Rss Feed
Tweeter button
Facebook button
Flickr button
Youtube button
  • Festival

    FPPK
  • KAMUS


    Indonesia English
  • Recent Posts

    • Do what you can, with what you have, where you are.
      Theodore Roosevelt
  • Album Foto

  • Hit Counter

  • Pesan

  • Follow Me

Purnawan Kristanto

All about writing minister

Media Intra Gereja [1]

Oleh: Xavier Quentin Pranata

“Siapa yang menguasai informasi, dialah yang akan menguasai dunia.” Ucapan itu makin sering kita dengar sekarang. Di tengah‑tengah maraknya media massa, baik cetak maupun elektronik, apakah gereja sudah memiliki media yang bisa dipakai sebagai ajang edukasi, informasi, komunikasi dan rekreasi antaranggota jemaat? Kalau sudah, apakah media yang sering disebut media intragereja ini sudah ditangani secara profesional? Jika belum, bagaimana kita memulainya? Apa saja kendalanya? Bagaimana mengatasi masalah itu? Bagaimana kita bisa berperan dalam pelayanan “di balik layar” ini? Apa dampaknya bagi diri kita sendiri maupun gereja tempat kita berjemaat?

Pentingnya Media Intragereja

Komunikasi satu arah (khotbah) merupakan komunikasi paling pokok di banyak gereja. Namun, dengan makin membengkaknya jumlah jemaat, apakah komunikasi ini cukup memadai? Bagaimana dengan kehidupan sehari‑hari jemaat yang lebih sering berada di luar gereja ketimbang di gereja? Bagaimana jika jemaat sakit dan tidak bisa ke gereja? Bagaimana mereka bisa mengikuti perkembangan gerejanya? Di sini media intragereja mengambil peranan yang cukup penting. Bukan untuk menggantikan khotbah, tetapi justru melengkapi pelayanan yang tidak bisa disampaikan secara lisan.

(more..)

19 July 2010 at 12:02 - Comments

Lomba Menulis Cerpen dan Novelet

Formulir Lomba, silakan klik untuk mengunduhnya.

Yesus adalah pencipta dan penutur kisah yang hebat. Ia juga seorang yang berbahasa yang baik di zaman-Nya. Rahmat dan kebenaran dan kebenaran firman Allah, Ia ceritakan dengan bahasa yang sederhana dan menarik. Sampai-sampai nelayan dan mereka yang berpendidikan kurang pun dapat memahami dengan mudah.

Banyak penulis sekaligus pengikut Yesus meneladaninya dengan membuat karya literatur yang kaya akan nilai-nilai kristiani. Penulis legendaris seperti Leo Tolstoy, CS Lewis, HC Andersen, Enid Blyton, JRR Tolkien terkenal hingga saat kini. Di tanah air sendiri nama-nama Remy Silado, Andar Ismail, Gerson Poyk, dan banyak nama lain dikenal dengan baik.

Alkitab berisi sejarah dan kisah manusia dan peristiwa yang tetap relevan hingga saat ini. Sebagai pembaca, Anda tentu memiliki banyak pengalaman pribadi yang sangat khas ketika membaca dan memberi apresiasi terhadap karya literatur yang agung itu. Alkitab ditulis oleh banyak orang dari berbagai latar belakang sosial dan budaya, yang diilhami oleh Roh Allah, dalam satu rentang waktu yang sangat panjang hingga ribuan tahun, dari masa purba hingga ke masa kini. Perjanjian Baru sendiri ditulis sekitar 30-60 tahun setelah kematian Yesus.

Kitab Perjanjian Lama ditulis dalam bahasa Ibrani dan Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa Yunani. Kompilasi kitab ini juga telah mengilhami banyak orang yang membaca dan telah diterjemahkan seluruhnya ke dalam ratusan bahasa diseluruh dunia.

(more..)

9 July 2010 at 12:01 - Comments

Blog Go Gospel

Blog Gospel

Saya mulai ngeblog pada tanggal 11 Desember 2004 di www.blogspot.com. Pada waktu itu, saya hanya ikut tren dan sekadar iseng. Namun lama-kelamaan, saya mulai menyadari kekuatan blog. Tulisan-tulisan yang saya pasang di blog ternyata mendapat banyak tanggapan dari pengunjung. Mereka mengaku mendapat berkat dari blog saya. Sejak saat itu saya mulai bersemangat membuat tulisan-tulisan baru dan membongkar arsip tulisan lama untuk diunggah ke blog.

Kemudian muncul situs Multiply yang menawarkan feature menarik. Di situs ini, sesama blogger dapat berinteraksi dan mengetahui aktivitas kawan-kawannya. Saya pun teryarik dan nimbrung ke sini. Apalagi Multiply juga menyediakan fasilitas crossposting. Tulisan yang dipasang di Multiply akan otomatis dipasang pada Blogspot. Demikian juga sebaliknya. Itu artinya saya bisa ngeblog di tempat baru tanpa mengabaikan blog yang lama.

Karena merasa belum puas, maka pada bulan Juni 2008, saya mulai ngeblog pada domain sendiri (www.purnawan.web.id). Saya menggunakan program CMS (content management system) gratisan yang disediakan oleh WordPress. Di sini saya lebih bebas dalam mendesain tampilan blog dan menambah widget yang dikehendaki. Asyiknya lagi, tulisan-tulisan yang sudah saya pasang di Blogspot dapat saya impor ke blog yang baru ini. Berarti tidak ada keterputusan dengan blog lama.

Selain ngeblog sendiri, saya juga ikut dalam blog yang dibuat secara keroyokan yaitu di Sabdaspace dan Kompasiana. Apa sih bedanya dengan blog pribadi? Untuk menerangkan perbedaannya, izinkan saya menggunakan analogi pasar dan warung. Blog keroyokan itu seperti pasar tradisional. Setiap blogger membuka kios-kios dan menawarkan dagangannya di dalam pasar. Pengunjung mendatangi salah satu kios lalu memilih-milih barang dagangan yang disuka. Kalau tidak cocok, dia dapat pindah ke kios lain tapi masih di dalam pasar itu. Sedangkan blog pribadi itu ibarat warung yang berdiri sendiri dan dikelola sendiri. Pengunjung hanya bisa melihat-lihat dagangan yang dijajakan oleh pemilik warung. Jika tidak suka, maka dia akan pergi dari warung itu.

Sampai sekarang saya sudah menelurkan lebih dari 700 tulisan dengan mulai dari humor, tips praktis, renungan, catatan perjalanan sampai dengan artikel. Pertanyaannya, untuk apa saya melakukan semua itu? Karena dorongan untuk berbagi. Baik itu berbagi pengalaman, berbagi pengetahuan atau sekadar berbagi perasaan. Singkatnya, saya ingin berbagi Kabar Baik.

Itu sebabnya, saya memilih judul “Go Blog the Gospel“, yang mengandung maksud mengajak Anda membagikan kabar baik. Kata Gospel berasal dari bahasa Inggris Anglo-Saxon, “God’s spell” atau perkataan Tuhan. Kata Gospel dapat ditilik dari bahasa Yunani yaitu evangelion atau euaggelion. Artinya “kabar baik.”

Ketika saya menjuarai sebuah lomba penulisan, saya tidak sabar untuk mennyampaikan kabar baik ini pada teman-teman dan keluarga. Hal serupa terjadi pada orang berdosa yang telah diselamatkan oleh anugerah Allah. Dia pasti memiliki keinginan yang meluap-luap untuk memberitakan kabar gembira ini kepada orang lain. Ada banyak cara untuk membagikan kabar sukacita itu. Salah satunya lewat blog ini. Lewat blog ini saya telah menyaksikan suatu keajaiban. Begitu saya selesai memposting tulisan di blog dan mematikan komputer, pada saat itu tulisan saya justru mulai bergerak, mengalir ke sudut-sudut dunia. Tanpa saya sadari, tulisan saya merambah ke berbagai wilayah yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Karena blog terus-menerus terpasang, maka pekabaran yang saya lakukan tidak mengenal waktu. Setiap saat tulisan-tulisan saya dapat dibaca oleh siapa saja. Inilah pekabaran Injil selama 24 jam sehari dan 7 hari dalam seminggu.

Kegiatan ngeblog itu sebenarnya gampang-gampang-susah. Lihatlah, kata “gampang” dua kali lebih lebih banyak. Ngeblog itu memang lebih banyak gampangnya daripada susahnya. Asal bisa menulis dan menggunakan kompuer, Anda bisa mengunggah tulisan apa saja. Tidak ada yang dapat menghalangi Anda. Ini berbeda jika Anda mengirimkan sebuah tulisan ke majalah atau koran. Tulisan Andabelum tentu akan dimuat karena tergantung penilaian redaktur. Namun dalam ngeblog, hanya diri Anda sendiri yang menjadi penghalangnya. Biasanya penghalang itu berupa kemalasan dan kurang kepercayaan diri.  Itu sebabnya, saya menekankan perlunya “kerinduan untuk berbagi.”  Kalau Anda sudah memilikinya, maka langkah selanjutnya akan beres. Semua perkara teknis dapat diatasi dengan belajar sendiri atau minta tolong orang lain.

Saya berharap buku kecil ini dapat menemani Anda dalam aktivitas ngeblog Anda.

Judul: Blog Gospel

Penulis: Purnawan Kristanto

Penerbit: BPK Gunung Mulia

15 June 2010 at 12:09 - Comments

Undangan Monolog Luna Vidya

Dalam rangka menyongsong Festival Penulis & Pembaca Kristiani 2010 yang akan diselenggarakan pada akhir tahun ini, Komunitas Penjunan (Penulis dan Jurnalis Kristiani) mengundang Saudara untuk hadir dan menikmati sajian pra-Festival yang akan diselenggarakan pada:

Luna Vidya
Tanggal : Jumat, 28 Mei 2010

Pukul : 19.00

Tempat :

Newseum/Domus Café, Jl. Veteran I No 32, Jakarta Pusat

(Dekat mesjid Istiglal, sejajar dengan es krim Ragusa)

Acara :

1. Monolog oleh Luna Vidya(*)

2. Bincang santai mendiskusikan tema Festival, ‘Baca Jadilah Bijak, Tulis Jadilah Berkat’

Pembahas:
1. Mula Harahap (editor, pengurus YAKOMA)
2. Sri Anggoro Seto (Penerbit BPK Gunung Mulia)
3. Amang Suramang (pembaca, moderator Goodreads Indonesia)

Moderator: Handaka Mukarta (pembaor: Handaka Mukarta (pembca dan penikmat buku)

(more..)

22 May 2010 at 08:00 - Comments

Bahasa Jurnalistik

Oleh: Suroso
writing
Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.

Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Bahasa jurnalistik juga merupakan bahasa komu­nikasi massa sebagaimana tampak dalam koran (harian) dan majalah (mingguan). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers. Bukan karya-karya opini (artikel dan esai). Oleh karena itu jika ada wartawan yang juga ingin menulis cerpen, esai, kritik, dan opini, maka karya-karya tersebut tidak dapat digolongkan sebagai karya jurnalistik, karena karya-karya itu memiliki varian tersendiri.

(more..)

10 April 2010 at 04:52 - Comments

KETERAMPILAN PENGGUNAAN BAHASA INDONESIA

Oleh: Xavier Quentin Pranata
editor

Jika pelukis membutuhkan kanvas, kuas dan cat untuk menuangkan gagasannya, maka penyunting membutuhkan media bahasa tulis untuk menyempurnakan naskah kiriman atau menulis buku sendiri. Bahasa yang kita pakai di sini jelas bahasa Indonesia yang baik, benar dan baku. Bahasa Indonesia yang baik dan benar adalah bahasa yang mudah dimengerti, enak dibaca dan tidak melanggar kaidah tata bahasa maupun struktur yang benar. Sedangkan bahasa Indonesia baku adalah bahasa yang mengikuti standar Pusat Pembinaan Bahasa Indonesia.

Bahasa yang baku mempunyai empat fungsi:

1. pemersatu

2. penanda kepribadian

3. penambah wibawa

4. kerangka acuan

Standar bahasa baku:

1. Kaidah bahasa yang benar

2. Ejaan Yang Disempurnakan

3. Perkembangan kosa kata

1. Kaidah bahasa yang benar

(more..)

10 April 2010 at 04:49 - Comments
Bagus
17 April 10 at 19:22

BAGAIMANA MENULIS ARTIKEL ROHANI?

Oleh: Xavier Quentin Pranata

Typing

“Banyak penulis pemula yang menganggap bahwa semua ketrampilan memerlukan latihan, kerja keras, dan waktu untuk mencurahkan seluruh perhatiannya kecuali menulis. Akibatnya, banyak naskah mereka yang ditolak,” kata Norman B. Rohrer, Diruktur Christian Writers Guild.

Seperti halnya pisau, pikiran kita pun perlu diasah agar tetap tajam menganalisis sesuatu dan menuliskannya secara baik, teratur dan mengenai sasaran yang tepat.

Di dalam buku How to Write for Christian Magazines, Chip Ricks & Marilyn Marsh memberikan sepuluh langkah yang harus diam­bil seorang calon/penulis Kristen, yaitu:

(more..)

10 April 2010 at 04:46 - Comments

You Are What You Read

Ada seorang tokoh (sayangnya saya lupa siapa) pernah berkata begini,
“Tunjukkan buku apa saja yang sudah Anda baca, maka saya bisa menebak
seperti apakah diri Anda.” Orang ini hendak mengatakan bahwa jenis-jenis
buku yang sering dibaca seseorang bisa mencerminkan kualitas dan kapasitas
orang itu. Saya mengamini pernyataan ini, tetapi menjadi sekadar pembaca
buku saja menurut saya belum bisa menunjukkan potensi yang dimiliki
seseorang. Kapasitas seseorang akan semakin terlihat jelas dari
kemampuannya mencerna dan mengolah kembali pengetahuan yang didapatnya dari
buku itu. Salah satu hasil dari proses ‘pencernaan’ ini berupa tulisan
resensi. Tulisan berikut ini akan menyajikan tips-tips praktis dalam menulis
resensi.
(more..)

7 April 2010 at 16:07 - Comments

Umpan Ampuh Mengail Ide

Bagi penulis, “ide” adalah makhluk yang menggemaskan. Kedatangannya tak dapat dijadwal tepat waktu, mirip sekali dengan pelayanan kereta api di Indonesia. Ketika kita sangat membutuhkan, dia malah jual mahal, bersembunyi entah dimana. Ketika kita sedang tidak siap menulis, dia malah menari-nari menggoda otak kita.
Namun tidak usah khawatir. Anda sebenarnya dapat memasang umpan yang jitu untuk mengail ide pada saat membutuhkannya. Anda memiliki tiga jenis umpan, yaitu umpan ingatan, umpan pengamatan dan umpan riset.
1. Ingatan
Theodore Roosevelt berkata, “Do what you can, with what you have, where you are.” Kita dapat memulai mendapatkan bahan cerita dari apa yang sudah kita miliki saat ini, yaitu ingatan atau memori.
Pengalaman dan masa lalu Anda merupakan sumber cerita yang tak ada habis-habisnya. Sejak kecil kita mengumpulkan banyak kenangan mengenai orang, tempat, peristiwa dan benda-benda lainnya. Ingatan ini seringkali muncul begitu saja tanda diduga, terutama ketika dipicu oleh keadaan tertentu. Mencium parfum tertentu, mengingatkan pada cinta pertama Anda. Suara sirine memunculkan memori tentang tragedi yang pernah dialami di masa lampau. Melihat album foto membawa angan-angan Anda kembali mengenang masa kecil.
Namun ketika akan membuat cerita, ada kalanya pemicuan tersebut tidak terjadi sehingga kita kesulitan membangkitkan kenangan di masa lalu. Hal ini dapat disiasati dengan memakai empat metode berikut ini:

(more..)

7 April 2010 at 16:06 - Comments

Menulis untuk Media Gereja itu Sulit

Sudah ada banyak tulisan tentang dunia kepenulisan, yang menyatakan bahwa menulis atau mengarang itu gampang. Tapi menurut saya, menulis untuk media gereja itu sulit. Hal ini didasarkan pada analisis terhadap karakteristik pembaca media ini.

Ada teori ilmu komunikasi bahwa jika kita ingin berhasil dalam berkomunikasi, maka kita harus memperhatikan pikiran dan karakteristik khalayak yang akan menerima pesan kita. Kita tidak mungkin menyampaikan teori relativitas kepada anak balita. Sebaliknya, jangan pernah mengajarkan abjad A-B-C-D kepada profesor bidang bahasa. Jika menghendaki pesan kita dipahami dengan benar, maka kita harus mengemas pesan tersebut sesuai dengan pikiran dan karakteristik pihak yang akan menerima pesan pesan kita (disebut komunikan). Karakteristik komunikan terbangun atas demografi, gaya hidup dan kepribadian. Sedangkan pikiran komunikan terdiri dari tiga komponen, yaitu persepsi, sikap dan kebutuhan.

(more..)

7 April 2010 at 15:59 - Comments