Pelayanan ke GKI Diponegoro
Tanggal 27 Nopember, saya menjadi pembicara dalam Seminar Sekolah Minggu dengan tema: “Cara Jitu Bikin Seru di Sekolah Minggu”, di GKI Diponegoro, Surabaya.
Tanggal 27 Nopember, saya menjadi pembicara dalam Seminar Sekolah Minggu dengan tema: “Cara Jitu Bikin Seru di Sekolah Minggu”, di GKI Diponegoro, Surabaya.
Banyak gereja yang belum menyadari arti pentingnya sebuah siaran pers atau pers release. Mereka masih mengandalkan warta lisan atau media internal untuk menyebarkan kegiatan pelayanan mereka. Akan tetapi hanya dengan cara ini, orang-orang yang bukan anggota gereja itu tidak bisa mengetahui apa yang sedang terjadi di gereja itu.

Lain ceritanya, bila gereja bersedia mengontak media untuk meminta peliputan. Publisitas yang di dapat dari peliputan media akan membuat masyarakat di luar mengetahui tentang kegiatan yang sedang terjadi di dalam gereja.
Beberapa gereja ragu-ragu mengundang media karena mengira dibutuhkan biaya besar untuk mendatangkan dan memberi amplop pada wartawan. Padahal sesungguhnya media yang baik tidak akan pernah meminta uang untuk peliputan. Mereka sudah berterimakasih apabila wartawannya diberi kesempatan untuk meliput acara tersebut.
Berikut ini kiat-kiat supaya acara gereja mendapat peliputan dari media.
Wawan
The Craft of Writing. Ditulis oleh William Sloane
The Craft of Writing
20 Ways to Improve Your Story By H.R. Morgan
20 Ways to Improve Your Writing
Mengurai benang kusut ide menjadi tulisan inspiratif Ditulis G Lini Hanafiah Penerbit Via Lattea Foundation
Jangan lewatkan kesempatan berharga untuk bisa mengembangkan diri dalam bidang penulisan (khususnya kristiani). Hadirilah “Pelatihan Penulis Kristen” dan Bazar Buku Kristen. Informasi acara:
Tanggal: Rabu – Kamis, 9 – 10 November 2011
Waktu: 17.00 – 21.30 —> Pelatihan Penulis Kristen (untuk peserta seminar)
10.00 – 17.00 —> Bazar Buku Rohani dari berbagai penerbit (untuk umum)
Tempat: Gedung Serbaguna GKJ Manahan Solo, Jl. M.T. Haryono No.10 Manahan, Surakarta
Kontribusi: Per orang Rp 50.000 (2 hari pelatihan)
Kolektif min. 10 orang: @Rp 40.000 (2 hari pelatihan)
Sudah termasuk snack
Materi: Sesi I — “Menulis Itu Mendatangkan Berkat” (Oleh: Agustina Wijayani — penulis renungan dan buku)
Sesi II — “Menulis sebagai Gaya Hidup” (Oleh: Arie Saptaji — penulis lebih dari 20 judul buku)
Sesi III — “Menyulap Tulisan Menjadi Uang” (Oleh: Purnawan Kristanto — penulis lebih dari 21 judul buku, renungan)
Sesi IV — Sharing Proses Kreatif (Oleh: Tim SHOW ME)
Pendaftaran: Novi/Elly: (0271) 719198 / 08812979100 / 08122608030 (ditutup tanggal 4 November 2011)

Bagian awal tulisan adalah wilayah yang sangat penting. Bagian ini sangat menentukan apakah pembaca tertarik untuk membaca keseluruhan tulisan itu atau tidak.
Pilihlah kata-kata yang Anda pakai dengan cermat. Sebuah kata, bisa menjadi seperti setetes tinta yang jatuh di seember air putih. Dia dapat mengubah isi seluruh tulisan Anda.
Gantilah kata sifat dan kata keterangan dengan kata kerja. Baca kalimat ini:
“Seorang perempuan tua yang kelelahan bekerja di sawahnya!”
Bandingkan dengan:
“Seorang perempuan tua membajak, kepalanya merunduk, nafasnya tersengal-sengal”
Ternyata kalimat kedua lebih menarik. Kalimat pertama menggunakan kata sifat. Kalimat kedua menggunakan kata kerja. Kata sifat memberi tahu (to tell), sedangkan kata kerja menggambarkan tindakan (to show)
Untuk menuliskan renungan gunakan jurus ATM, yaitu “Amati, Tirukan dan Menambahkan”:
1. Amati
Kumpulkan semua buku renungan yang ingin Anda kirimi naskah. Amatilah bagian-bagian berikut:
Gaya bahasanya: apakah formal atau santai? Apakah memakai gaya anak muda atau orang dewasa? Contoh paling jelas, bandingkan antara gaya bahasa renungan “Rajawali” dengan “Renungan Harian.”
Tema-tema yang diangkat. Tema-tema apa saja yang sering ditampilkan dalam renungan itu. Putuskanlah apakah Anda akan menulis tema yang sedang populer atau justru menampilkan tema baru yang belum ada pada renungan yang lain.
Struktur tulisan. Pelajarilah urut-urutan penulisan. Mulai dari ayat perikop, ayat nats, ilustrasi , pembahasan, penutup, doa, slogan.
Panjang tulisan. Renungan tidak boleh terlalu panjang sebab renungan hanya sebagai pengantar bagi pembaca untuk melakukan perenungan sendiri. Pilihlah panjang renungan yang pas menurut Anda.
Menulis renungan berbeda dengan menulis artikel. Di dalam menulis artikel penulis menyajikan dan memberikan pengetahuan dan keterampilan (memberi makanan bagi otak), tapi dalam renungan, penulis berbagi iman dan pengalaman kerohanian (memberi makanan pada jiwa dan roh).
Artikel berpusat pada satu tema dan menggunakan lebih dari satu sumber tulisan. Sedangkan dalam renungan, berpusat pada satu tema dan satu ayat Alkitab. Panjang artikel bisa mencapai 500 s/d 2000 kata. Sedangkan dalam renungan, antara 250-300 kata. Artikel berasal dari pengetahuan di kepala (head), sedangkan renungan adalah luapan dari pengalaman batin (heart).
Renungan adalah refleksi atas sebuah ayat dalam Alkitab yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari dan kontekstual bagi pembaca. Penulis memulai tulisan setelah melihat persoalan-persoalan yang terjadi dalam realitas kehidupan. Dia lalu mencari jawabannya melalui permenungan dan penelitian yang mendalam atas ayat-ayat dalam Firman Tuhan. Setelah itu dia membagikan hasil permenungan itu kepada pembaca.
Tujuan akhir dari sebuah renungan adalah perubahan hidup. Seberapa pun indah tulisan renungan itu, tetapi jika tidak bisa mendorong pembaca untuk melakukan tindakan yang membuatnya semakin mengasihi Tuhan dan sesama, maka tulisan itu tidak layak disebut renungan.
Ada beberapa tipe renungan:
1. Renungan yang memberi inspirasi untuk bertindak dengan nyata. Isinya biasanya berupa dorongan bagi pembaca untuk bertindak sesuatu.
2. Renungan yang memberi ketenangan. Biasanya berisi kata-kata penghiburan untuk menguatkan pembaca yang sedang mengalami pergumulan.
3. Renungan yang memberikan teguran. Renungan ini memperingatkan pembaca supaya tidak melakukan perbuatan tertentu yang bisa mendatangkan dosa.
4. Renungan yang memberi paparan tentang suatu perikop tertentu. Isinya hanya berupa informasi yang menjelaskan makna dari ayat-ayat tertentu dan relevansinya bagi konteks kekinian.

PARA penulis pemula biasanya bengong cukup lama karena tidak tahu harus menulis apa. Hal ini terjadi karena dia sedang mengharapkan ilham lewat di kepalanya. Pada zaman yang serba cepat ini, metode seperti ini akan membuat kita ketinggalan zaman. Perkembangan teknologi komunikasi yang sangat pesat mendorong orang untuk menulis secara cepat pula. Jika tidak, maka tema tulisan yang kita usung menjadi basi dalam hitungan hari, bahkan dalam hitungan hitungan jam. Apalagi jika Anda sudah on-line dan koneksi internet dihitung berdasarkan waktu. Semakin lama Anda bengong, maka semakin membengkaklah tagihan internet Anda.
Untuk menyiasati hal ini, cara yang terbaik adalah Anda sudah menyiapkan tulisan ketika masih off-line. Kemudian ketika on-line, Anda tinggal mengunggahnya saja. Meski begitu, kadang-kadang ketika sedang off-line pun, mungkin Anda juga mengalami kemacetan ide. Anda tidak perlu resah. Anda dapat mencoba salah satu dari rahasia penulisan, yaitu menggunakan teknik penulisan cepat. Metode ini lebih mengandalkan ingatan (memori) Anda sebagai bahan tulisan. Jika Anda masih harus mencari bahan-bahan penulisan lagi, maka proses penulisan kita menjadi tersendat sehingga tidak dapat dikatakan penulisan cepat lagi.