Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Youtube button

BAGAIMANA MENULIS ARTIKEL ROHANI?

Oleh: Xavier Quentin Pranata

Typing

“Banyak penulis pemula yang menganggap bahwa semua ketrampilan memerlukan latihan, kerja keras, dan waktu untuk mencurahkan seluruh perhatiannya kecuali menulis. Akibatnya, banyak naskah mereka yang ditolak,” kata Norman B. Rohrer, Diruktur Christian Writers Guild.

Seperti halnya pisau, pikiran kita pun perlu diasah agar tetap tajam menganalisis sesuatu dan menuliskannya secara baik, teratur dan mengenai sasaran yang tepat.

Di dalam buku How to Write for Christian Magazines, Chip Ricks & Marilyn Marsh memberikan sepuluh langkah yang harus diam­bil seorang calon/penulis Kristen, yaitu:

1. Ujilah motivasi Anda

“Tuhan, buatlah apa yang aku tulis berbicara langsung ke hati setiap orang tentang Yesus,” kata Dr. Robert Walker, editor majalah Christian Life.

Langkah pertama yang harus kita ambil adalah menguji motivasi kita. Mengapa kita ingin menjadi penulis? Iseng‑iseng saja, mencari kepopuleran atau uang?

Samuel Johnson mengatakan, “Hanya orang bodoh yang bersedia menjadi penulis tanpa mengharapkan imbalan uang.”

Nathaniel Hawthorne menulis, “Tujuan akhir suatu karya tulis atau literatur adalah, pertama, kesenangan menulis itu sendiri; kedua, kebanggaan keluarga dan teman‑teman; ketiga, uang kontan. Urutannya tidak harus seperti itu.”

Bandingkanlah motivasi kedua penulis terkenal di atas dengan Dr. Robert Walker. Editor majalah Christian Life ini, sebelum menulis selalu menundukkan kepalanya dan berdoa, “Tuhan, urapilah apa yang aku tulis agar bisa menyentuh hati setiap orang agar mereka bisa mengenal Yesus.”

Motivasi menentukan isi tulisan Anda, karena Anda adalah apa yang Anda tulis.

Agar tulisan kita bisa menjadi Firman yang hidup, ada enam persyaratan dasar yang harus kita penuhi.

  1. a. Harus menyerahkan diri kepada Yesus Kristus. Tidak ada satu hal pun yang bisa menggantikannya baik itu berupa guru yang qualified, talenta yang luar biasa, satu set Alkitab berbagai versi dan bahasa, tafsir Alkitab berbagai sumber, konkordansi setebal bantal maupun word processor paling canggih sekalipun.
  2. b. Harus tertarik terhadap sesama. Seorang penulis yang baik haruslah seorang yang memiliki rasa keingintahuan yang besar dan peka terhadap kebutuhan sesama.
  3. c. Harus mengenal pesan kita. Kita harus ingat bahwa tulisan kita tidak hanya dibaca oleh orang Kristen saja, tetapi juga oleh masyarakat sekular yang membutuhkan keselamatan juga.
  4. d. Harus bersedia mempersembahkan waktu kita. Perpuluhan bagi seorang penulis sama pentingnya dengan perpuluhan uang.
  5. e. Harus jujur. Kita harus jujur dengan apa yang kita tulis. Seorang editor buku rohani pernah berkata, “Penulis kami harus konsisten dengan apa yang dia tulis.”
  6. f. Harus mempunyai visi yang jelas apa yang ingin Allah kerjakan terhadap tulisan kita. Seorang penulis harus sadar bahwa tulisannya tidak akan berarti apa‑apa tanpa urapan Allah.

2. Mempelajari pasar

“Editor terlalu sering mengatakan ‘pelajari pasar’, sehingga terbawah dalam mimpinya,” kata Joice Verret, penulis.

Seorang editor mengatakan bahwa sekitar 75% naskah yang dikirimkan lewat pos tidak sesuai dengan media massa yang dituju.

Contohnya, artikel tentang misi dikirimkan ke majalah rumah tangga; sebuah tulisan kritik terhadap anak‑anak dikirimkan ke majalah kampus; tafsiran Kitab Mazmur dikirimkan ke majalah kesaksian; tulisan tentang penginjilan massal dikirimkan ke majalah wanita. Tentu saja tulisan semacam itu akan ditolak. Bukan karena jelek, tetapi tidak sesuai medianya.

Untuk mengenal pasar, ada beberapa langkah yang bisa kita ambil:

  1. Kumpulkan koran/majalah Kristen, khususnya, dan majalah sekular, umumnya. Lalu kita baca, kita pelajari dan kita ambil kesimpulan tentang visi dan misi media massa itu dan isi macam apa yang mereka inginkan.
  2. Pelajari setiap koran/majalah secara detail. Rubrik‑rubrik apakah yang menjadi kekhasan setiap terbitan. Rubrik‑rubrik di bawah ini biasanya ada di setiap penerbitan.
  • Artikel petunjuk/cara mengerjakan sesuatu atau membuat sesuatu.
  • Reportase tentang suatu peristiwa atau kejadian baik dalam lingkup gereja, persekutuan, badan misi atau lembaga Kristen yang bersangkutan.
  • Narasi. Tulisan semacam ini biasanya berisi riwayat hidup/kesaksian singkat seorang tokoh atau public figure lainnya.
  • Profil. Tulisan ini biasanya sifatnya ‘mempromosikan’ orang tersebut karena kariernya, pelayanannya dan sebagainya.
  • Wawancara. Tulisan jenis ini biasanya berupa tanya jawab langsung antara redaksi media massa tersebut dengan tokoh terkenal.
  • Konsultasi. Rubrik tanya jawab yang diasuh oleh para pakar sesuai bidangnya. Dan masih banyak rubrik lagi yang dibuat sesuai dengan visi dan misi media massa yang bersangkutan.
  1. Batasi pasar kita. Karena keterbatasan waktu dan kemampuan kita, kita perlu membatasi pasar kita, sehingga tulisan yang kita buat bisa lebih terjaga bobotnya.

3. Mulai proses menulis

“Kekuatan pikiran adalah suatu petualangan. Ide tidak dapat menahannya. Sesuatu harus diperbuat terhadap mereka,” kata Alfred North Whitehead, seorang filsuf Amerika.

Untuk mulai menulis, ada beberapa tahap yang perlu kita jalani:

  1. a. Persiapan awal. Ajukan tiga pertanyaan ini kepada diri Anda sendiri: (1) Di mana Anda dapat menulis dengan baik? (2) Kapan waktunya? (3) Bahan apa saja yang Anda butuhkan?

Saya mencoba memberikan beberapa saran untuk menjawab pertanyaan di atas. Pertama, kita perlu mencari tempat yang benar‑benar eksklusif dan tenang agar tidak terganggu oleh suara lalu lintas, anak‑anak maupun keributan lainnya. Kedua, pagi hari adlah waktu yang enak untuk menulis, karena pikiran kita masih segar dan bebas dari gangguan lingkungan yang mencemari pikiran kita. Ketiga, bahan‑bahan yang kita perlukan tergantung dari jenis tulisan yang ingin kita buat. Tetapi, daftar di bawah ini mungkin bisa menolong Anda.

  • Mesin tik/komputer
  • Pen/pensil
  • Stabilo
  • Penghapus/Tipp‑Ex
  • Kertas buram
  • Karbon
  • Kertas HVS (folio/kuarto) putih
  • Klip kertas
  • 3Amplop dinas (11 X 23 cm)
  • Lem
  • Perangko
  • Berbagai macam kamus
  • Berbagai macam ensiklopedia
  • Berbagai variasi Alkitab dalam berbagai bahasa
  • Berbagai variasi tafsir Alkitab
  • Konkordansi lengkap
  • Peta Alkitab
  • Referensi lain yang mendukung

Tentu saja, kebutuhan setiap penulis berbeda. Makin lengkap, tentu saja, makin baik. Yang terpenting, letakkan semua perlengkapan itu dalam jangkauan Anda, sehingga Anda tidak perlu repot mencari‑cari lagi saat Anda mulai menulis. Hal ini bisa mengganggu konsentrasi dan menghambat penuangan ide.

  1. b. Mulai menulis. Ada dua hal yang harus kita kerjakan:
  • Kita mulai dari diri kita sendiri. Kita harus membuat daftar hal‑hal yang sedang hangat, pengalaman‑pengalaman kita dan masalah‑masalah kita atau yang ada di sekitar kita. Mengapa kita melakukan hal itu? Agar peka terhadap kebutuhan sesama.

Mark Staples, editor majalah The Lutheran, berkata, “Banyak penulis yang tidak bertanya kepada diri mereka sendiri ‘Apa yang harus aku tulis buat pembaca? Bagaimana tulisanku itu bisa mengubah kehidupan seseorang karena apa yang telah kualami atau dialami orang lain?’” Kita pun perlu bertanya kedua pertanyaan itu kepada diri kita sendiri.

  • Baca, dengarkan, perhatikan. Lingkungan kita banyak memberikan ilham tulisan kepada kita. Kalau senar di hati kita cukup peka, senar itu akan cepat bergetar mengalunkan suatu nada. Entah orkestra yang indah maupun dentang yang sumbang. Selalu tanyakan kepada diri Anda sendiri: “Mengapa orang‑orang itu berlaku begini dan tidak begitu? Bagaimana saya bisa membantu mereka memecahkan masalah yang mereka hadapi? Tulisan jenis apa yang cocok untuk melakukan hal itu?”
  1. c. Teruskan usaha Anda. Setelah persiapan awal di atas kita kerjakan, kita lanjutkan dengan 3 hal:
  • Uji ide kita. Untuk menuangkan ide itu ke dalam tulisan memerlukan beberapa langkah. Pertama, ide yang kita dapatkan itu harus kita teliti dengan cermat. Ada beberapa pertanyaan untuk menguji motivasi kita. Apakah ketertarikan kita terhadap ide yang kita garap begitu mendalam? Apakah ada orang lain yang juga tertarik dengan ide semacam itu? Apakah pembaca akan tertarik dengan tulisan kita nantinya? Siapa? Apakah artikel kita berguna bagi mereka? Apakah tulisan kita terikat pada waktu? Dapatkah kita mendapatkan informasi lengkap untuk menggarap tulisan itu? Akhirnya, apakah ide tersebut pernah ditulis orang lain? Jika ya, apakah kita bisa membuat variasi yang lain?
  • Tentukan fokusnya. Untuk menentukan fokus ini, kita perlu betanya kepada diri kita sendiri, “Apakah yang kita harapkan dari pembaca setelah membaca tulisan kita? Jawabannya menentukan fokus tulisan kita.
  • Tanyakan kepada editor. Kita perlu bertanya  kepada editor/redaksi media yang kita tuju apakah mereka tertarik dengan tulisan kita tentang suatu masalah? Surat pertanyaan demikian penting bagi proses penulisan kita selanjutnya, sehingga kita tidak kehilangan waktu dan tenaga.

Sebuah surat pertanyaan yang baik harus:

  • Menarik minat editor sejak kalimat pertama dan mengandung ringkasan atau outline tulisan kita.
  • Bisa menunjukkan kepada editor mengapa dia dan pembacanya harus memperhatikan masalah yang kita tulis.
  • Memuat juga bermacam informasi yang kita miliki sehubungan dengan tulisan kita.
  • Mengatakan juga mengapa kita cukup mampu menulis artikel tersebut.

Satu hal yang perlu kita perhatikan adalah bahwa kita jangan menulis surat pertanyaan semacam itu jika kita tidak benar‑benar yakin bahwa kita bisa menulis artikel tersebut.

4. Mengumpulkan informasi

“Jangan duduk di depan mesin tik dulu sebelum Anda memiliki semua fakta yang dibutuhkan. Penulis amatir mulai menulis dengan ide yang setengah matang dan melompati hal‑hal yang tidak dia kuasai. Penulis profesional menunggu sampai dia benar‑benar siap dan memahami betul apa yang hendak dia tulis…,” kata Sherwood Wirt, penulis dan mantan editor majalah Decision.

Kita mungkin terkejut dengan pendapat Sherwood di atas. Tangan kita mungkin sudah gatal untuk mengetik dan menuangkan apa saja yang ada dalam benak kita ke atas kertas. Jika jemari kita sudah gatal untuk menulis, kita perlu bertanya kepada diri kita sendiri, “Apakah aku telah mengadakan penelitian?” Banyak penulis pemula yang amat percaya akan kemampuan otaknya. Padahal, “Semuanya nol besar,” kata editor Writer’s Digest John Brady, “jika kita bukan seorang penulis.”

Ada beberapa langkah yang baik untuk memulai penelitian:

  1. Mulailah dengan perpustakaan pribadi. Tadi kita sudah mengumpulkan berbagai macam koran dan majalah yang telah pula kita pelajari. Di samping itu, kita pun perlu melengkapi perpustakaan kita dengan buku‑buku tafsir yang baik, telaah Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, kamus‑kamus, konkordansi lengkap, ensiklopedia dan bermacam buku theologia, sejarah, arkeologi, penelitian penulis lain, geografi, kebudayaan dan lain sebagainya. Makin lengkap perpustakaan kita, makin mudah kita menulis.
  2. Gunakan sumber‑sumber informasi. Di Indonesia ada LINK (Lembaga Informasi Kristen), LIPI, Lapan, Pusat Perpustakaan Nasional dan sebagainya. Nah, mengapa kita tidak memanfaatkan sumber‑sumber informasi yang bisa memperkaya dan memberi bobot tulisan kita?
  3. Mengunjungi para pakar. Di samping sumber‑sumber tertulis di atas, kita pun bisa mendapatkan informasi dari berbagai pakar menurut bidang keahlian mereka masing‑masing. Mereka biasanya senang membagikan ilmu dan keahlian yang mereka miliki, asal kita menanyakan secara sopan serta menjelaskan untuk apa informasi yang kita tanyakan itu. Kalau sumber ‘hidup’ ini jaraknya dekat, kita bisa langsung datang ke rumahnya dengan perjanjian lebih dulu. Kalau jaraknya jauh, dan tulisan kita tidak dikejar deadline, kita bisa menyuratinya lebih dulu.
  4. Teknik riset praktis. Langkah petama, rencanakan dulu penelitian yang hendak kita lakukan.
  • Kita tuliskan apa saja yang ada dalam benak kita tentang tulisan yang hendak kita garap.
  • Kita tuliskan juga topik dan sasaran utama yang hendak kita kerjakan.
  • Membuat outline sementara.
  • Dari outline di atas, kita membuat daftar informasi yang kita dapatkan. Kita bagi secara garis besar mulai dari pembukaan, tubuh tulisan sampai kesimpulan.
  • Mengumpulkan semua bahan yang kita dapatkan ke dalam satu map dengan dilengkapi keterangan singkat atas masing‑masing informasi.

Langkah kedua: tuliskan alamat orang‑orang yang akan dihubungi dan mulai mengontak mereka.

  • Membuat janji via telepon. Jika perlu, kita datangi.
  • Tulis surat kepada mereka.

Langkah ketiga: catat semua informasi yang kita dapatkan. Jangan mengandalkan ingatan kita. Daripada lupa dan salah tulis, lebih baik kalau semua percakapan kita rekan dan transfer.

5. Mengorganisasi semua bahan

“Setiap tulisan yang kami beli, kami turunkan nilainya sampai dua puluh. Mengapa? Tidak terfokus, kurang Alkitabiah, anekdot yang tidak menarik, bersifat khotbah. Banyak penulis yang hanya menggunakan pen dan kertas untuk menuangkan emosinya ‑ hal itu tidak akan membuahkan tulisan yang baik,” kata Mike Umlandt, redaktur pelaksana Moody Monthly.

Tulisan yang baik memiliki fokus utama dan struktur penulisan yang baik. Ini berarti tulisan kita terarah dan sistematis.

6. Sentuhan awal

“Tugas seorang penulis adalah menemukan argumentasi, pendekatan, sudut pandang, kalimat yang baik agar dapat menarik perhatian pembacanya,” kata Paul Robersts, penulis dan pendidik.

Kalimat yang indah, paragraf yang jelas, contoh‑contoh menarik, dan konklusi yang memiliki dampak besar pun tidak akan dibaca editor dan diterbitkannya jika pembukaannya jelek.

Untuk menarik minat pembaca ada tiga hal yang perlu kita kerjakan:

  1. Tangkap perhatian pembaca.
  2. Tunjukkan ide pokok artikel tersebut.
  3. Nyatakan secara tidak langsung metode yang kita gunakan.
  4. Menangkap perhatian pembaca. Ada enam hal yang bisa kita lakukan untuk menarik perhatian mereka:
  • Kalimat langsung.
  • Satu atau sederetan pertanyaan.
  • Satu kalimat menarik.
  • Setumpuk detail masalah.
  • Anekdot.
  • Analogi.
  • Dialog atau kutipan.
  1. Tunjukkan fokus utama tulisan. Sejak kalimat pertama, kita sedapat mungkin sudah mengarahkan pembaca kepada apa yang ingin kita katakan kepada mereka. Ini membuat mereka ikut berpikir tentang masalah yang kita tulis.
  2. Nyatakan metode yang kita gunakan. Dengan menjelaskan secara tidak langsung metode tulisdan yang kita gunakan akan memberi gambaran yang lebih jelas kepada pembaca apa yang kita tulis.

Beri penekanan pada akhir tulisan

“Banyak penulis pemula yang tidak tahu kapan dan bagaimana harus menghentikan tulisannya,” kata Hayes B. Jacobs, penulis.

Konklusi dari suatu tulisan dapat menjadi titik penekanan terbesar, dampak terbesar, dan terpenting. Pembaca akan teringat kepada apa yang kita tulis jika kesimpulannya kita tulis secara cermat dan jelas. Ada beberapa hal yang perlu kita pertimbangkan untuk membuat kesimpulan yang baik:

  1. Pertimbangkan panjang tulisan. Panjang pendeknya kesimpulan tergantung dari panjang pendeknya tulisan yang kita buat. Kadang perlu satu paragraf. Kadang hanya satu kalimat saja. Bahkan satu kata.
  2. Kembalikan ke ide pokok. Untuk memberikan dampak yang besar, kita perlu mengulangi sekali lagi gagasan yang hendak kita sampaikan kepada pembaca. Tentu saja dengan kalimat yang tidak sama persis dengan kalimat awal. Namun, ada juga penulis yang sengaja menulis ulang kalimat awal untuk memberi penekanan terhadap apa yang hendak ia katakan.
  3. Pilih teknik penulisan yang paling cocok. Kecuali fiksi, tidak seorang pembaca pun yang suka tulisan yang menggantung dan tidak tahu juntrungannya. Ada beberapa teknik yang bisa kita pakai:
    1. Ringkasan tulisan.
    2. Pernyataan ulang.
    3. Kembali ke kalimat pertama.
    4. Mendramatisirnya dengan memanfaatkan emosi pembaca.

Penulis profesional menghindari kesimpulan yang bersifat:

1. Minta‑minta/permohonan.

2. Khotbah.

8. Mulai menulis

“Jangan menulis seperti penulis tulislah apa adanya,” kata Don Mckinney, redaktur pelaksana McCalls.

Bakdi Sumantor, penulis Kristen yang cukup terkenal, pernah menulis, “Jangan tanya bagaimana menulis, bagaimana menulis, tetapi ambil pena atau mesin tik dan kertas dan mulailah menulis.”

Salah satu cara untuk menguji apakah kita bisa menulis atau tidak adalah dengan cara menulis itu sendiri. Learning by doing.

Setelah kepala kita dijejali dengan berbagai teori kepenulisan di atas, langkah selanjutnya yang harus kita kerjakan adalah dengan menulis. Tidak jadi soal apakah kita menggunakan pensil, pena, mesin tik atau komputer, yang penting, kita bisa menuangkan ide kita ke atas kertas. Ketika pena sudah kita goreskan atau tuts sudah kita tekan, semua gagasan akan mengalir dengan sendirinya.

Redaktur pelaksana McCalls Don McKinney berkata, “Semua cerita yang baik akan berkisah sendiri. Tugas penulis adalah memilih mana yang penting, menggabungkan fakta‑fakta ke dalam struktur yang masuk akal, dan membiarkan fakta‑fakta itu memimpin kisahnya maju.”

Jadi, teruslah menulis. Jika dapat jangan berhenti sampai selesai. Jika tidak, jangan putus asa. Tidak seorang pun mengerjakan suatu hal dengan tepat untuk pertama kalinya. Lalu, apa yang harus kita kerjakan jika tulisan kita macet?

Menulis memang tidak mudah, tetapi kita harus membuatnya seperti mudah karena, (1) kita telah menyiapkan segala sesuatunya dan (2) kita telah memilih waktu yang tepat.

Jangan hiraukan kesalahan yang kita buat. Hal ini akan melemahkan semangat. Sebaliknya, dengan terus menulis dan melihat tumpukan kertas yang telah kita hasilkan, semangat kita aan semakin terpacu untuk menyelesaikan tulisan kita. Setelah semua beres, barulah kita membaca ulang tulisan kita mulai dari awal, pertengahan sampai penutup.

Untuk membaca ulang, ada beberapa pertanyaan yang harus kita tajab:

  1. 1. Pembukaan.
    1. Apakah kalimat pembuka bisa menarik pembaca?
    2. Dapatkah pembaca mulai mengerti ide/gagasan yang kita tuangkan?
    3. Jika tulisan kita serius, adakah kata‑kata atau kalimat yang sembrono dan seenaknya?
    4. Jika tulisan kita bernada humor, apakah nada pembukaan kita cukup ringan?
    5. Apakah pembukaan kita menyediakan cukup banyak informasi?
  2. 2. Tubuh.
    1. Apakah kalimat pendukung sudah benar‑benar mendukung pembukaan?
    2. Apakah masing‑masing kalimat berhubungan dengan ide pokok?
    3. Apakah paragraf satu dengan paragraf lain berurutan secara logis?
  3. Kesimpulan.
    1. Apakah kesimpulan yang kita buat cukup kuat?
    2. Apakah kesimpulan ini mencakup semua ide tulisan?
    3. Apakah reaksi kita terhadap kata‑kata dalam kesimpulan kita?
    4. Apakah kita yakin bahwa pembaca pun akan memiliki reaksi seperti kita?

Jika pertanyaan‑pertanyaan di atas kita jawab ‘tidak’, kita perlu merevisinya kembali dengan menambah, mengganti, menyisipi, menghapus, dan menulis ulang bagian yang salah. Sekali lagi, jangan putus asa.

“Tidak ada cara mekanis untuk menulis, tidak ada jalan pintas,” kata William Faulkner suatu kali. “Ajar dirimu sendiri dengan kesalahanmu; orang belajar dari kesalahan.”

Ernest Hemingway pun pernah menulis ulang novelnya Farewell to Arms sebanyak tiga puluh sembilan kali. Hayes B. Jacobs. menulis sebanyak 277 kali baru berhasil dimuat.

9. Haluskan yang masih kasar

“Masalah terbesar yang saya hadapi dalam setiap naskah adalah kekacauan. Banyak penulis yang tidak menuliskan kata yang jelas bagi kebanyakan pembacanya,” kata Jack Gulledge, editor Mature Living.

Lelah. Lega. Bahagia. Mungkin ketiga hal itulah yang kita rasakan setelah kita selesai menuliskan apa saja yang ada dalam benak kita. Doa dan kerja keras kita telah berbuah. Benarkah kita tinggal mengetik ulang dan segalanya beres?

Tunggu dulu. Jangan tergesa‑gesa mengganti mesin tik/printer kita dengan pita baru. Tulisan kita masih kasar. Kita harus membuatnya halus dan berkilau.

Hal pertama yang kita kerjakan adalah melupakan tulisan yang telah kita buat. Ya. Lupakan saja. Simpan dalam laci. Tunggu beberapa hari. Baru buka kembali. Dengan cara ini, kita menjadi orang baru bagi naskah kita sendiri. Dengan demikian, penilaian kita terhadap tulisan kita cukup obyektif. Kita akan menemukan banyak hal yang mengejutkan kita. Ternyata banyak hal yang masih harus kita benarkan.

Pembacaan akhir ini memberi kesempatan kepada kita untuk melihat kembali keakuratan, kejelasan dan bobot kalimat yang kita gunakan. Pembacaan ini juga memungkinkan kita melihat variasi diksi dan keringkasan kata‑kata yang kita pakai.

Ada dua hal yang bisa kita kerjakan untuk memperbaiki tulisan kita:

  1. Memilih kalimat yang tepat.
  2. Memilih susunan terbaik.

10. Kirimkan

“Aku senang menjadi penulis. Yang tidak kusukai adalah proses terakhir,” kata Peter de Vries, penulis.

Sekali naskah sudah dikoreksi dan direvisi, penulis pemula ingin segera mengirimkannya ke penerbit. Salah mutlak. Kita setuju dengan pendapat Peter de Vries di atas bahwa menulis itu lebih menyenangkan daripada mengerjakan ‘sentuhan akhirnya’, namun editor tetap menuntut kerapian. Brian Dill, mantan editor di David Cook Publishers, pernah berkomentar, “Saya lebih menyukai naskah yang biasa‑biasa saja tetapi rapi daripada naskah yang baik tetapi kotor dan tidak rapi.”

Jika kita ingin naskah kita diterbitkan, kita tidak boleh ikut‑ikutan penulis yang sembrono dan ceroboh dengan naskahnya. Naskahnya kotor dan banyak coretan serta berlepotan Tipp‑Ex. Naskah kita bisa masuk keranjang sampah kalau pengerjaannya demikian.

Ada 12 saran yang bisa kita pakai untuk ‘sentuhan akhir’ ini:

  1. Gunakah kertas HVS putih ukuran folio/kuarto.
  2. Naskah harus diketik rapi dua spasi dengan tinta hitam.
  3. Jangan mengetik bolak‑balik.
  4. Beri margin sekitar 3‑4 cm di keempat sisinya.
  5. Ketik nama, alamat dan nomor telepon (kalau ada) Anda di sudut kiri atas.
  6. Judul harus diketik dengan huruf besar semua sekitar 1/3 dari atas.
  7. Ketikkan nama akhir Anda di sudut  kanan atas dan di semua halaman.
  8. Gunakan penjepit kertas (klip), bukan staples.
  9. Sediakan amplop beralamat Anda sendiri  dengan perangko balasan secukupnya.

10.  Masukkan naskah dalam amplop  besar jika naskah kita lebih dari lima halaman.

11.  Jika perlu, kirimkan foto hitam putih  ukuran 3X4 atau 4X6 tergantung medianya. Masukkan dalam plastik agar tidak rusak.

12.  Gunakan perangko kilat agar cepat sampai ke penerbit. Penerbit biasanya menerapkan sistem “Siapa cepat,  bakal dimuat” setelah melihat mutu tulisan.

Nah, selesai sudah tugas kita. Satu hal yang perlu kita tanamkan dalam hati kita adalah bahwa kita perlu menjadi seorang pemberita yang baik dan layak di hadapan Tuhan. Paulus pernah berpesan kepada Timotius demikian, “Usahakan supaya engkau layak di hadapan Allah sebagai seorang pekerja yang tidak usah malu, yang berterus‑terang memberitakan perkataan kebenaran itu” (II Tim. 2:15). Floyd Thatcer, dalam kata pengantarnya untuk buku Religious Writers Marketplace, mengatakan, “Setiap penulis, terutama yang mengkomunikasi Injil, harus menuliskan kebenaran.”

Kepala Jurusan Komunikasi Massa Institut Alkitab Tiranus, Bandung, pernah mengatakan di hadapan mahasiswanya bahwa seorang pemberita adalah berita itu sendiri.

Jika tulisan kita, nantinya, menunjukkan kasih Allah, membantu mereka yang sedang menghadapi masalah, membimbing mereka yang sedang bertumbuh, dan menghibur mereka yang sedih, kita akan mengalami sukacita yang besar, karena kita telah menyentuh hati setiap orang untuk mengenal Yesus, karena, “Segala tulisan yang diilhamkan Allah memang ber­manfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakukan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran” (II Tim. 3:16).

0 comments ↓

There are no comments yet...Kick things off by filling out the form below.

Leave a Comment

Comment moderation is enabled. Your comment may take some time to appear.