Oleh Xavier Quentin Pranata
Anda adalah Apa yang Anda Tulis
Tujuan kita menulis, menunjukkan apa motivasi kita. Ketika saya menanyakan motivasi menulis kepada beberapa penulis yang sudah “jadi”, jawaban mereka bermacam‑macam:
“Rasanya bangga gitu kalau tulisanku bisa dibaca banyak orang,” kata teman saya yang menjadi wartawan sebuah majalah berita mingguan terkenal.
“Melihat temanku mendapat honor tulisan, aku jadi ngiler dan ingin mencoba juga,” jawab teman saya yang pernah menjabat sebagai ketua pengarah dan ketua penyunting majalah kampus.
“Dengan menjadi penulis, aku bisa ‘menampar’ orang lain lewat tulisan,” alasan teman saya lainnya.
Menjadi penulis memang bisa untuk iseng saja, membunuh waktu atau agar menjadi terkenal dan memperoleh banyak uang.
Paling tidak, itulah yang dikatakan Samuel Johnson, “Hanya orang bodoh yang bersedia menjadi penulis tanpa mengharapkan imbalan uang.”
Nathaniel Hawthorne berkata, “Tujuan akhir suatu karya tulis yang masuk akal adalah, pertama, kerja keras yang menyenangkan untuk menulis; kedua, kebanggaan keluarga dan teman‑teman; dan terakhir, uang kontan. Urutannya tidak harus seperti itu.” Bandingkan motivasi para penulis di atas dengan Dr. Robert Walker. Editor majalah Christian Life ini sebelum menulis selalu menundukkan kepala dan berdoa, “Tuhan, buatlah apa yang aku tulis berbicara langsung ke hati setiap orang tentang Yesus.”
Kita pun perlu memiliki motivasi seperti itu. Kita bisa berdoa demikian: “Tuhan, jadikanlah abjad yang mati ini agar menjadi Firman yang hidup.”
Motivasi menentukan isi tulisan Anda, karena Anda adalah apa yang Anda tulis.
Enam Saringan
Agar tulisan kita bisa menjadi Firman yang hidup dan menyentuh hati setiap orang untuk mengenal Yesus, ada enam persyaratan dasar yang harus kita penuhi.
- 1. Harus menyerahkan diri kepada Yesus Kristus. Tidak ada satu hal pun yang bisa menggantikannya baik itu berupa guru yang berbakat, talenta yang luar biasa, satu set Alkitab berbagai versi dan bahasa, berbagai tafsir Alkitab, konkordansi setebal bantal maupun word processor paling canggih sekalipun.
- 2. Harus tertarik terhadap sesama. Seorang penulis yang baik haruslah seorang yang memiliki rasa keingintahuan yang besar dan peka terhadap kebutuhan sesama.
- 3. Harus mengenal pesan kita. Kita harus ingat bahwa tulisan kita tidak hanya dibaca oleh orang Kristen saja, tetapi juga oleh masyarakat sekular yang membutuhkan keselamatan juga.
- 4. Harus bersedia mempersembahkan waktu kita. Penulis harus menyisihkan waktu untuk menulis, bukan menyisakan.
- 5. Harus jujur. Kita harus jujur dengan apa yang kita tulis. Seorang editor buku rohani pernah berkata, “Penulis kami harus konsisten dengan apa yang dia tulis.”
- 6. Harus mempunyai visi yang jelas apa yang ingin Allah kerjakan terhadap tulisan kita. Seorang penulis harus sadar bahwa tulisannya tidak akan berarti apa‑apa tanpa urapan Allah.
0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment