Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Youtube button
  • Festival

    FPPK
  • KAMUS


    Indonesia English
  • Recent Posts

    • there are only two sure means of forgetfulness known to man: work and drink, and, of the two, work is the more economical.

  • Album Foto

  • Hit Counter

  • Pesan

  • Follow Me

Purnawan Kristanto

All about writing minister

Media Intra Gereja [1]

Oleh: Xavier Quentin Pranata

“Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia.” Ucapan itu makin sering kita dengar sekarang. Di tengah‑tengah maraknya media massa, baik cetak maupun elektronik, apakah gereja sudah memiliki media yang bisa dipakai sebagai ajang edukasi, informasi, komunikasi dan rekreasi antaranggota jemaat? Kalau sudah, apakah media yang sering disebut media intragereja ini sudah ditangani secara profesional? Jika belum, bagaimana kita memulainya? Apa saja kendalanya? Bagaimana mengatasi masalah itu? Bagaimana kita bisa berperan dalam pelayanan “di balik layar” ini? Apa dampaknya bagi diri kita sendiri maupun gereja tempat kita berjemaat?

Pentingnya Media Intragereja

Komunikasi satu arah (khotbah) merupakan komunikasi paling pokok di banyak gereja. Namun, dengan makin membengkaknya jumlah jemaat, apakah komunikasi ini cukup memadai? Bagaimana dengan kehidupan sehari‑hari jemaat yang lebih sering berada di luar gereja ketimbang di gereja? Bagaimana jika jemaat sakit dan tidak bisa ke gereja? Bagaimana mereka bisa mengikuti perkembangan gerejanya? Di sini media intragereja mengambil peranan yang cukup penting. Bukan untuk menggantikan khotbah, tetapi justru melengkapi pelayanan yang tidak bisa disampaikan secara lisan.

Bermacam Jenis Media Intragereja

Di banyak gereja yang saya kunjungi, selain komunikasi satu arah (khotbah di mimbar), sekarang ini makin banyak media intragereja yang muncul.

1. Warta lisan dan warta tertulis yang seringkali disebut Warta Gereja atau Warta Jemaat. Warta Gereja biasanya muncul seminggu sekali dengan jumlah halaman antara 8 sampai 12 halaman. Biasanya, Warta Gereja berisi renungan singkat sesuai dengan tema khotbah minggu yang bersangkutan; jadwal tugas pendeta, majelis, penatua, pengerja dan aktivis; agenda kegiatan gereja, laporan keuangan dan sebagainya.

2. Buletin Gereja. Karena lebih tebal dari Warta Gereja dan isinya lebih luas dari sekadar renungan singkat dan agenda kegiatan, maka buletin gereja biasanya terbit satu bulan sekali, dua bulan sekali atau bahkan tiga bulan sekali. Di buletin gereja kita sudah mengenal rubrik‑rubrik yang jumlahnya tergantung pada jumlah halaman dan pengasuhnya. Makin tebal buletin kita, makin banyak rubrik yang kita masukkan ke dalamnya dan makin rumit pengerjaannya.

3. Newsletter. Ada gereja‑gereja tertentu yang mengeluarkan newsletter atau bisa disebut juga laporan berkala. Newsletter yang dikeluarkan gereja biasanya dipakai untuk media informasi dan komunikasi antara gereja dengan ‘alumninya’ dan/atau pihak‑pihak tertentu yang erat hubungannya dengan gereja yang bersangkutan. Anggota gereja yang sudah pindah domisilinya keluar kota atau bahkan keluar negeri masih bisa mengikuti perkembangan gerejanya dengan membaca newsletter ini.

4. Brosur, poster, baliho, spanduk. Di dalam memperingati hari‑hari raya Kristen, misalnya saja, Paskah dan Natal, gereja sering membuat publikasi. Brosur, poster, baliho dan spanduk merupakan jenis publikasi yang paling sering dipakai.

5. Radio dan televisi. Dengan makin berkembangnya media elektronik, mulai ada gereja yang memanfaatkannya. Sayangnya, ada gereja yang sudah punya radio belasan tahun yang lalu, justru dicabut izinnya karena tidak dikelola secara profesional.

Pada kesempatan kali ini, saya lebih menekankan pada buletin gereja.

Buletin Gereja

Apakah Anda ingin mengelola buletin gereja? Anda ingin menerbitkannya secara teratur? Bagaimana mengawalinya? Berapa staf redaksi yang diperlukan? Berapa dana yang dibutuhkan? Dan, yang terpenting, bagaimana mengelolanya secara profesional?

Jika Anda ingin memulai pelayanan di bidang ini, saran‑saran di bawah ini mungkin bisa diterapkan.

“Perjalanan seribu mil dimulai dengan langkah pertama,” ujar filsuf Cina. Karena itu, langkah pertama kita amat menentukan. Langkah pertama untuk menerbitkan buletin adalah perencanaan. Oleh sebab itu, sebelum menerbitkan buletin gereja, kita perlu mengadakan riset sederhana lebih dulu. Riset ini diadakan agar kita tahu persis apakah jemaat memang membutuhkannya dan buletin macam apa yang mereka inginkan.

Pertanyaan pertama yang perlu kita lontarkan adalah, apakah jemaat gereja memang sudah memerlukannya. Kalau jawabannya tidak, buat apa kita susah‑susah menerbitkannya. Kalau jawabannya mayoritas ya, kita bisa meneruskan langkah kita. Pertanyaan berikutnya tentang bentuk, apakah mereka menginginkan buletin gereja berbentuk seperti Intisari, BAHANA atau Nova? Berapa lama periode terbitnya? Bulanan, dua bulanan atau tiga bulanan?

Cara “brainstorming” juga bisa dilakukan. Kumpulkan beberapa orang representatif yang menurut Anda mewakili berbagai kategori pelayanan di gereja Anda. Biarkan mereka mengungkapkan ide‑ide mereka. Jangan menyela sampai semua orang berbicara. Baru setelah itu, Anda bisa memilih dan memilah mana gagasan yang baik dan mana ide yang bisa diterapkan.

[Bersambung]

Categories: artikel