Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Youtube button

Entries Tagged 'artikel' ↓

Bongkar Ingatanmu

brain

PARA penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam.  Apalagi jika Anda sudah on-line dan koneksi internet dihitung berdasarkan waktu. Semakin lama Anda bengong, maka semakin membengkaklah tagihan internet Anda.

Untuk menyiasati hal ini, cara yang terbaik adalah Anda sudah menyiapkan tulisan ketika masih off-line. Kemudian ketika on-line, Anda tinggal mengunggahnya saja. Meski begitu, kadang-kadang ketika sedang off-line pun, mungkin Anda juga mengalami kemacetan ide. Anda tidak perlu resah. Anda dapat mencoba salah satu dari rahasia penulisan, yaitu menggunakan teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan ingatan (memori) Anda sebagai bahan tulisan. Jika Anda masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi tersendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.

Continue reading →

Mengelola Media Gereja itu Sulit

PARA trainer dalam pelatihan penulisan biasanya akan menyatakan bahwa mengelola dan meneribitkan media gampang. Tapi menurut saya, mengelola untuk media gereja itu sulit. Hal ini didasarkan pada analisis terhadap karakteristik pembaca media ini.

Sebagian besar media intra gereja diterbitkan oleh gereja-gereja yang berada di kota. Alasannya, gereja-gereja di kota memiliki sumber daya yang memungkinkan untuk penerbitan, seperti komputer, printer, kamera, percetakan, biaya, tenaga pelaksana dll. Sementara itu, bagi gereja yang berlokasi di pedesaan,–selain karena keterbatasan dana–, mereka relatif belum memerlukan media massa, karena masih terjalin keeratan hubungan pribadi di antara anggota jemaat.

Lalu bagaimana dengan karakteristik pembaca media intra gereja di perkotaan? Anggota jemaat di perkotaan biasanya memiliki waktu yang sangat terbatas. Untuk jemaat di kota besar, bahkan lebih banyak waktu yang tersita untuk kemacetan di jalan raya dan mencari tempat parkir dibandingkan waktu untuk beribadah itu sendiri. Hari Minggu juga dipakai untuk kesempatan berkumpul di antara anggota keluarga. Ada juga yang ingin menggunakan hari libur ini untuk istirahat sepuas-puasnya setelah bekerja keras selama 5-6 hari. Maka biasanya, anggota jemaat enggan berlama-lama berada di gereja. Setengah jam usai ibadah, lingkungan gereja biasanya sudah lengang. Apalagi jika gereja tersebut menyelenggarakan lebih dari empat kali kebaktian. Anggota jemaat dipaksa untuk segera meninggalkan gereja karena pengunjung untuk ‘jam main’ berikutnya sudah berdatangan.

Hal demikian turut mempengaruhi perilaku anggota jemaat dalam menggunakan media intra gereja. Media intra gereja, biasanya dibagikan di gereja sebelum atau sesudah ibadah. Jemaat tidak mungkin membaca media tersebut di gereja karena harus mengikuti ibadah [walau kadang ada juga yang sembunyi-sembunyi membaca terutama jika khotbahnya kepanjangan dan membosankan].

Ketika media intra gereja dibawa pulang ke rumah, maka media ini harus bertarung dengan berbagai stimulus lain untuk menarik minat anggota jemaat. Pulang dari gereja, perhatian anggota jemaat biasanya sudah disibukkan dengan kegiatan apa yang akan dilakukan selanjutnya. Apakah pergi ke mal, rekreasi, bersanjang ke sanak saudara atau di rumah saja. Jika tidak cukup menarik dan bermafaat bagi anggota jemaat, maka nasib media intra gereja berujung di tempat sampah atau pasar loak. Itu sebabnya, jika gereja memutuskan untuk menerbitkan media internal maka harus melakukan kajian mendalam

Continue reading →

Bekal Awal Pelayanan Literatur [4]

Oleh: Xavier Quentin Pranata

Merasa Tidak Berbakat?

Itulah kalimat yang paling sering diucapkan peserta dalam seminar tulis menulis yang saya pimpin. Saya pun dulu merasa begitu. Namun, dari berbagai biografi penulis terkenal yang saya baca, saya bisa mengambil kesimpulan, bahwa pada dasarnya, setiap orang, sedikit atau banyak, mempunyai kemampuan menulis. Saya pun sering mene­kankan bahwa ‘kemauan’ jauh lebih penting ketimbang ‘kemampuan.’ Ucapan beberapa penulis senior ini mungkin bisa melecut motivasi kita untuk menekuni pelayanan Kabar Baik lewat media literatur. Poerwadarminta, dalam bukunya ABC Karang Mengarang, mengatakan, “Sesungguhnya kecakapan mengarang itu tak lain daripada kecakapan menggunakan bahasa dengan tulisan. Sekarang karang‑mengarang atau tulis menulis sudah jadi kegiatan umum, bukan merupakan kegiatan yang luar biasa lagi.” Continue reading →

Bekal Awal Pelayanan Literatur [3]

Oleh Xavier Quentin Pranata

Anda adalah Apa yang Anda Tulis

Tujuan kita menulis, menunjukkan apa motivasi kita. Ketika saya menanyakan motivasi menulis kepada beberapa penulis yang sudah “jadi”, jawaban mereka bermacam‑macam:

“Rasanya bangga gitu kalau tulisanku bisa dibaca banyak orang,” kata teman saya yang menjadi wartawan sebuah majalah berita mingguan terkenal.

“Melihat temanku mendapat honor tulisan, aku jadi ngiler dan ingin mencoba juga,” jawab teman saya yang pernah menjabat sebagai ketua pengarah dan ketua penyunting majalah kampus.

“Dengan menjadi penulis, aku bisa ‘menampar’ orang lain lewat tulisan,” alasan teman saya lainnya.

Menjadi penulis memang bisa untuk iseng saja, membunuh waktu atau agar menjadi terkenal dan memperoleh banyak uang.

Paling tidak, itulah yang dikatakan Samuel Johnson, “Hanya orang bodoh yang bersedia menjadi penulis tanpa mengharapkan imbalan uang.”

Nathaniel Hawthorne berkata, “Tujuan akhir suatu karya tulis yang masuk akal adalah, pertama, kerja keras yang menyenangkan untuk menulis; kedua, kebanggaan keluarga dan teman‑teman; dan terakhir, uang kontan. Urutannya tidak harus seperti itu.” Bandingkan motivasi para penulis di atas dengan Dr. Robert Walker. Editor majalah Christian Life ini sebelum menulis selalu menundukkan kepala dan berdoa, “Tuhan, buatlah apa yang aku tulis berbicara langsung ke hati setiap orang tentang Yesus.”

Kita pun perlu memiliki motivasi seperti itu. Kita bisa berdoa demikian: “Tuhan, jadikanlah abjad yang mati ini agar menjadi Firman yang hidup.”

Motivasi menentukan isi tulisan Anda, karena Anda adalah apa yang Anda tulis.

Enam Saringan

Agar tulisan kita bisa menjadi Firman yang hidup dan menyentuh hati setiap orang untuk mengenal Yesus, ada enam persyaratan dasar yang harus kita penuhi.

  1. 1. Harus menyerahkan diri kepada Yesus Kristus. Tidak ada satu hal pun yang bisa menggantikannya baik itu berupa guru yang berbakat, talenta yang luar biasa, satu set Alkitab berbagai versi dan bahasa, berbagai tafsir Alkitab, konkordansi setebal bantal maupun word processor paling canggih sekalipun.
  2. 2. Harus tertarik terhadap sesama. Seorang penulis yang baik haruslah seorang yang memiliki rasa keingintahuan yang besar dan peka terhadap kebutuhan sesama.
  3. 3. Harus mengenal pesan kita. Kita harus ingat bahwa tulisan kita tidak hanya dibaca oleh orang Kristen saja, tetapi juga oleh masyarakat sekular yang membutuhkan keselamatan juga.
  4. 4. Harus bersedia mempersembahkan waktu kita. Penulis harus menyisihkan waktu untuk menulis, bukan menyisakan.
  5. 5. Harus jujur. Kita harus jujur dengan apa yang kita tulis. Seorang editor buku rohani pernah berkata, “Penulis kami harus konsisten dengan apa yang dia tulis.”
  6. 6. Harus mempunyai visi yang jelas apa yang ingin Allah kerjakan terhadap tulisan kita. Seorang penulis harus sadar bahwa tulisannya tidak akan berarti apa‑apa tanpa urapan Allah.

Bekal Awal Pelayanan Literatur [2]

Oleh: Xavier Quentin Pranata

Mengapa Harus Lewat Tulisan

Coba kita membentuk satu barisan panjang terdiri dari sekitar sepuluh orang. Kepada orang pertama, kita bisikkan kalimat berikut: “Nono lebih mencintai Nani kakak Neno daripada Nina adik None, meskipun Nina lebih cantik ketimbang Nani, karena Nani yang berambut panjang bertubuh gemuk lebih baik hatinya daripada Nina yang berambut pirang bertubuh langsing.” Sekarang, minta orang itu membisikkan kalimat pertama ke orang kedua dan seterusnya. Kemudian, minta orang terakhir untuk mengucapkan kembali kalimat di atas. Kalimatnya, tentu tidak akan sama lagi. Bahkan mungkin bercampur aduk tidak karuan. Mengapa demikian?

Berita yang disampaikan secara oral atau lisan banyak mengalami distorsi dan hambatan di tengah‑tengah perjalanannya ke arah orang yang dituju. Itulah yang kita kenal dengan istilah ‘noise.’

Karena itu, Allah menyampaikan pesan dan perintah‑Nya kepada manusia lewat tulisan yang dipahatkan di atas dua loh batu. Alkitab yang disebut “Firman” pun juga dituliskan seperti perintah Tuhan kepada Habakuk: “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh‑loh supaya orang sambil lalu dapat membacanya” (Hab. 2:2).

Di samping alasan di atas, media cetak memang memiliki keunggulan diban­dingkan media lainnya. Simak pendapat para tokoh dunia tentang literatur.

Napoleon Bonaparte:

“Senjata api dan pena adalah kekuatan‑kekuatan yang paling dahsyat di dunia. Tetapi, kekuatan pena akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan senjata api.”

Benyamin Franklin:

“Bila saja Anda memberi 26 serdadu, maka saya akan menaklukkan dunia.” Ketika ditanya, apakah yang dimaksud dengan 26 serdadu, ia menjawab, “Huruf A sampai Z.”

Martin Luther:

“Selain keselamatan dari Tuhan Yesus, maka anugerah terbesar dari Tuhan yang lain adalah Mesin Cetak.”

Oleh karena itu, paling tidak ada 10 kekuatan literatur Kristen yang sering juga disebut sebagai “Utusan Injil Tercetak”:

  1. Ia dapat pergi ke mana‑mana tanpa dilihat sebagai orang asing.
  2. Lewat pos, ia dapat masuk sampai ke tempat‑tempat di mana seorang penginjil dilarang masuk.
  3. Ia menyampaikan beritanya dengan rajin tanpa mengenal pembatasan waktu, istirahat atau cuti.
  4. Ia mempersembahkan beritanya sesuai dengan kecepatan berpikir seseorang dan menurut kesenangan pembacanya.
  5. Ia memungkinkan si pembaca mendalami berita yang sama berulang‑ulang.
  6. Ia adalah “pengkhotbah estafet” yang menyampaikan beritanya dari orang yang satu kepada orang yang lain.
  7. Ia memungkinkan si pembaca mempelajari satu bagian khusus dari berita yang menarik hatinya.
  8. Dalam bentuk buku, ia dapat memberi makanan rohani kepada mereka yang lapar berjam‑jam, bahkan berhari‑hari seperti pengkhotbah bersambung yang tidak berkeputusan.
  9. Pada umumnya tidak mahal, tetapi juga tidak kalah baik buahnya di­bandingkan cara penginjilan lainnya.

10.  Dalam waktu sejam, ia dapat dibagikan kepada lebih banyak orang daripada jumlah rata‑rata pengunjung setiap Minggu pagi.

Bekal Awal Pelayanan Literatur [1]

Honestly Speaking

Since people usually watch television to be entertained, and read magazine and newspapers

to be informed, doesn’t it make sense to inform them about your products in print?

There’s nothing quite like the printed page to tell a full product story, present all your sales benefits

and create buying desire.

Print works. Because today’s demanding consumers want to know more before they buy.

And they can’t learn very much in 15 seconds.

On‑target Reach

“We want to use print to illustrate quality. Magazines and newspapers are important to our brands

because we know our customers and they provide us with on‑target reach

- Ms Odlia Siu (H.K.), General Manager Dickson Promotion Co Ltd.

Oleh: Xavier Quentin Pranata

Kedua iklan untuk mencari iklan tersebut di atas merupakan “A message from Society of Hong Kong Publishers” yang dimuat di Fortune selama beberapa edisi. Mengapa masyarakat penerbit Hong Kong perlu memasang iklan tersebut? Menurut pendapat saya, mungkin untuk meraih kembali pangsa pasar iklan yang direbut televisi. Mungkin juga untuk memperkuat positioning-nya sebagai media yang paling tepat untuk memasang iklan. Pembeli yang bijaksana, menurut iklan itu, ingin mengetahui apa yang dibelinya secara detail sebelum mengambil keputusan. Dan media yang pas untuk menguraikan detail memang media cetak. Bukan tayangan televisi yang hanya memakan waktu 15 detik. Continue reading →

Menebarkan Garam di Media Massa

Oleh: Budi Sardjono

Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk mengenalkan agama (Kristiani) kepada pembaca di media massa.

Pemeo itu bagi para penulis kreatif bisa menjadi semacam penyadaran, bahwa mengenalkan agama tidak harus banyak mengutip ayat-ayat dari Kitab Suci. Media massa, cetak maupun elektronik, meski dikelola oleh lembaga tertentu, tetap menjadi milik publik. Meski visi dan misi media massa tersebut sudah jelas berdasar kepercayaan tertentu, namun jika sudah dilempar ke pasar, siapa pun boleh menikmati atau bahkan menolaknya. Tulisan atau sebuah tayangan di televisi dengan misi agama tertentu misalnya, bisa membuat pembaca atau penonton terkesan karena tampil tidak vulgar, tidak terkesan menggurui, namun menyentuh aspek kemanusiaan universal. Maka jangan heran bahwa banyak umat non-muslim yang “menyukai” siraman rohani yang dibawakan dai kondang KH. Zaenuddin MZ. Atau membaca tulisan karya Emha Ainun Nadjib. Sebaliknya, banyak umat non-kristiani yang menyukai tulisan Dick Hartoko, Franz Magnis-Suseno, Muji Sutrisno, dll.

Menulis artikel tentang agama sering membuat seorang penulis “mati langkah”. Sebab tidak semua media massa mau memuat artikel yang secara khusus “hanya” menonjolkan agama tertentu saja. Apalagi jika media massa tersebut memang tidak berada di bawah naungan lembaga keagamaan. Media massa umum/independen biasanya sangat hati-hati memuat tulisan tentang agama tertentu. Kecuali jika isi tulisan itu ada kaitannya dengan peristiwa tertentu (hari raya keagamaan) atau peristiwa lain yang ada benang merahnya dengan kepentingan agama tertentu. Tragedi teror gedung WTC di New York misalnya, menarik minat orang untuk tahu lebih banyak tentang Taliban. Informasi yang cepat namun akurat hanya bisa diberikan oleh penulis yang memang telah menguasai materi dan tentu saja memiliki wawasan keagamaan yang mumpuni. Tidak mungkin penulis (agama) amatir akan mampu menyajikan artikel yang jernih dan memberi informasi tinggi kepada pembaca.

Bagi para penulis kristiani banyak yang terjebak pada pandangan sempit bahwa menulis tentang agama kristiani hanya pada peristiwa Natal dan Paskah saja. Dua hari raya itu memang telah menjadi hari libur nasional, seperti halnya hari raya Idhul Fitri atau hari libur nasional lain berkaitan dengan peristiwa suci agama tertentu. Maka kepada masyarakat umum memang perlu diberi informasi yang memadai tentang hari kelahiran Yesus dan hari Kebangkitan Yesus pada malam Paskah. Dalam dua peristiwa tadi para penulis kristiani seolah saling berlomba untuk sedini mungkin membuat tulisan dan mengirimkan ke berbagai redaksi media massa.

Namun banyak penulis kristiani yang akhirnya kecewa. Mengapa? Karena tulisan mereka tidak kunjung nongol di media massa yang mereka kirimi naskah. Banyak alasan bagi redaktur untuk menolak tulisan tersebut. Salah satu pertimbangan redaksi biasanya tulisan tersebut sangat eksklusif (terlalu biblis), tidak memberi informasi yang luas dan bisa diterima oleh pembaca non-kristiani. Menulis dengan tema Natal misalnya, banyak yang terjebak hanya menyoal proses kelahiran Yesus 21 abad yang lalu. Dari perjalanan Maria dan suaminya menuju kampung halaman, ramalan para nabi yang bisa dibaca dalam Kitab Perjanjian Lama, kedatangan para malaikat dan pembunuhan bayi atas perintah kaisar Herodes. Tetapi apa implikasinya dengan kehidupan sekarang? Makna Natal dalam kekinian sering tidak dimunculkan. Padahal orang lain sering tidak pedulu dengan peristiwa masa lalu, mereka justru “menagih janji”, misalnya apa yang dilakukan oleh umat kristiani dengan adanya peristiwa Natal itu.

Hal yang sama juga terjadi saat para penulis ramai-ramai mengirim tulisan dengan tema hari raya Paskah. Peristiwa yang memang sudah mentradisi dari tahun ke tahun itu seringkali digarap apa adanya. Banyak penulis yang merasa kelebihan enerji, lalu dengan semangat 45, menggebu-gebu memfokuskan tulisan pada peristiwa Kebangkitan Tuhan Yesus. Tentu saja tidak lupa mengutip ayat-ayat dari Kitab Suci.

Dua contoh di atas mungkin agak ekstrim. Tetapi itulah kenyataan yang dihadapi para redaktur media massa cetak (koran, majalah, tabloid). Dari tahun ke tahun mereka kebanjiran naskah yang masuk kategori klise, mengulang-ulang dan tidak memberi wawasan baru bagi pembaca.

Menulis tentang agama (kristiani), tidak mungkin setengah-setengah atau dengan modal pas-pasan. Minimal mereka, para penulis, paham benar tentang theologi, filsafat agama, tafsir Kitab Suci, dll. Tanpa modal yang memadai, maka yang akan muncul hanyalah kulit, tidak ada sari patinya. Beda halnya jika kita mau menulis tentang “manusia yang beragama kristiani”. Jadi harus dibedakan antara penulisan tentang agama dan penulisan tentang manusia beragama. Tema yang kedua ini jauh lebih “mudah” digarap. Meski begitu, penulisnya perlu juga punya basic wawasan agama yang kuat. Tidak cukup tiap Minggu ke gereja, mendengar kotbah, lalu merasa punya modal yang memadai.

Menulis tentang “manusia beragama kristiani” itu pun harus jelas misinya. Bisa saja tentang kesaksian iman, kesaksian hidup selaku umat kristiani, pewartaan iman, penginjilan atau segi kemanusiaan nara sumber. Tergantung dari sudut mana seorang penulis akan membidikkan penanya. Masing-masing kategori bisa digarap sesuai sudut pandang seorang penulis (reporter).

Modal di atas, bagi penulis kristiani, belum bisa dianggap cukup. Masih ada modal lagi yang perlu dimiliki, yakni relasi dan kemampuan bernegosiasi dengan para redaktur. Seperti saya katakan di atas, tidak semua media massa mau memuat tulisan tentang suatu agama jika tidak dianggal relevan dengan sikon yang ada. Namun dengan kiat-kiat tertentu, dengan mengedepankan kualitas tulisan, tidak jarang para redaktur justru membutuhkan tulisan yang khas tersebut. Mungkin saja dengan pertimbangan memperluas pangsa pasar, media massa tertentu  mau memuat tulisan tentang agama kristiani karena berharap umat kristiani mau membacanya. Terkadang faktor non-redaksional semacam itu bisa dikompromikan antara redaktur dan marketing.

Di tengah iklim kehidupan umat beragama di Indonesia yang sering mengalami “gesekan”, maka penulisan tentang agama kristiani selalu diupayakan tidak provokatif atau terkesan “menginjili”, tetapi lebih ditekankan pada semangat membangun kerukunan antar umat beragama, perdamaian, membangun harapan akan masa depan yang lebih baik, tidak membakar emosi dan menyinggung perasaan umat beragama lain. Dan semua itu selalu berlandaskan Kasih.

Bagi saya, menterjemahkan “Kasih” jauh lebih penting daripada mengedepankan teks atau kutipan ayat Kitab Suci. Kasih jika dijabarkan dengan berbagai cara justru lebih mudah diterima berbagai kalangan dibanding kita terlalu banyak “menyodorkan” teks Kitab Suci. Kasih bisa kita masukkan ke dalam puisi, cerpen, novel, feature atau bentuk tulisan lain. Dan itu bisa dimuat di berbagai media massa tanpa didahului rasa curiga. Kecuali jika kita memang menulis di media khusus (kristiani), pembaca khusus, maka pertimbangan tadi bisa diabaikan. Meski itupun bukan jaminan bahwa pembaca senang dengan tulisan kita.

Di tengah pesta pora media massa dengan aneka warna, sebenarnya hal itu sangat menguntungkan bagi para penulis kristiani. Mereka lebih punya banyak kesempatan untuk menebar “garam” di situ. Tentu saja tidak asal menebar, namun terlebih dahulu mencampur garam dengan formula lain, sehingga keasinannya tidak terlalu mencolok, namun justru membuat penikmatnya merasa memperoleh kesegaran. Itulah tantangan namun sekaligus harapan bagi kita semua.

Media Intra Gereja [3]

Oleh: Xavier Quentin Pranata

Ayo Berburu Tulisan

BuletinUntuk memperoleh bahan tulisan, ada beberapa cara yang bisa kita lakukan. Pertama, di dalam buletin, kita tuliskan bahwa kita memberi kesempatan bagi pembaca untuk menulis. Namun, kita harus konsekuen, jika kita kebanjiran naskah, dan sebagian besar naskah itu tidak layak muat, kita tidak boleh menggerutu. Bukankah salah satu tujuan diterbitkannya buletin adalah untuk menjalin komunikasi antar pengasuh dan pembaca.

Kedua, sebaliknya, kalau tidak ada naskah masuk, dekati orang‑ orang yang bisa menulis. Biasanya, orang yang kita temui secara pribadi merasa mendapat kehormatan dan bersedia mengirimkan tulisan. Tetapi, jangan melupakan yang satu ini: memberi tenggat atau deadline.

Ketiga, bagi orang‑orang yang sibuk, misalnya gembala sidang atau penatua, Anda bisa meminta kaset khotbahnya atau merekamnya sendiri. Transfer dan jadikan tulisan yang menarik. Atau, kalau memungkinkan, wawancarai beliau.

Uang yang Kadang Membuat Meriang

“Banyak orang melihat uang sebagai hambatan nomor satu untuk memulai pelayanan literatur,” ujar David Mehlis di Interlit edisi April 1997 lalu. Karena itu, menurutnya, Cook Communications Ministries International (CCMI), seringkali menerima permintaan dana dari yayasan/lembaga Kristen yang ingin terjun di bidang penerbitan. Masalah dana memang masalah kita semua. Namun, uang bukanlah sega­lanya. “Secara pribadi,” ujar David lagi, “saya tidak percaya bahwa kurangnya uang akan menghambat orang yang memiliki konsep yang baik. Visi, kecerdasan dan kerja keras merupakan bahan terbaik untuk suatu usaha.” Penerbit yang mulai dengan sedikit uang dan belajar untuk menerapkan prioritas cenderung untuk berhasil ketimbang yang banyak uang tetapi tidak bisa menentukan skala prioritas penggunaan dana itu.

Continue reading →

Media Intra Gereja [2]

Oleh: Xavier Quentin Pranata

Jadwal Terbit

Kalau warta gereja/jemaat biasanya terbit seminggu sekali (karena terikat waktu), buletin gereja tentunya lebih lama periodenya (karena tidak terikat waktu). Penentuan jadwal terbit ini tergantung pada berapa banyak orang yang mau menanganinya dan berapa dana yang dibutuhkan.

Makin sedikit orang yang mau terlibat dalam pelayanan ini dan makin sedikit dana yang tersedia, makin tipis buletin kita dan makin jarang terbitnya. Demikian juga sebaliknya. Yang terpenting justru konsistensinya!

Setelah jadwal terbit ditentukan, kita perlu membuat prosedur kerja yang baik dan tenggat bagi setiap tahap‑tahap kerja. “Bagaimana kalau saya melakukan pekerjaan itu sendiri?” sayup‑ sayup saya mendengar pertanyaan itu dari peserta. Orang yang bekerja sendiri justru butuh prosedur yang baik dan deadline yang ketat. Mengapa? Karena kalau kita bekerja sendirian, kita cenderung berkata, “Ah kalau tidak selesai sekarang, besok toh masih ada waktu.” Hal semacam ini harus kita hindari. Pepatah Inggris mengatakan, “Never put off until tomorrow what you can do today!” Ya. Jangan menunda sampai besok apa yang bisa kita lakukan hari ini. Kalau tidak, buletin kita terlambat hadir.

Tubuh yang Ideal

Untuk memudahkan kita, sebelum kita menentukan format, ketebalan dan desain isi buletin, kita perlu mengumpulkan sebanyak mungkin buletin gereja yang sudah ada. Dari situ kita bisa memperoleh gagasan‑gagasan baru untuk mencari bentuk dan isi yang pas bagi kondisi jemaat di mana kita melayani.

Hal‑hal yang perlu kita perhatikan:

  1. Keajegan (konsistensi).
  2. Pemilihan jenis huruf yang pas.
  3. Pemakaian warna yang bervariasi namun serasi.
  4. Logo yang unik.
  5. Pemberian nama rubrik yang menarik.
  6. Ilustrasi, grafik atau foto yang jelas dan tajam.

Mati Hidupnya Penerbitan

Hidup matinya penerbitan pers umum biasanya ditentukan oleh tiga hal: redaksi, sirkulasi, advertensi. J. William Click dan Russel N. Baird di dalam buku mereka Magazine Editing and Production, mengatakan, “Majalah berhasil jika dia mewakili gagasan yang tepat pada saat yang tepat, memberikan informasi atau pelayanan editorial yang cocok yang menarik sejumlah pembaca potensial yang pada gilirannya menarik sejumlah pemasang iklan.” Karena itu, menurut mereka, majalah yang berhasil mengharapkan persaingan yang akan mencoba melakukan pelayanan yang sama dan memperoleh pemasukan dari iklan.

“Majalah gagal,” ujar mereka lagi, “karena kurangnya alasan editorial untuk eksis, kurangnya pemasukan iklan, atau kurangnya pengetahuan di bidang majalah secara umum dan persaingan.” Edmund Wilson juga menyatakan bahwa majalah mirip dengan organisme, yang bertumbuh dewasa, akhirnya tua, mengalami penurunan kesehatan dan akhirnya mati.”

Sedangkan hidup matinya penerbitan pers khusus (baca gerejawi) biasanya ditentukan oleh tiga hal: redaksi, naskah dan dana. Di Indonesia, hal ini amat mempri­hatinkan. Banyak penerbitan khusus yang tidak dikelola secara profesional.

Di dalam acara “Lokakarya Peningkatan di Bidang Jurnalistik Penerbitan Khusus” pada 23‑26 Februari 1997 lalu, di Hotel Santika, Semarang, disebutkan bahwa jumlah penerbitan khusus yang berizin jumlahnya 2327 buah (tahun 1995), tetapi yang bisa tetap berjalan hanya separuhnya. Itu pun kembang kempis. Bahkan di dalam acara pengelola penerbitan khusus yang diundang hanya 30 buah, termasuk BAHANA. Ketiga puluh penerbitan itu yang dianggap eksis.

Manusia Adalah Aset Sesungguhnya

Menurutku, sumber masalah utama kegagalan suatu majalah adalah kesediaan dan kesiapan SDM. Akuntan tidak pernah memasukkan orang sebagai aset karena alasan sederhana: definisinya tidak cocok. Aset selalu didefinisikan sebagai nilai likuidasi (nilai finansial). “Pernahkah Anda membayar hutang Anda yang menumpuk dengan suami/isteri Anda?” tanya Sal Marino dalam buku Business Magazine Publishing. Hal ini jelas tidak bisa terjadi karena aset yang dapat menceraikan Anda bukanlah aset. Anda pun tentu tidak senang dengan karyawan yang keluar sesuai kehendaknya sendiri. Karena hal ini, Sal Marino lebih senang memasukkan orang sebagai modal investasi. Banyak laporan tahunan CEO (Chief Executive Officer/Direktur Utama) kepada para pemegang saham yang membuat komentar seperti ini: “Aset terbesar kami adalah manusia… manusia yang naik dan turun lift setiap hari.” Oleh sebab itu di dalam lokakarya/seminar jurnalistik/penerbitan semacam ini, aku senantiasa mengulang‑ulang kalimat ini: “Lebih baik mempunyai sedikit staf redaksi yang mau bekerja daripada banyak personal namun malas bekerja.” Idealnya memang orang yang mau sekaligus mampu. Orang semacam ini langka!

Media Intra Gereja [1]

Oleh: Xavier Quentin Pranata

“Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia.” Ucapan itu makin sering kita dengar sekarang. Di tengah‑tengah maraknya media massa, baik cetak maupun elektronik, apakah gereja sudah memiliki media yang bisa dipakai sebagai ajang edukasi, informasi, komunikasi dan rekreasi antaranggota jemaat? Kalau sudah, apakah media yang sering disebut media intragereja ini sudah ditangani secara profesional? Jika belum, bagaimana kita memulainya? Apa saja kendalanya? Bagaimana mengatasi masalah itu? Bagaimana kita bisa berperan dalam pelayanan “di balik layar” ini? Apa dampaknya bagi diri kita sendiri maupun gereja tempat kita berjemaat?

Pentingnya Media Intragereja

Komunikasi satu arah (khotbah) merupakan komunikasi paling pokok di banyak gereja. Namun, dengan makin membengkaknya jumlah jemaat, apakah komunikasi ini cukup memadai? Bagaimana dengan kehidupan sehari‑hari jemaat yang lebih sering berada di luar gereja ketimbang di gereja? Bagaimana jika jemaat sakit dan tidak bisa ke gereja? Bagaimana mereka bisa mengikuti perkembangan gerejanya? Di sini media intragereja mengambil peranan yang cukup penting. Bukan untuk menggantikan khotbah, tetapi justru melengkapi pelayanan yang tidak bisa disampaikan secara lisan.

Continue reading →