Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Youtube button

Entries Tagged 'pengalaman pribadi' ↓

Writer’s Corner: Purnawan Kristanto

Majalah Getlife memiliki rubrik baru: Writer’s Corner.  Dalam setiap edisi kita akan mengenal lebih dekat satu sosok penulis Kristen Indonesia.  Penulis perdana kita kali ini adalah Purnawan Kristanto yang diwawancarai reporter GetLife, Hardhono:
Dari antara 13 judul buku pernah diterbitkan, yang paling berkesan yang mana?
Setiap buku melalui proses kreatif yang meninggalkan kesan sendiri-sendiri. Namun yang paling berkesan adalah ”Misteri Gerbong Tua”. Novel remaja ini ditulis hanya dalam waktu kurang tiga bulan, karena akan diikutkan ke dalam Lomba Penulisan Buku Fiksi Keagamaan tingkat Nasional 2003. Puji Tuhan, naskah ini meraih Juara Harapan II. Hal ini cukup memuaskan saya, mengingat baru pertama kali saya menulis buku fiksi.
Banyak buku Anda tentang permainan asyik atau seru. Definisi Anda mengenai permainan yang seru atau asyik itu apa?
Permainan yang asyik adalah permainan yang dapat mendorong banyak orang untuk terlibat secara sukarela dan hatinya merasa senang.  Orang yang hatinya sedang senang akan lebih terbuka dalam menerima kebenaran firman Tuhan dan ide-ide baru.  Dengan permainan, kita dapat menghangatkan relasi antar manusia dan belajar hal baru secara menyenangkan.
Inspirasi permainan asyik dan seru ini dari mana?
Sebagian besar berasal dari permainan yang pernah diterapkan dalam pengajaran Sekolah Minggu dan pelatihan LSM.  Saya juga terinspirasi dari permainan tradisional dan melakukan survei di internet. Tentunya dengan penyesuaian sesuai kebutuhan di Indonesia.
Apakah semua permainan itu selalu diuji coba dulu sebelum diterbitkan menjadi buku?
Belum semua. Sampai sekarang saya sudah menulis 485 permainan. Jika setiap minggu harus diuji coba satu permainan, maka dibutuhkan waktu 10 tahun lebih.
Anda juga menulis novel remaja dan cerpen. Menurut Anda fiksi Kristen yang baik itu seperti apa?
Sebaiknya fiksi Kristen itu dapat menjadi oase yang menyegarkan. Ia menawarkan nilai-nilai kristiani di tengah-tengah kemerosotan moral saat ini. Namun hal ini harus dikemas secara cerdas, elegan dan lemah lembut, sehingga setiap orang yang membacanya akan mengamininya.
Penulis favorit Anda? Mengapa?
Ada dua orang. Pertama, Remi Silado. Dia sangat kuat dalam diksi. Kedua, Xavier Quentin Pranata. Selama 2,5 tahun saya bekerja sama dengan dia. Saya mengagumi antusiasme dan kerendahanhatinya.
Catatan: Hasil wawancara di atas adalah versi asli dari penulis. Namun karena keterbatasan space, ada banyak kata-kata yang dipangkas (nama rubriknya saja Corner atau Pojokan. Jadi ya cuma kejatah se-upil).  Jika ingin mengetahui hasil editan redaktur Getlife, silakan beli dan baca di majalah Getlife edisi no.32

Mengapa Saya Menulis?

Mengapa saya memutuskan menekuni kepenulisan? Saya bingung untuk menjawabnya, sama bingungnya ketika ditanya mengapa saya memiliki iman Kristen? Keputusan untuk menjadi penulis atau menghayati iman Kristen merupakan proses yang sangat panjang dan saya tidak tahu sejak kapan itu bermula.

Keputusan untuk menjadi penulis itu tidak melalui pengalaman spektakuler atau alasan luarbiasa. Saya baru saja membaca kisah tentang Joni Ereackson Tada, seorang penulis buku dan pembicara motivasional. Dia memutuskan untuk menulis buku setelah melelui peristiwa dramatis yang hampir saja merenggut hidupnya. Namun beda dengan saya, keputusan untuk menekuni dunia literatur ini merupakan proses kehidupan berpuluh-puluh tahun. Sejak kecil, bapak saya sudah mengenalkan berbagai macam bacaan. Meskipun tinggal di pelosok Gunungkidul yang saat itu masih terpencil, namun bapak sering membelikan majalah Si Kuncung, Cip Cop, Ananda, Mop, Gatotkaca, atau Bobo untuk anak-anaknya. Setiap hari ketika majalah itu terbit, kami selalu merindukan bunyi bel sepeda yang menandakan bapak pulang dari mengajar. Itu artinya dia membawa oleh-oleh favorit kami yaitu majalah anak-anak. Setiap Minggu, bapak juga membeli koran Sinar Harapan edisi Minggu. Lewat koran ini, saya mengenal dan mengagumi penyair cilik bernama Omi Intan Naomi [almarhumah].
Continue reading →