Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Youtube button

Bekal Awal Pelayanan Literatur [1]

Honestly Speaking

Since people usually watch television to be entertained, and read magazine and newspapers

to be informed, doesn’t it make sense to inform them about your products in print?

There’s nothing quite like the printed page to tell a full product story, present all your sales benefits

and create buying desire.

Print works. Because today’s demanding consumers want to know more before they buy.

And they can’t learn very much in 15 seconds.

On‑target Reach

“We want to use print to illustrate quality. Magazines and newspapers are important to our brands

because we know our customers and they provide us with on‑target reach

- Ms Odlia Siu (H.K.), General Manager Dickson Promotion Co Ltd.

Oleh: Xavier Quentin Pranata

Kedua iklan untuk mencari iklan tersebut di atas merupakan “A message from Society of Hong Kong Publishers” yang dimuat di Fortune selama beberapa edisi. Mengapa masyarakat penerbit Hong Kong perlu memasang iklan tersebut? Menurut pendapat saya, mungkin untuk meraih kembali pangsa pasar iklan yang direbut televisi. Mungkin juga untuk memperkuat positioning-nya sebagai media yang paling tepat untuk memasang iklan. Pembeli yang bijaksana, menurut iklan itu, ingin mengetahui apa yang dibelinya secara detail sebelum mengambil keputusan. Dan media yang pas untuk menguraikan detail memang media cetak. Bukan tayangan televisi yang hanya memakan waktu 15 detik.

Jacob Utama, pemimpin redaksi Kompas, dalam Kongres SGP (Serikat Grafika Pers) ke-5 beberapa tahun lalu, mengatakan, setelah lebih dari dua dasa warsa media cetak mundur dalam penghasilan iklan dan jumlah tirasnya, sejak beberapa tahun terakhir, ada arus balik. Sedang terjadi di Perancis, Jerman, Amerika Serikat dan berbagai negara lainnya apa yang mereka katakan sebagai kebangkitan kembali media cetak. Renaissance suratkabar dan majalah.

Apa rahasia renaissance itu? Salah satunya, pers dibuat lebih dekat dengan pembacanya, sehingga muncul istilah “friendly newspaper”. Untuk lebih dekat dengan pembaca, banyak cara yang diambil. Tetapi, pendekatan manusiawilah yang paling ditonjolkan saat ini. Di samping itu, memusatkan perhatian pada kelompok pembaca tertentu makin trendy belakangan ini. Bagi media cetak agamawi (mca), khususnya media cetak Kristen, misalnya BAHANA, jelas jemaat gereja merupakan pembaca utamanya. Di tengan globalisasi informasi ini, di mana kita bisa memperoleh informasi yang melimpah dan beragam, maka posisi media alternatif (baca Kristiani) menjadi pilihan yang smart. Pangsa pasarnya memang kecil, tetapi justru karena kecil itulah dia menjadi loyal. John Naisbitt di dalam buku Global Paradox mengatakan, “Semakin besar dan semakin terbuka ekonomi dunia, perusahaan‑ perusahaan berukuran kecil dan sedang akan semakin mendominasi.”

Semakin kecil media alternatif yang kita tangani, semakin fokus penanganannya. Al Ries, pakar positioning, di dalam salah satu tulisannya di Bisnis Indonesia mengatakan, bahwa hanya perusahaan yang fokus saja yang berhasil dewasa ini. Di dalam buku 36 Kasus Pemasaran Asli Indonesia (Elex Media Komputindo, 1996) Hermawan Kartajaya menceritakan pengalamannya ketika dia berkunjung ke Kota Atlantik. Di kota judi kedua setelah Las Vegas ini, dia menginap di hotel kasino Claridge. Yang menarik hatinya, hotel itu memiliki positioning statement “Because smaller is friendlier.” Kasinonya pun diberi motto “a friendlier casino.”

Media alternatif (baca media intragereja) adalah media yang ramah dengan pembacanya (baca jemaat). Jika kita setia dalam perkara yang kecil ini (menulis di media intragereja atau bahkan mengelolanya), maka Tuhan akan memberikan tanggung jawab dalam perkara yang lebih besar kepada kita (Matius 25:21; Lukas 16:10).

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.