Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Youtube button
  • Festival

    FPPK
  • KAMUS


    Indonesia English
  • Recent Posts

  • Twitter

    • You must not find symbols in everything you see. It makes life impossible.
      Oscar Wilde
  • Album Foto

  • Hit Counter

  • Pesan

  • Follow Me

  • Wise Words

    sms inspiratif

Purnawan Kristanto

All about writing minister

KETERAMPILAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA

Oleh: Xavier Quentin Pranata
editor

Jika pelukis membutuhkan kanvas, kuas dan cat untuk menuangkan gagasannya, maka penyunting membutuhkan media bahasa tulis untuk menyempurnakan naskah kiriman atau menulis buku sendiri. Bahasa yang kita pakai di sini jelas bahasa Indonesia yang baik, benar dan baku. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang mudah dimengerti, enak dibaca dan tidak melanggar kaidah tata bahasa maupun struktur yang benar. Sedangkan bahasa Indonesia baku adalah bahasa yang mengikuti standar Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia.

Bahasa yang baku mempunyai empat fungsi:

1. pemersatu

2. penanda kepribadian

3. penambah wibawa

4. kerangka acuan

Standar bahasa baku:

1. Kaidah bahasa yang benar

2. Ejaan Yang Disempurnakan

3. Perkembangan kosa kata

1. Kaidah bahasa yang benar


Ada tiga kaidah bahasa yang perlu kita perhatikan:

  1. Aturan bahasa Indonesia diambil dari bahasa Austronesia dengan kaidah yang paling penting ditempatkan di muka sedangkan yang kurang penting di belakang. Kaidah inilah yang disebut hukum DM (Diterangkan, Menerangkan)

Akibat pengaruh bahasa lain, misalnya Sansekerta, banyak kata‑kata Indonesia yang salah kaprah. Misalnya: Bina Graha, Perdana Menteri, Bumi Putera, Mobil Brigade. Yang benar: Graha Bina, Menteri Perdana, Putera Bumi, Brigade Mobil.

  1. Kata benda tidak mempunyai bentuk jamak. Untuk menunjukkan bentuk jamak, kita harus memakai kata tambahan seperti angka (sebutkan berapa), banyak, beberapa, semua, segala. Sebenarnya, penjamakan kata benda tidak boleh diulangi. Pengulangan hanya dilakukan pada kata sifatnya.

Misalnya: Banyak mobil‑mobil, kuda‑kuda bagus

Seharusnya: Banyak mobil, kuda bagus‑bagus

Pengulangan kata benda bisa berbahasa karena banyak kata benda yang, kalau diulangi, bisa berarti lain. Misalnya: kuda‑kuda (alat olahraga yang menyerupai kuda); mata‑mata (spion); alun‑ alun (lapangan di tengah kota) dan sebagainya.

Dalam hal ini pun ada yang sudah terlanjur salah kaprah tetapi tetap kita pakai. Misalnya, Perserikatan Bangsa‑Bangsa. Menurut Almarhum Amin Singgih, pakar bahasa Indonesia, seharusnya yang benar Perserikatan Bangsa.

  1. Bahasa Indonesia tidak mengenal maskulin dan feminim dalam pemakaian kata. Misalnya: ia/dia (untuk pria/wanita); engkau (untuk pria/wanita); kita (untuk pria/wanita); mereka (untuk pria/wanita) dan sebagainya.

Sedangkan putera‑puteri, dewa‑dewi, siswa‑siswi adalah pengaruh bahasa Sansekerta.

2. Ejaan Yang Disempurnakan

Pada 16 Agustus 1971 Presiden Soeharto meresmikan Pemakaian Ejaan Yang Disem­purnakan (EYD) dan diterbitkan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada 1972. Meskipun di EYD ini masih banyak kelemahan, dalanm setiap kongres bahasa selalu disempurnakan.

3. Perkembangan kosa kata

Kosa kata adalah pembentukan kata baru. Agar kita senantiasa up to date, kita perlu senantiasa melihat Kamus Besar Bahasa Indonesia dan Pedoman Umum Pembentukan Istilah yang diterbitkan oleh Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Ekonomi kata

Salah satu hal yang membuat kita malas membaca adalah banyaknya kata mubazir yang lolos dari mata penyunting. Sebagai penyunting, mau tidak mau kita harus menerapkan ekonomi kata, agar tulisan yang ada di buku/majalah yang kita terbitkan tidak berkepanjangan, bertele‑tele, melelahkan dan membosankan. Nah, itu menghindari itu, kita perlu ekonomi kata. Thomson Foundation Editorial Study Centre di Cardiflah yang mula‑mula memperkenalkan istilah “word economy” ini. Sejak itu banyak orang pers maupun filsuf yang menerapkan ekonomi kata ini.

Simak ucapan para tokoh pers tentang ekonomi kata:

M. Wonohito:

“Bahasa yang dapat mencapai sebanyak mungkin pembaca, nyatanya bukan bahasa yang aneh, bukan bahasa yang luar biasa, melainkan justru bahsa yang lumrah saja yaitu teratur, sopan, enak dibaca, tidak membikin pembaca pusing kepala.”

Cicero:

“Keringkasan ialah daya tarik besar kefasihan lidah.”

Hosea Ballou:

“Keringkasan dan kepadatan isi ialah orang tua perbaikan.”

Fenelou:

“Makin banyak yang Anda katakan, makin kurang yang diingat orang. Makin sedikit perkataan, makin besar keuntungan.”

Walt Whitman:

“Kesederhanaan ialah kejayaan ekspresi.”

Gustave Flaubert:

“Kalimat yang terbaik ialah kalimat yang terpendek.”

Goenawan Mohamad:

“Meski pers nasional yang menggunakan bahasa Indonesia sudah cukup lama usianya, sejak sebelum tahun 1928 (tahun Sumpah Pemuda), tapi masih terasa perlu sekarang kita menuju suatu bahasa jurnalistik Indonesia yang lebih efisien. Dengan efisien saya maksudkan lebih hemat dan lebih jelas. Asas hemat dan jelas ini penting buat setiap reporter, dan lebih penting lagi buat editor.”

Contoh‑contoh di bawah ini adalah pemakaian kata mubazir.

ß        adalah (pengaruh bahasa Inggris is). Misalnya: Pernyataan menteri itu adalah merupakan suatu kesembronoan.

ß        telah (pengaruh bahasa Inggris have/has). Misalnya: Ia telah kuliah di Petra.

ß        akan (pengaruh bahasa Inggris will/shall). Misalnya: Besok Ratu Dunia akan datang.

ß        sedang (pengaruh bahasa Inggris progressive/present continuous tense). Misalnya: Ia sedang menyanyi.

ß        untuk (pengaruh bahasa Inggris to). Misalnya: Dia dipanggil untuk datang ke kantor polisi.

ß        dari (pengaruh bahasa Inggris of). Misalnya: Keterangan pers dari menteri.

ß        daripada (pengaruh bahasa Inggris of). Misalnya: Kami bangsa daripada Indonesia.

ß        @ bahwa (pengaruh bahasa Inggris that). Misalnya: Tidak diragukan lagi, bahwa dialah orang yang tepat.

ß        penjamakan ganda. Misalnya: Banyak anak‑anak.

Kerancuan yang perlu dihindari

ß        sementara. Misalnya: Sementara politisi. Seharusnya: Beberapa politisi. Kata sementara berarti (1) selama, selagi (2) pada waktu (3) beberapa lamanya (waktunya).

ß        berhubung karena. Seharusnya: pilih salah satu.

ß        agar supaya. Seharusnya: pilih salah satu.

ß        demi untuk. Seharusnya: pilih salah satu.

ß        selain daripada itu. Seharusnya: Selain itu.

ß        dan lain sebagainya. Seharusnya: dan lainya atau dan sebagainya.

Kata‑kata penat

Kata‑kata penat diperkenalkan oleh surat kabar Inggris. “Tired words” sering disebut kata klise atau stereotype. Kata‑kata mana yang termasuk kata‑kata penat? Kata‑kata yang termasuk penat antara lain: dalam rangka; sementara itu/dalam pada itu (terjemahan dari bahasa Inggris meanwhile; perlu diketahui; dapat ditambahkan; selanjutnya dan lain‑lain.

Memilih kata yang tepat

Setelah mengetahui prinsip ekonomi kata dan kerancuan, bagaimana cara kita memilih kata yang tepat? Ada lima hal yang perlu kita perhatikan:

ß        Jangan memakai jargon setempat kecuali kata itu sudah umum. Kalaupun terpaksa, harus diberi keterangan tambahan.

ß        Jangan memakai kata yang telah usang atau mati.

ß        Hati‑hati dalam memakai kata yang bernilairasa.

ß        Hati‑hati dalam memakai kata sinonim, karena artinya bisa berbeda.

ß        Batasi pemakaian kata asing. Kalau terpaksa, harap diberi terjemahannya.

ß        Perkecil pemakaian kata kembar dan saling bersaing. Pakai rujukan kamus.

Sumber:

  1. Anwar, H. Rosihan. Bahasa Jurnalistik dan Komposisi. Jakarta: Pradnya Paramita, 1984.
  2. Asy’ari, S. Imam, Drs. Petunjuk Teknik Menulis Naskah Ilmiah. Surabaya: Usaha Nasional, 1984.
  3. Moelino, Anton M. dan Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dan Balai Pustaka, 1988.
  4. Poerwadarminta, WJS. Bahasa Indonesia untuk Karang Mengarang. Yogyakarta: U.P. Indonesia, 1984.
Categories: artikel - makalah - penyuntingan
Bagus
17 April 10 at 19:22