Entries Tagged 'makalah' ↓
April 20th, 2011 — makalah, tips
Untuk menuliskan renungan gunakan jurus ATM, yaitu “Amati, Tirukan dan Menambahkan”:
1. Amati
Kumpulkan semua buku renungan yang ingin Anda kirimi naskah. Amatilah bagian-bagian berikut:
Gaya bahasanya: apakah formal atau santai? Apakah memakai gaya anak muda atau orang dewasa? Contoh paling jelas, bandingkan antara gaya bahasa renungan “Rajawali” dengan “Renungan Harian.”
Tema-tema yang diangkat. Tema-tema apa saja yang sering ditampilkan dalam renungan itu. Putuskanlah apakah Anda akan menulis tema yang sedang populer atau justru menampilkan tema baru yang belum ada pada renungan yang lain.
Struktur tulisan. Pelajarilah urut-urutan penulisan. Mulai dari ayat perikop, ayat nats, ilustrasi , pembahasan, penutup, doa, slogan.
Panjang tulisan. Renungan tidak boleh terlalu panjang sebab renungan hanya sebagai pengantar bagi pembaca untuk melakukan perenungan sendiri. Pilihlah panjang renungan yang pas menurut Anda.
Continue reading →
March 4th, 2011 — artikel, Jurnalisme, makalah, tips
PARA trainer dalam pelatihan penulisan biasanya akan menyatakan bahwa mengelola dan meneribitkan media gampang. Tapi menurut saya, mengelola untuk media gereja itu sulit. Hal ini didasarkan pada analisis terhadap karakteristik pembaca media ini.
Sebagian besar media intra gereja diterbitkan oleh gereja-gereja yang berada di kota. Alasannya, gereja-gereja di kota memiliki sumber daya yang memungkinkan untuk penerbitan, seperti komputer, printer, kamera, percetakan, biaya, tenaga pelaksana dll. Sementara itu, bagi gereja yang berlokasi di pedesaan,–selain karena keterbatasan dana–, mereka relatif belum memerlukan media massa, karena masih terjalin keeratan hubungan pribadi di antara anggota jemaat.
Lalu bagaimana dengan karakteristik pembaca media intra gereja di perkotaan? Anggota jemaat di perkotaan biasanya memiliki waktu yang sangat terbatas. Untuk jemaat di kota besar, bahkan lebih banyak waktu yang tersita untuk kemacetan di jalan raya dan mencari tempat parkir dibandingkan waktu untuk beribadah itu sendiri. Hari Minggu juga dipakai untuk kesempatan berkumpul di antara anggota keluarga. Ada juga yang ingin menggunakan hari libur ini untuk istirahat sepuas-puasnya setelah bekerja keras selama 5-6 hari. Maka biasanya, anggota jemaat enggan berlama-lama berada di gereja. Setengah jam usai ibadah, lingkungan gereja biasanya sudah lengang. Apalagi jika gereja tersebut menyelenggarakan lebih dari empat kali kebaktian. Anggota jemaat dipaksa untuk segera meninggalkan gereja karena pengunjung untuk ‘jam main’ berikutnya sudah berdatangan.
Hal demikian turut mempengaruhi perilaku anggota jemaat dalam menggunakan media intra gereja. Media intra gereja, biasanya dibagikan di gereja sebelum atau sesudah ibadah. Jemaat tidak mungkin membaca media tersebut di gereja karena harus mengikuti ibadah [walau kadang ada juga yang sembunyi-sembunyi membaca terutama jika khotbahnya kepanjangan dan membosankan].
Ketika media intra gereja dibawa pulang ke rumah, maka media ini harus bertarung dengan berbagai stimulus lain untuk menarik minat anggota jemaat. Pulang dari gereja, perhatian anggota jemaat biasanya sudah disibukkan dengan kegiatan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Apakah pergi ke mal, rekreasi, bersanjang ke sanak saudara atau di rumah saja. Jika tidak cukup menarik dan bermafaat bagi anggota jemaat, maka nasib media intra gereja berujung di tempat sampah atau pasar loak. Itu sebabnya, jika gereja memutuskan untuk menerbitkan media internal maka harus melakukan kajian mendalam
Continue reading →
October 5th, 2010 — makalah, tips
Oleh: Purnawan Kristanto

3. Berita Kisah
Berita kisah berita feature adalah tulisan tentang kejadian yang dapat menyentuh perasaan atau menambah pengetahuan pembaca lewat penjelasan rinci, lengkap serta mendalam. Jadi nilai utamanya pada unsur manusiawi dan dapat menambah pengetahuan. Ada bermacam-macam feature:
- Profile Feature : menceritakan perjalanan hidup seseorang, bisa pula hanya menggambarkan sepak terjang orang tersebut dalam suatu kegiatan dan pada kurun waktu tertentu. Profile feature tidak hanya cerita sukses saja, tapi bisa juga cerita kegagalan seseorang Tujuannya agar pembaca dapat bercermin lewat kehidupan orang lain.
- How To Do It Feature : berita yang menjelaskan untuk melakukan sesuatu. Informasi yang disampaikan berupa petunjuk yang dipandang penting bagi pembaca. Misalnya, petunjuk perjalanan mudik lebaran lewat darat. Dalam tulisan itu disajikan beberapa tips praktis, keterangan lokasi rumah makan, perkiraan biaya, kualitas jalan, jalur yang aman dll.
- Human Interest Feature: menonjolkan hal-hal yang menyentuh perasaan sebagai hal yang menarik. Jadi untuk berita ini menonjolkan peristiwa atau kejadian yang dialami manusia (bandingkan dengan Profile Feature) Continue reading →
September 24th, 2010 — makalah, tips
Oleh: Xavier Quentin Pranata

Ekonomi kata
Salah satu hal yang membuat kita malas membaca adalah banyaknya kata mubazir yang lolos dari mata penyunting. Sebagai penyunting, mau tidak mau kita harus menerapkan ekonomi kata, agar tulisan yang ada di buku/majalah yang kita terbitkan tidak berkepanjangan, bertele‑tele, melelahkan dan membosankan. Nah, itu menghindari itu, kita perlu ekonomi kata. Thomson Foundation Editorial Study Centre di Cardiflah yang mula‑mula memperkenalkan istilah “word economy” ini. Sejak itu banyak orang pers maupun filsuf yang menerapkan ekonomi kata ini.
Simak ucapan para tokoh pers tentang ekonomi kata:
M. Wonohito:
“Bahasa yang dapat mencapai sebanyak mungkin pembaca, nyatanya bukan bahasa yang aneh, bukan bahasa yang luar biasa, melainkan justru bahsa yang lumrah saja yaitu teratur, sopan, enak dibaca, tidak membikin pembaca pusing kepala.”
Cicero:
“Keringkasan ialah daya tarik besar kefasihan lidah.”
Hosea Ballou:
“Keringkasan dan kepadatan isi ialah orang tua perbaikan.”
Fenelou:
“Makin banyak yang Anda katakan, makin kurang yang diingat orang. Makin sedikit perkataan, makin besar keuntungan.”
Walt Whitman:
“Kesederhanaan ialah kejayaan ekspresi.”
Gustave Flaubert:
“Kalimat yang terbaik ialah kalimat yang terpendek.”
Goenawan Mohamad:
“Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas. Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor.”
Contoh‑contoh di bawah ini adalah pemakaian kata mubazir.
ß adalah (pengaruh bahasa Inggris is). Misalnya: Pernyataan menteri itu adalah merupakan suatu kesembronoan.
ß telah (pengaruh bahasa Inggris have/has). Misalnya: Ia telah kuliah di Petra.
ß akan (pengaruh bahasa Inggris will/shall). Misalnya: Besok Ratu Dunia akan datang.
ß sedang (pengaruh bahasa Inggris progressive/present continuous tense). Misalnya: Ia sedang menyanyi.
ß untuk (pengaruh bahasa Inggris to). Misalnya: Dia dipanggil untuk datang ke kantor polisi.
ß dari (pengaruh bahasa Inggris of). Misalnya: Keterangan pers dari menteri.
ß daripada (pengaruh bahasa Inggris of). Misalnya: Kami bangsa daripada Indonesia.
ß @ bahwa (pengaruh bahasa Inggris that). Misalnya: Tidak diragukan lagi, bahwa dialah orang yang tepat.
ß penjamakan ganda. Misalnya: Banyak anak‑anak.
Kerancuan yang perlu dihindari
ß sementara. Misalnya: Sementara politisi. Seharusnya: Beberapa politisi. Kata sementara berarti (1) selama, selagi (2) pada waktu (3) beberapa lamanya (waktunya).
ß berhubung karena. Seharusnya: pilih salah satu.
ß agar supaya. Seharusnya: pilih salah satu.
ß demi untuk. Seharusnya: pilih salah satu.
ß selain daripada itu. Seharusnya: Selain itu.
ß dan lain sebagainya. Seharusnya: dan lainya atau dan sebagainya.
Kata‑kata penat
Kata‑kata penat diperkenalkan oleh surat kabar Inggris. “Tired words” sering disebut kata klise atau stereotype. Kata‑kata mana yang termasuk kata‑kata penat? Kata‑kata yang termasuk penat antara lain: dalam rangka; sementara itu/dalam pada itu (terjemahan dari bahasa Inggris meanwhile; perlu diketahui; dapat ditambahkan; selanjutnya dan lain‑lain.
Memilih kata yang tepat
Setelah mengetahui prinsip ekonomi kata dan kerancuan, bagaimana cara kita memilih kata yang tepat? Ada lima hal yang perlu kita perhatikan:
ß Jangan memakai jargon setempat kecuali kata itu sudah umum. Kalaupun terpaksa, harus diberi keterangan tambahan.
ß Jangan memakai kata yang telah usang atau mati.
ß Hati‑hati dalam memakai kata yang bernilairasa.
ß Hati‑hati dalam memakai kata sinonim, karena artinya bisa berbeda.
ß Batasi pemakaian kata asing. Kalau terpaksa, harap diberi terjemahannya.
ß Perkecil pemakaian kata kembar dan saling bersaing. Pakai rujukan kamus.
Sumber:
-
Anwar, H. Rosihan. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Jakarta: Pradnya Paramita, 1984.
-
Asy’ari, S. Imam, Drs. Petunjuk Teknik Menulis Naskah Ilmiah. Surabaya: Usaha Nasional, 1984.
-
Moelino, Anton M. dan Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, 1988.
-
Poerwadarminta, WJS. Bahasa Indonesia untuk Karang Mengarang. Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1984.
September 18th, 2010 — makalah, tips
Oleh: Purnawan Kristanto

NILAI BERITA
Setiap harinya ada puluhan sampai ratusan peristiwa yang terjadi di sekitar kita, tapi tidak semua peristiwa itu layak diberitakan. Suatu peristiwa bisa dibuat berita spsbila memiliki satu atau lebih NILAI BERITA berikut ini:
- KEBERMAKNAAN (Significance): Kejadian yang mempengaruhi kehidupan orang banyak atau kejadian yang punya akibat terhadap pembaca.
Contoh : Berita kenaikan harga BBM, tarif TDL, ongkos angkutan umum, biaya pulsa telepon dll.
- BESARAN (Magnitude) : kejadian yang menyangkut angka-angka yang besar dan memiliki arti bagi kehidupan orang banyak. Misalnya: para pengutang kelas kakap mengemplang trilyunan rupiah BLBI. Anggota DPR menerima suap 1 miliar rupiah.
- KEBARUAN (Timeliness): Kejadian yang menyangkut peristiwa yang baru terjadi. Misalnya: Pengeboman di gereja tidak punya nilai berita apa-apa jika baru diberitakan seminggu kemudian.
- KEDEKATAN (Proximity) : Kejadian yang ada di dekat pembaca. Bisa kedekatan geografis atau emosional. Misalnya: gempa bumi di Jogja lebih bernilai berita ketimbang gempa bumi di Meksiko.
- KETERMUKAAN/SISI MANUSIAWI (Prominence/Human interest): kejadian yang memberi sentuhan perasaan atau emosi pada pembaca. Kejadiannya menyangkut orang biasa, tapi dalam peristiwa yang luar bisa, orang luar biasa (public figure) dalam peristiwa biasa atau bahkan orang luar biasa dengan kejadian luar biasa.
Contoh:
- Perceraian Ahmad Dhani dan Maya Estianti diberitakan secara besar-besaran. Ini adalah orang luar biasa dalam peristiwa yang biasa.
- Seorang tukang becak di Yogyakarta terpilih menjadi wakil Indonesia dalam program pertukaran pemuda Indonesia-Kanada. Ini adalah orang biasa dalam peristiwa yang luar biasa.
Sebelum menuliskan sebuah peristiwa menjadi berita, maka Anda perlu memastikan bahwa peristiwa itu memiliki berita. Jika Anda nekad menulis peristiwa yang tidak punya nilai berita, maka usaha Anda akan sia-sia saja. Tulisan Anda tidak akan dibaca oleh orang lain.
MENULIS BERITA
Berita dapat ditulis dalam berbagai cara, tergantung pada apakah peristiwa itu patut segera diketahui atau tidak. Perbedaan cara penyampaian inilah yang melahirkan ragam berita.
Berita jurnalistik yang ada di media cetak dapat digolongkan menjadi : berita langsung (straight/ hard/spot news), berita ringan (soft news), berita kisah (feature), serta laporan mendalam (in-depth report).
1. Berita Langsung
Berita: langsung digunakan untuk menyampaikan kejadian penting yang secepatnya perlu diketahui pembaca. Aktualitas adalah unsur terpenting dalam berita langsung. Kejadian yang sudah lama terjadi, tidak bernilai lagi untuk ditulis sebagai berita langsung.
Aktualitas tidak hanya soal waktu, tetapi juga sesuatu yang baru diketahui atau diketemukan. Misalnya cara baru, ide baru, penemuan baru dll. Semuanya itu memiliki makna penting bagi keadaan sekarang. Berita tentang Aksi Sosial gereja Anda harus segera ditulis supaya dapat segera dibaca oleh jemaat.
Untuk menulis berita langsung, hal pertama yang dilakukan adalah mengumpulkan fakta-fakta di lapangan, yaitu meliputi jalan cerita dari peristiwa. Fakta-fakta yang terkumpul itu masih berupa kepingan-kepingan peristiwa yang masih harus kita susun. Layaknya puzzle, seorang jurnalis perlu merangkaikan peristiwa menurut alur cerita yang logis dan sistematis.
Menata berita langsung adalah kegiatan menempatkan fakta-fakta yang penting di bagian atas dan yang kurang penting di bagian belakang. Inilah yang dikenal dengan cara piramida terbalik. Tujuannya juga untuk memanjakan pembaca yang tak punya banyak waktu agar bisa segera mendapatkan informasi yang penting.
Tuliskanlah teras yang menarik, kemudian rangkum semua unsur berita dalam satu atau dua kalimat di bagian ini. Segera tuliskanlah unsur 5W+1H di sini. Bagian ini ditulis dengan prinsip KISS (keep it simple and short). Tulislah secara sederhana, ringkas dan padat.
Pada tubuh berita, Anda punya kesempatan untuk menceritakan jalan cerita secara lebih terperinci, terutama untuk mengembangkan unsur How atau bagaimana peristiwa tersebut terjadi. Segera tempatkanlah informasi-informasi yang paling penting pada bagian awal, kemudian menyusul informasi-informasi yang kurang penting pada bagian berikutnya.
Jika masih punya kesempatan, Anda dapat menutup berita dengan merangkum kembali fakta-fakta yang Anda penting menggunakan susunan kata dan kalimat yang berbeda.
2. Berita Ringan
Berita ringan tidak mengutamakan unsur penting yang hendak diberitakan, tetapi menekankan sesuatu yang menarik. Berita ini biasa ditemukan sebagai kejadian yang manusiawi dalam kejadian penting. Kejadian yang penting dituliskan sebagai berita langsung, sedang yang menyangkut unsur manusiawi ditulis sebagai berita ringan,
Berdasarkan kejadiannya, berita ringan dapat dibedakan atas dua jenis:
- Berita ringan yang kejadiannya merupakan sampiran dari peristiwa penting yang diberitakan lewat berita langsung (disebut side bar)
- Berita ringan yang kejadiannya berdiri sendiri. Jadi tidak terkait peristiwa penting.
Berita ringan sangat cocok untuk majalah karena tidak terikat aktualitas. Berita ini langsung menyentuh emosi pembaca misalnya keterharuan, kegembiraan, kasihan, kegeraman, kelucuan, kemarahan dll. Bahan yang ditulis adalah kejadian di permukaan. Tidak perlu melacak latar belakangnya.
September 17th, 2010 — makalah, tips
oleh: Xavier Quentin Pranata

Jika pelukis membutuhkan kanvas, kuas dan cat untuk menuangkan gagasannya, maka penyunting membutuhkan media bahasa tulis untuk menyempurnakan naskah kiriman atau menulis buku sendiri. Bahasa yang kita pakai di sini jelas bahasa Indonesia yang baik, benar dan baku. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang mudah dimengerti, enak dibaca dan tidak melanggar kaidah tata bahasa maupun struktur yang benar. Sedangkan bahasa Indonesia baku adalah bahasa yang mengikuti standar Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia.
Bahasa yang baku mempunyai empat fungsi:
1. pemersatu
2. penanda kepribadian
3. penambah wibawa
4. kerangka acuan
Standar bahasa baku:
1. Kaidah bahasa yang benar
2. Ejaan Yang Disempurnakan
3. Perkembangan kosa kata
1. Kaidah bahasa yang benar
Ada tiga kaidah bahasa yang perlu kita perhatikan:
- Aturan bahasa Indonesia diambil dari bahasa Austronesia dengan kaidah yang paling penting ditempatkan di muka sedangkan yang kurang penting di belakang. Kaidah inilah yang disebut hukum DM (Diterangkan, Menerangkan)
Continue reading →
September 11th, 2010 — makalah, tips
Oleh Purnawan Kristanto

SEIRING dengan maraknya perkembangan blog, maka muncul sebuah fenomena baru yang diberi nama citizen journalism atau jurnalisme warga. Kegiatan menulis berita kini tidak dimonopoli oleh wartawan saja. Berkat perkembangan teknologi komunikasi, setiap orang kini dapat mengabarkan peristiwa yang dilihatnya. Setiap orang dapat mengirimkan berita-berita yang mungkin tidak akan dimuat oleh media massa cetak biasa. Misalnya, seorang ibu menuliskan kondisi pasar tradisional di dekat rumahnya yang kumuh dan kotor. Seorang remaja menuliskan kelakuan gurunya yang ringan tangan.
Dilihat dari standard jurnalistik, jurnalisme warga ini memiliki sejumlah kelemahan seperti ketiadaan keberimbangan, faktualitas dan objektivitas. Sebagai contoh, berita yang ditulis warga sering dibumbui dengan opini penulisnya, yang dalam kaidah jurnalisme merupakan hal yang diharamkan. Mereka juga mengabaikan prinsip cover both side. Sebagai contoh, dalam menuliskan perilaku guru yang main tempeleng, sang penulis hanya menulis dari sisi murid dan tidak menyertakan pendapat dari sang guru tersebut.
Meski belum memenuhi kaidah jurnalistik, tidak berarti bahwa keberadaan pewarta warga ini tidak boleh ada. Keberadaannya justru dibutuhkan untuk mengisi celah-celah kosong yang tidak diliput oleh jurnalisme konvensional. Yang perlu dilakukan adalah belajar untuk menulis berita dengan benar.
****
Berita adalah peristiwa yang dilaporkan. Segala hal yang didapat di lapangan dan sedang dipersiapkan untuk dilaporkan belum bisa disebut berita. Wartawan yang menonton atau menyaksikan peristiwa, belum tentu telah menemukan peristiwa. Wartawan sudah menemukan peristiwa setelah ia memahami prosesnya atau jalan cerita, yaitu tahu APA yang terjadi, SIAPA yang terlibat, kejadiannya BAGAIMANA, KAPAN dan DI MANA itu terjadi dan MENGAPA sampai terjadi. Keenam hal itu yang disebut UNSUR BERITA.
Unsur Berita
- APA (What) yang terjadi,
- SIAPA (Who) yang terlibat,
- KAPAN (When) dan
- DI MANA (Where) itu terjadi,
- MENGAPA (Why) bisa terjadi
- BAGAIMANA (How) kejadiannya
Mungkinkah suatu peristiwa terjadi tanpa cerita? Bisa saja tapi peristiwa semacam ini dapat dikatakan berita tidak lengkap alias berita kabur. Ingat, berita harus selalu dengan peristiwa, peristiwa harus selalu dengan jalan cerita.
Dengan kata lain, berita yang ditulis harus berdasarkan peristiwa yang benar-benar terjadi. Kita tidak bisa menulis berita yang hanya berdasarkan rekaan atau imajinasi. Di dalam peristiwa itu terkandung jalan cerita yang meliputi tempat apa yang terjadi, tempat kejadian, orang-orang yang terlibat, waktu, alasan dan bagaimana kejadian itu berlangsung.
April 10th, 2010 — artikel, makalah, penyuntingan
Oleh: Xavier Quentin Pranata

Jika pelukis membutuhkan kanvas, kuas dan cat untuk menuangkan gagasannya, maka penyunting membutuhkan media bahasa tulis untuk menyempurnakan naskah kiriman atau menulis buku sendiri. Bahasa yang kita pakai di sini jelas bahasa Indonesia yang baik, benar dan baku. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang mudah dimengerti, enak dibaca dan tidak melanggar kaidah tata bahasa maupun struktur yang benar. Sedangkan bahasa Indonesia baku adalah bahasa yang mengikuti standar Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia.
Bahasa yang baku mempunyai empat fungsi:
1. pemersatu
2. penanda kepribadian
3. penambah wibawa
4. kerangka acuan
Standar bahasa baku:
1. Kaidah bahasa yang benar
2. Ejaan Yang Disempurnakan
3. Perkembangan kosa kata
1. Kaidah bahasa yang benar
Continue reading →
April 10th, 2010 — artikel, makalah
Oleh: Xavier Quentin Pranata

“Banyak penulis pemula yang menganggap bahwa semua ketrampilan memerlukan latihan, kerja keras, dan waktu untuk mencurahkan seluruh perhatiannya kecuali menulis. Akibatnya, banyak naskah mereka yang ditolak,” kata Norman B. Rohrer, Diruktur Christian Writers Guild.
Seperti halnya pisau, pikiran kita pun perlu diasah agar tetap tajam menganalisis sesuatu dan menuliskannya secara baik, teratur dan mengenai sasaran yang tepat.
Di dalam buku How to Write for Christian Magazines, Chip Ricks & Marilyn Marsh memberikan sepuluh langkah yang harus diambil seorang calon/penulis Kristen, yaitu:
Continue reading →