Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Youtube button

Entries Tagged 'Jurnalisme' ↓

Mengelola Media Gereja itu Sulit

PARA trainer dalam pelatihan penulisan biasanya akan menyatakan bahwa mengelola dan meneribitkan media gampang. Tapi menurut saya, mengelola untuk media gereja itu sulit. Hal ini didasarkan pada analisis terhadap karakteristik pembaca media ini.

Sebagian besar media intra gereja diterbitkan oleh gereja-gereja yang berada di kota. Alasannya, gereja-gereja di kota memiliki sumber daya yang memungkinkan untuk penerbitan, seperti komputer, printer, kamera, percetakan, biaya, tenaga pelaksana dll. Sementara itu, bagi gereja yang berlokasi di pedesaan,–selain karena keterbatasan dana–, mereka relatif belum memerlukan media massa, karena masih terjalin keeratan hubungan pribadi di antara anggota jemaat.

Lalu bagaimana dengan karakteristik pembaca media intra gereja di perkotaan? Anggota jemaat di perkotaan biasanya memiliki waktu yang sangat terbatas. Untuk jemaat di kota besar, bahkan lebih banyak waktu yang tersita untuk kemacetan di jalan raya dan mencari tempat parkir dibandingkan waktu untuk beribadah itu sendiri. Hari Minggu juga dipakai untuk kesempatan berkumpul di antara anggota keluarga. Ada juga yang ingin menggunakan hari libur ini untuk istirahat sepuas-puasnya setelah bekerja keras selama 5-6 hari. Maka biasanya, anggota jemaat enggan berlama-lama berada di gereja. Setengah jam usai ibadah, lingkungan gereja biasanya sudah lengang. Apalagi jika gereja tersebut menyelenggarakan lebih dari empat kali kebaktian. Anggota jemaat dipaksa untuk segera meninggalkan gereja karena pengunjung untuk ‘jam main’ berikutnya sudah berdatangan.

Hal demikian turut mempengaruhi perilaku anggota jemaat dalam menggunakan media intra gereja. Media intra gereja, biasanya dibagikan di gereja sebelum atau sesudah ibadah. Jemaat tidak mungkin membaca media tersebut di gereja karena harus mengikuti ibadah [walau kadang ada juga yang sembunyi-sembunyi membaca terutama jika khotbahnya kepanjangan dan membosankan].

Ketika media intra gereja dibawa pulang ke rumah, maka media ini harus bertarung dengan berbagai stimulus lain untuk menarik minat anggota jemaat. Pulang dari gereja, perhatian anggota jemaat biasanya sudah disibukkan dengan kegiatan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Apakah pergi ke mal, rekreasi, bersanjang ke sanak saudara atau di rumah saja. Jika tidak cukup menarik dan bermafaat bagi anggota jemaat, maka nasib media intra gereja berujung di tempat sampah atau pasar loak. Itu sebabnya, jika gereja memutuskan untuk menerbitkan media internal maka harus melakukan kajian mendalam

Continue reading →

Bahasa Jurnalistik

Oleh: Suroso
writing
Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.

Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Bahasa jurnalistik juga merupakan bahasa komu­nikasi massa sebagaimana tampak dalam koran (harian) dan majalah (mingguan). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers. Bukan karya-karya opini (artikel dan esai). Oleh karena itu jika ada wartawan yang juga ingin menulis cerpen, esai, kritik, dan opini, maka karya-karya tersebut tidak dapat digolongkan sebagai karya jurnalistik, karena karya-karya itu memiliki varian tersendiri.

Continue reading →

Teknik Penulisan Feature

Oleh: Purnawan Kristanto

Para jurnalis yang sudah lama berkecimpung di dunia jurnalistik tahu bahwa kadangkala dalam sebuah peristiwa tidak hanya berupa satu buah kejadian saja. Bisa jadi dalam sebuah peristiwa terdiri dari banyak fragmen-fragmen kejadian yang layak diberitakan. Di dalam teknik penulisan berita langsung (straight news), jurnalis akan merangkum semua fakta-fakta itu ke dalam sebuah berita lempang dan singkat. Ini biasanya terjadi pada media-media yang menuntut aktualitas yang tinggi seperti koran, radio, TV dan internet.

Namun media yang tidak begitu diikat oleh waktu seperti tabloid mingguan atau majalah bulanan, jika mereka ikut-ikutan menulis seperti ini, tentu medianya tidak akan laku karena sudah basi. Karena itulah mereka harus menggali berita dari sudut pandang yang unik dengan tema yang awet alias tak lekang oleh waktu.

Continue reading →

Jurnalisme Damai

“Berbahagialah orang yang membawa damai di antara manusia; Allah akan mengaku mereka sebagai anak-anak-Nya

Dalam ilmu junalistik, unsur konflik merupakan salah satu kriteria suatu peristiwa layak diberitakan. Setiap hari kita disuguhi berita-berita yang mengandung konflik seperti peperangan, pertikaian kelompok, kerusuhan, saling hujat, penganiayaan dan sebaginya. Memang dalam menyajikannya, para jurnalis sedapat mungkin mengikuti kaidah jurnalistik seperti keberimbangan, obyektifitas, akurasi, faktual, dan sebagainya. Akan tetapi ternyata peliputan konflik dengan kaidah jurnalistik klasik ini tidak tepat. Mengapa? Karena justru melestarikan konflik.

Teori jurnalistik klasik mengajarkan bahwa tugas para jurnalis adalah “melaporkan fakta apa adanya.” Fungsi pers semata-mata menjadi cermin atas realitas dalam masyarakat. Namun dalam dunia yang semakin peka media (a media-savy world) ini, banyak orang yang mahir mengemas fakta untuk dijadikan bahan berita oleh jurnalis. Kelompok-kelompok yang bertikai sudah itu menyadari pentingnya strategi bermedia dalam memperjuangkan kepentingan mereka.

Continue reading →