<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Purnawan Kristanto &#187; buku</title>
	<atom:link href="http://www.purnawankristanto.com/tag/buku/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purnawankristanto.com</link>
	<description>All about writing minister</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Nov 2011 11:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Tiga Jurus Menulis Buku</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/tiga-jurus-menulis-buku/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/tiga-jurus-menulis-buku/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 13:28:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[artikel]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>
		<category><![CDATA[jurus]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[&#8221; Duapuluh tahun lagi sejak sekarang, engkau akan kecewa karena tidak melakukan apa yang seharusnya kau lakukan.  Angkatlah sauhmu. Tinggalkan dermaga aman. Kembangkanlah layarmu.  Jelajahi! Impikan! Temukan!&#8221; &#8212; Mark Twain Saya terinspirasi ucapan Paulus Lie pada pertemuan pertama Sekolah Penulisan &#8220;Gloria&#8221; yang kemarin. Pendeta GKI Gejayan sekaligus ketua PGI DIY ini mengatakan bahwa kita tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<div><em>&#8221; Duapuluh tahun lagi sejak sekarang, engkau akan kecewa karena tidak melakukan apa yang seharusnya kau lakukan.  Angkatlah sauhmu. Tinggalkan dermaga aman. Kembangkanlah layarmu.  Jelajahi! Impikan! Temukan!&#8221;</em><br />
&#8212; Mark Twain</div>
<div>Saya terinspirasi ucapan Paulus Lie pada pertemuan pertama Sekolah Penulisan &#8220;Gloria&#8221; yang kemarin. Pendeta GKI Gejayan sekaligus ketua PGI DIY ini mengatakan bahwa kita tidak akan langsung menikmati buah dari penulisan buku. Kita baru bisa mulai menikmatinya beberapa tahun kemudian. Akan tetapi jika kita tidak memulainya dari sekarang, maka kita akan menyesal di kemudian hari. Hal yang sama dikatakan oleh Mark Twain. Jika Anda ingin melakukan sesuatu yang berarti, maka sekarang saatnya untuk memulai. Kita tidak pernah bisa memanen sesuatu jika tidak pernah mulai menaburkan benih dari sekarang. Sekarang saatnya untuk menabur. Sekarang saatnya mulai menulis buku.</div>
<div>
<span id="more-9"></span> Ada beberapa orang yang memang dapat menulis dengan sangat mudah. Setiap kali duduk dan mulai menulis, dia tidak akan berhenti menulis hingga dapat menyelesaikan tulisan. Contohnya Jack Kerouac yang menghasilkan novel On the Road dalam waktu empat puluh hari. Dia sengaja memasang kertas gulung (continous paper) di mesin ketiknya, supaya dapat terus-menerus mencurahkan kata demi kata tanpa harus terganggu dengan urusan mengganti kertas.<br />
Akan tetapi sebagian besar orang tidak memiliki karunia seperti ini. Meskipun baru saja duduk di depan komputer atau mesin ketik, dia sudah menemukan kebuntuan. Hampir semua penulis pernah mengalami frustasi seperti ini. Menulis itu bukan pekerjaan atau jenis pelayanan mudah. Dibutuhkan ketrampilan dan disiplin tertentu untuk terjun ke dalamya. Akan tetapi banyak kesempatan yang terbuka di bidang pelayanan literatur ini. Yang perlu kita lakukan hanyalah mengembangkan sebuah keyakinan dan kepercayaan diri untuk mengatasi segala halangan frustasi di dalam penulisan.<br />
Untungnya, kepercayaan diri ini tidak didapatkan secara misterius. Anda dapat dapat memperolehnya dengan kerja keras dan belajar dari pengalaman—baik diri sendiri maupun orang lain.</div>
<div><strong>TAHAPAN PENULISAN<br />
</strong>Jika Anda belum pernah menulis buku, bukan berarti Anda tidak dapat menulis buku. Yang perlu Anda ketahui adalah &#8220;jurus rahasia&#8221;  menulis buku. Ada tiga jurus rahasia yang harus dikuasai supaya dapat menjadi pendekar di dunia kepenulisan. Jurus pertama harus dilatih dan dikuasai lebih dulu sebelum berlatih jurus kedua. Demikian juga jurus kedua dan ketiga.</div>
<div><strong><em>Jurus Pertama: Perencanaan<br />
</em></strong>Perencanaan perlu dikuasai dan dilatih supaya kita memiliki pedoman dalam menulis. Ini yang akan menjadi bintang pemandu kita, seperti bintang yang telah memandu orang Majus sampai kepada bayi Yesus. Salah satu habit yang dirumuskan Stephen Covey, di antara Seven Habit for Highly Effective People, adalah &#8220;Beginning with the End&#8221;. Artinya, dalam memulai sesuatu, kita perlu membayangkan lebih dulu hasil akhirnya akan seperti apa. Jika kita sudah memiliki bayangan yang jelas, maka kita tidak akan kehilangan arah dan kehilangan semangat dalam penulisan. Dengan membuat rencana tulisan berarti kita telah merumuskan mimpi kita.<br />
Tahap perencanaan meliputi pemilihan tema, penentuan tujuan penulisan dan strategi yang dilakukan untuk mencapai tujuan tersebut.</div>
<div><strong><em>Jurus Kedua: Menulis Kasar (Drafting)</em></strong><br />
Menulis draft dapat diibaratkan layaknya pelukis yang menggambar sketsa. Dia menggores pena secara garis besar. Meski begitu, kita sudah bisa melihat perwujudan kasar dari lukisan yang akan dibuatnya. Pada tahapan ini, Anda mulai menyusun kerangka karangan. Pelajaran ini sudah kita dapatkan dalam pelajaran Bahasa Indonesia di Sekolah Dasar. Meski begitu, alat ini masih ampuh dan belum ketinggalan zaman.<br />
Begitu Anda sudah memiliki kerangka tulisan, maka Anda mulai mengumpulkan informasi-informasi yang dibutuhkan. Jika tema sudah digenggam, langkah berikutnya adalah mencari bahan-bahan informasi pendukungnya.  Seperti koki yang sudah memutuskan jenis masakan tertentu, dia lalu belanja bahan-bahan yang dibutuhkan.<br />
Sampai di sini, proses penulisan menjadi mudah. Yang kita lakukan adalah  menempelkan &#8220;daging&#8221; pada kerangka itu.  Artinya, kita tinggal menuliskan detil atau rincian dari setiap tulang kerangka.  Yang dibutuhkan di sini adalah sikap konsisten pada kerangka itu.<br />
Setumpuk informasi yang terkumpul itu kemudian disusun sehingga membentuk sebuah tulisan yang utuh. Layaknya menyusun kain perca, Anda menggabungkan potongan demi potongan dengan cara menjahitkan antar kain perca. Pekerjaan merangkai sari informasi menjadi tulisan baru ini dikenal sebagai mengkompilasikan (merangkum bahan informasi).<br />
Perangkuman ini mengandung dua tugas penting:<br />
(1). Mencakup  pelbagai pokok pernyataan<br />
(2) Mengemukakan kembali kumpulan pernyataan itu  dengan kata-kata lain dan kalimat baru secara ringkas.<br />
Selama rangkuman itu tidak menunjukkan lebih dari satu sumber informasi, maka hasilnya belum bisa disebut rangkuman tetapi jiplakan yang diringkas. Agar rangkuman itu enak dibaca,  maka kumpulan informasi itu harus disusun berdasarkan urut-urutan tertentu (Kronologis, Lokal, Klimaks, Familiaritas, Akseptabilitas, Kausal, Logis dan Apresiatif. )</div>
<div><strong><em>Jurus Ketiga: Revisi</em></strong><br />
Jurus revisi perlu dikuasai untuk meningkatkan kualitas tulisan kita. Sebagai jurus pamungkas, revisi menjadi andalan kita di dalam merobohkan tembok editor. Pada tahapan ini Anda perlu melakukan evaluasi dan memeriksa tulisan Anda. Apakah ada pengalimatan yang kurang tepat, ejaan yang masih salah, bagian tulisan yang pelu dibuang atau dikembangkan, dll. Dan yang tak kalah pentingnya adalah memeriksa apakah isi tulisan tersebut sudah sesuai dengan tujuan semula, atau tidak.<br />
Tidak satu pun naskah buku yang sudah sempurna dan siap diterbitkan tanpa mengalami revisi.  Jika Anda sudah selesai menulis, simpanlah dulu naskah itu dan lupakan selama beberapa hari. Gantilah melakukan aktivitas lain.  Beberapa hari kemudian, bacalah kembali naskah itu dengan pikiran yang baru. Hampir pasti, Anda bakal menemukan kesalahan dan kekurangan yang sebelumnya Anda tidak sadari.</div>
<div>Pernah disampaikan pada Sekolah Penulisan Gloria, 2008</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/tiga-jurus-menulis-buku/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Saya Menulis?</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/mengapa-saya-menulis/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/mengapa-saya-menulis/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 11:38:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[motivasi]]></category>
		<category><![CDATA[pengalaman pribadi]]></category>
		<category><![CDATA[buku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Mengapa saya memutuskan menekuni kepenulisan? Saya bingung untuk menjawabnya, sama bingungnya ketika ditanya mengapa saya memiliki iman Kristen? Keputusan untuk menjadi penulis atau menghayati iman Kristen merupakan proses yang sangat panjang dan saya tidak tahu sejak kapan itu bermula. Keputusan untuk menjadi penulis itu tidak melalui pengalaman spektakuler atau alasan luarbiasa. Saya baru saja membaca kisah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mengapa saya memutuskan menekuni kepenulisan? Saya bingung untuk menjawabnya, sama bingungnya ketika ditanya mengapa saya memiliki iman Kristen? Keputusan untuk menjadi penulis atau menghayati iman Kristen merupakan proses yang sangat panjang dan saya tidak tahu sejak kapan itu bermula.</p>
<div>Keputusan untuk menjadi penulis itu tidak melalui pengalaman spektakuler atau alasan luarbiasa. Saya baru saja membaca kisah tentang <a href="http://www.youtube.com/watch?v=0t_lCNG6gy4">Joni Ereackson Tada</a>, seorang penulis buku dan pembicara motivasional. Dia memutuskan untuk menulis buku setelah melelui peristiwa dramatis yang hampir saja merenggut hidupnya. Namun beda dengan saya, keputusan untuk menekuni dunia literatur ini merupakan proses kehidupan berpuluh-puluh tahun. Sejak kecil, bapak saya sudah mengenalkan berbagai macam bacaan. Meskipun tinggal di pelosok Gunungkidul yang saat itu masih terpencil, namun bapak sering membelikan majalah Si Kuncung, Cip Cop, Ananda, Mop, Gatotkaca, atau Bobo untuk anak-anaknya. Setiap hari ketika majalah itu terbit, kami selalu merindukan bunyi bel sepeda yang menandakan bapak pulang dari mengajar. Itu artinya dia membawa oleh-oleh favorit kami yaitu majalah anak-anak. Setiap Minggu, bapak juga membeli koran Sinar Harapan edisi Minggu. Lewat koran ini, saya mengenal dan mengagumi penyair cilik bernama Omi Intan Naomi [almarhumah].</div>
<div><span id="more-3"></span></div>
<div>Selain itu, bapak saya juga pernah sekali-kali menulis untuk media massa, meskipun tidak banyak yang dimuat. Namun salah satu tulisannya, kalau tidak salah, malah pernah dimuat di koran Kompas.</div>
<div>Saat memasuki usia remaja, saya mulai senang menulis naskah-naskah drama yang dipentaskan pada acara-acara gereja. Ketika SMA, saya mengelola majalah dinding di sekolah. Di sini saya mulai berminat pada dunia sastra. Ketika tiba saatnya untuk memilih jurusan saya justru memilih jurusan sastra/budaya [A4]. Mungkin saya adalah satu-satunya siswa yang menempatkan jurusan A4 pada pilihan pertama, sementara teman-teman saya yang lain bersaing sekuat tenaga untuk dapat masuk jurusan A1 atau jurusan A2 yang konon jurusan favorit.</div>
<div>Meski berada di kelas &#8220;buangan&#8221; [teman-teman sekelas saya adalah murid-murid yang tidak dapat masuk jurusan A1-A3. Maka alternatif terakhir adalah jurusan A4], namun saya tidak pernah menyesalinya. Bersama teman-teman, kami justru sangat menikmati proses belajar-mengajar yang berlangsung sangat menyenangkan. Kami tidak pernah dipusingkan urusan rumus-rumus kimia atau fisik. Pun tidak perlu menghitung angka-angka.</div>
<div>Karena menempati rangking I. saya mendapat jatah untuk mengikuti Program Penulusuran Bibit Unggul Daerah oleh UGM, sebuah program seleksi tanpa test. Saya memilih jurusan sastra Jepang, tetapi tidak lolos. Setelah itu, mengikuti Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri [UMPTN]. Saya memilih sastra Inggris, tetapi tidak diterima. Saya memutuskan untuk ikut UMPTN lagi tahun berikutnya. Sembari menunggu, saya ikut kursus komputer programmer yunior di UPT Komputer.</div>
<div>Tahun berikutnya saya diterima di jurusan komunikasi . Saya mulai mengasah kemampuan menulis dengan aktif di lembaga pers kampus. Pada mulanya, saya mencoba &#8220;peruntungan&#8221; dengan bergabung di Lembaga Pers dan Penerbitan Mahasiswa [LPPM] tingkat universitas yang menerbitkan tabloid &#8220;Bulaksumur&#8221; dan majalah &#8220;Balairung&#8221;. Kedua media ini cukup kritis dalam menanggapi kebijakan-kebijakan rezim Orde Baru. Namun sebagai orang berasal dari desa, saya merasa kesulitan beradaptasi dengan pola pergaulan di LPPM ini. Saya lalu memilih beraktivitas pada lembaga pers berlingkup lebih kecil yaitu milik jurusan ilmu komunikasi. Mereka menerbitkan tabloid &#8220;Swara.&#8221; Di tabloid inilah saya bertemu dengan penulis yang saya kagumi sejak saya masih anak-anak yaitu Omi Intan Naomi. Saat itu dia menjadi pemimpin redaksinya. Di sini saya mulai mencicipi lika-liku penerbitan pers, meski masih dalam ruang lingkup kampus. Namun setidaknya pernah merasakan diintimidasi intel dari Korem Jogja karena menyelenggarakan diskusi tentang pembreidelan majalah Tempo, Editor dan tabloid Detik. Dua tahun kemudian, saya menduduki posisi pemimpin redaksi di tabloid Swara ini.</div>
<div>Tidak puas dengan aktivitas di kampus, saya lalu bergabung pada sebuah LSM yang bergerak di bidang perlindungan konsumen. Kuatnya proteksi pemerintah Orba terhadap pengusaha membuat konsumen sebagai pihak yang dikalahkan. Melalui LSM ini saya dilatih untuk menulis pamflet, brosur dan artikel yang memperjuangkan kepentingan konsumen. Artikel pertama saya dimuat di majalah Warta Konsumen, Jakarta. Setelah itu mencoba mengirimkan opini ke koran Bernas. Untuk memikat perhatian redaktur, saya menempelkan nama Nunuk P Murniati, setelah minta izin kepadanya, seolah-olah opini ini ditulis berdua. Padahal semuanya adalah tulisan saya. Bu Nunuk hanya membacanya, lalu memberi persetujuan. Karena nama bu Nunuk sudah dikenal redaktur, maka opini saya itu dimuat. Honornya sih tidak seberapa, tetapi kepercayaan diri yang timbul setelah tulisan dimuat, itulah yang tak ternilai. Selanjutnya saya mulai berani mengirimkan artikel tentang perlindungan konsumen ke berbagai media.</div>
<div>Selain melakukan advokasi kepada pemerintah, LSM kami juga mengorganisasi masyarakat di tingkat akar rumput. Kami banyak melakukan pelatihan, ceramah, dan lokakarya kepada masyarakat. Di dalam setiap kegiatan ini, biasanya kami menyelipkan permainan [game] untuk menggairahkan peserta. Lalu saya punya gagasan untuk menulis dan mengumpulkan permainan tersebut ke dalam sebuah buku. Saya menawarkan naskah tersebut ke penerbit Andi, yang kemudian diterbitkan dengan judul &#8220;77 Permainan Asyik&#8221; pada tahun 2000, yang sudah dicetak ulang lebih dari dua belas kali.</div>
<div>Berkat buku ini, saya lalu ditawari untuk bergabung dengan majalah BAHANA sebagai redaksi. Di sini, saya dipertemukan dengan penulis yang juga saya kagumi sejak remaja, yaitu Xavier Quentin Pranata. Meski dikenal sebagai penulis senior, namun dia cukup hangat, rendah hati dan tidak pelit dalam berbagi ilmu. Dari pemimpin redaksi BAHANA ini saya belajar tentang menulis yang lincah, ngepop namun elegan. Berbagai persoalan keagamaan yang biasanya membuat kening berkerut dapat disajikannya dengan enteng, mudah dicerna, namun tidak mengabaikan kedalaman isi.</div>
<div>Kebetuntungan lainnya, saya lebih mudah mengakses para pengelola penerbitan buku karena kami bekerja di bawah satu atap dan satu sayap. Maka, naskah-naskah buku saya berikutnya mengalir dengan mulus dalam penerbitannya. Dengan mengobrol dengan para editor saya mulai tahu tema-tema apa yang &#8220;disukai&#8221; oleh pembaca.</div>
<div>***</div>
<div>Persoalan muncul ketika saya bersiap menikah. Calon isteri saya adalah seorang rohaniwan yang melayani di kota lain. Jaraknya sekitar 30 km dari kota Yogyakarta. Dimana kami harus menetap setelah menikah nanti? Bagi isteri saya, untuk berpindah tempat pelayanan itu tidak semudah membalik telapak tangan. Satu-satunya pilihan adalah saya berpindah ke kota calon isteri saya. Namun bagaimana dengan pekerjaan saya? Apakah saya harus menjadi komuter setiap hari? Saat itu, muncul gagasan untuk menekuni dunia penulisan buku ini secara penuh waktu. Selama ini, saya menulis buku hanya sebagai pekerjaan sambilan saja. Meski begitu, masih ada keraguan besar, apakah pilihan ini cukup layak untuk dijalani? Bagaimana jika buku saya tidak laku? Bagaimana dengan status sosial saya? Apakah masyarakat dan keluarga sudah siap melihat saya yang tidak pernah pergi ke kantor?</div>
<div>Ibarat orang yang akan belajar renang, saya masih ragu-ragu untuk mencemplungkan diri ke kolam renang. Lalu tiba-tiba ada orang yang mengangkat tubuh saya dan melemparkan ke kolam renang. Saya terkesiap dan dengan tergagap-gagap saya berusaha menyelamatkan diri. Paru-paru saya kemasukan sedikit air, pandangan mata kabur dan saya murka dengan orang yang melemparkan saya. Namun ketika mulai tenang, saya bisa mengendalikan seluruh kehidupan saya. Begitulah yang terjadi. Terjadi konflik di tempat kerja. Meskipun tidak berada pada pusaran konflik, saya dan teman justru yang dikeluarkan oleh perusahaan.</div>
<div>Hikmahnya, saya &#8220;dipaksa&#8221; untuk menyeriusi dunia penulisan buku. Saya bisa lebih leluasa mengembangkan diri. Kalau menurut ustilah John Maxwell, saya bisa lebih memperbesar lingkaran pengaruh. Saya juga punya waktu yang lebih lega. Sampai saat ini saya sudah menghasilkan lebih dari 27 naskah buku. Selain itu, saya juga menerjemahkan, menyunting buku dan enulis renungan-renungan singkat. Gabungan antara pendapatan saya dari menulis dan penghasilan isteri ini sudah dapat mencukupi kehidupan kami. Meskipun tidak berlebih, namun masih ada uang yang dapat disisihkan tiap bulan untuk ditabung; dan juga dapat menyumbang sedikit bantuan untuk beasiswa.</div>
<div>Berikut buku yang pernah saya tulis:</div>
<div>a. Seri Permainan Asyik [4 judul], penerbit Andi Jogja</div>
<div>b. Seri Permainan Asyik [2 judul], penerbit Metanoia</div>
<div>c. Cara Jitu Bikin Seru Sekolah Minggu, penerbit Gloria</div>
<div>d. Humor Cinta, penerbit Andi</div>
<div>e. Seri Humor Ceria [8 judul]</div>
<div>f. My Blessed Family, BPK Gunung Mulia</div>
<div>g. Tuhan Yesus tidak Tidur [2 jilid]. Penerbit Andi</div>
<div>h. Pendidikan Agama Kristen SMP [3 judul], Sunda Kelapa.</div>
<div>i. Kepakkan Sayapmu, Manna Publishing</div>
<div>j. Bijak Belanja, Pustaka Konsumen</div>
<div>k. Bible Secret Code, penerbit Andi</div>
<div>l. Misteri Gerbong Tua [novel remaja], penerbit Metanoia</div>
<div>m. Blog Go Gospel [proses terbit]. Penerbit BPK Gunung Mulia</div>
<div>Masih ada beberapa buku yang ditulis bersama penulis lain.</div>
<div>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-</div>
<p>Update: Tulisan ini merupakan bagian dari jawaban saya terhadap wawancara tertulis yang diajukan oleh <a href="http://www.facebook.com/group.php?gid=209815448222">majalah Inside</a>. Untuk melihat tulisan lengkapnya, silakan tunggu terbitnya majalah Inside, edisi depan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/mengapa-saya-menulis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

