Oleh: Xavier Quentin Pranata
Mengapa Harus Lewat Tulisan
Coba kita membentuk satu barisan panjang terdiri dari sekitar sepuluh orang.
Kepada orang pertama, kita bisikkan kalimat berikut: “Nono lebih mencintai Nani kakak Neno daripada Nina adik None, meskipun Nina lebih cantik ketimbang Nani, karena Nani yang berambut panjang bertubuh gemuk lebih baik hatinya daripada Nina yang berambut pirang bertubuh langsing.” Sekarang, minta orang itu membisikkan kalimat pertama ke orang kedua dan seterusnya. Kemudian, minta orang terakhir untuk mengucapkan kembali kalimat di atas. Kalimatnya, tentu tidak akan sama lagi. Bahkan mungkin bercampur aduk tidak karuan. Mengapa demikian?
Berita yang disampaikan secara oral atau lisan banyak mengalami distorsi dan hambatan di tengah‑tengah perjalanannya ke arah orang yang dituju. Itulah yang kita kenal dengan istilah ‘noise.’
Karena itu, Allah menyampaikan pesan dan perintah‑Nya kepada manusia lewat tulisan yang dipahatkan di atas dua loh batu. Alkitab yang disebut “Firman” pun juga dituliskan seperti perintah Tuhan kepada Habakuk: “Tuliskanlah penglihatan itu dan ukirkanlah itu pada loh‑loh supaya orang sambil lalu dapat membacanya” (Hab. 2:2).
Di samping alasan di atas, media cetak memang memiliki keunggulan dibandingkan media lainnya. Simak pendapat para tokoh dunia tentang literatur.
Napoleon Bonaparte:
“Senjata api dan pena adalah kekuatan‑kekuatan yang paling dahsyat di dunia. Tetapi, kekuatan pena akan bertahan lebih lama dibandingkan dengan senjata api.”
Benyamin Franklin:
“Bila saja Anda memberi 26 serdadu, maka saya akan menaklukkan dunia.” Ketika ditanya, apakah yang dimaksud dengan 26 serdadu, ia menjawab, “Huruf A sampai Z.”
Martin Luther:
“Selain keselamatan dari Tuhan Yesus, maka anugerah terbesar dari Tuhan yang lain adalah Mesin Cetak.”
Oleh karena itu, paling tidak ada 10 kekuatan literatur Kristen yang sering juga disebut sebagai “Utusan Injil Tercetak”:
- Ia dapat pergi ke mana‑mana tanpa dilihat sebagai orang asing.
- Lewat pos, ia dapat masuk sampai ke tempat‑tempat di mana seorang penginjil dilarang masuk.
- Ia menyampaikan beritanya dengan rajin tanpa mengenal pembatasan waktu, istirahat atau cuti.
- Ia mempersembahkan beritanya sesuai dengan kecepatan berpikir seseorang dan menurut kesenangan pembacanya.
- Ia memungkinkan si pembaca mendalami berita yang sama berulang‑ulang.
- Ia adalah “pengkhotbah estafet” yang menyampaikan beritanya dari orang yang satu kepada orang yang lain.
- Ia memungkinkan si pembaca mempelajari satu bagian khusus dari berita yang menarik hatinya.
- Dalam bentuk buku, ia dapat memberi makanan rohani kepada mereka yang lapar berjam‑jam, bahkan berhari‑hari seperti pengkhotbah bersambung yang tidak berkeputusan.
- Pada umumnya tidak mahal, tetapi juga tidak kalah baik buahnya dibandingkan cara penginjilan lainnya.
10. Dalam waktu sejam, ia dapat dibagikan kepada lebih banyak orang daripada jumlah rata‑rata pengunjung setiap Minggu pagi.
0 comments ↓
There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.
Leave a Comment