<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Purnawan Kristanto &#187; berita</title>
	<atom:link href="http://www.purnawankristanto.com/tag/berita/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.purnawankristanto.com</link>
	<description>All about writing minister</description>
	<lastBuildDate>Sun, 20 Nov 2011 11:16:24 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.3.1</generator>
		<item>
		<title>Olah Fakta Jadi Berita [3]</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/10/olah-fakta-jadi-berita-3/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/10/olah-fakta-jadi-berita-3/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 05 Oct 2010 10:36:24 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=62</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Purnawan Kristanto 3. Berita Kisah Berita kisah berita feature adalah tulisan tentang kejadian yang dapat menyentuh perasaan atau menambah pengetahuan pembaca lewat penjelasan rinci, lengkap serta mendalam.  Jadi nilai utamanya pada unsur manusiawi dan dapat menambah pengetahuan. Ada bermacam-macam feature: Profile Feature : menceritakan perjalanan hidup seseorang, bisa pula hanya menggambarkan sepak terjang orang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Purnawan Kristanto</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.fas.org/programs/ssp/nukes/_images/news.jpg" alt="berita" /></p>
<p><strong>3. Berita Kisah </strong></p>
<p>Berita kisah berita <em>feature </em>adalah tulisan tentang kejadian yang dapat menyentuh perasaan atau menambah pengetahuan pembaca lewat penjelasan rinci, lengkap serta mendalam.  Jadi nilai utamanya pada unsur manusiawi dan dapat menambah pengetahuan. Ada bermacam-macam feature:</p>
<ul>
<li><em>Profile Feature</em> : menceritakan perjalanan hidup seseorang, bisa pula hanya menggambarkan sepak terjang orang tersebut dalam suatu kegiatan dan pada kurun waktu tertentu. <em>Profile feature</em> tidak hanya cerita sukses saja, tapi bisa juga cerita kegagalan seseorang Tujuannya agar pembaca dapat bercermin lewat kehidupan orang lain.</li>
<li><em>How To Do It Feature </em>: berita yang menjelaskan untuk melakukan sesuatu. Informasi yang disampaikan berupa petunjuk yang dipandang penting bagi pembaca.  Misalnya, petunjuk perjalanan <em>mudik</em> lebaran lewat darat.  Dalam tulisan itu disajikan beberapa tips praktis, keterangan lokasi rumah makan, perkiraan biaya, kualitas jalan, jalur yang aman dll.</li>
<li><em>Human Interest Feature</em>: menonjolkan hal-hal yang menyentuh perasaan sebagai hal yang menarik. Jadi untuk berita ini menonjolkan peristiwa atau kejadian yang dialami manusia (bandingkan dengan Profile Feature)<span id="more-62"></span></li>
</ul>
<p><strong>Sumber-Sumber <em>Feature</em></strong></p>
<p>Ada seorang anggota jemaat di gereja sekitar Malioboro.  Namanya Mohammad Mustofa.  Sehari-harinya dia adalah pedagang kaki lima di bilangan Malioboro.  Namun setiap kali ada acara Pemahaman Alkitab, Bapak ini selalu menutup dagangannya hari itu. Aspek ini bisa menjadi cantelan penulisan <em>feature</em> bagaimana dia mengatur waktu antara kegiatan gereja dengan mencari nafkah.</p>
<p>Di sekitar kita ada banyak bahan-bahan yang dapat diracik menjadi sebuah berita kisah.  Kuncinya adalah kesediaan kita untuk menggali lebih dalam dari peristiwa-peristiwa di sekitar kita.  Namun sebagai petunjuk saja, kita bisa menggali dari peristiwa berikut ini:</p>
<p><em>Peristiwa luar biasa</em> : ganjil, aneh, seperti kebetulan, kepribadian yang unik.</p>
<p><em>Peristiwa biasa</em> : orang biasa, tempat biasa dan benda biasa tetapi orang selalu ingin mengetahui hal-hal itu.  Sebagai contoh, setiap kali melintasi perempatan Gramedia Yogyakarta, kita selalu menjumpai anak-anak jalanan.  Setiap orang yang melintas ingin tahu berapa penghasilan mereka sehari? Apakah ada yang mengkoordinir? bagaimana makan mereka? Apakah mereka tidak pernah sakit karena polusi?  Apakah mereka masih punya keluarga?</p>
<p><em>Peristiwa Dramatis</em>: pemenang undian, Orang Kaya Baru, pengalaman heroik, selamat dari kecelakaan dsb.</p>
<p><em>Panduan bagi pembaca</em>: Nasihat dan kiat-kiat untuk pembaca, misalnya cara menghindari perampokan, cara memilih helm yang sudah memenuhi standard, resep, kerajinan tangan dll.</p>
<p><em>Informasi</em>: Statitistik, pelajaran, gambar, sejarah dll</p>
<p>Cara Menulis <em>Feature</em></p>
<p>Sebagian besar penulis <em>feature</em> tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.</p>
<p>Struktur tulisan <em>feature</em> disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri dari <em>lead</em>, jembatan di antara <em>lead </em>dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup.  Bagian atasnya berupa lapisan <em>lead</em> dan jembatan yang sama pentingya, dan bagian tengahnya berupa tubuh tulisan yang makin ke bawah makin kurang ke-penting-annya.  Bagian bawahnya berupa alenia penutup yang bulat.</p>
<p>Kunci penulisan <em>feature</em> yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead atau teras. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. (jenis-jenis <em>lead</em> bisa dilihat pada bab sebelumnya)</p>
<p><em>Lead feature</em> berisi hal yang paling penting untuk mengarahkan perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang dimulainya penulisan.</p>
<p>Jembatan bertugas sebagai perantara antara <em>lead</em> dan tubuh yang dengan <em>lead</em> masih terkait, tetapi ke tubuh tulisan sudah mulai masuk.  Ia semata-mata melukiskan identitas dan situasi dari hal yang akan dituturkan nanti.</p>
<p>Tubuh <em>feature</em> berisi situasi dan proses disertai penjelasan mendalam tentang mengapa dan bagaimana.  Pada <em>human interest feature</em>, situasi yang dituturkannya disertai pendapat atau pandangan yang subjektif dari penulisnya mengenai situasi yang diutarakan.  Tetapi pada bentuk <em>feature</em> ilmiah populer situasi dan proses yang dituturkan tidak disertai pendapat subjektif, tetapi tetap dipertahankan keobjektivitasan pandangannya.</p>
<p>Penutup <em>feature</em> berupa alinea berisi pesan yang mengesankan.</p>
<p>Suatu <em>feature</em> memerlukan &#8212; bahkan mungkin harus &#8212; <em>ending</em> karena dua sebab:</p>
<p>1. Menghadapi <em>feature</em> hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia.</p>
<p>Bahkan <em>feature</em> yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan <em>feature</em> tak bisa asal dipotong dari bawah. <em>Feature</em> mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.</p>
<p>2.<em> Ending</em> bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis <em>feature</em> pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu &#8220;penyelesaian&#8221; atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak <em>feature</em>. Karena itu memotong bagian akhir sebuah <em>feature</em>, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/10/olah-fakta-jadi-berita-3/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Olah Fakta Jadi Berita [2]</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-2/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 18 Sep 2010 10:32:55 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=61</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Purnawan Kristanto NILAI BERITA Setiap harinya ada puluhan sampai ratusan peristiwa yang terjadi di sekitar kita, tapi tidak semua peristiwa itu layak diberitakan.  Suatu peristiwa bisa dibuat berita spsbila memiliki satu atau lebih NILAI BERITA berikut ini: KEBERMAKNAAN (Significance): Kejadian yang mempengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang punya akibat terhadap pembaca. Contoh : [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh: Purnawan Kristanto</p>
<p style="text-align: center;"><img class="aligncenter" src="http://www.it.uc3m.es/news-int/news-logo.gif" alt="berita" width="344" height="257" /><br />
<strong> </strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>NILAI BERITA</strong></p>
<p>Setiap harinya ada puluhan sampai ratusan peristiwa yang terjadi di sekitar kita, tapi tidak semua peristiwa itu layak diberitakan.  Suatu peristiwa bisa dibuat berita spsbila memiliki satu atau lebih NILAI BERITA berikut ini:</p>
<ol>
<li>KEBERMAKNAAN (<em>Significance</em>): Kejadian yang mempengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang punya akibat terhadap pembaca.</li>
</ol>
<p>Contoh : Berita kenaikan harga BBM, tarif TDL, ongkos angkutan umum, biaya pulsa telepon dll.</p>
<ol>
<li>BESARAN (<em>Magnitude</em>) : kejadian yang menyangkut angka-angka yang besar dan memiliki arti bagi kehidupan orang banyak.  Misalnya: para pengutang kelas kakap m<em>engemplang </em><span style="text-decoration: underline;">trilyunan rupiah</span> BLBI.  Anggota DPR menerima suap 1 miliar rupiah.</li>
<li>KEBARUAN (<em>Timeliness</em>): Kejadian yang menyangkut peristiwa yang baru terjadi. Misalnya: Pengeboman di gereja tidak punya nilai berita apa-apa jika baru diberitakan seminggu kemudian.</li>
<li>KEDEKATAN (<em>Proximity</em>) : Kejadian yang ada di dekat pembaca.  Bisa kedekatan geografis atau emosional.  Misalnya: gempa bumi di Jogja lebih bernilai berita ketimbang gempa bumi di Meksiko.</li>
<li>KETERMUKAAN/SISI MANUSIAWI (<em>Prominence/Human interest</em>): kejadian yang memberi sentuhan perasaan atau emosi pada pembaca.  Kejadiannya menyangkut orang biasa, tapi dalam peristiwa yang luar bisa, orang luar biasa (<em>public figure</em>) dalam peristiwa biasa atau bahkan orang luar biasa dengan kejadian luar biasa.</li>
</ol>
<p>Contoh:</p>
<ul>
<li>Perceraian Ahmad Dhani dan Maya Estianti diberitakan secara besar-besaran. Ini adalah orang luar biasa dalam peristiwa yang biasa.</li>
<li>Seorang tukang becak di Yogyakarta terpilih menjadi wakil Indonesia dalam program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Ini adalah orang biasa dalam peristiwa yang luar biasa.</li>
</ul>
<p>Sebelum menuliskan sebuah peristiwa menjadi berita, maka Anda perlu memastikan bahwa peristiwa itu memiliki berita. Jika Anda nekad menulis peristiwa yang tidak punya nilai berita, maka usaha Anda akan sia-sia saja. Tulisan Anda tidak akan dibaca oleh orang lain.</p>
<p>MENULIS BERITA</p>
<p>Berita dapat ditulis dalam berbagai cara, tergantung pada apakah peristiwa itu patut segera diketahui atau tidak.  Perbedaan cara penyampaian inilah yang melahirkan ragam berita.</p>
<p>Berita jurnalistik yang ada di media cetak dapat digolongkan menjadi : berita langsung (<em>straight/ hard/spot news</em>), berita ringan (<em>soft news</em>), berita kisah (<em>feature</em>), serta laporan mendalam (<em>in-depth report</em>).</p>
<h5><strong>1. Berita Langsung </strong></h5>
<p>Berita: langsung digunakan untuk menyampaikan kejadian penting yang secepatnya perlu diketahui pembaca.  Aktualitas adalah unsur terpenting dalam berita langsung.  Kejadian yang sudah lama terjadi, tidak bernilai lagi untuk ditulis sebagai berita langsung.</p>
<p>Aktualitas tidak hanya soal waktu, tetapi juga sesuatu yang baru diketahui atau diketemukan.  Misalnya cara baru, ide baru, penemuan baru dll.   Semuanya itu memiliki makna penting bagi keadaan sekarang. Berita tentang Aksi Sosial gereja Anda harus segera ditulis supaya dapat  segera dibaca oleh jemaat.</p>
<p>Untuk menulis berita langsung, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan  fakta-fakta di lapangan, yaitu meliputi <span style="text-decoration: underline;">jalan cerita</span> dari peristiwa. Fakta-fakta yang terkumpul itu masih berupa kepingan-kepingan peristiwa yang masih harus kita susun. Layaknya <em>puzzle</em>, seorang jurnalis perlu merangkaikan peristiwa menurut alur cerita yang logis dan sistematis.</p>
<p>Menata berita langsung adalah kegiatan menempatkan fakta-fakta yang penting di bagian atas dan yang kurang penting di bagian belakang. Inilah yang dikenal dengan cara <span style="text-decoration: underline;">piramida terbalik</span>.  Tujuannya juga untuk memanjakan pembaca yang tak punya banyak waktu agar bisa segera mendapatkan informasi yang penting.</p>
<p>Tuliskanlah teras yang menarik, kemudian rangkum semua unsur berita dalam satu atau dua kalimat di bagian ini. Segera tuliskanlah unsur 5W+1H di sini. Bagian ini ditulis dengan prinsip KISS (<em>keep it simple and short</em>). Tulislah secara sederhana, ringkas dan padat.</p>
<p>Pada tubuh berita, Anda punya kesempatan untuk menceritakan jalan cerita secara lebih terperinci, terutama untuk mengembangkan unsur <em>How</em> atau bagaimana peristiwa tersebut terjadi.  Segera tempatkanlah informasi-informasi yang paling penting pada bagian awal, kemudian menyusul informasi-informasi yang kurang penting pada bagian berikutnya.</p>
<p>Jika masih punya kesempatan, Anda dapat menutup berita dengan merangkum kembali fakta-fakta yang Anda penting menggunakan susunan kata dan kalimat yang berbeda.</p>
<p><strong> </strong></p>
<h5><strong>2. Berita Ringan </strong></h5>
<p>Berita ringan tidak mengutamakan unsur <span style="text-decoration: underline;">penting</span> yang hendak diberitakan, tetapi menekankan sesuatu yang <span style="text-decoration: underline;">menarik</span>.  Berita ini biasa ditemukan sebagai kejadian yang manusiawi dalam kejadian penting.  Kejadian yang penting dituliskan sebagai berita langsung, sedang yang menyangkut unsur manusiawi ditulis sebagai berita ringan,</p>
<p>Berdasarkan kejadiannya, berita ringan dapat dibedakan atas dua jenis:</p>
<ul>
<li>Berita ringan yang kejadiannya merupakan sampiran dari peristiwa penting yang diberitakan lewat berita langsung (disebut <em>side bar</em>)</li>
<li>Berita ringan yang kejadiannya berdiri sendiri. Jadi tidak terkait peristiwa penting.</li>
</ul>
<p>Berita ringan sangat cocok untuk majalah karena tidak terikat aktualitas. Berita ini langsung menyentuh emosi pembaca misalnya keterharuan, kegembiraan, kasihan, kegeraman, kelucuan, kemarahan dll. Bahan yang ditulis adalah kejadian di permukaan. Tidak perlu melacak latar belakangnya.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Olah Fakta Jadi Berita [1]</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-1/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-1/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Sep 2010 10:30:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[makalah]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[news]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Oleh Purnawan Kristanto SEIRING dengan maraknya perkembangan blog, maka muncul sebuah fenomena baru yang diberi nama citizen journalism atau jurnalisme warga. Kegiatan menulis berita kini tidak dimonopoli oleh wartawan saja. Berkat perkembangan teknologi komunikasi, setiap orang kini dapat mengabarkan peristiwa yang dilihatnya. Setiap orang dapat mengirimkan berita-berita yang mungkin tidak akan dimuat oleh media massa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: center;">Oleh Purnawan Kristanto<br />
<img src="http://www.adelaide.edu.au/student/careers/images/news.jpg" alt="berita" /><br />
<strong></strong></p>
<p style="text-align: left;"><strong>SEIRING </strong>dengan maraknya perkembangan blog, maka muncul sebuah fenomena baru yang diberi nama <em>citizen journalism</em> atau jurnalisme warga.<em> </em>Kegiatan menulis berita kini tidak dimonopoli oleh wartawan saja. Berkat perkembangan teknologi komunikasi, setiap orang kini dapat mengabarkan peristiwa yang dilihatnya. Setiap orang dapat mengirimkan berita-berita yang mungkin tidak akan dimuat oleh media massa cetak biasa. Misalnya, seorang ibu menuliskan kondisi pasar tradisional di dekat rumahnya yang kumuh dan kotor. Seorang remaja menuliskan kelakuan gurunya yang ringan tangan.</p>
<p>Dilihat dari standard jurnalistik, jurnalisme warga ini memiliki sejumlah kelemahan seperti ketiadaan keberimbangan, faktualitas dan objektivitas. Sebagai contoh, berita yang ditulis warga sering dibumbui dengan opini penulisnya, yang dalam kaidah jurnalisme merupakan hal yang diharamkan. Mereka juga mengabaikan prinsip <em>cover both side</em>. Sebagai contoh, dalam menuliskan perilaku guru yang main <em>tempeleng</em>, sang penulis hanya menulis dari sisi murid dan tidak menyertakan pendapat dari sang guru tersebut.</p>
<p>Meski belum memenuhi kaidah jurnalistik, tidak berarti bahwa keberadaan pewarta warga ini tidak boleh ada. Keberadaannya justru dibutuhkan untuk mengisi celah-celah kosong yang tidak diliput oleh jurnalisme konvensional. Yang perlu dilakukan adalah belajar untuk menulis berita dengan benar.</p>
<p>****</p>
<p>Berita adalah <span style="text-decoration: underline;">peristiwa</span> yang dilaporkan.  Segala hal yang didapat di lapangan dan sedang dipersiapkan untuk dilaporkan <span style="text-decoration: underline;">belum</span> bisa disebut <span style="text-decoration: underline;">berita</span>. Wartawan yang menonton  atau  menyaksikan peristiwa, belum tentu telah  menemukan peristiwa.  Wartawan sudah menemukan peristiwa setelah ia memahami prosesnya atau <span style="text-decoration: underline;">jalan cerita</span>, yaitu tahu APA yang terjadi, SIAPA yang terlibat, kejadiannya BAGAIMANA, KAPAN dan DI MANA itu terjadi dan MENGAPA sampai terjadi. Keenam hal itu yang disebut <strong>UNSUR BERITA.</strong></p>
<h1>Unsur Berita</h1>
<ul>
<li>APA (<strong>What</strong>) yang terjadi,</li>
<li>SIAPA  (<strong>Who</strong>) yang terlibat,</li>
<li>KAPAN (<strong>When</strong>) dan</li>
<li>DI MANA (<strong>Where</strong>) itu terjadi,</li>
<li>MENGAPA (<strong>Why</strong>) bisa terjadi</li>
<li>BAGAIMANA (<strong>How</strong>) kejadiannya</li>
</ul>
<p>Mungkinkah suatu peristiwa terjadi tanpa cerita? Bisa saja tapi peristiwa semacam ini dapat dikatakan <span style="text-decoration: underline;">berita tidak lengkap</span> alias <span style="text-decoration: underline;">berita kabur</span><strong>. </strong>Ingat, berita harus selalu dengan peristiwa, peristiwa harus selalu dengan jalan cerita.</p>
<p>Dengan kata lain, berita yang ditulis harus berdasarkan <span style="text-decoration: underline;">peristiwa yang benar-benar terjadi</span>. Kita tidak bisa menulis berita yang hanya berdasarkan rekaan atau  imajinasi.  Di dalam peristiwa itu terkandung jalan cerita yang meliputi tempat apa yang terjadi, tempat kejadian, orang-orang yang terlibat, waktu, alasan dan bagaimana kejadian itu berlangsung.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/09/olah-fakta-jadi-berita-1/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Teknik Penulisan Feature</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/teknik-penulisan-feature/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/teknik-penulisan-feature/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:55:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>
		<category><![CDATA[feature]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/?p=20</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Purnawan Kristanto Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja. Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan. Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Purnawan Kristanto</p>
<p>Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja. Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan. Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah berita lempang dan singkat. Ini biasanya terjadi pada media-media yang menuntut aktualitas yang tinggi seperti koran, radio, TV dan internet.</p>
<p>Namun media yang tidak begitu diikat oleh waktu seperti tabloid mingguan atau majalah bulanan, jika mereka ikut-ikutan menulis seperti ini, tentu medianya tidak akan laku karena sudah basi. Karena itulah mereka harus menggali berita dari sudut pandang yang unik dengan tema yang awet alias tak lekang oleh waktu.</p>
<p><span id="more-20"></span></p>
<p>Sebagai contoh, dalam sebuah bencana di kota Y, terjadi kejadian sebagai berikut:<br />
•    Sambaran petir dan angin badai meruntuhkan atap gedung berlantai lima<br />
•    Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas<br />
•    Pengemudinya, seorang remaja putri, menginggal dunia<br />
•    Dua penumpang terluka<br />
Aturan dasar dalam menulis berita lempang adalah menempatkan hal-hal yang paling penting di awal berita. Aturan ini tidak menjadi masalah sepanjang kisah ini hanya mempunyai satu peristiwa yang ditekankan. Namun ketika ada banyak peristiwa yang penting juga untuk diberitakan, maka tugas jurnalis menjadi semakin rumit. Untuk mengatasi hal ini, ada dua pilihan yang bisa dilakukan:</p>
<p>1.    Merangkum semua fakta –dengan urutan penting ke tidak penting—pada paragraf pertama, atau<br />
2.    Memberi tekanan pada peristiwa tertentu yang paling penting di awal paragraf.</p>
<p>Jika peristiwa di atas ditulis dalam sebuah berita lempang, hasilnya sebagai berikut:<br />
“Atap sebuah gedung berlantai lima, runtuh setelah tersambar petir dan tersapu angin badai tadi malam. Runtuhan atap itu menimpa mobil yang sedang melintas, sehingga menewaskan Anastasia Suminem (18 tahun) yang mengemudi mobil itu. Sedangkan dua penumpang lainnya menderita luka-luka serius.”</p>
<p>Berita seperti ini biasanya dimuat di koran harian. Namun ketika redaktur tabloid wanita akan mengangkat peristiwa ini, ia harus mencari sudut pandang lain. Ia memberi tugas reporternya untuk mengangkat kisah korban yang meninggal. Inilah hasilnya:</p>
<p>“Seorang remaja putri meninggal dunia (Jumat, 18/4) ketika mobil yang dikendarainya tertimpa atap gedung berlantai lima yang runtuh setelah tersambar petir. Selain itu, dua penumpang yang duduk di belakang menderita luka-luka serius. Saat itu mobil mereka sedang terjebak di kemacetan lalu lintas.</p>
<p>Anastasia Suminem (18 tahun) adalah seorang sekretaris PT. Sukar Maju. Ia sedang melintas jl. Sudirman ketika puluhan kubik bata, kayu, besi dan genting itu menghempas mobilnya. Timbunan material itu meringsekkan badan mobil bagian depan sehingga menewaskan Anastasia seketika itu juga.</p>
<p>Anastasia adalah seorang karyawati yang menuru penuturan Kristina, rekan kerjanya adalah karyawan periang yang tidak sungkan-sungkan memberi bantuan pada orang lain. Sifat suka menolongnya ini tercermin ketika ia menawarkan untuk mengantarkan pulang Yosafat Tukiyo (23 th) dan Maria Magdalena Pariyem (20 th). Padahal arah rumah Anastasia berlawanan dengan kedua rekannya ini.. …. “ kisah selanjutnya menceritakan tentang Anastasia.</p>
<p>Sementara itu, editor majalah bulanan memandangnya dari sisi lain. Ia tertarik pada petir yang menyambar pada saat jam-jam sibuk. Pada saat itu, jalanan macet karena banyak orang pulang kantor pada waktu yang bersamaan. Untuk itu, ia menugaskan anak buahnya untuk mewawancarai pakar Cuaca dan mencari informasi seputar perilaku petir.</p>
<p>Nah, begitulah. Untuk peristiwa yang sama, kita bisa menuliskan dalam dua atau lebih berita yang berbeda. Inilah yang disebut pemilihan sudut berita atau news angle. Pemilihan news angle sebuah media ini biasanya dipengaruhi oleh kebijaksanaan redaksional dan karakteristik pembacanya. Masih ingat kecelakaan tragis Lady Di? Untuk peristiwa yang sama, sebuah tabloid gosip mengangkat sisi perselingkuhan, majalah bulanan mengupas ulah para Paparazi ,sedangkan majalah berita berusaha menelusuri penyebab kecelakaan. Berbeda-beda ‘kan?</p>
<p>Ketika sebuah media sudah mendapat point of interest dari sebuah kisah, mereka akan memusatkan perhatian pada satu hal itu saja. Mereka mengumpulkan dan menggali fakta di balik berita lempang untuk disusun menjadi sebuah berita kisah atau news feature. Karena relatif tidak terikat oleh waktu, penulis berita kisah punya kesempatan untuk menyusun kalimat yang menghidupkan imajinasi pembaca. Tulisan ini menarik perhatian pembaca hingg masuk ke dalam cerita itu dengan membantu mengidentifikasi diri dalam tokoh utama. Feature dapat menyentuh emosi pembaca sehingga mereka penasaran, skpetis, kagum, heran, tertawa, menangis, dongkol, senang dsb.</p>
<p>Menurut Wiliamson, “Feature adalah tulisan kreatif yang terutama dirancang untuk memberi informasi sambil menghibur tentang suatu kejadian situasi atau aspek kehidupan seseorang”.</p>
<p>Masih kata Wiliamson, feature menekankan unsur kreativitas (dalam penciptaan), informatif (isinya) dan menghibur (gaya penulisannya) dan boleh subyektif (penuturannya). Ketiga syarat utama ini mutlak ada dalam feature, sedangkan unsur subyektifitas tidak mutlak. Kalau ada juga boleh, terutama untuk feature sisi manuniawi (human interest).</p>
<p>Berdasarkan Fakta</p>
<p>Bentuk penulisan cenderung bergaya feature: &#8220;mengisahkan sebuah cerita.&#8221; Penulis feature pada hakikatnya adalah seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata; ia menghidupkan imajinasi pembaca.<br />
Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk menjahit kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme lainnya, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta-fakta dalam ceritanya.</p>
<p>Pendeknya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam penulisan feature. Ada sebuah kisah tragis seorang wartawati reporter harian Washington Post, Janet Cooke, yang pada tahun tersebut memenangi Hadiah Pulitzer. Hadiah prestisius ini menjadi idaman jurnalis di &#8220;Negeri Paman Sam&#8221; itu. Ia tergoda memasukkan unsur fiksi dalam feature. Akibat kebohongan ini, karirnya pupus. Kisahnya begini:</p>
<p>Janet berhasil menulis sebuah feature yang sangat menarik, mengharukan, dan tentu saja bagus. Feature yang diberinya judul &#8220;Jimmy&#8217;s World&#8221; itu mengalahkan calon-calon lain dan memenangi Pulitzer untuk jenis timeless feature. Washington Post tentu saja bangga dengan karya reporternya yang berusia 26 tahun itu. Sayangnya, kebanggaan yang belakangan menjadi skandal itu telah mencoreng wajah harian terkemuka di Amerika tersebut.</p>
<p>Janet ternyata &#8220;mengarang&#8221; feature yang indah itu. Tulisannya tidak berangkat dari fakta. Jimmy, tokoh yang digambarkannya itu, ternyata tokoh imajinasi yang hanya hidup dalam benaknya. Artinya, tulisannya bukan karya jurnalistik, tetapi fiksi. Karena perbuatannya itu, Hadiah Pulitzer yang diterimanya dicabut dan ia dipaksa berhenti dari Washington Post.<br />
Mengapa kasus memalukan ini terbongkar? Dalam riwayat hidupnya yang diterbitkan di surat kabar setelah ia memenangi hadiah itu, ia menyebutkan nama dua universitas tempat ia dulu memperoleh gelar sarjana. Tak lama setelah biografi singkat Janet Cooke muncul di berbagai media, kedua universitas yang disebutnya menelepon Washington Post dan menyampaikan bantahan. Janet tidak pernah kuliah di sana.</p>
<p>Kecurigaan bermula di sini. Para editor atasan Janet segera menginterogasi reporter itu beberapa jam. Bagaikan mendengar suara guntur di siang hari yang sangat terik, mereka sangat terperanjat dengan pengakuan Janet bahwa karya tulisnya adalah sebuah pabrikasi. Bagaimana mungkin mereka bisa percaya? Kisah anak berusia delapan tahun yang kecanduan heroin dan menggelandang di jalan-jalan ghetto itu dideskripsikannya dengan sangat emosional, penuh kutipan yang sangat meyakinkan. Dunia yang dipaparkannya adalah dunia yang sebagian besar orang tidak pernah memasukinya, tidak juga Janet Cooke sendiri. (GAMMA Digital News Nomor: 26-3 &#8211; 21-08-2001)</p>
<p>Seorang jurnalis profesional tidak akan menipu pembacanya, walau sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancam.</p>
<p>Etika menyebutkan bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu surat kabar. Tajuk rencana, tentu saja, merupakan tempat mengutarakan pendapat. Dan edisi Minggu surat kabar diterbitkan untuk menampung fiksi (misalnya cerita pendek).</p>
<p>Feature tidak boleh berupa fiksi, dan setiap &#8220;pewarnaan&#8221; fakta-fakta tidak boleh menipu pembaca. Bila penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan orang pada kita akan hancur.</p>
<p>Sumber-Sumber Feature</p>
<p>Ada seorang anggota jemaat di gereja sekitar Malioboro. Namanya Mohammad Mustofa. Sehari-harinya dia adalah pedagang kaki lima di bilangan Malioboro. Namun setiap kali ada acara Pemahaman Alkitab, Bapak ini selalu menutup dagangannya hari itu. Aspek ini bisa menjadi cantelan penulisan feature bagaimana dia mengatur waktu antara kegiatan gereja dengan mencari nafkah.<br />
Di sekitar kita ada banyak bahan-bahan yang dapat diracik menjadi sebuah berita kisah. Kuncinya adalah kesediaan kita untuk menggali lebih dalam dari peristiwa-peristiwa di sekitar kita. Namun sebagai petunjuk saja, kita bisa menggali dari peristiwa berikut ini:</p>
<p>•    Peristiwa luar biasa : ganjil, aneh, seperti kebetulan, kepribadian yang unik.<br />
•    Peristiwa biasa : orang biasa, tempat biasa dan benda biasa tetapi orang selalu ingin mengetahui hal-hal itu.<br />
Sebagai contoh, setiap kali melintasi perempatan Gramedia, kita selalu menjumpai anak-anak jalanan. Setiap orang yang melintas ingin tahu berapa penghasilan mereka sehari? Apakah ada yang mengkoordinir? bagaimana makan mereka? Apakah mereka tidak pernah sakit karena polusi? Apakah mereka masih punya keluarga?<br />
•    Peristiwa Dramatis: pemenang undian, Orang Kaya Baru, pengelaman heroik, selamat dari kecelakaan dsb.<br />
• Panduan bagi pembaca: Nasehat dan kiat-kiat untuk pembaca, misalnya cara menghindari perampokan, cara memilih helm “standard” yang sudah memenuhi standard, resep, kerajinan tangan dll.<br />
•    Informasi: Statitistik, pelajaran, gambar, sejarah dll</p>
<p>Cara Menulis Feature</p>
<p>Sebagian besar penulis feature tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar, karena ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi bila ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan itu.<br />
Struktur tulisan feature disusun seperti kerucut terbalik yang terdiri dari lead, jembatan di antara lead dan tubuh, tubuh tulisan dan penutup. Bagian atasnya berupa lapisan lead dan jembatan yang sama pentingya, dan bagian tengahnya berupa tubuh tulisan yang makin ke bawah makin kurang ke-penting-annya. Bagian bawahnya berupa alenia penutup yang bulat.<br />
Penutup<br />
Kunci penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yaitu lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik sama dengan mengail ikan tanpa umpan. (jenis-jenis lead bisa dilihat pada makalah Penulisan Berita)<br />
Lead feature berisi hal yang paling penting untuk mengarahkan perhatian pembaca pada suatu hal yang akan dijadikan sudut pandang dimulainya penulisan.<br />
Jembatan bertugas sebagai perantara antara lead dan tubuh yang dengan lead masih terkait, tetapi ke tubuh tulisan sudah mulai masuk. Ia semata-mata melukiskan identitas dan situasi dari hal yang akan dituturkan nanti.</p>
<p>Tubuh feature berisi situsi dan proses disertai penjelasan mendalam tentang mengapa dan bagaimana. Pada human interest feature, situasi yang dituturkannya disertai pendapat atau pandangan yang subyektif dari penulisnya mengenai situasi yang diutarakan. Tetapi pada bentuk feature ilmiah populer situasi dan proses yang ditutrkan tidak disertai pendapat subyektif, melainkan tetap dipertahankan keobyektifitasan pandangannya.</p>
<p>Penutup feature berupa alenia berisi pesan yang mengesankan.<br />
Suatu feature memerlukan &#8212; bahkan mungkin harus &#8212; ending karena dua sebab:<br />
1. Menghadapi feature hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia.<br />
Bahkan feature yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan feature tak bisa asal dipotong dari bawah. Feature mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.<br />
2. Ending bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis feature pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu &#8220;penyelesaian&#8221; atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak feature. Karena itu memotong bagian akhir sebuah feature, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.<br />
Beberapa jenis penutup:<br />
• Penutup ringkasan. Penutup ini bersifat ikhtisar, hanya mengikat ujung-ujung bagian cerita yang lepas-lepas dan menunjuk kembali ke lead.<br />
• Penyengat. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah terlonjak. Penulis hanya menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada kesimpulan yang tidak terduga-duga. Penutup seperti ini mirip dengan kecenderungan film modern yang menutup cerita dengan mengalahkan orang &#8220;yang baik-baik&#8221; oleh &#8220;orang jahat&#8221;.<br />
• Klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis. Ini seperti sastra tradisional. Hanya saja dalam feature, penulis berhenti bila penyelesaian cerita sudah jelas, dan tidak menambah bagian setelah klimaks seperti cerita tradisional.<br />
• Tak ada penyelesaian. Penulis dengan sengaja mengakhiri cerita dengan menekankan pada sebuah pertanyaan pokok yang tidak terjawab. Selesai membaca, pembaca tetap tidak jelas apakah tokoh cerita menang atau kalah. Ia menyelesaikan cerita sebelum tercapai klimaks, karena penyelesaiannya memang belum diketahui, atau karena penulisnya sengaja ingin membuat pembaca tergantung-gantung.</p>
<p>Seorang penulis harus dengan hati-hati dalam menilai ending-nya, menimbang~nimbangnya apakah penutup itu merupakan akhir yang logis bagi cerita itu. Bila merasakan bahwa ending-nya lemah atau tidak wajar, ia cukup melihat beberapa paragrap sebelumnya, untuk mendapat penutup yang sempurna dan masuk akal.</p>
<p>Menulis penutup feature sebenarnya termasuk gampang. Kembalilah kepada peranan &#8220;tukang cerita&#8221; dan biarkanlah cerita Anda mengakhiri dirinya sendiri, secara wajar.</p>
<p>Pustaka</p>
<p>Slamet Soeseno, “Teknik Penulisan Ilmiah Populer; Kiat Menulis Non Fiksi Untuk Majalah, Gramedia Pustaka Utama<br />
Williamson, “Feature Writing for Newspeper, Hastings House, New York<br />
Julian Harris dkk, The Complete Reporter”, Macmillan Publishing, New York<br />
Makalah Satrio Arismunandar<br />
<!-- multiply:no_crosspost --></p>
<div>Baca Tulisan lainnya di blog Purnawan Kristanto [http://purnawan-kristanto.blogspot.com<br />
]</div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/teknik-penulisan-feature/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jurnalisme Damai</title>
		<link>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/jurnalisme-damai/</link>
		<comments>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/jurnalisme-damai/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 15:53:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Purnawan</dc:creator>
				<category><![CDATA[Jurnalisme]]></category>
		<category><![CDATA[berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.purnawankristanto.com/2010/04/jurnalisme-damai/</guid>
		<description><![CDATA[“Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia; Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya Dalam ilmu junalistik, unsur konflik merupakan salah satu kriteria suatu peristiwa layak diberitakan. Setiap hari kita disuguhi berita-berita yang mengandung konflik seperti peperangan, pertikaian kelompok, kerusuhan, saling hujat, penganiayaan dan sebaginya. Memang dalam menyajikannya, para jurnalis sedapat mungkin mengikuti kaidah jurnalistik [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p>“Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia; Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya<strong> </strong></p></blockquote>
<p><strong>Dalam ilmu junalistik</strong>, unsur konflik merupakan salah satu kriteria suatu peristiwa layak diberitakan. Setiap hari kita disuguhi berita-berita yang mengandung konflik seperti peperangan, pertikaian kelompok, kerusuhan, saling hujat, penganiayaan dan sebaginya. Memang dalam menyajikannya, para jurnalis sedapat mungkin mengikuti kaidah jurnalistik seperti keberimbangan, obyektifitas, akurasi, faktual, dan sebagainya. Akan tetapi ternyata peliputan konflik dengan kaidah jurnalistik klasik ini tidak tepat. Mengapa? Karena justru melestarikan konflik.</p>
<p>Teori jurnalistik klasik mengajarkan bahwa tugas para jurnalis adalah “melaporkan fakta apa adanya.” Fungsi pers semata-mata menjadi cermin atas realitas dalam masyarakat. Namun dalam dunia yang semakin peka media <em>(a media-savy world</em>) ini, banyak orang yang mahir mengemas fakta untuk dijadikan bahan berita oleh jurnalis. Kelompok-kelompok yang bertikai sudah itu menyadari pentingnya strategi bermedia dalam memperjuangkan kepentingan mereka.</p>
<p><span id="more-19"></span></p>
<p>Padahal fakta-fakta yang disodorkan oleh suatu kelompok yang diberitakan oleh jurnalis ini akan menyulut reaksi kelompok lain. Dengan dalih menggunakan hak jawab, kelompok lain akan menanggapi berita yang dianggap “merugikan” kelompoknya. Demikian seterusnya sehingga media terjebak dalam “lingkaran reaksi” (<em>feedback                  of loop</em>). Media menjadi sarana tarik-menarik kepentingan pihak-pihak yang bertikai. Berdasarkan hal ini, kemudian muncul pertanyaan etis: “Apa yang bisa dilakukan oleh pers dalam memutus lingkaran setan ini dan mendukung terjadinya perdamaian?” Media tidak boleh hanya menonton saja, tetapi harus berbuat sesuatu dalam mendukung upaya perdamaian. Kegelisahan para jurnalis ini menghantarkan mereka pada paradigma alternatif, yaitu jurnalisme perdamaian.</p>
<p><strong> Sumber Konflik</strong></p>
<p>Dalam berbagai liputan selama ini kata “konflik” sering diasosiasikan dengan “kekerasan.” Padahal keduanya berbeda. Konflik bisa bermakna positif dan konstruktif apabila dikelola secara efektif dan beradab. Menurut Peter du Toit, konflik bisa terjadi karena adanya perebutan sumber-sumber yang terbatas, stereotype, ketiadaan dialog, ketidak-percayaan, hal yang tidak terselesaikan di masa lalu, kekuasaan yang tidak terbagi rata atau tiadanya penghargaan di antara kelompok masyarakat.</p>
<p>Konflik selalu ada. Manusia hidup selalu berkonflik. Konflik ada di alam dan hadir dalam kehidypan manusia. Konflik selalu mempunyai dua sisi, yaitu risiko dan peluang. Konflik dapat menciptakan energi yang bersifat destruktif, tetapi bisa juga kreatif. Ibarat gesekan, konflik dapat menimbulkan api yang melalap semua yang berharga tetapi, juga bisa menghasilkan bentuk batu yang indah.</p>
<p>Yang menjadi persoalan adalah bagaimana masyarakat menyelesaikan konflik itu. Dalam berbagai konflik yang diliput jurnalis, seringkali penyelesainnya mengarah ke hasil menang-kalah (<em>win-lose                  solution</em>). Dalam penyelesaian ini, ada kelompok yang lebih diuntungkan dibandingkan kelompok yang lain. Memang untuk sementara upaya ini bisa menghentikan pertikaian, tapi sebenarnya seperti menyimpan bara dalam timbunan sekam. Sebab pihak yang dirugikan menunggu kesempatan untuk membalas lagi. Dalam pendekatan ini, perdamaian = kemenangan + genjatan senjata.</p>
<p>Inilah yang disebut Johan Galtung (1998) sebagai jurnalisme perang. Jurnalisme perang, kata Galtung cenderung terfokus pada kekerasan sebagai penyebabnya dan enggan menggali asal-usul strutural sebuah konflik itu secara mendalam. Jurnalisme perang terlampau terkonsentrasi pada efek-efek yang terlihat, seperti korban tewas atau terluka, kerusakan material yang kelihatan, bukan kerusakan psikologis, struktur atau budaya.</p>
<p>Jurnalisme perang mereduksi pihak-pihak yang berkonflik menjadi dua dalam polarisasi “lawan-kawan.” Mereka cenderung menjelek-jelekkan pihak “lawan” dan mengangungkan pihak “kawan.” Bukankah pendekatan ini juga banyak kita temui dalam media Kristen? Apalagi akhir-akhir ini, ada banyak orang Kristen dan gereja yang mengalami penganiayaan. Dalam menulis berita perusakan gereja, misalnya, jurnalis Kristen lebih menonjolkan tingkat kerusakan yang kelihatan atau jumlah korban yang ada. Pemberitaan seperti ini tidak akan pernah mencerdaskan pembaca (orang Kristen) karena hanya memuaskan selera keingin-tahuan. Yang terjadi justru lestarinya prasangka orang Kristen terhadap kelomppok-kelompok yang dianggap menentang kekristenan di tanah air ini.</p>
<h2>Jurnalisme Perdamaian</h2>
<p>Sebagai antitesis dari jurnalisme perang, hadirlah Jurnalisme Perdamaian. Apa itu jurnalisme perdamaian? Menurut <em>Annabel McGoldrick</em> dan <em> Jake Lynch</em> (2000), Jurnalisme Perdamaian (JP) melaporkan suatu kejadian dengan bingkai yang lebih luas, yang lebih berimbang dan lebih akurat, yang didasarkan pada informasi tentang konflik dan perubahan-perubahan yang terjadi. Tugas utamanya adalah memetakan konflik, mengidentifikas pihak-pihak yang terlibat, dan menganalisis tujuan-tujuan mereka. Pendekatan JP adalah memberikan jalan baru bagi pihak-pihak yang bertikai untuk menyelesaikan konflik secara kreatif dan tidak memakai jalan kekerasan. Prinsip ini disederhanakan dengan rumus Perdamaian= Non-kekerasan + kreatifitas.</p>
<p>Dalam JP,                  penyelesaian konflik yang dipakai adalah pendekatan                  menang-menang (<em>win-win soluttion</em>) dengan memperbanyak alternatif-alternatif penyelesaian konflik. Dalam hal ini peran pers menurut <em>Abdul Razak</em> dalam <em>Jurnal Pers Indonesia</em> (no.4/1997) adalah menggambarkan situasi dan merumuskan realitas. Rumusan ini mempengaruhi persepsi, reaksi dan pilihan solusi. Pers bukan sekadar media penyampai informasi, melainkan juga membangun debat publik yang sehat tentang kepentingan umum. Peran pers di sini adalah dengan merumuskan (1)masalah, (2)penyebab, (3)alternatif penyelesaian, (4)evaluasi alternatif, (5)pilihan alternatif tebaik, (6)sistem dan mekanisme pelaksanaan, (7) evaluasi dan feedback.</p>
<p>Dengan strategi menelusuri akar konflik ini, para jurnalis berusaha menghindari menyalahkan salah satu pihak sebagai penyebab konflik. Yang mereka lakukan adalah dengan memaparkan masalah yang sebenarnya, dampak yang telah ditimbulkannya, lalu menawarkan alternatif penyelesaiannya.</p>
<h2>Peluang Media Kristen</h2>
<p>Memang untuk mewujudkan JP ini bukan pekerjaan yang mudah, bahkan cenderung rumit. Bagaimana tidak, sebab di sini berita-berita lempang (<em>straight news</em>) saja tidak cukup. Untuk menjelaskan dan menelusuri urat-urat konflik memerlukan waktu yang lebih lama dan ruang yang lebih banyak. Dalam jurnalistik bentuk tulisan seperti ini dinamakan jurnalisme interpretatif.</p>
<p>Padahal dalam tingkat persaingan antar media yang sengit sekarang ini, setiap media harus bisa “berteriak” mengatasi media-media lain. Caranya bermacam-macam. Bisa dengan penyajian yang lebih cepat, sudut pemberitaan (<em>news angle</em>)                  yang menarik, perwajahan yang <em>ciamik</em> dan judul-judul yang sensansional. Bagi media Kristiani yang kebanyakan kristiani terbit bulanan, rentang waktu yang lama ini dapat menjadi peluan untuk menerapkan prinsip JP. Pengelola media kristiani punya kesempatan banyak untuk menyiapkan reportase yang analistis, holistik dan tajam.</p>
<p>Memang tulisan-tulisan seperti ini kalah laris dibandingkan dengan berita-beriuta sensansional yang terdapat dalam tabloid. Namun situasi konflik yang melibatkan sebagian umat Kristen, pendekatan JP masih (atau semakin) relevan dalam membawa suara-suara kenabian. Sikap ini yang diambil wartawan <em>Kompas,                  Maria Hartiningsih</em>:” Setiap jurnalis mempunyai ideologi, demikian juga saya. Ideologi saya adalah memberi sumbangan pada perdamaian dan keadilan …Yang mednorong saya untuk berbuat sesuatu dalam tugas jurnalistik saya, yaitu ketika saya melihat banyak orang tidak bersalah yang jadi korban. Terutama kaum perempuan dan anak-anak itu telah memberi semangat saya untuk memberi sumbangan pada proses rekonsiliasi di negeri ini.”  Berbahagialah jurnalis yang membawa damai.</p>
<p><em> catatan:   Tulisan ini memenangkan juara II dalam lomba penulisan yang digelar oleh majalah &#8220;Genta Kelana&#8221;, Bandung</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.purnawankristanto.com/2010/04/jurnalisme-damai/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

