Oleh: Budi Sardjono
Banyak jalan menuju Roma. Banyak cara untuk mengenalkan agama (Kristiani) kepada pembaca di media massa.
Pemeo itu bagi para penulis kreatif bisa menjadi semacam penyadaran, bahwa mengenalkan agama tidak harus banyak mengutip ayat-ayat dari Kitab Suci. Media massa, cetak maupun elektronik, meski dikelola oleh lembaga tertentu, tetap menjadi milik publik. Meski visi dan misi media massa tersebut sudah jelas berdasar kepercayaan tertentu, namun jika sudah dilempar ke pasar, siapa pun boleh menikmati atau bahkan menolaknya. Tulisan atau sebuah tayangan di televisi dengan misi agama tertentu misalnya, bisa membuat pembaca atau penonton terkesan karena tampil tidak vulgar, tidak terkesan menggurui, namun menyentuh aspek kemanusiaan universal. Maka jangan heran bahwa banyak umat non-muslim yang “menyukai” siraman rohani yang dibawakan dai kondang KH. Zaenuddin MZ. Atau membaca tulisan karya Emha Ainun Nadjib. Sebaliknya, banyak umat non-kristiani yang menyukai tulisan Dick Hartoko, Franz Magnis-Suseno, Muji Sutrisno, dll.
Menulis artikel tentang agama sering membuat seorang penulis “mati langkah”. Sebab tidak semua media massa mau memuat artikel yang secara khusus “hanya” menonjolkan agama tertentu saja. Apalagi jika media massa tersebut memang tidak berada di bawah naungan lembaga keagamaan. Media massa umum/independen biasanya sangat hati-hati memuat tulisan tentang agama tertentu. Kecuali jika isi tulisan itu ada kaitannya dengan peristiwa tertentu (hari raya keagamaan) atau peristiwa lain yang ada benang merahnya dengan kepentingan agama tertentu. Tragedi teror gedung WTC di New York misalnya, menarik minat orang untuk tahu lebih banyak tentang Taliban. Informasi yang cepat namun akurat hanya bisa diberikan oleh penulis yang memang telah menguasai materi dan tentu saja memiliki wawasan keagamaan yang mumpuni. Tidak mungkin penulis (agama) amatir akan mampu menyajikan artikel yang jernih dan memberi informasi tinggi kepada pembaca.
Bagi para penulis kristiani banyak yang terjebak pada pandangan sempit bahwa menulis tentang agama kristiani hanya pada peristiwa Natal dan Paskah saja. Dua hari raya itu memang telah menjadi hari libur nasional, seperti halnya hari raya Idhul Fitri atau hari libur nasional lain berkaitan dengan peristiwa suci agama tertentu. Maka kepada masyarakat umum memang perlu diberi informasi yang memadai tentang hari kelahiran Yesus dan hari Kebangkitan Yesus pada malam Paskah. Dalam dua peristiwa tadi para penulis kristiani seolah saling berlomba untuk sedini mungkin membuat tulisan dan mengirimkan ke berbagai redaksi media massa.
Namun banyak penulis kristiani yang akhirnya kecewa. Mengapa? Karena tulisan mereka tidak kunjung nongol di media massa yang mereka kirimi naskah. Banyak alasan bagi redaktur untuk menolak tulisan tersebut. Salah satu pertimbangan redaksi biasanya tulisan tersebut sangat eksklusif (terlalu biblis), tidak memberi informasi yang luas dan bisa diterima oleh pembaca non-kristiani. Menulis dengan tema Natal misalnya, banyak yang terjebak hanya menyoal proses kelahiran Yesus 21 abad yang lalu. Dari perjalanan Maria dan suaminya menuju kampung halaman, ramalan para nabi yang bisa dibaca dalam Kitab Perjanjian Lama, kedatangan para malaikat dan pembunuhan bayi atas perintah kaisar Herodes. Tetapi apa implikasinya dengan kehidupan sekarang? Makna Natal dalam kekinian sering tidak dimunculkan. Padahal orang lain sering tidak pedulu dengan peristiwa masa lalu, mereka justru “menagih janji”, misalnya apa yang dilakukan oleh umat kristiani dengan adanya peristiwa Natal itu.
Hal yang sama juga terjadi saat para penulis ramai-ramai mengirim tulisan dengan tema hari raya Paskah. Peristiwa yang memang sudah mentradisi dari tahun ke tahun itu seringkali digarap apa adanya. Banyak penulis yang merasa kelebihan enerji, lalu dengan semangat 45, menggebu-gebu memfokuskan tulisan pada peristiwa Kebangkitan Tuhan Yesus. Tentu saja tidak lupa mengutip ayat-ayat dari Kitab Suci.
Dua contoh di atas mungkin agak ekstrim. Tetapi itulah kenyataan yang dihadapi para redaktur media massa cetak (koran, majalah, tabloid). Dari tahun ke tahun mereka kebanjiran naskah yang masuk kategori klise, mengulang-ulang dan tidak memberi wawasan baru bagi pembaca.
Menulis tentang agama (kristiani), tidak mungkin setengah-setengah atau dengan modal pas-pasan. Minimal mereka, para penulis, paham benar tentang theologi, filsafat agama, tafsir Kitab Suci, dll. Tanpa modal yang memadai, maka yang akan muncul hanyalah kulit, tidak ada sari patinya. Beda halnya jika kita mau menulis tentang “manusia yang beragama kristiani”. Jadi harus dibedakan antara penulisan tentang agama dan penulisan tentang manusia beragama. Tema yang kedua ini jauh lebih “mudah” digarap. Meski begitu, penulisnya perlu juga punya basic wawasan agama yang kuat. Tidak cukup tiap Minggu ke gereja, mendengar kotbah, lalu merasa punya modal yang memadai.
Menulis tentang “manusia beragama kristiani” itu pun harus jelas misinya. Bisa saja tentang kesaksian iman, kesaksian hidup selaku umat kristiani, pewartaan iman, penginjilan atau segi kemanusiaan nara sumber. Tergantung dari sudut mana seorang penulis akan membidikkan penanya. Masing-masing kategori bisa digarap sesuai sudut pandang seorang penulis (reporter).
Modal di atas, bagi penulis kristiani, belum bisa dianggap cukup. Masih ada modal lagi yang perlu dimiliki, yakni relasi dan kemampuan bernegosiasi dengan para redaktur. Seperti saya katakan di atas, tidak semua media massa mau memuat tulisan tentang suatu agama jika tidak dianggal relevan dengan sikon yang ada. Namun dengan kiat-kiat tertentu, dengan mengedepankan kualitas tulisan, tidak jarang para redaktur justru membutuhkan tulisan yang khas tersebut. Mungkin saja dengan pertimbangan memperluas pangsa pasar, media massa tertentu mau memuat tulisan tentang agama kristiani karena berharap umat kristiani mau membacanya. Terkadang faktor non-redaksional semacam itu bisa dikompromikan antara redaktur dan marketing.
Di tengah iklim kehidupan umat beragama di Indonesia yang sering mengalami “gesekan”, maka penulisan tentang agama kristiani selalu diupayakan tidak provokatif atau terkesan “menginjili”, tetapi lebih ditekankan pada semangat membangun kerukunan antar umat beragama, perdamaian, membangun harapan akan masa depan yang lebih baik, tidak membakar emosi dan menyinggung perasaan umat beragama lain. Dan semua itu selalu berlandaskan Kasih.
Bagi saya, menterjemahkan “Kasih” jauh lebih penting daripada mengedepankan teks atau kutipan ayat Kitab Suci. Kasih jika dijabarkan dengan berbagai cara justru lebih mudah diterima berbagai kalangan dibanding kita terlalu banyak “menyodorkan” teks Kitab Suci. Kasih bisa kita masukkan ke dalam puisi, cerpen, novel, feature atau bentuk tulisan lain. Dan itu bisa dimuat di berbagai media massa tanpa didahului rasa curiga. Kecuali jika kita memang menulis di media khusus (kristiani), pembaca khusus, maka pertimbangan tadi bisa diabaikan. Meski itupun bukan jaminan bahwa pembaca senang dengan tulisan kita.
Di tengah pesta pora media massa dengan aneka warna, sebenarnya hal itu sangat menguntungkan bagi para penulis kristiani. Mereka lebih punya banyak kesempatan untuk menebar “garam” di situ. Tentu saja tidak asal menebar, namun terlebih dahulu mencampur garam dengan formula lain, sehingga keasinannya tidak terlalu mencolok, namun justru membuat penikmatnya merasa memperoleh kesegaran. Itulah tantangan namun sekaligus harapan bagi kita semua.
0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment