Entries Tagged 'tips' ↓
November 16th, 2011 — tips
Banyak gereja yang belum menyadari arti pentingnya sebuah siaran pers atau pers release. Mereka masih mengandalkan warta lisan atau media internal untuk menyebarkan kegiatan pelayanan mereka. Akan tetapi hanya dengan cara ini, orang-orang yang bukan anggota gereja itu tidak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di gereja itu.

Lain ceritanya, bila gereja bersedia mengontak media untuk meminta peliputan. Publisitas yang di dapat dari peliputan media akan membuat masyarakat di luar mengetahui tentang kegiatan yang sedang terjadi di dalam gereja.
Beberapa gereja ragu-ragu mengundang media karena mengira dibutuhkan biaya besar untuk mendatangkan dan memberi amplop pada wartawan. Padahal sesungguhnya media yang baik tidak akan pernah meminta uang untuk peliputan. Mereka sudah berterimakasih apabila wartawannya diberi kesempatan untuk meliput acara tersebut.
Berikut ini kiat-kiat supaya acara gereja mendapat peliputan dari media.
- Informasikan pada Media. Penugasan peliputan biasanya dilakukan oleh pemimpin redaksi atau koordinator peliputan. Tulislah surat yang ditujukan langsung ke orang ini. Kirimlah kira-kira 2-5 hari sebelum hari H pelaksanaan.
- Tulislah dalam selembar surat. Pakailah kop gereja beserta alamat dan nama orang yang bisa dihubungi. Letakkan informasi yang penting dalam satu tempat (apa, siapa, kapan, dimana dan mengapa). Sertakan juga paparan singkat tentang kegiatan itu. Tuliskan juga alasan mengapa kegiatan Anda layak diliput. Bisa berupa nilai human interest (sesuatu yang menyentuh perasaan manusia: sedih, gembira, geli, lucu, iba, kasihan dll). Bisa berupa besaran angka (melibatkan banyak orang,uang dll). Bisa juga karena dihadiri orang ternama (artis, pejabat, atlet). Bisa juga karena peristiwa itu unik, ganjil, aneh, langka dan jarang sekali terjadi.
- Kirim via faks. Cara pengiriman ini lebih cepat mendapatkan perhatian daripada melalui surat biasa. Jika perlu, telepon pihak media untuk memastikan mereka telah menerima faks Anda
- 4. Siapkan Media Kit. Media Kit adalah seperangkat tulisan dan gambar (foto atau video) yang dibagikan kepada wartawan sebagai bahan peliputan. Sertakan tulisan tentang sejarah gereja, buku panduan kegiatan itu, profil pemimpin gereja dan sebagainya.
- Sambut kedatangan wartawan. Pada hari H, tunjuklah seorang panitia yang bertugas secara khusus melayani para wartawan. Begitu para wartawan datang, petugasa ini lalu menyerahkan media kit, menjelaskan susunan acara, lalu mengenalkan pada para pemimpin gereja. Setelah itu, persilahkan mereka meliput secara bebas. Anda tidak usah mengkhawatirkan bahwa kedatangan para wartawan akan merusak kekhusyukan ibadah. Kalau tahu itu acara keagamaan, para wartawan itu biasanya akan bersikap sopan, profesional dan berhati-hati. Khususnya selama ibadah berlangsung.
- Ucapkan Terimakasih. Jika sudah dimuat, jangan lupa kirimkan surat ucapn terimskasih. Hubungi wartawan yang menulis berita itu dan ucapkan terimakasih secara langsung. Hal ini sangat penting menjaga hubungan baik di masa mendatang.
Wawan
November 8th, 2011 — Ebook, tips
Mengurai benang kusut ide menjadi tulisan inspiratif Ditulis G Lini Hanafiah Penerbit Via Lattea Foundation
YukNulis
October 19th, 2011 — tips

Jangan lewatkan kesempatan berharga untuk bisa mengembangkan diri dalam bidang penulisan (khususnya kristiani). Hadirilah “Pelatihan Penulis Kristen” dan Bazar Buku Kristen. Informasi acara:
Tanggal: Rabu – Kamis, 9 – 10 November 2011
Waktu: 17.00 – 21.30 —> Pelatihan Penulis Kristen (untuk peserta seminar)
10.00 – 17.00 —> Bazar Buku Rohani dari berbagai penerbit (untuk umum)
Tempat: Gedung Serbaguna GKJ Manahan Solo, Jl. M.T. Haryono No.10 Manahan, Surakarta
Kontribusi: Per orang Rp 50.000 (2 hari pelatihan)
Kolektif min. 10 orang: @Rp 40.000 (2 hari pelatihan)
Sudah termasuk snack
Materi: Sesi I — “Menulis Itu Mendatangkan Berkat” (Oleh: Agustina Wijayani — penulis renungan dan buku)
Sesi II — “Menulis sebagai Gaya Hidup” (Oleh: Arie Saptaji — penulis lebih dari 20 judul buku)
Sesi III — “Menyulap Tulisan Menjadi Uang” (Oleh: Purnawan Kristanto — penulis lebih dari 21 judul buku, renungan)
Sesi IV — Sharing Proses Kreatif (Oleh: Tim SHOW ME)
Pendaftaran: Novi/Elly: (0271) 719198 / 08812979100 / 08122608030 (ditutup tanggal 4 November 2011)
April 20th, 2011 — tips

Bagian awal tulisan adalah wilayah yang sangat penting. Bagian ini sangat menentukan apakah pembaca tertarik untuk membaca keseluruhan tulisan itu atau tidak.
Pilihlah kata-kata yang Anda pakai dengan cermat. Sebuah kata, bisa menjadi seperti setetes tinta yang jatuh di seember air putih. Dia dapat mengubah isi seluruh tulisan Anda.
Gantilah kata sifat dan kata keterangan dengan kata kerja. Baca kalimat ini:
“Seorang perempuan tua yang kelelahan bekerja di sawahnya!”
Bandingkan dengan:
“Seorang perempuan tua membajak, kepalanya merunduk, nafasnya tersengal-sengal”
Ternyata kalimat kedua lebih menarik. Kalimat pertama menggunakan kata sifat. Kalimat kedua menggunakan kata kerja. Kata sifat memberi tahu (to tell), sedangkan kata kerja menggambarkan tindakan (to show) Continue reading →
April 20th, 2011 — makalah, tips
Untuk menuliskan renungan gunakan jurus ATM, yaitu “Amati, Tirukan dan Menambahkan”:
1. Amati
Kumpulkan semua buku renungan yang ingin Anda kirimi naskah. Amatilah bagian-bagian berikut:
Gaya bahasanya: apakah formal atau santai? Apakah memakai gaya anak muda atau orang dewasa? Contoh paling jelas, bandingkan antara gaya bahasa renungan “Rajawali” dengan “Renungan Harian.”
Tema-tema yang diangkat. Tema-tema apa saja yang sering ditampilkan dalam renungan itu. Putuskanlah apakah Anda akan menulis tema yang sedang populer atau justru menampilkan tema baru yang belum ada pada renungan yang lain.
Struktur tulisan. Pelajarilah urut-urutan penulisan. Mulai dari ayat perikop, ayat nats, ilustrasi , pembahasan, penutup, doa, slogan.
Panjang tulisan. Renungan tidak boleh terlalu panjang sebab renungan hanya sebagai pengantar bagi pembaca untuk melakukan perenungan sendiri. Pilihlah panjang renungan yang pas menurut Anda.
Continue reading →
April 20th, 2011 — tips
Menulis renungan berbeda dengan menulis artikel. Di dalam menulis artikel penulis menyajikan dan memberikan pengetahuan dan keterampilan (memberi makanan bagi otak), tapi dalam renungan, penulis berbagi iman dan pengalaman kerohanian (memberi makanan pada jiwa dan roh).
Artikel berpusat pada satu tema dan menggunakan lebih dari satu sumber tulisan. Sedangkan dalam renungan, berpusat pada satu tema dan satu ayat Alkitab. Panjang artikel bisa mencapai 500 s/d 2000 kata. Sedangkan dalam renungan, antara 250-300 kata. Artikel berasal dari pengetahuan di kepala (head), sedangkan renungan adalah luapan dari pengalaman batin (heart).
Renungan adalah refleksi atas sebuah ayat dalam Alkitab yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan kontekstual bagi pembaca. Penulis memulai tulisan setelah melihat persoalan-persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan. Dia lalu mencari jawabannya melalui permenungan dan penelitian yang mendalam atas ayat-ayat dalam Firman Tuhan. Setelah itu dia membagikan hasil permenungan itu kepada pembaca.
Tujuan akhir dari sebuah renungan adalah perubahan hidup. Seberapa pun indah tulisan renungan itu, tetapi jika tidak bisa mendorong pembaca untuk melakukan tindakan yang membuatnya semakin mengasihi Tuhan dan sesama, maka tulisan itu tidak layak disebut renungan.
Ada beberapa tipe renungan:
1. Renungan yang memberi inspirasi untuk bertindak dengan nyata. Isinya biasanya berupa dorongan bagi pembaca untuk bertindak sesuatu.
2. Renungan yang memberi ketenangan. Biasanya berisi kata-kata penghiburan untuk menguatkan pembaca yang sedang mengalami pergumulan.
3. Renungan yang memberikan teguran. Renungan ini memperingatkan pembaca supaya tidak melakukan perbuatan tertentu yang bisa mendatangkan dosa.
4. Renungan yang memberi paparan tentang suatu perikop tertentu. Isinya hanya berupa informasi yang menjelaskan makna dari ayat-ayat tertentu dan relevansinya bagi konteks kekinian.
Continue reading →
March 17th, 2011 — artikel, tips

PARA penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam. Apalagi jika Anda sudah on-line dan koneksi internet dihitung berdasarkan waktu. Semakin lama Anda bengong, maka semakin membengkaklah tagihan internet Anda.
Untuk menyiasati hal ini, cara yang terbaik adalah Anda sudah menyiapkan tulisan ketika masih off-line. Kemudian ketika on-line, Anda tinggal mengunggahnya saja. Meski begitu, kadang-kadang ketika sedang off-line pun, mungkin Anda juga mengalami kemacetan ide. Anda tidak perlu resah. Anda dapat mencoba salah satu dari rahasia penulisan, yaitu menggunakan teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan ingatan (memori) Anda sebagai bahan tulisan. Jika Anda masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi tersendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.
Continue reading →
March 15th, 2011 — buku, tips
SEBUAH pepatah bijak berkata begini, “You are what you read.” Ada juga yang berkata, “Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak seperti apakah diri Anda.” Kalimat ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi sekadarmenjadi pembaca buku saja menurut saya belum bisa menunjukkan potensi yang dimiliki seseorang. Kapasitas seseorang akan semakin terlihat jelas dari kemampuannya mencerna dan mengolah kembali pengetahuan yang didapatnya dari buku itu, kemudian menuangkannya dalam bentuk tulisan. Salah satu hasil dari proses ‘pencernaan’ ini berupa tulisan resensi. Tulisan berikut ini akan menyajikan tips-tips praktis dalam menulis resensi.
Kata “resensi” diserap dari bahasa Belanda recensie atau recensere (Latin), yang berarti “melihat kembali”,”menimbang” atau “menilai”. Sedangkan resensi buku berarti sebuah kupasan atau ulasan yang memperkenalkan sebuah buku, menginformasikan pokok-pokok bahasannya, menceritakan inti isi keseluruhannya dan menunjukkan faedahnya bagi pembaca.” Ada berbagai nama yang dipakai oleh media massa untuk menandai rubrik resensi, antara lain: Tinjauan Buku, Timbangan Buku, Bedah Buku, Ulasan Buku, Kupasan Buku, Wacana atau lainnya.
Secara garis besar ada tiga jenis tulisan resensi buku.
[1]. Resensi Argumentatif, bersifat pandangan tandingan, kritik dan ilmiah. Jenis ini hanya cocok untuk jurnal ilmiah dan media yang pembacanya sangat serius. Panjang tulisan bisa sampai lebih dari 10 halaman, dengan isi 90% subjektif.
[2]. Resensi Sinopsis. Isinya berupa ringkasan isi sebuah buku. Sifatnya 100 % objektif.
[3]. Resensi Eksposif, bersifat memperkenalkan, menilai dan menunjukkan faedah buku. Panjangnya sekitar 4 halaman. Sifatnya, 90% objektif.
Continue reading →
March 9th, 2011 — buku, tips
MEMBUAT blog itu sangat mudah dan murah. Menurut statistik yang dikeluarkan oleh Technorati pada tahun 2007, setiap hari ada lebih dari 120.000 blog baru. Angka ini mengisyaratkan satu hal: PERSAINGAN KETAT! Itu sebabnya jika saat ini Anda akan membuat blog, maka Anda harus membuat blog yang menonjol di antara kerumunan blog yang ada. Jika tidak, maka sedikit orang yang akan meminati blog Anda. Buat apa susah-susah membuat blog jika tidak ada yang mengaksesnya?
Sebelum melangkah lebih jauh, sebaiknya Anda memeriksa diri lebih dulu apakah Anda memang cocok untuk memiliki blog atau tidak. Caranya dengan mengecek kesukaan Anda dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut.
Apakah Anda Suka Berselancar di Dunia Maya?
Untuk menjadi penulis blog yang baik, Anda harus menyisihkan banyak waktu untuk menjelajahi dunia internet. Ngeblog tidak berhenti setelah Anda selesai menulis dan mempublikasikannya. Anda masih punya tanggungjawab untuk mempromosikannya, menjawab komentar-komentar dari pengunjung, memperbaiki tulisan, dan mencari topik untuk tulisan berikutnya. Hal ini membutuhkan dedikasi dan komitmen untuk memberikan waktu, perhatian dan dana untuk beraktivitas di dunia internet. Jika Anda sangat menyukai dunia internet, maka Anda akan sangat menikmati aktivitas ngeblog.
Apakah Anda Suka Menulis?
Jika Anda tidak memiliki kerinduan untuk menulis, maka ngeblog tidak cocok untuk Anda. Sebagian besar aktivitas ngeblog adalah menulis, baik itu membuat tulisan baru, memberi komentar pada tulisan orang lain, menanggapi komentar orang lain pada tulisan Anda atau pun mendiskusikan topik tertentu. Jika Anda merasa belum mahir menulis, Anda tidak perlu khawatir karena keahlian menulis itu dapat dipelajari dan dilatih. Yang terpenting adalah Anda memiliki kerinduan (passion) untuk menulis.
Apakah Anda Suka pada Topik Tertentu?
Anda harus benar-benar menyukai topik tertentu, sehingga Anda terdorong untuk membagikannya kepada orang lain, membujuk orang untuk mengaksesnya dan membuat mereka kembali lagi pada blog Anda di lain waktu. Jika Anda tidak memilikinya, maka Anda akan kesulitan untuk mengembangkan blog Anda. Dengan memiliki topik yang Anda sukai, maka setiap kali Anda log in, maka Anda melakukannya dengan senyum mengembang. Sebagai contoh, Anda menyukai alam dan memiliki hobi berpetualang. Dengan menetapkan penyelamatan alam sebagai topik blog Anda, maka Anda akan memiliki segudang bahan tulisan untuk ditambahkan pada blog Anda.
Continue reading →
March 4th, 2011 — artikel, Jurnalisme, makalah, tips
PARA trainer dalam pelatihan penulisan biasanya akan menyatakan bahwa mengelola dan meneribitkan media gampang. Tapi menurut saya, mengelola untuk media gereja itu sulit. Hal ini didasarkan pada analisis terhadap karakteristik pembaca media ini.
Sebagian besar media intra gereja diterbitkan oleh gereja-gereja yang berada di kota. Alasannya, gereja-gereja di kota memiliki sumber daya yang memungkinkan untuk penerbitan, seperti komputer, printer, kamera, percetakan, biaya, tenaga pelaksana dll. Sementara itu, bagi gereja yang berlokasi di pedesaan,–selain karena keterbatasan dana–, mereka relatif belum memerlukan media massa, karena masih terjalin keeratan hubungan pribadi di antara anggota jemaat.
Lalu bagaimana dengan karakteristik pembaca media intra gereja di perkotaan? Anggota jemaat di perkotaan biasanya memiliki waktu yang sangat terbatas. Untuk jemaat di kota besar, bahkan lebih banyak waktu yang tersita untuk kemacetan di jalan raya dan mencari tempat parkir dibandingkan waktu untuk beribadah itu sendiri. Hari Minggu juga dipakai untuk kesempatan berkumpul di antara anggota keluarga. Ada juga yang ingin menggunakan hari libur ini untuk istirahat sepuas-puasnya setelah bekerja keras selama 5-6 hari. Maka biasanya, anggota jemaat enggan berlama-lama berada di gereja. Setengah jam usai ibadah, lingkungan gereja biasanya sudah lengang. Apalagi jika gereja tersebut menyelenggarakan lebih dari empat kali kebaktian. Anggota jemaat dipaksa untuk segera meninggalkan gereja karena pengunjung untuk ‘jam main’ berikutnya sudah berdatangan.
Hal demikian turut mempengaruhi perilaku anggota jemaat dalam menggunakan media intra gereja. Media intra gereja, biasanya dibagikan di gereja sebelum atau sesudah ibadah. Jemaat tidak mungkin membaca media tersebut di gereja karena harus mengikuti ibadah [walau kadang ada juga yang sembunyi-sembunyi membaca terutama jika khotbahnya kepanjangan dan membosankan].
Ketika media intra gereja dibawa pulang ke rumah, maka media ini harus bertarung dengan berbagai stimulus lain untuk menarik minat anggota jemaat. Pulang dari gereja, perhatian anggota jemaat biasanya sudah disibukkan dengan kegiatan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Apakah pergi ke mal, rekreasi, bersanjang ke sanak saudara atau di rumah saja. Jika tidak cukup menarik dan bermafaat bagi anggota jemaat, maka nasib media intra gereja berujung di tempat sampah atau pasar loak. Itu sebabnya, jika gereja memutuskan untuk menerbitkan media internal maka harus melakukan kajian mendalam
Continue reading →