
<td width="144" valign="top">Komunitas</td>
<td width="120" valign="top">Bisnis</td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Hiburan</td>
<td width="144" valign="top">Fesyen</td>
<td width="120" valign="top">Ekonomi</td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Klub Sosial</td>
<td width="144" valign="top">Makanan</td>
<td width="120" valign="top">Pendidikan</td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Komunitas</td>
<td width="144" valign="top">Media</td>
<td width="120" valign="top">Lingkungan</td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Belanja</td>
<td width="144" valign="top">Wisata</td>
<td width="120" valign="top">Masa Depan</td>
</tr>
<tr>
<td width="115" valign="top">Olahraga</td>
<td width="144" valign="top">Pencapaian Prestasi</td>
<td width="120" valign="top">Kebudayaan</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Selain gaya hidup, kita dapat memahami perilaku pembaca dengan mengetahui kepribadiannya. Dibandingkan dengan gaya hidup, kepribadian dapat menunjukkan pola hidup yang lebih konsisten dan ajeg.</p>
<p>Dari hasil ramuan antara analisi demografis dan psikografis tadi kita dapat menarik sebuah tema tulisan yang kemungkinan besar mereka butuhkan. Misalnya, sasaran pembaca kita adalah kaum laki-laki yang hidup di perkotaan. Sebagian besar aktivitas mereka tersita pada pekerjaan; masih menaruh perhatian pada keluarga. Dari sini dapat ditarik tema tulisan tentang &#8220;pembagian waktu antara pekerjaan dan keluarga.&#8221;</p>
<p>Sampai di sini, ada kemungkinan bahwa kita tidak memiliki pengalaman dan pengetahuan yang dibutuhkan untuk menuliskannya. Jangan khawatir, sebab masih Anda masih bisa belanja bahan-bahan masakan di pasar. Sebagai penulis kita tidak harus selalu serba tahu semuanya. Kita bisa bertanya pada orang lain, melakukan pengamatan, atau mencari sumber tulisan kedua. Untuk penjelasan lebih terperinci akan disampaikan pada pertemuan mendatang.</p>
<p>****</p>
<p>Selain kedua metode tersebut, masih ada satu jenis radar lagi untuk menangkap tema tulisan, yaitu dengan mengamati trend. Pengamatan ini meliputi buku-buku yang sedang laris dan diminati oleh pasar pada saat ini. Kita dapat menulis dengan tema yang sedang <em>ngetrend</em>. Ini memang lebih memudahkan kita untuk memilih tema. Namun jika Anda dalam posisi pengikut tren, maka tulisan Anda wajib memiliki sesuatu yang baru atau nilai lebih dibandingkan tulisan-tulisan yang lain.</p>
<p>Selain menjadi pengikut tren, Anda juga bisa memulai tren baru. Caranya dengan memprediksi peristiwa/situasi yang akan terjadi pada masa depan. Tahun depan ada Pemilu. Baik untuk memilih presiden, anggota DPR dan DPD. Tulisan yang berkaitan dengan politik kemungkinan akan diminati. Kita juga dapat menapis tema tulisan dari data-data statistik: Misalnya angka pengangguran di Indonesia masih tinggi, angka kematian bayi yang tinggi, jumlah anak-anak yang mulai merokok sejak dini semakin besar, dll.</p>
<p>****</p>
<p>Sampai di sini kita sudah mendapatkan tiga radar untuk menangkap sinyal tema yang berterbangan di sekitar kita. Anda dapat menggunakan satu demi satu atau bersama-sama. Namun pada akhirnya bukan alatnya yang penting tapi orang yang mengoperasikan alat itu (the man/women behind the gun is more important). Kalau orang tersebut tidak pernah membiasakan diri dan berlatih menggunakan alat ini, maka jangan harap dia mahir menggunakan alat tersebut. Bisa jadi alat ini hanya akan mangkrak dan menjadi barang loakan. Namun di tangan penulis yang terlatih, alat ini dapat menjadi salah satu senjata penulisan yang ampuh. Bukankah ada pepatah <em>&#8220;practice make perfect</em>&#8220;?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/mau-nulis-kok-bingung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

